
๐ฅฐ๐ฅฐHappy Reading๐ฅฐ๐ฅฐ
Malam ini pasangan pengantin baru, Abi dan istrinya, bersama keluarga Kiai Zain dan beberapa guru dan santri menginap di hotel mewah yang sudah disewa oleh Robby.
Mereka sudah memasuki kamar Hotelnya masing-masing. Wajah Robby dan Mariam nampak lelah, karena mereka berdiri dan menerima ucapan selamat dari para tamu undangan.
Dikamar Hotel, Mariam begitu takzub saat melihat kasur yang berukuran besar, bertaburan bungan mawar yang berbentuk hati.
Robbypun tersenyum, melihat wajah Mariam yang sepertinya sangat menyukai kamar yang sudah dia persiapkan untuknya.
"Ya Zawjattiku, bagaimana menurut kamu, sayang? Apa kamu menyukai kamarnya?" Tanya Robby tersenyum dan menangkup kedua pipi Mariam.
"Heeem.. suka, kamarnya bagus dan mewah dengan beraneka bunga yang harum." Kata Mariam memujinya.
"Alhamdulillah kalau kamu menyukainya, sayang. Semua ini, aku persembahkan hanya untuk kamu istriku tercinta." Ujar Robby menatap mata Mariam, meresapi dirinya yang begitu sangat mencintainya.
Mariam sedikit terenyuh ketika menatap mata Robby suaminya yang begitu dalam. Dengan hembusan napas dari keduanya, bisa mereka rasakan betapa mereka gugup, namun bahagia.
"Istriku sayang, mari kita mandi bersama, setelah itu kita sholat isya berjama'ah." Ajak Robby dengan lembut, mengecup kening dan seluruh wajah Mariam gemas.
"I.. iya.. suamiku, ya Habibiku." Ucap Mariam gugup dengan wajah sudah memerah, karena suaminya menghujani wajahnya dengan kecupan.
"Aku bantu buka baju kamu yah, sayang!" Seru Robby dengan tersenyum merekah.
"Heeem.." Mariam bergumam pelan.
Dengan perlahan Robbypun membantu menanggalkan baju pengantin milik Mariam, kemudian Robby menggendong Mariam ala bridal style ke kamar mandi.
Tiga puluh menit sudah mereka menghabiskan mandi bersama, dengan berendam air hangat di dalam bathtub.
Selesai mandi mereka melaksanakan sholat isya berjama'ah, karena tadi selepas sholat magrib, mereka langsung didandani oleh MUAnya.
Usai sholat isya berjama'ah, Mariam mencium punggung tangan suaminya dengan takzim. Robbypun tersenyum lalu dengan cepat mengecup kening Mariam.
"Apa aku sudah pantas untukmu, sayang?" Tanya Robby tiba-tiba dengan mata yang sudah sayu.
"Heem.. iya!" Jawab Mariam yakin.
"Terima kasih, istriku sayang." Ucap Robby tulus. Sedangkan Mariam hanya mengangguk kecil lalu tersenyum manis.
"Apa boleh, aku memintanya lagi?" Tanya Robby hati-hati saat menyentuh bibir Mariam.
__ADS_1
"Iya.. suamiku."
Robbypun tersenyum, lalu mulai membaca doa penyatuan mereka.
ุจูุณูู ู ุงูููู ุงููููููู ูู ุฌููููุจูููุง ุงูุดููููุทูุงูู ููุฌููููุจู ุงูุดููููุทูุงูู ู ูุง ุฑูุฒูููุชูููุง
Tulisan latin: "Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa".
Artinya : Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan supaya tidak mengganggu apa (anak) yang akan engkau rezekikan kepada kami.
Usai membacakan doa, merekapun melepaskan hasrat rindunya kembali, seakan candu untuk Robby setelah dirinya mengucap Ijab Qobul kemarin siang.
Robby seakan menikmati setiap sentuhan istrinya, Mariampun demikian menikmati sentuhan dan belaian lembut dari suaminya.
Mereka terus melakukan penyatuan raganya dan meneguk nikmatnya surga dunia, tanpa ingin saling melepaskan satu sama lainnya. Keduanya melakukan tugas suami istri sesuai syariah agamanya.
Memadu kasih, mereguk manisnya cinta, menikmati belaian kasih sayang lewat perseng gamaan kedua insan yang saling mencintai.
Malam ini adalah malam panjang bagi mereka, yang didalamnya begitu manis dengan penuh kebahagiaan.
*******
Sedangkan di dalam kamar Hotel yang sama, Abi sedang kerepotan dalam menghadapi istrinya Ningrum.
Abi tidak tega, melihat istrinya yang selalu mual setiap waktu. Padahal dia sudah berusaha mengurangi mual istrinya dengan cara yang dia bisa. Seperti, memberikan minyak angin aroma therapi keseluruh punggung dan perut istrinya juga memberikan minuman jahe dan lemon untuk pereda mualnya.
"Khumairah sayang, apa lebih baik kita ke Dokter saja?" Tanya Abi yang begitu panik, saat melihat istrinya sedang mual-mual dan memuntahkan makanan yang habis dia makan.
"Besok saja, Al-habibku. Kata Mbo Tami, kalau mual-mual dan muntah-muntah begini, terus sukanya makanan asam dan pedas, itu tandanya aku sedang hamil, bukan?" Tanya Ningrum dengan wajah yang masih pucat, karena banyak mengeluarkan cairan dan makanan dari mulutnya.
"Iya, khumairahku sayang. Tapi, aku engga tega lihat istri tercintaku seperti ini!" Ucap Abi sendu, dengan sudut matanya yang meneteskan air mata.
"Iya.. sudah, sini bobo sudah malam. Jangan bersedih lagi yah Al-habib suamiku." Ajak Ningrum dengan tangannya menepuk-nepuk kasur, untuk tidur disampingnya.
Abipun tersenyum, lalu berbaring disamping istrinya. Memeluk erat dengan mengusap sayang punggung istrinya. Abi takut, jika mual dan muntah istrinya berlanjut sampai pagi hari.
"Al-habibku, sayang." Panggil Ningrum lembut.
"Iya khumairahku, istriku, sayangku, cintaku yang menggemaskan." Sahut Abi dengan begitu mengagumi istrinya.
"Terima kasih, sudah sangat sayang sama aku. Kamu jadi suami, sungguh-sungguh idaman setiap wanita, beruntungnya khumairahmu ini mendapatkan cintamu." Ucap Ningrum bahagia, dengan membelai pipi mulus dan bersih dengan mengecup seluruh wajah suaminya gemas.
Sontak saja Abi, begitu menikmati kecupan sayang istrinya yang sudah membuatnya melayang tinggi dan bahagia.
__ADS_1
"Khumairahku sayang, aku juga beruntung sudah mendapatkan cinta dan kasih sayangmu. Khumairahku, cinta pertamaku dan terakhirku. Aku akan selalu menjagamu, insya Allah sampai azal menjemput. Tetap utuh cinta kita, takan pernah ingkar dan terbagi, meski badai dan godaan suatu hari akan datang. Yakinlah cukup Papa Robby yang kita petik pelajaran, bahwa jangan pernah membuang batu permata, hanya dengan godaan batu kali semata."
"Aissh.. suamiku benar-benar pintar yah, dalam merangkai kata." Decak Ningrum mengulum senyum.
"Siapa dulu gurunya? Ibu guru Ningrum Chantika Maharani..." Tutur Abi bangga.
"Hi. hi.. hi.. suamiku sayang, Abi Maulana Dirgantara bisa saja. Aku jadi GR ini sih jadinya." Ucap Ningrum tersipu malu dan tertawa kecil.
"Ha.. ha.. ha.. engga apa-apa, emang kenyataan sih!" Seru Abi ikut tertawa.
"Sudah bobo ach.. jangan ngobrol terus. Kapan tidurnya, sayang? Hoaam.." Ujar Ningrum yang sudah mengantuk.
"Apa kamu sungguh sudah mengantuk, khumairahku sayang?" Tanya Abi dengan tatapan sayunya.
"Heeemm.." Hanya gumaman yang keluar dari bibir Ningrum dengan mata sudah terpejam.
"Apa kamu sudah tidak mual lagi?" Tanya Abi lagi khawatir.
Ningrum yang sudah terpejam, jadi membuka matanya karena suaminya yang begitu khawatir soal mualnya.
"Untuk sekarang engga sih sayang, tapi engga tahu nanti. Memangnya Al-habibku ini, masih khawatir yah? Sini peluk lagi, biar tenang. Memangnya suamiku belum mengantuk, heum.. ? Dari tadi engga bobo-bobo."
"Belum... ! Al-habibmu mau dimanja dan disayang malam ini, seperti pengantin baru di kamar sebelah, he.. he.. he.."
"Pengantin baru? Maksudnya Papa dan Mama yang ada di kamar sebelah?"
"Iya sayang, memangnya kamu engga dengar suara rintihan di kamar sebelah dari tadi, heum..?"
"Engga lah, Al-habib. Kamar Hotel 'kan semuanya pakai peredam suara? Bisa saja kamu bohongin aku, bilang saja kamu yang kepingin, heum..?"
"He.. he.. he.. iya istriku, tahu saja yang suaminya mau. Memangnya boleh, khumairah?"
"Heeem.. boleh." Jawab Ningrum bergumam pelan dan mengangguk kecil dengan mengulum senyum.
"Alhamdullilah.. kalau begitu kita baca doa dulu yah!" Ucap Abi riang.
"Iya.."
...โฅ๏ธโฅ๏ธ๐น๐น๐๐โฅ๏ธโฅ๏ธโฅ๏ธ...
Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.
--BERSAMBUNG--
__ADS_1