
"Harry..." bisik Aditya.
"Apa kak?" jawab Harry.
"Apakah penyakitmu itu kambuh lagi tadi? ayo ceritakan semuanya pada calon kakak ipar mu ini." ujar Aditya.
"Eumm... iyah kak, sebaiknya aku ceritakan nanti saja di rumah oke? aku takut Grisella, mendengarnya dan malah marah padaku." jawab Harry.
Aditya, kembali tersenyum pada sikap Harry, yang begitu memperlakukan adiknya sebagai ratu di dalam kehidupannya. "Hahaha... kamu ini saking cintanya, sampe nggak mau buat dia kesinggung."
"Ah kakak... kau bisa saja." ujar Harry.
"Harry... kau dimana? Ayah... Kakak... aku mau pulang dulu yah?!" teriak Grisella, dari dapur.
"Nak, hilangkan kebiasaan burukmu itu! kemarilah dan bicara di hadapan kami." seru ayah.
"Ahh baiklah-baiklah, maafkan aku." ujar Grisella.
"Ayah, Kakak, aku pulang dulu ya? tidak baik jika aku terus ada di sini."
"Baiklah, berhati-hatilah di jalan." jawab ayah.
"Kalo begitu aku akan mengantar kalian sampai depan, oke?" tanya Aditya.
"Kalo begitu cepat! hahaha." Grisella, menarik tangan kakaknya, dan secara mendadaknya Grisella, langsung membawa kakaknya berlari sampai ke pintu rumah.
"Grisella! aku ini kakak mu!" seru Aditya.
Harry, tersenyum, dan berbalik badan ke arah ayah Grisella, untuk memberi salam. "Ayah, kalo begitu aku pulang dulu."
"Iyah Harry, ayah titipkan Grisella, padamu." jawab ayah.
"Baik."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesampainya, mereka di hadapan mobil Harry. Grisella, langsung merubah tingkah lakunya menjadi sedikit kaku, tujuan nya adalah untuk menghindari para warga yang melihatnya, sehingga ia tidak akan menciptakan kecurigaan.
"Kakak... aku pulang, dadah." bisik Grisella.
Aditya, yang merasa heran dengan perubahan sikap adiknya itupun akhirnya bertanya, "Kau ini kenapa?"
"Ah sudahlah, aku tidak ada waktu untuk menjelaskan nya." jawab Grisella, dengan bisikan.
Harry, akhirnya datang dan menjelaskan perihal itu pada Aditya. "Kakak, ia takut para warga melihatnya dan mulai mencurigainya, oleh sebab itu ia bersikap kaku seperti itu."
"Hahaha... dasar aneh, yasudah cepat sana kalian pulang."
"Kakak, kau kejam sekali pada kami! awas saja nanti!" ujar Grisella, yang langsung masuk ke dalam mobil.
Singkatnya mereka pun akhirnya pergi dari kediaman Yudisti. Namun, sayangnya tak di sangka Agam, secara diam-diam sudah mulai mengikut Grisella, dan Harry, pada saat awal mereka bertemu di taman.
__ADS_1
Lalu ketika Agam, mengetahui bahwa mereka pergi ke kediaman Yudisti, ia pun mulai sedikit mencurigai hubungan diantara mereka berdua. Dan oleh sebab itu Agam pun memutuskan untuk menunggu mereka sampai keluar dari kediaman Yudisti.
Flasback...
Agam, mulai mengikuti mobil Harry, dari belakang hingga pada akhirnya mobil Harry, masuk ke dalam kediaman Yudiati.
"Rumah keluarga Yudisti? tapi kenapa Harry, malah membawa Grisella, ke kediaman Yudisti? Emm... sebaiknya aku menunggu mereka keluar, dan setelah itu kembali untuk mengikuti mereka." guman Agam.
Setelah hampir setengah jam ia menunggu akhirnya mobil Harry, pun keluar dari kediaman Yudisti. Tanpa harus menunggu lagi Harry, langsung kembali mengikuti mereka dari belakang.
Sebenarnya apa tujuan Agam mengikuti mereka berdua? jawabannya adalah untuk menambah bukti dari kecurigaan Nathan, tentang gadis yang ada pada saat malam pesta itu. Dan Ya, benar bahwa sebenarnya Agam, telah lebih dahulu menyadari semuanya di bandingkan dengan Nathan sendiri, namun ia tau bahwa Nathan, pun pasti memiliki fikiran yang sama dengan nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesampainya Grisella, di rumah sementaranya. Agam, masih tetap berusaha untuk memantau Grisella, dari jarak yang cukup dekat yaitu dengan cara turun dari mobilnya.
Klek...
Agam, membuka pintu mobilnya, dan berusaha untuk menyesuaikan diri agar tidak di curigai. "Sepertinya jika mobil ku di parkir tepat di belakang pohon ini tidak akan mencurigaikan, baiklah sekarang wartunya untuk mulai memantau situasi."
Singkatnya Harry, akhirnya pergi meninggalkan kediaman Grisella. Dan sekarang adalah kesempatan Agam, untuk mengkonfirmasikan berita ini pada Nathan.
"Bagus, akhirnya si Harry, pergi juga. Sekarang aku telfon Nathan, ah..." ujar Agam.
Berdering...
...Pembicaraan di telefon...
^^^"Ada apa? tumben sekali kamu menelfon, kenapa tidak langsung menemuiku saja?"^^^
"Ya... ya... nanti akan aku ceritakan semuanya, namun sekarang dengarkan aku dulu oke?"
^^^"Yasudah ayo katakan."^^^
"Aku tau bahwasanya kamu telah mencurigai Sella, sebagai gadis cantik yang ada di pesta semalam, apakah aku betul mengenai itu?"
^^^"Hahaha... kamu memanglah sahabatku yang paling peka, ya walau rada ngeselin."^^^
"Hahaha... coba tebaklah, tadi aku sudah mengikuti Harry, dan Sella. Apakah kamu tau? tujuan mereka adalah untuk berkunjung ke rumah keluarga Yudisti, padahalkan diantara mereka berdua sama sekali tidak ada hubungan nya dengan keluarga Yudisti."
"Satu lagi berita gembira untukmu, aku sudah menemukan alamat rumah Sella, untuk kedepan nya kamu bisa secara mendadak ke rumahnya dengan berpura-pura lupa jalan atau salah jalan. Itu awal yang baguskan untuk sebuah modus?"
^^^"Hahaha... baiklah, kalo begitu coba kirim kan foto rumahnya, dan share lokasi mu padaku."^^^
"Baik, yasudah aku matikan dulu telfonnya."
Tut...
Alamat Grisella, sudah di temukan oleh Agam, dan rencana yang mungkin akan terjadi kedepan nya adalah Nathan, akan mulai sering untuk menghampiri rumah Grisella, setiap harinya hanya untuk mengumpulkan bukti kebenaran bahwa Grisella, adalah benar-benar gadis cantik di pesta itu.
"Sella, jika benar itu adalah kamu, sungguh aku tidak pernah menyangka bahwa gadis cantik itu adalah kamu. Dan selama ini ternyata kamu pandai untuk menyamar, sebenarnya dari keluarga manakah kamu? aku berharap kamu bukan dari bagian keluarga Yudisti." Gumam Nathan.
__ADS_1
Tuk... tuk... tuk...
Suara pintu yang di ketuk oleh seseorang dari luar. "Siapa?"
"Ini aku Lidia, apakah aku boleh masuk?"
"Silahkan." jawab Nathan.
Krek...
"Apakah kamu sedang sibuk Nathan? aku membawakan makanan untukmu, semoga kamu suka." ujar Lidia, yang memiliki maksud terselubung dari itu.
"Eumm... terimakasih, aku pasti sangat merepotkan mu."
Tap... tap...
Lidia, mulai mendekat ke arah Nathan. "Kamu sedang mengerjakan apa?"
"Desain poster penerimaan siswa-siswi baru di asrama ini." jawab Nathan, yang masih berfikir positif.
Namun, sepertinya Lidia, memiliki fikiran kotor untuk merayu Nathan, agar tetap selalu ada di sisinya, dan tidak akan pernah tergoda oleh wanita lainnya, maka ia berfikir untuk mencium Nathan, pada saat itu.
Lidia, menarik dasi Nathan, dan duduk di pangkuannya secara tiba-tiba. "Nathan..."
"Lidia! apa yang akan kamu lakukan?! kembalilah berdiri!" seru Nathan.
Cup...
Lidia, mencium leher Nathan, yang bermaksud agar ia merasa tergoda atas dirinya. "Diamlah Nathan, aku hanya ingin mencium mu."
Namun, sayang nya bukan merasa tergoda Nathan, malah merasa jijik dengan hal yang di lakukan oleh Lidia.
Brukk...
Dengan mata yang menatap tajam ke arah Lidia, tampa fikir panjang lagi Nathan, langsung mendorong Lidia, hingga ia tersungkur dengan sangat keras ke lantai. "Lidia! apakah kamu selalu menggoda laki-laki seperti ini?! dimana harga dirimu sebagai anak dari wakil kepala di asrama ini?!"
"Agrh... Nathan, kamu sangat kasar! bantu aku berdiri." ujar Lidia, yang mengulurkan tangan nya pada Nathan, dan sama sekali tidak mendengarkan ucapan Nathan, sebelum nya.
Plak...
Nathan, menepis tangan Lidia. "Melihatmu yang seperti ini sungguh membuatku jijik, Lidia."
Seketika Lidia, langsung di buat terkejut dengan kata-kata yang di keluarkan oleh Nathan. "Apa?! kamu bilang aku menjijikkan?"
"Iyah! sudahlah jika kamu masih ingin berapa di ruangan ini maka silahkan saja, akan tetapi aku sudah tidak punya waktu lagi untuk berada di ruangan ini, apalagi bersama dengan wanita seperti mu!" ujar Nathan, yang langsung keluar dari ruangan nya.
"Sial! sial! sial! kenapa jadi begini? semuanya karna gadis di pesta topeng itu! awas saja jika Nathan, sudah menemukan mu. Aku tidak akan pernah melepaskan mu!" gumam Lidia, yang masih terduduk diam di lantai.
Bersambung.....
Jangan lupa Like - Komen - Vote - Share🖤
__ADS_1