
Setelah Agam, berada di luar, ia segera berusaha untuk menenangkan diri, dan berfikir bagaimana caranya untuk mengungkap semua ia identitas Grisella, yang ini ia sembunyikan dari mereka.
"Sebenarnya aku sangat benci ketika diriku terpaksa harus menyimpan rahasia yang tidak di setujui seperti ini. Tapi yasudahlah sebaiknya aku memikirkan cara untuk merentas segala rahasia yang selama ini Sella, sembunyikan." ujar Agam, yang sedang merenung.
Grisella, yang melihat sikap Agam, yang semakin aneh tiba-tiba merasa semakin tidak enak pada Agam, karena dengan terpaksanya ia harus menjaga rahasia itu dengan begitu merasa gugup. Akhirnya Grisella, pun meminta izin untuk menemui Agam, yang sedang berada di luar untuk di ajak kembali masuk ke dalam.
"Na-Nathan..." panggil Grisella.
"Ada apa Sella?" tanya Nathan.
"Bolehkah aku keluar sebentar untuk membujuk Agam, agar ia kembali masuk ke dalam? aku rasa ia baik-baik saja." jawab Grisella.
Nathan, cukup terkejut dengan permintaan izin yang di katakan oleh Grisella, padanya yang begitu sopan. Namun, sebenarnya ia tau bahwa permintaan izinnya itu di karenakan rasa tidak enaknya pada Agam.
"Eumm baiklah, tapi apakah kakimu itu sudah baik-baik saja? atau biar aku antar ke depan." jawab Nathan.
"Eumm tidak perlu, kakiku sudah baikan. Terimakasih Rangga, baiklah aku keluar dulu ya... kalian tunggu saja disini." ujar Grisella, yang segera keluar dari kamar Nathan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Akhirnya Grisella pun keluar, dan duduk di samping Agam, sambil berkata. "Agam... maafkan aku, dan Nathan. Jika saja kami tidak melakukan hal itu, mungkin kamu tidak perlu repot-repot untuk menjaganya sampai segugup ini."
__ADS_1
Agam, menjawab dengan nada suara yang merendah. "Emm... tidak apa-apa, kau tidak perlu meminta maaf padaku. Itu hak kalian berdua, seharusnya aku yang meminta maaf padamu."
"Tidak perlu meminta maaf, kau sama sekali tidak salah. Aku mohon padamu Agam, jangan seperti ini sekali lagi aku memohon padamu untuk kembali ke dalam oke?"
"Dan satu lagi aku sudah mempercayaimu mulai dari sekarang, jadi jangan merasa segugup lagi oke? ayo kita masuk." ujar Grisella, yang mencoba untuk terus membujuk Agam.
Agam yang mendengarnya akhirnya pun merasa lega, karena pada akhirnya Grisella, mengatakan padanya bahwa ia telah mempercayai rahasianya padanya.
"Umm... terimakasih telah mempercayaiku. Aku merasa gugup karna begitu takut jika kau tidak mempercayaiku. Tanpa ada persetujuan untuk mempercayai sebuah rahasia seseorang padaku, memang terkadang diriku itu suka bersikap seperti apa yang kau lihat." jawab Agam.
"Ouh... jadi seperti itu, ternyata kau itu unik juga yah." ujar Grisella, dengan senyuman manisnya.
"Hahahaha... iyah-iyah, ayo kita masuk kembali ke dalam."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Agam, yang berhasil di bujuk oleh Grisella, masuk kembali ke dalam kamar Nathan, dengan gagah nya. Agam, kembali masuk ke dalam dengan menyaku tangan nya ke dalam saku switternya.
"Aku kembali." ujar Agam, dengan coolnya.
Teman-teman nya pun seketika langsungbbertanya. "apa kamu sudah membaik?"
__ADS_1
Dengan percaya dirinya Agam, menjawab. "Tentu saja sudah. Maka oleh sebab itu aku kembali masuk ke dalam."
"Jiah... sombong amat, giliran sakit tetep aja kita-kita yang repot." ujar Dias, yang langsung mengejek Agam.
"Apa katamu! jika kau tidak ingin di repotkan olehku yasudah jangan pernah lagi berteman dengan ku!" bentak Agam.
"Huu! baperan banget suh Huu!" ujar Dias, yang semakin mengejek Agam.
"Awas yah kamu!" seru Agam, yang segera mengejar Dias.
"Astaga! Agam! aku hanya bercanda. Aku mohon jangan bunuh aku, kau baru saja sembuh, ingat itu!" teriak Dias, yang langsung berlari untuk menghindari kerjaran Agam.
"Jangan banyak bicara! tidak akan pernah aku lepaskan!"
Nathan, yang mengetahui jelas bahwa Grisella, lah yang telah berhasil membujuk Agam, untuk kembali masuk ke dalam. Ia tersenyum tipis sambil memandang ke arahnya dengan tatapan bangga.
Bersambung...
Waktunya iklan, jangan lupa mampir yah...
__ADS_1