Cinta Dalam Balas Dendam

Cinta Dalam Balas Dendam
Bab 33 : Makan siang berujung duka bagi Lidia


__ADS_3

Grisella, pun segera meminta izin kepada Nathan, untuk pergi ke kamar mandi, yang sebenarnya memiliki tujuan untuk dapat menelfon Aditya.


"Na-Nathan... apakah aku boleh meminjam kamar mandimu?" tanya Grisella.


"Tentu saja boleh, mari biar aku antar." jawab Grisella.


"Eumm baiklah terimakasih."


Sesampainya Grisella, di kamar mandi ia pun segera menelfon kakaknya di dalam kamar mandi, yang memiliki kemungkinan tidak akan terdengar sampai luar.


"Nathan, aku ke kamar mandi dulu." ujar Grisella.


"Baiklah, aku akan menunggumu di sini. Hmm... atau sebaiknya aku tunggu di dalam saja ya?" ujar Nathan, yang terus berusaha untuk menggoda Grisella.


Wajah Grisella, di buat memerah dengan ucapan yang di katakan oleh Nathan. "Ti-tidak! tidak! aku masuk saja sendiri, kau tunggu saja disini."


Brak!


Grisella, membanting pintu kamar mandi dengan cukup keras, dan hal itu juga yang membuat Nathan, semakin penasaran dengan nya.


Di dalam kamar mandi Grisella, sempat melamun akan tetapi ia pun segera tersadar, dan langsung kembali ke tujuan utamanya yaitu untuk menelfon Aditya.


"Astaga... kenapa Nathan, harus mengatakan hal itu? dan kenapa hatiku begitu mendengarnya langsung berdetak dengan sangat kencang? Eh! Grisella... sudah-sudah, sekarang waktunya kamu menelfon Kakakmu." gumam Grisella, yang segera mengeluarkan handphone nya.


Drttt... Drt...


Berdering...


...Pembicaraan di telefon...


"Halo kakak!"


^^^"Ada apa adik ku tersayang?"^^^


"Kakak! aku sudah tidak percaya lagi pada Abi, dia seorang penghianat! aku tidak mau melihatnya lagi."


^^^"Ta-tapi kenapa?"^^^

__ADS_1


"Diam kau! kamu bisa-bisanya menerima tukang kebun sepertinya sebagai tangan kanan mu? sungguh tidak memiliki selera! bye!"


Tut...


"E-eh... kok di matiin? hahahaha... apakah dia sudah tau bahwa Abi, di pekerjakan oleh ku untuk menyelidiki kediaman Jian? sungguh lucu sekali perhatian nya itu." Aditya hanya bisa tersenyum ketika adiknya begitu menghawatirkan nya.


Grisella, pun segera keluar dari kamar mandi dengan raut wajah kesal. Nathan, melihat raut wajah Grisella, yang sepertinya berubah merasa sangat heran, dan ia pun segera bertanya.


"Kamu kenapa?" tanya Nathan.


"Eumm tidak apa-apa." jawab Grisella.


"Apakah kau berani berbohong padaku?"


"Sudah aku bilanh aku tidak apa-apa, ini urusan pribadiku kau tidak perlu ikut campur." ujar Grisella, dengan murung.


Karena Nathan, selalu menjaga Privasi orang lain, maka ia pun langsung faham ketika Grisella, mengataka bahwa hal itu adalah sebuah urusan pribadinya.


"Eumm... baiklah, kalo begitu ayo kita makan siang bersama." ujar Nathan, dengan senyuman bujukan nya.


"Eumm... ya baiklah." jawab Grisella, yang di buat kagum oleh pengetian yang di berikan oleh Nathan, padanya dengan cara tidak memaksanya untuk cerita.


Betapa bahagianya Grisella, ketika melihat menu makanan yang di suguhkan oleh Nathan, yaitu Sefood.


"Wahh! Sefood! Nathan, apakah kamu tau bahwa aku sangat menyukai Sefod? maka oleh sebab itu kamu menyiapkan ini semua?" tanya Grisella, dengan mata yang berbinar-binar.


"Ouh... malah aku baru tau lhoh, mungkin ini kebetulan." jawab Nathan.


"Umm... terimakasih."


"Sama-sama Sella, ayo kita makan."


"Ayo!"


Mereka berdua-pun akhirnya makan siang bersama. Namun di tengah-tengah waktu makan siang itu tiba-tiba Lidia, datang mengunjungi rumah Nathan, dan ketika ia melihat Grisella, yang sedang berada di meja makan bersama Nathan, begitu merasa sangat iri saat melihatnya.


Lidia, begitu semakin merasa bahwa dirinya memanglah seorang wanita yang tidak pernah di lihat oleh Nathan, dan Nathan, hanya menganggap nya sebagai teman masa kecilnya saja.

__ADS_1


Tap... tap...


Lidia, mulai melangkah ke arah meja makan, dan betapa terkejutnya ia ketika melihat Grisella, sedang makan siang di atas meja yang sama dengan Nathan.


"Se-Sella?! ****** itu... sedang makan siang dengan Nathan? kenapa aku sangat merasa iri dengan nya?" gumam Lidia.


Dengan emosi yang cukup meluap Lidia, pun segera menghampiri Grisella, dan langsung menjambak rambutnya dengan sangat keras. Sampai-sampai Grisella, langsung terjatuh ketika Lidia, baru saja menjambak rambutnya.


Deg... Brug!


"Dasar ******! berani-beraninya kamu makan siang disini bersama Nathan, dimana letak drajatmu?!" seru Lidia.


"Awhh! Lidia! cukup, ini sangat sakit." ujar Grisella, yang merintih kesakitan.


Tentu saja hal itu membuat Nathan, sangat murka pada Lidia, ia pun segera mendorong Lidia, untuk menjauh dari Grisella.


"Lidia! beraninya kau semena-mena di rumah ku!" bentak Nathan, yang sambil mendorong Lidia, untuk menjauh.


"Nathan! beraninya kamu mendorongku?!" bentak balik Lidia, pada Nathan.


"Bukan hanya mendorong mu saja! akupun berani untuk membunuh mu!" seru Nathan, yang semakin terpancing emosinya.


Dengan lirikan tajam sambil menggendong Grisella. Nathan, berkata, "Jika kau berani sekali lagi menganiaya Sella, aku akan memutuskan hubungan ku dengan mu. Ingat itu!"


Lidia, di buat terkejut oleh ucapan yang di katakan Oleh Nathan. "Hiks... Nathan! bukan berarti jika kau tidak mencintaiku, kamu dapat menghancurkan hatiku juga! ingat kata-kata ku ini Nathan! mau berapa kali kamu menyakiti hatiku, aku akan tetap mencintaimu!"


"Berhentilah berbicara, dan pergilah dari rumah ini." jawab Nathan, yang segera membawa Grisella, ke lantai dua atau lebih tepatnya ke kamarnya.


Dan hal itulah yang membuat api cemburu Lidia, semakin membesar.


"Awas saja ******! aku akan membalasmu!"


Bersambung...


Jangan lupa Like - Komen - Suport - Vote - and Shaređź–¤


Waktunya iklan, jangan lupa mampir yah...

__ADS_1



__ADS_2