Cinta Dalam Balas Dendam

Cinta Dalam Balas Dendam
Bab 28 : Nathan atau Harry?


__ADS_3

Grisella, semakin merasa terkejut karna apa yang di katakan oleh para gadis itu memanglah benar kebenarannya, karna ketika Grisella, sampai ke kelasnya nya ia langsung melihat Harry, yang sudah berada di dalam kelasnya.


"Astaga! astaga! mimpi apa aku semalam?! Harry, benar-benar pindah kelas." ujar Grisella, di dalam hatinya.


"Halo Sella..." Panggil Harry.


Melirik ke arah Harry, dengan ekspresi terkejut. "E-eh iyah halo juga, Harry."


"Apakah tubuh mu itu sudah membaik?" tanya Harry.


"Eumm iyah sudah. Harry, kenapa kamu ada di kelas ini? bukankah kelas mu ada di lantai empat?" ujar Grisella, yang berbasa-basi.


"Ini adalah kelas aku mohon kecilkan nada bicara kalian! seperti yang kalian lihat sekarang, tidak ada diantara kami yang mengobrol sekeras kalian. Aku mohon hargai peraturan ku." ujar Nathan, yang sebenarnya sangat cemburu dengan kedatangan Harry, ke dalam kelasnya.


Karna keputusan yang di ambil oleh Harry, itu membuat Nathan, cukup kesal. Di karena-kan jika ada Harry, di sisi Grisella, maka kesempatan nya untuk menyelidiki asal usul Grisella, itu akan semakin terhambat.


"Baiklah-baiklah ketua osis, nggak usah marah-marah gitu dong, jelek tau! wle!" saut Grisella.


Nathan, seketika langsung terdiam, dan menghiraukan Grisella, ketika ia mengatakan hal itu padanya.


Rangga, Agam, dan Dias, yang melihat sahabatnya sedang merasa sedih pun segera memutar otaknya untuk mencari cara agar ia merasa terhibur.


"Stt... sttt... Sahabat kita lagi galau." bisik Agam.


"Heem... kenapa ya? apakah dia sedang merasa cemburu?" tanya Dias.


"Tentu saja, itu sangat terlihat jelas di wajahnya." jawab Rangga.


Aha!! seru mereka bertiga secara bersamaan.


Nathan, segera membalik'kan badannya kebelakang. "Stt! apa yang kalian lakukan? berbisik'lah. Jangan bilang kalian ingin mempermalukan aku?!"


E-eh tidak-tidak, baiklah kami akan berbisik, ujar mereka bertiga yang lagi-lagi mengatakan hal yang sama di hadapan Nathan.


"Baiklah, kalo begitu jangan berisik lagi." Nathan, segera kembali duduk dengan rapi ke hadapan depan.


Rangga, Agam, dan Dias, langsung membentuk lingkaran untuk membicarakan hal yang dapat menghibur Nathan.


"Heh... menurut kalian bagaimana?" tanya Agam.


"Huh-hah-heh-heh... huh-hah-heh-heh, emang nya kita apaan Agam!" seru Rangga.


"Sudah! cepat fikirkan sesuatu." ujar Dias.


"Eumm... menurutku ajak saja dia makan."

__ADS_1


"Astaga Agam! yang logis dong, si Nathan, dari kapan coba sering makan kaya kamu?"


"Ya takutnya dia lagi laper gitu makannya marah-marah." jawab Agam, dengan wajah polosnya.


"Eumm kalian berdua diam sebentar, biarkan aku saja yang berfikir." ujar Dias, yang langsung membungkam kedua mulut teman nya itu.


"Hmm... Bagaimana kalo kita kunjungi saja rumah Sella? aku yakin dia akan kembali bahagia."


"Nah bener-bener! aku setuju sama idenya Dias!" seru Rangga.


"Yaudah aku juga setuju, gas aja kali yah. Ta-tapi gimana caranya? trus gimana kalo si Harry, ada di rumahnya?"


"Aku sangat yakin Harry, tidak akan berkunjung ke rumah Sella, hari ini. Jadi deal aja dulu yah?" jawab Dias.


Oke Deal! ujar mereka bertiga secara bersamaan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hingga akhirnya waktu pulang sekolah pun tiba, mereka bertiga menunggu Grisella, pergi dari asrama, dan menahan Nathan, di ruangan nya dengan modus pintunya macet.


Dua puluh menit kemudian.


Mereka segera mengeluarkan Nathan, dari ruangan nya dan segera membawa Nathan, ke rumah Grisella.


"Hehehe... benar, tapi seharusnya kau bersyukur sekarang, karna kami akan membawamu ke rumah Sella." jawab Agam, yang berada tepat di sisi Nathan.


"Iyah Than, jadi udah deh jangan marah-marah lagi." sambung Rangga.


"Ke-kenapa kalian tidak memberitauku sejak awal?" tanya Nathan, dengan nada suara yang tetap berusaha untuk terlihat cool.


"Ah sudahlah jangan bahas soal itu, yang pasti tugas mu sekarang adalah bekerja sama dengan kami." jawab Dias.


"Baiklah, bagaimana rencananya?"


Agam, menjawab. "Kami memiliki modus untuk berpura-pura menanyakan bengkel mobil terdekat, kenapa bengkel terdekat? karna di sekirar sana sama sekali tidak terdapat bengkel mobil, ada sih hanya saja itu sangat jauh. Jadi nanti ban mobil ini akan aku tusukan paku agar kempes, dan mobil kita akan berhenti tepat di depan rumah Sella, lalu kita akan mengetuk pintu rumah Sella, deh..."


Tiba-tiba Nathan, menyela pembicaraan Dias. "Baiklah, sisanya biarkan aku saja yang mengurusnya."


"Oke deh." jawab Dias.


"Gam-Gam... ada yang tiba-tiba jatuh cinta nih, hahaha." ujar Rangga.


"Iyah nih padahal tadi marah-marah." jawab Agam, yang sama-sama mulai mengejek Nathan.


"Ahh... berisik kalian! hahaha."

__ADS_1


Nah gitu dong senyum! teriak Agam, dan Rangga.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sesampainya di rumah Grisella. Rangga, segera mengempeskan ban mobilnya.


"Baiklah, semuanya beres. Ayo ketuk pintunya." bisik Rangga.


Tuk... tuk...


Nathan, segera mengetuk pintu rumah Grisella, dengan berlahan. "Permisi..."


Tuk... tuk... tuk...


Agam, ikut untuk mengetuk pintu rumah Grisella, dengan sedikit lebih keras lagi. "Halo! permisi! ban mobil kami kempes, kami ingin menanyakan sesuatu, permi..."


Klek...


Grisella, segera membukakan pintu rumahnya, dan betapa terkejut ia ketika melihat kehadiran mereka berempat yang berada di depan rumah nya. "Ya kenap... Astaga! kok kalian ada di sini!"


Melihat Grisella, yang merasa terkejut Agam, dengan otomatis nya mengatakan kata yang sebelumnya ia sudah sampaikan. "Ban kami kempes! apakah kau tau bengkel mobil terdekat di sekitar sini?"


Dengan sandiwaranya Nathan, Rangga, dan Dias pun berpura-pura ikut terkejut juga.


"Sella?!" seru mereka bertiga.


"Apakah ini rumah mu?" tanya Dias.


"I-iyah... oh iyah kalian tadi bertanya yah? baik aku akan menjawab nya... bengkel mobil itu kira-kira ada di ujung jalan ini, sekitar lima belas KM dari sini, jadi kalian bisa pergi kesana." jawab Grisella, yang terburu-buru untuk menjawab mereka di karenakan ingin mereka berempat segera pergi dari rumahnya.


Di karenakan mereka berempat memiliki rencana untuk masuk ke dalam rumah Grisella, maka mereka pun memutuskan untuk menunggu montir saja, yang pasti akan menemui mereka ke rumah Grisella.


"Sella, kau tidak sedang bercandakan? lima belas KM dorong mobil? bagaimana jika kami akan menunggu montir ke sini dengan masuk terlebih dahulu ke rumah mu." ujar Nathan.


"Hmm... baiklah, akan tetapi dengan syarat untuk tetap menjaga sikap kalian saat masih berada di rumahku." jawab Grisella, yang sangat terpaksa menerima mereka masuk ke dalam rumahnya.


"Baik terimakasih."


bersambung....


Jangan lupa Like - Komen - Vote - Suport- and Share🖤


Waktunya iklan jangan lupa mampir


__ADS_1


__ADS_2