
Setelah Sang dokter pulang, Nathan dengan segera langsung menghampiri Grisella, untuk bertanya padanya.
"Sella... apakah kepala mu sudah baik-baik saja?" tanya Nathan, yang mulai menghampiri Grisella.
"Eumm... iyah sudah, terimakasih Nathan." jawab Grisella.
"Apakah aku boleh bertanya padamu tentang suatu hal?" tanya Nathan, sekali lagi.
"Tentu saja boleh, ayo tanyakan saja." ujar Grisella.
"Jawab aku dengan jujur apakah kau pernah hilang ingatan? dan obat apa yang selalu kau makan?"
Grisella kebingungan dengan apa yang di katakan oleh Nathan. Ia pun bertanya balik pada Nathan "Apa yang sedang kau bicarakan? aku hanya memiliki kebiasaan pusing yang biasa. Jika aku terlalu banyak berfikir itu akan sangat berpengaruh pada otak ku, dan membuatnya menjadi sakit."
Nathan, mulai curiga dengan sakit yang di alami oleh Grisella, akan tetapi tidak ada waktu lagi untuk memikirkan hal itu, yang terpenting sakarang adalah mengambil obat yang selama ini Grisella konsumsi, dan menggantinya dengan yang baru.
"Baiklah kalo begitu tapi aku ingin melihat obatmu, dan menggantinya dengan obat ini. Tadi Dokter mengatakan bahwa dosis obat yang biasa kau minum itu terlalu tinggi, oleh sebab itu Dokter memberikan obat yang sama akan tetapi dengan dosis yang pas untuk mu." ujar Nathan, sambil menyodorkan obat itu pada Grisella.
Grisella, pun menjawab "Ouh mungkin Harry, memberikan obat yang salah padaku, terimakasih telah memanggilkan Dokter untuk ku. Berapa harga obat ini? biar aku ganti uang mu nanti."
Nathan, seketika langsung memeluk Grisella, dengan sangat erat. "Tidak apa-apa, itu hadiah untukmu, cepatlah sembuh sayang."
"Hahaha... baik-baik, terimakasih". jawab Grisella, yang tersipu malu oleh Nathan.
Namun di sisi lain Nathan, mulai curiga dengan Harry. Karna Grisella, mengatakan bahwa Harry'lah yang memberikan obat itu pada Grisella.
"Eumm... Nathan, apakah kau sudah selesai memeluk ku?" tanya Grisella.
Nathan, segera melepaskan pelukan nya. "E-eh? apakah aku membuatmu sesak?"
__ADS_1
"Tidak-tidak, akan tetapi aku sudah terlalu lama di rumah mu, aku ingin pulang ke rumah."
"Apakah rumah ku kurang nyaman untukmu? apakah aku harus mengganti interior nya sekarang?" tanya Nathan, yang hawatir.
"Eumm tidak perlu, tidak perlu! aku hanya ingin pulang karna di rumah ku ada hal yang harus aku bereskan." jawab Grisella.
"Eumm begitu ya? kalo begitu biarkan aku mengantarmu."
"Eumm baiklah, terimakasih sekali lagi."
"Sudahlah jangan lagi ucapkan itu lagi, aku senang melakukan semua hal ini untukmu."
Grisella, tersenyum tipis sambil melihat ke arah Nathan. "hahaha baiklah."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Singkatnya setelah sampai di rumah Grisella, ia pun segera mengambil sapu untuk menyapu semua sudut yang ada di rumah nya.
"Nathan... tidak perlu aku bisa sendiri, bukannya kau sudah mengizinkan aku untuk pulang?"
"Tapi tidak untuk menyapu, kerjakan lah hal yang lebih mudah." ujar Nathan.
Akan tetapi realnya setelah Grisella, memutuskan untuk merapikan tempat make up nya tiba-tiba Nathan, datang, dan menggantinya untuk bekerja. Bukan hanya tempat make up saja akan tetapi setiap Grisella, akan mengerjakan suatu hal seperti merapikan baju, cuci piring, dan menata makanan di kulkas, semuanya selalu di hadang oleh Nathan.
"Nathan!" seru Grisella.
"Iyah kenapa sayang?" jawab Nathan, tanpa ada beban sedikutpun.
"Mengapa kau terus menerus merjakan apa yang akan aku kerjakan?!" tanya Grisella, dengan ekpresi marah.
__ADS_1
"Aku hanya ingin membantumu." jawab Nathan, dengan polosnya.
"Lihatlah... semuanya sudah rapi karnamu, dan aku hanya berjalan-jalan saja."
"Ahh syukurlah kalo begitu, mari kita istirahat sejenak." ujar Nathan, yang seolah bertingkah bahwa mereka berdualah membereskan rumah bersama.
Fyuh...
Grisella, menghembuskan nafasnya. "Terimakasih. Kau mau minum apa? biar aku ambilkan."
"Air putih dingin." jawab Nathan.
"Oke tunggu sebentar." ujar Grisella, yang segera pergi ke dapur untuk mengambilkan Nathan, minum.
Ketika berada di dapur Grisella, seketika teringat bahwa ia memiliki gelang pasangan, awalnya ia akan memberikan nya kepada Aditya, akan tetapi untuk melengkapi sandiwaranya ia pun memutuskan untuk memberikan gelang itu pada Nathan.
"Nathan... ini minum nya." ujar Grisella.
"Terimakasih, tuan putriku." jawab Nathan, dengan mulut manisnya.
"Nathan, aku punya sesuatu untukmu, apakah kau akan menerimanya?" tanya Grisella.
"Aku pasti akan menerimanya." jawab Nathan, tanpa ada rasa ragu sedikitpun.
Grisella, menjulurkan tangan nya ke arah Nathan, dengan telapak tangan yang terbuka membawa gelang. "Maukah kamu menerima pemberian ku ini? ini adalah peninggalan ayah, ibuku, aku ingin kau menjaga nya satu, dan akupun akan menjaganya satu."
Nathan, begitu sangat senang sekali menerima hadiah kecil yang menurutnya itu sangat berharga karna gelang ini adalah pemberian dari wanita yang ia cintai.
Nathan, menjulurkan tangan nya untuk mengambil gelang itu. "Umm... terimakasih Sella, pasti akan aku jaga sepanjang masa."
__ADS_1
Bersambung...