Cinta Tulus Abi

Cinta Tulus Abi
Menjaga Ibu Ningrum


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Seketika Abi merasa gugup, bingung harus menjawab apa, karena pertanyaan Ibu Ningrum benar-benar membuat dirinya bergeming.


"Abi, sekali lagi Ibu bertanya, kamu kenapa menatap Ibu seperti itu?" Tanya Ibu Ningrum lebih keras.


"Ee... engga Bu guru, Abi hanya kasihan saja sama Ibu guru." Sahut Abi berdusta, seraya menunduk menutupi rasa gugupnya. Pasalnya dia masih ragu dengan perasaannya, dan tidak enak hati dengan Pak Sabar, yang juga berada satu ruangan.


"Maksud Abi apa? Kenapa Abi kasihan sama Ibu? Sebenarnya Ibu sakit apa, Abi?" Tanya Ibu Ningrum penasaran.


"Ibu sakit DBD, jadi Abi kasihan sama Ibu." Sahut Abi jujur, pasalnya dia kasihan dengan kondisi Ibu Ningrum, dan dia rela jika bisa menggantikan posisinya.


"A... apa? D.. B.. D..? Jadi Ibu sakit DBD? Apa benar begitu, Pak Sabar?" Tanya Ibu Ningrum terkejut.


"Iya Bu Ningrum, benar yang dikatakan Abi." Sahut Pak Sabar membenarkan.


"Astagfirulloh, kenapa bisa? Padahal saya selalu menjaga kebersihan, dan tiap hari rumah saya selalu di bersihkan." Ujar Ibu Ningrum lirih, seraya menggelengkan kepalanya tidak percaya.


"Mungkin Ibu harus di rawat beberapa hari kedepan, agar kondisi Ibu lekas membaik." Ucap Pak Sabar.


"Iya Pak, terima kasih." Sahut Ibu Ningrum.


"Sebaiknya Ibu Ningrum, harus memberitahu keluarga Ibu." Saran Pak Sabar.


"Iya.. Pak, saya akan segera memberi kabar kepada Orang Tua saya. Terima kasih Pak Sabar dan Abi." Ucap Ibu Ningrum tulus.


Kemudian Ibu Ningrum mencari Ponsel yang dia simpan ditasnya, dan ternyata dia baru ingat jika tasnya tertinggal di kelas Abi.


"Eemmm.. Pak Sabar, ponsel saya tertinggal di dalam tas, dan tas saya ada di kelas Abi. Bagaimana saya akan menghubungi keluarga saya, jika nomor mereka ada di ponsel saya?" Ujar Ibu Ningrum.


"Oohh.. mungkin tas Ibu dibawa oleh Ibu Sari." Pikir Abi.


"Bisa jadi Abi, kamu cerdas, sampai berpikir demikian." Ucap Ibu Ningrum, seraya memuji Abi.


"Ini saya pinjamkan ponsel saya Ibu, jika ingin menghubungi Ibu Sari." Tawar Abi cepat, seraya menaruh ponselnya disamping Ibu Ningrum.


"Kamu punya nomor Ibu Sari, Abi? Atau Pak Sabar?" Tanya Ibu Ningrum.

__ADS_1


"Engga Bu guru." Sahut Abi jujur.


"Saya juga engga punya, nomor Ibu Sari." Sahut Pak Sabar.


"Yaah kalau engga ada nomor Ibu Sari, bagaimana mau menghubunginya." Gumam Ibu Ningrum, tetapi masih di dengar oleh Abi.


"Ibu Ningrum 'kan bisa menelepon ke nomor Ibu sendiri, siapa tahu saja nanti bisa diangkat oleh Ibu Sari." Ucap Abi memberi saran.


"Oooh.. iya, benar juga katamu Abi, kenapa Ibu engga kepikiran sampai kesitu yah?" Ujar Ibu Ningrum heran.


Akhirnya Ibu Ningrum menghubungi nomor ponselnya sendiri, namun sudah panggilan ke 5 masih tidak diangkat juga. Akhirnya Ibu Ningrum terpaksa mengirim pesan WA ke nomor ponselnya, berharap agar di baca oleh Ibu Sari.


"Bagaimana Ibu guru sudah ada balasan WA dari Ibu Sari?" Tanya Pak Sabar penasaran.


"Belum Pak, tapi mungkin Ibu Sari masih sibuk, atau sedang tidak di dekat ponsel saya. Kita tunggu saja, pasti nanti akan di balas kalau sudah dibaca pesannya." Jawab Ibu Ningrum.


"Ya sudah kalau begitu." Ucap Pak Sabar.


Suasana mendadak hening, saat tidak ada obrolan dari mereka, semuanya sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Ibu Ningrum merasa tidak enak hati, jika harus di jaga oleh kedua orang yang tidak ada ikatan apa-apa dengannya. Hingga dia memutuskan untuk meminta Pak Sabar, meninggalkannya sendiri saja.


"Eeemmm... Pak Sabar, Bapak engga cape atau lelah seharian menjaga saya? Lebih baik Bapak pulang dulu, untuk membersihkan diri dan beristirahat. Terima kasih, Bapak sudah menjaga saya seharian ini. Maaf saya bukan mengusir Bapak, tapi saya kasihan sama Bapak." Selorohnya tidak enak hati.


"T.. tapi Pak, saya jadi tidak enak hati, jika harus merepotkan Bapak." Ucap Ibu Ningrum.


"Benar Pak Sabar, apa yang dikatakan Ibu guru, lebih baik Bapak istirahat dahulu pulang untuk bersih-bersih badan, Bapak pasti sudah lelah seharian menunggu Ibu guru. Sekarang biar Abi saja yang gantian menjaga Ibu guru, sampai keluarga Ibu guru datang." Sela Abi menimpali.


Pak Sabar menimbang-nimbang ucapan Abi, namun dia merasa was-was jika harus membiarkan mereka hanya berdua saja. Bagaimanapun Abi seorang Pria, siapa yang tidak jatuh cinta, jika melihat Ibu Ningrum yang cantiknya limited edition. Tapi tubuh Pak Sabar sudah merasa lelah seharian, dan juga tubuhnya harus mandi dan berganti pakaian.


"Baiklah kalau begitu, saya pulang dulu Ibu Ningrum, besok insya Allah saya akan menjenguk Ibu kembali." Ujar Pak Sabar untuk pamit.


"Iya.. Pak Sabar, terima kasih banyak atas bantuannya." Sahut Ibu Ningrum, lalu Pak Sabar mengangguk kecil seraya tersenyum mengembang.


"Hati-hati di jalan, Pak Sabar." Ucap Abi tulus.


"Iya Abi, terima kasih, Saya titip Ibu Ningrum Abi, tolong jaga dan temani Ibu Ningrum jangan sampai lengah, ingat pesan Dokter tadi, jika fase kritis itu fase yang sangat penting." Pesan Pak Sabar mengingatkan.


"Siap Pak Sabar 86." Sahut Abi, seraya memberi hormat kepada Pak Sabar. Sontak membuat Ibu Ningrum menahan tawa.

__ADS_1


"Baiklah saya pulang dulu, sampai jumpa Ibu Ningrum, Assalamu'alaikum." Pamit Pak Sabar memberi salam.


"Wa'alaikumsalam," Sahut Abi dan Ibu Ningrum.


Setelah kepergian Pak Sabar, Abi mendekat ke arah Ibu Ningrum, lalu duduk dikursi samping ibu Ningrum. Abi tersenyum melihat Ibu Ningrum, saat teringat tadi menahan tawanya.


"Ibu guru kenapa tadi menahan tawa? Emang ada yang lucu yah Bu?" Jahil Abi sengaja menanyakan hal konyol itu.


"Itu Abi, kamu itu tadi lucu saja dimata Ibu, seakan-akan Pak Sabar itu seorang Komandan, dan kamu Prajuridnya, ha.. ha.. ha..." Ujarnya seraya tertawa puas.


"Nah 'kan kalau begitu Ibu cantik, tertawanya lepas engga usah di tahan." Seloroh Abi jujur, namun Ibu Ningrum merasa malu di bilang cantik oleh anak muridnya, seketika wajah Ibu Ningrum merona merah.


"Ibu guru, seharusnya ini waktu makan sore, sebentar lagi mau jam 6. Saya coba tanya suster yang jaga yah Bu guru." Ujar Abi.


"Engga usah Abi, ini Ibu tinggal pencet Bell saja, pasti Suster langsung kesini." Cegah Ibu Ningrum.


"Iya Buguru."


"Eeemmm.. buguru?" Panggil Abi lembut.


"Iya Abi!" Sahut Ibu Ningrum.


"Apakah Pak Sabar, pernah mengatakan menyukai Ibu?" Tanya Abi tanpa ragu.


"Kenapa Abi menanyakan hal seperti itu?" Ibu Ningrum merasa aneh.


"Tadi sore, ketika saya hendak kesini, saya mendengar sendiri jika Pak Sabar mencintai Ibu, namun Ibu selalu menolaknya." Ujar Abi, seraya menatap manik Ibu Ningrum dalam.


Ibu Ningrum jadi salah tingkah, saat mata indah Abi menatapnya intens, hingga dia tidak bisa mengeluarkan kata-katanya.


"I.. itu Pak.." Ucapnya gugup, namun terhenti saat Abi menyela ucapannya.


"Tapi dada saya merasa sesak Bu guru dan hati saya merasa sakit, saat Pak Sabar mengatakan hal itu." Ungkap Abi jujur, apa yang dia rasakan.


Ibu Ningrum seketika Shock, mendengar pernyataan Abi.


--BERSAMBUNG--

__ADS_1


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan komentar yah. Terima kasih......


__ADS_2