
Sayang nya ketika Grisella, sedang merasa bahagia dan senang, tak di sangka tepat di belakang Grisella, berdiri seorang teman Lidia, yaitu Dhea, yang tak sengaja melihat Harry, yang menghampiri Grisella.
"Hmm... kenapa Harry, bisa langsung menyapa nya begitu saja? padahal ia adalah tipikal seorang pria yg tidak pernah dekat dengan para wanita, ya walaupun ia selalu di kerubungi oleh para wanita. Hmm... sebaiknya aku laporkan hal ini pada Lidia." ujar Dhea.
Ia pun segera melaporkan nya pada Lidia, tujuan nya agar ia dapat merencanakan hal baru untuk membully Grisella.
"Lidia... Lidia!" panggil Dhea.
"Apasih Dhea? jangan teriak-teriak bisa nggak?" ujar Wulan.
"Ah kau diam saja, aku ingin menyampaikan berita bagus untuk Lidia."
"Soal apa?" tanya Lidia, yang seketika langsung penasaran.
"Ini soal Sella." jawab Dhea.
"Jangan setengah-setengah kalo mau cerita, cepat lanjutkan." ujar Lidia, dengan nada tegas.
"Baiklah-baiklah. Jadi, tadi aku sedang berjalan-jalan sebentar di sisi taman, lalu aku tak sengaja melihat Harry, yang mendekat ke arah Sella, dan aku tak menyangka Harry, akan langsung akrab dengan Sella."
"Sebentar, bukankah Harry, itu adalah tipikal cowo yang nggak gampang deket sama cewe yah? atau memang aku aja yang keliru selama ini?" tanya Lidia.
"Kamu sama sekali tidak keliru mengenai hal itu Lidia, karena memang benar kebenarannya bahwa Harry, adalah tipikal seorang laki-laki yang tidak semudah itu untuk akrab dengan para wanita, menurutmu bagaimana mengenai hal ini?" ujar Dhea, yang menjelaskan.
Lidia, yang mendengarnya seketika merasa geram pada Grisella. "Cih... kenapa murid baru itu dapat dengan mudahnya memiliki kesempatan untuk mengambil kedua hati laki-laki tampan itu."
"Kedua hati?" tanya Wulan.
"Ya, hati Harry, dan juga hati Nathan." jawab Lidia.
"Ta-tapikan... Nathan, itu pacar kamu."
"Ya itu benar, namun aku merasa bahwa dia mulai menyukai Sella, di bandingkan dengan diriku. Mungkin aku dapat memilikinya akan tetapi tidak dengan hatinya." ujar Lidia, yang mengucapkan kata dengan nada yang sedih.
"Umm... sahabat kesayang ku, jangan sedih gitu dong." bujuk Dhea.
"Iyah benar kata Dhea, kami siap untuk membantumu dalam hal apapun kok, jadi kamu tidak perlu menghawatirkan hal itu. Kami berdua pasti akan membantu kamu untuk mendapatkan hati Nathan." ujar Wulan, yang menyabung bujukan Dhea.
Karena ia tidak ingin gegabah lagi dalam hal melakukan sesuatu. Maka Lidia, memutuskan untuk membiarkan nya terlebih dahulu, karena ia tidak ingin hubungan nya dengan Nathan, nantinya akan rusak begitu saja jika ia langsung bertindak tanpa memiliki ancang-ancang yang jelas.
__ADS_1
"Eum... terimakasih. Baiklah teman-teman aku sudah memutuskan untuk sabar terlebih dahulu untuk menghadapi wanita itu, aku tidak ingin lagi melakukan hal yang gegabah." ujar Lidia.
"Tenanglah Lidia, kami pasti akan memikirkan suatu rencana untukmu, dan tentu saja itu akan membuat sang putri upik abu itu malu."
"Eumm baiklah, ketika aku sudah memiliki rencana dan kalian berdua pun memiliki sebuah rencana, cepat kabari aku oke? tujuan nya agar kita dapat merundingkan hal itu."
"Laksanakan bos. Eum tapi sepertinya sekarang aku merasa lapar. Lidia, Wulan kita ke kantin yu? biar Lidia, yang bayarin hahaha... kabur." ujar Dhea, yang sedang berusaha untuk menghibur Lidia.
"Hahaha... bayar sendiri! enak aja minta di telaktir." seru Lidia.
"Aku nggak mau makan pokoknya kalo nggak di bayarin Lidia." jawab Dhea.
"Yasudahlah pesan apapun yang kalian berdua mau, biar aku yang bayar."
"Yey! Lidia, memang yang terbaik." ujar Wulan, dan Dhea, secara bersamaan.
Lidia, sebenarnya adalah seorang gadis yang baik dan polos. Namun sayang nya, ia memiliki sifat selalu ingin paling benar, dan hanya dirinyalah yang paling benar, walau ia memiliki sifat yang seperti itu, tidak menutup kemungkinan bahwa sebenernya hati yang di miliki olehnya itu sangatlah lembut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sisi lain Nathan, sedang berusaha untuk melupakan bayang-bayang wajah Grisella, dari dalam fikiran nya itu. Entah kenapa ia merasa bahwa baru pertama kalinya menemukan sesosok wanita seteguh Grisella.
"Gam... si Nathan, kenapa?" tanya Dias.
"Nggak tau tuh napa. Senyam-senyum, senyam-senyum, ntar kemasukan jin lhoh!" seru Agam.
Nathan, masih terfokus pada isi dalam fikiran nya, sehingga ia tidak mendengarkan apa yang di katakan oleh Agam.
"Dih... hahaha, kasian di kacangin kamu Gam." ucap Dias, yang merasa terhibur.
"Biadab ini anak harus di kasih faham."
"Silahkan, tidak ada orang yang akan menghentikan mu, hahaha."
Agam, mendekat ke arah Nathan, dan mendekatkan wajahnya ke telinga Nathan untuk berbisik. "Nathan! kamu kesambet apa?!"
Seketika Nathan, langsung terkejut dengan bisikan Agam, yang tiba-tiba. "Astaga! Gam, bisa ga kalo ngomong tuh dari jauh aja ga usah sampe bisik-bisik! kamu gay yah?"
Agam, langsung menatap ke arah Dias, dengan wajah yang pasrah. "Dias, coba jelasin. Sumpah cape hadepinya."
__ADS_1
"Eh kalian kenapa?" tanya Nathan.
"Than, sebenernya kamu kenapa sih? dari tdi senyam-senyum, si Agam, ngajak ngobrol aja kamu kacangin, kenapa si?" jawab Dias.
"Ha-hah? aku senyam-senyum sendiri? masa sih? hahaha."
"Jujur aja deh, kamu lagi mikirin si kutu buku itu kan?" ceplos Agam.
Seketika Nathan, tidak bisa berkata-kata lagi. "Eumm... tidak."
"Jujur..." ujar Agam, yang ingin menyudutkan Nathan.
"Hmm... tidak!" ujar Nathan, dengan ucapan nada yang sedikit tegas.
"Ayolah Nathan, belajarlah untuk jujur pada kami."
"Ah... iyah-iyah, aku lagi mikirin si Sella."
"Gacha! benerkan apa tebakan ku selama ini. Kamu jatuh cinta yah padanya?" seru Agam.
"Bukan seperti itu."
"Lalu seperti apa?" tanya Dias.
"Ntahlah, aku hanya baru saja menemukan sesosok perempuan sepertinya. Mungkin sekilas ia sama saja dengan perempuan lain yang begitu manja, dan sangat polos, namun ternyata tak di sangka ia memiliki pendirian yang hebat, aku hanya merasa kagum padanya." jawab Nathan.
"Apa yang di maksud oleh mu tentang pendirian nya itu?" tanya Dias, sekali lagi.
"Ia tidak mudah untuk bergantung pada orang lain, ia sangat mandiri dalam melakukan apapun, tidak sama seperti perempuan lainnya yang selalu ingin di lindungi, ia bisa melindungi dirinya sendiri dengan hebat. Tapi yasudahlah jangan di fikirkan, ganti topik." ujar Nathan, yang kembali menjawab pertanyaan Dias.
"Hmm... aku pun tak mengerti dengan perasaan mu terhadap Lidia, namun aku sedikit mengerti tentang perasaan yang kamu miliki terhadap Sella, mungkin saja itu adalah cinta." ujar Agam.
"Hahaha... cinta yah? tapi yasudahlah aku sudah tak mau memikirkan nya lagi." jawab Nathan, yang langsung merubah raut wajahnya menjadi sedih.
Bersambung.....
Jangan lupa Like + Komen + Vote + Share🖤
Nantikan bab selanjutnya yah!
__ADS_1