Cinta Dalam Balas Dendam

Cinta Dalam Balas Dendam
Bab 38 : Padahal aku tau jelas bahwa Cinta ini terlarang


__ADS_3

Pengumuman : Terimakasih pada semua pembaca yang mau terus suport novel Cinta Dalam Balas Dendam. Jujur author seneng banget sama antusias kalian semua yang bikin semangat Author bangkit lagi walau pembacanya masih sedikit. Sekali lagi terimakasih.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tok... tok... tok...


Suara ketukan pintu yang di buat oleh Agam, di pintu kamar Nathan. "Than... di dalem kan? buka pintunya dong."


Nathan, yang menyadari bahwa itu adalah Agam, dengan segera ia langsung menurunkan Grisella, dari pangkuan nya, dan meminta Grisella, untuk menunggu nya sebentar.


"Agam, di luar kamar ya?" ujar Nathan.


"Iyah tuh kayanya." jawab Grisella.


"Eumm... yaudah kamu duduk dulu aja di kasur yah, kamu tunggu dulu di sini, aku akan segera kembali." ujar Nathan, yang segera menurunkan Grisella.


"Baiklah."


Nathan, membukakan pintu, dan segera mengambil kunci rumah Grisella, yang Agam, pegang.


"Mau kasih kunci kan?" tanya Nathan, yang tidak membuka keseluruhan pintu kamarnya, ia hanya menyisakan kepalanya saja yang keluar.


"Benar... nih." ujar Agam, yang segera mengulurkan kunci rumah Grisella, ke tangan Nathan.


"Terimakasih."


"Cuman terimakasih aja? ga akan di ajakin masuk dulu gitu, yo lah masuk." ujar Agam, yang hendak menerobos masuk pintu kamar Nathan.


"Jangan, jangan, jangan! eumm... tunggu hingga satu jam kedepan, oke? setelah itu barulah kalian boleh masuk." jawab Nathan, yang terus menghadang Agam, untuk masuk.


"Lah emang kenapa? apa ada masalah?" tanya Dias


"Tidak ada, tapi yasudah cepat pergi dulu dari sini! Masih ada banyak urusan yang harus aku selesaikan."


Bam... !!!


Tanpa banyak bicara lagi Nathan, segera menutup kembali pintu kamarnya dengan rapat-rapat, dan langsung menguncinya dari dalam.


Krek... Krek...


"Kalian boleh menunggu satu jam lagi, bye!" seru Nathan, dari dalam kamarnya, setelah ia berhasil mengunci kamarnya.

__ADS_1


Agam, dan Dias, hanya dapat melamun dan terdiam. Sebenarnya mereka tau bahwa di dalam kamar Nathan, itu ada Grisella, akan tetapi mereka tidak tau alasan Nathan, mengusir mereka hingga satu jam kedepan.


"Dasar bucin!" seru Agam.


"Udah-udah, sebaiknya kita tunggu saja dulu di sini." ujar Dias, yang segera menarik tangan Agam, untuk menjauh dari hadapan pintu kamar Nathan.


"Hmm! awas saja kau Nathan."


Di sisi lain Grisella, pun segera mengatakan bahwa hal ini mungkin saja tidak baik, karena mereka hanya berduaan di dalam kamar, dan apa mungkin nantinya kedua orangtua Nathan, akan mencurigainya mereka telah melakukan hal yang aneh-aneh.


"Nathan, apa yang kamu lakukan ini salah, bagaimana jika mereka mengadukan kita pada kedua orangtua mu? apakah kamu yakin bahwa mereka tidak akan mencurigai kita telah melakukan sesuatu yang aneh?"


Nathan, tersenyum lalu menjawab. "Semua hal yang kamu katakan itu tidak akan pernah terjadi, tenanglah. Karena ayah, dan ibuku, baru saja pergi ke luar kota tadi pagi."


"Dan... soal apa yang akan aku lakukan itu adalah urusan ku, mungkin saja akupun akan melakukan sesuatu hal yang aneh itu, dan memang itulah tujuan ku." ujar Nathan, dengan tatapan tergodanya.


Wajah Grisella, seketika berubah menjadi kemerahan. "A-apa yang akan kau lakukan?! aku mohon jangan hancurkan keperawanan ku ini! karna hal ini adalah milik calon suamiku nanti."


Lalu Nathan, kembali menjawab perkataan Grisella. "Bagaimana kalau aku akan segera menikahi-mu? ketika kita sudah lulus nanti."


"E-eh? eum... mengenai hal itu, aku punya banyak syarat jika kau mau menjadi suamiku."


"Coba katakan apa saja?" ujar Nathan, yang semakin terlihat menantang Grisella.


Hmm...


Nathan, tersenyum licik pada Grisella. "Bagaimana jika aku menyanggupi seluruh persyaratan mu itu? karna aku sudah memiliki sebuah perusahaan, lestoran, dan industri yang aku kelola sendiri, dan tentu saja aku bisa dengan mudahnya menyanggupi seluruh persyaratan mu itu."


Bum... !!!


Setelah mendengar jawaban dari Nathan, dengan seketika Grisella, langsung di buat terkejut karena di usianya yang masih sebelia ia sudah dapat mendirikan perusahaan sebesar itu sendirian.


"Ha-hah? apakah perkataan mu itu bersungguh-sungguh?" ujar Grisella, yang masih tidak habis fikir bahwa Nathan, dapat melakukan semua hal itu dengan sangat baik di usianya yang sekarang. Menjadi pengusaha di usianya yang masih sembilan belas tahun itu kemungkinan besar sangatlah tidak mudah, akan tetapi Nathan dapat melakukan nya semudah itu.


"Bagaimana? apakah aku sudah termasuk ke dalam semua persyaratan mu?" tanya Nathan, yang semakin menyudutkan Grisella.


"Eu-eum... aku tak menyangka bahwa kamu ternyata adalah seorang lelaki yang pekerja keras." jawaban Grisella, yang begitu terbata-bata semakin membuat Nathan, bergairah padanya, karna Nathan menganggap dengan sikap Grisella, yang seperti itu, sangatlah mirip dengan dirinya yang sedang berusaha untuk menggodanya.


Ia pun segera menggendong Grisella, ke atas kasurnya, dan juga menidurkan nya dengan posisi terlentang. Setelah itu ia langsung menaiki Grisella, dan mencium lehernya hingga ke sebagaian dadanya.


Bruk... !!!

__ADS_1


"A-apa yang kau lakukan?" tanya Grisella, yang mulai ketakutan.


"Diamlah... muach..." bisik Nathan, yang mulai mencium leher Grisella.


Ahh... Na-Nathan... jangan seperti ini.


Karna hasratnya yang sudah mulai memuncak Nathan, pun langsung mencium bibir Grisella, dengan lembut.


Muah... much... ahh...


Rasanya Grisella, sangat ingin menolak ciuman itu akan tetapi kenapa rasanya begitu nikmat yang membuat dirinya tak bisa menolaknya. Namun Grisella, tetap berusaha untuk memberontak agar dapat terbebas dari ciuman, dan pelukan Nathan, akan tetapi Grisella, malah semakin di peluk erat oleh Nathan.


"Nat... han, aku mohon lepaskan aku." ujar Grisella.


"Tidak akan pernah... karna aku akan menikahimu, maka serahkan-lah tubuhmu itu padaku." ujar Nathan, yang mulai membuka pakaian Grisella, satu persatu.


"A-aku mohon Nathan... hiks... jangan lakukan hal yang seperti itu padaku sekarang. Aku sangat ingin menjaganya hanya untuk suamiku saja." ujar Grisella, yang mulai menangis karena semakin merasa ketakutan.


Nathan, yang melihatnya menangis akhirnya memutuskan untuk memakaikan kembali seluruh pakaian Grisella, dan setelah itu ia pun langsung memeluk Grisella, untuk meminta maaf.


"Emm... maafkan aku, aku terlalu terbawa suasana olehmu. Untuk kedepan nya lagi jangan coba-coba untuk menggodaku seperti itu lagi oke?"


"A-aku tidak menggodamu sama sekali." jawab Grisella.


Nathan, semakin erat memeluk Grisella, karna merasa sangat bersalah padanya. "Maafkan aku Sella, aku yang salah. Kau mau kan memaafkan calon suami mu ini?"


Puk...


Grisella, memukul dada Nathan, dengan berlahan. "Apaan sih... kau ini meminta maaf dengan bersungguh-sungguh atau tidak?!"


Nathan, mengusap kepala Grisella, dengan penuh kelembutan. "Kau juga sebenarnya benar-benar menangis atau tidak? jika tidak aku akan melakukan nya."


"Ih jangan!" seru Grisella.


"Hahahaha... iyah-iyah. Baiklah kalo begitu ayo kita keluar untuk menemui teman-teman ku."


"Eumm baiklah."


Nathan, pun segera menggendong Grisella, keluar dari kamar untuk menemui teman-teman nya yang sudah menunggunya di luar.


Bersambung.....

__ADS_1


Waktunga iklan, jangan lupa mampir yah



__ADS_2