Cinta Tulus Abi

Cinta Tulus Abi
Makanan Kesukaan


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Satu minggu yang lalu, setelah pertemuan tak terduga Robby dengan Mariam di Pondok Pesantren. Robby meminta para pekerjanya untuk satu hari merapihkan isi rumahnya, sesuai permintaannya.


Dia menyuruh pegawainya, untuk menempel kembali photo pernikahannya dengan Mariam, di tempat yang dulu dia pajang sebelum Mariam bercerai dengannya. Lalu diapun menempel photo keluarga saat Abi masih SD dan dirinyapun masih nampak gagah, persis seperti Abi yang sekarang.


Semua kursi, sofa, meja, lemari pajangan dan lampu-lampu kristal masih nampak sama, tidak ada yang berubah. Barang-barang Robby dirumahnya sangat tertata rapi dan bersih, berkat tangan Mbo Tami ARTnya yang begitu setia.


Robbypun mengganti sarung bantal dan guling juga serpai kasurnya, dengan warna kesukaan Mariam, yaitu warna merah muda.


Robby tidak mau ada jejak Lusia, dirumahnya. Semua yang berhubungan dengan Lusia semua dia ganti dengan yang baru.


Mariam masih terpaku, menatap photo pernikahannya dan photo keluarga saat itu. Tanpa sadar, air mata Mariam menetes dipipi cantiknya.


Robby yang sedang menatap photo pernikahan merekapun, tiba saja dirinya terharu dan matanya sudah berkaca-kaca.


"Mariam maafkan saya, yang sudah menghianatimu. Sungguh saya tidak menyangka, tergoda oleh wanita murahan. Padahal wanita yang menikah dengan saya ini, sangatlah begitu istimewa, cantik, baik, sholeha, pintar dan bijaksana." Ujar Robby berbicara jujur disamping Mariam.


"Maaf Tuan, anda terlalu berlebihan memuji saya. Jangan menyesali semua yang telah terjadi, kita harus berdamai dengan masa lalu. Saya sudah ikhlas, menerima semua yang sudah menimpah saya dimasa lalu." Jelas Mariam dengan gamblang.


"Eeemm.. mari kita berdamai dengan masa lalu, Mariam. Kita lupakan kenangan buruk, yang sudah saling menyakiti. Bolehkan saya masuk untuk membuka hatimu kembali, Mariam?" Tanya Robby penuh harap.


"M.. maaf Tuan Robby yang terhormat, harap anda meralat kata-kata anda. saya tidak pernah menyakiti siapapun, termasuk anda. Semua itu hanyalah salah paham dan jebakan dari istri anda Lusia." Bantah Mariam yang dituduh saling menyakiti.


"Tolong camkan Tuan, saya belum punya rencana untuk mempunyai pasangan lagi. Saya masih menata hati saya kembali, atas goresan luka yang teramat sakit." Kata Mariam, yang membuat seorang Robby tidak bisa membalas perkataannya lagi.


"Biarkan hubungan kita seperti ini saja, saya pinta anda jangan terlalu mengharapkan saya. Masih banyak wanita yang lebih segalanya dari saya, muda, cantik, pintar, sholeha dan yang pasti bisa membahagiakan anda." Pinta Mariam dengan wajah sendu.


"Maaf.." Hanya kata itu yang keluar dari bibir Robby, dengan air mata yang sudah mengalir dipipi tampannya. Ibarat cermin yang sudah retak, hati Mariam sudah hancur seakan sulit menjadi utuh kembali.

__ADS_1


Mariam hanya menatap nanar wajah mantan suaminya yang sedang berdiri disampingnya. Ningrum yang melihat keduanya sedang bersedih, dirinyapun berusaha mencairkan suasana.


"Papa dan Mama, apakah kalian tidak ingin duduk di sofa? Ayo kita istirahat dulu, Mah." Tanya Ningrum untuk menghilangkan rasa canggung diantara keduanya.


"Eeeh.. iya sayang." Ucap Mariam menoleh kearah Ningrum menantunya.


"Mari... kita duduk disana." Ajak Robby seraya menunjuk arah sofa berada.


Merekapun berjalan kearah sofa, untuk duduk dan bersantai sejenak. Ningrum sedikit berkurang rasa canggungnya, karena keduanya tidak bersitegang lagi seperti tadi.


"Ini Tuan, Nyonya dan Nona, minuman dinginnya. Saya permisi ke dapur lagi, mau masak makanan kesukaan Nyonya dulu, cumi asam pedas dan sayur lodeh." Ujar Mbo Tami ramah.


"Benarkah Mah? Apa Mama suka makanan itu? Bukankah Mama alergi dengan cumi?" Tanya Ningrum merasa heran. Setahu Ningrum selama ini, Mama mertuanya itu tidak suka cumi.


Mariam hanya menggelengkan kepalanya pelan, dengan tatapan kosong. Mariam tidak ingin makan cumi lagi, karena itu makanan favorite dirinya bersama mantan suaminya dulu. Setiap dia makan cumi, dia sering teringat kenangan memori indah bersama Robby semasa kuliah hingga menikah.


"Itu makanan kesukaan kami berdua Nak, mungkin beliau tidak ingin mengingat kenangan memori indah kami dulu." Ujar Robby sekilas melirik mantan istrinya, hanya ingin tahu reaksinya saat mengatakan hal sejujurnya kepada menantunya.


Mariam hanya diam tanpa menunjukkan ekspresi yang berlebihan, saat mantan suaminya mengatakan perihal yang sejujurnya.


"Ooh.. saya sudah paham kalau begitu. Mbo tami, boleh saya ikut membantu?" Tanya Ningrum dengan tulus dan tersenyum simpul.


"Boleh Non Ningrum, ayo ikut Mbo Tami."


"Saya juga ikut, Mbo Tami." Ucap Mariam ikut berdiri meninggalkan Robby sendiri yang masih duduk disofa.


"Mariam.. Mariam.. kamu masih saja seperti dulu, sering mendustai hatimu. Kamu itu sungguh menggemaskan Mariam, hatiku resah memikirkan dirimu. Sampai kapan kamu akan menutup diri seperti ini? Apa benar-benar tidak ada kesempatan lagi, untuk aku kembali mendapatkan cintamu Mariam?" Robby bergumam pelan dengan menatap kepergian mereka.


Mbo Tami, Mariam dan Ningrum, al hasil mereka masak bersama, dengan penuh haru, suka cita dan bahagia. Merekapun memutuskan, untuk memasak makanan kesukaan Mama Mariam dan Papa Robby dulu.

__ADS_1


"Mbo Tami senang Nyonya, Nona, bisa masak bersama kayak gini lagi. Selama ini, Mbo selalu masak sendiri, makan hanya sisa mereka, kalau tidak ada sisa, Mbo hanya gigit jari, hikkz.. hikkzz.. hikkzz.." Ungkap perasaan Mbo Tami, tangisnyapun terdengar.


"Sabar yah Mbo, semua sudah berlalu. Sekarang 'kan kita sudah bersama Mbo." Kata Mariam menenangkan ARTnya, dengan memeluk dan mengusap punggungnya pelan.


Ningrumpun ikut bersedih mendengar cerita Mbo Tami, yang selama ini diperlakukan seperti itu oleh Papa mertua dan istri mudanya.


"Tapi, Nyonya Mariam, saya kasihan sama Tuan Robby. Selama ini selalu merasa bersalah kepada Nyonya, beliau sangat menyesali perbuatannya. Bahkan Tuan sering melihat album photo pernikahan, Tuan Robby dan Nyonya Mariam kala sendiri di kamar. Mbo Tami juga engga sengaja melihatnya."


"Heeemm.." Mariam hanya bergumam pelan.


"Sepertinya Papa masih sangat mencintai Mama yah? Tapi sayang Mbo, hati Mama sudah tidak ada lagi untuk Papa." Ujar Ningrum mewakili perasaan Mariam dan Robby.


"Apa Nyonya sudah punya calon suami?"


"Deg.." Jantung Mariam berdebar-debar.


"T.. tidak Mbo." Ucap Mariam gugup, menggelengkan kepalanya pelan.


"Apa Nyonya tidak ingin menikah lagi?"


"B.. belum kepikiran kearah sana, Mbo. Saya masih ingin sendiri dan menikmati masa-masa pendewasaan juga pendekatan diri kepada sang khaliq."


"Tapi, apa Nyonya Mariam tidak ada belas kasihan sama sekalih dengan Tuan Robby? Bagaimanapun, Tuan Robby adalah Papa kandung Den Abi. Mbo berharap Nyonya Mariam bisa membuka hati untuk Tuan Robby. Coba ingat kebaikan Tuan Robby sedikit saja, Nyonya."


"Eeheem.."


--BERSAMBUNG--


Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips juga komentarnya yah. Terima kasih.🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2