
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Hari ini Tuan Robby dan Mbo Tami menghadiri persidangan cerai Antara Tuan Robby dengan Lusiana. Mbo Tami ikut menghadiri sebagai saksi untuk Tuan Robby, atas perselingkuhan yang dilakukan oleh Lusiana saat menjadi istri Tuan Robby.
Mereka didampingi oleh Pengacara Farhan dengan bukti yang sudah ada didalam ponselnya, berisi photo-photo mesra Lusiana bersama selingkuhan brondongnya.
Manager Bambang yang menghandel semua pekerjaan kantor, menggantikan sementara waktu, jika Tuan Robby sedang ada keperluan diluar kantor seperti saat ini.
Ningrum dan Mariam ikut menghadiri persidangan cerai Robby, mereka baru saja datang dengan menempati duduk di kursi belakang.
Robby begitu bahagia, saat wanita yang diharapkannya sudah hadir. Dirinya semakin bersemangat untuk memenangkan sidang perceraian ini, tanpa memberikan sepecerpun hartanya untuk Lusia, wanita ular itu.
Robby menghampiri Ningrum dan Mariam untuk menyapanya. Dengan senyuman yang mengembang, dia berikan kepada mereka.
"Assalamu'alaikum.. Nyonya Mariam dan Nak Ningrum." Salam Robby begitu tenang.
"Wa'alaikumussalam.. Tuan, Papa." Jawab salam mereka bersamaan.
"Terima kasih, sudah mau menghadiri sidang perceraian saya Nyonya Mariam dan Nak Ningrum."
"Iya Pah, Ningrum mewakili Abi Pah dan Mama hanya menemani Ningrum." Ucap Ningrum jujur.
"Iya Nak Ningrum, sayang. Papa sudah bahagia kalian datang, saya semakin bersemangat jadinya." Tutur Papa Robby mengangguk pelan.
"Pah, Abi ingin Video Call sama Papa katanya." Ujar Ningrum lalu menghubungi Abi, suaminya.
"Iya Nak." Ucap Robby mengangguk kecil.
Video Call sudah tersambung dengan Abi dari Sumedang.
"Assalamu'alaikum, Pah.."
"Wa'alaikumussalam, Abi sayang. Apa kabar kamu di sana? Kapan kamu selesai KKN, sayang? Sepertinya kamu sedang berada di kebun itu."
"Alhamdulilah Pah, Abi sehat dan baik. Sekitar satu bulan lagi Pah, disini masih sedang mengajukan pembuatan layanan kesehatan gratis, bagi masyarakat kurang mampu, seperti Puskesmas dan klinik 24 jam. Memang tempat yang Abi tinggali, dikelilingi kebun pisang dan pepaya."
"Oh.. keren sekali sayang, memikirkan nasib mereka yang kurang mampu. Hati kalian begitu mulia."
"Alhamdullilah, doakan kami Pah, agar pengajuan kami cepat terlaksana."
__ADS_1
"Papa doakan yang terbaik sayang, nanti Papa ikut menyumbang sedikit untuk desa itu."
"Benarkah, Pah? Terima kasih, Pah. Jam berapa sidangnya di mulai, Pah?"
"Jam sepuluh pagi, sayang."
"Waah.. sebentar lagi kalau begitu, pantas saja sudah banyak orang yang datang, itu."
"Iya, sayang. Papa minta doanya yang terbaik yah."
"Pasti Pah, doa terbaik untuk Papa. Dilancarkan semuanya. Papa harus semangat, Mama 'kan ikut menghadiri."
"Iya sayang, semakin bersemangat ditambah ada istri dan Mama kamu."
"Ha.. ha.. ha.. duh bahagianya Papa, engga salah deh Abi minta Khumairah menghadiri sidang Papa."
"Iya sayang, terima kasih. Sudah dulu sayang, Pak hakim sudah datang."
"Okay Pah.. sukses Pah.. dadah.. Assalamu'alaikum."
"Iya sayang, dah.. Wa'alaikumussalam."
Sidang sudah dimulai, Robby kembali duduk kedepan disamping Mbo Tami yang akan menjadi saksi nanti, jika diperlukan oleh jaksa penuntut dari pihak Lusiana yang meminta harta gono gini sebesar 40 persen dari semua kekayaan yang dimiliki Robby.
Pengacara Robby, meyakinkan dirinya akan menang melawan Lusiana dengan bukti photo-photo mesranya bersama laki-laki muda yang sedang berada di dalam hotel.
Robby sudah mencetak photo tersebut, beberapa lembar untuk ditunjukkan kepada Hakim nantinya.
Lusiana duduk di depan bersebrangan dengan pihak pembela dirinya. Dia menatap tajam kearah Robby dengan penuh kebencian. Dirinya ingin membalas sakit hatinya kepada Robby, yang sudah diusirnya dengan tanpa berperasaan.
Lusiana berani melawan Robby mantan suaminya, karena ada seseorang yang sudah membantunya, saat dirinya sedang terpuruk dan hampir mati. Pria itu bernama Tuan Bramasta, rival bisnis Robby yang ambisius.
Robby terkejut saat melihat rival bisnisnya, datang bersama Asisten Pribadinya yang Robby kenal juga. Memang mereka sering bertemu, jika sedang memperebutkan tender dalam bisnisnya. Persaingan mereka sudah lama, semenjak lima tahun yang lalu.
"Untuk apa Bramasta datang bersama Asistennya kesini? Ada hubungan apa mereka dengan Lusiana? Apa mereka bekerja sama untuk melawanku?" Robby bertanya-tanya dalam hatinya.
"Tok.. tok.. tok.." Hakim memukul palu sebanyak tiga kali, tanda dimulainya sidang.
Hakim membuka perkara sidang perceraian, antara Lusiana dengan Robby Dirgantara, yang dimana Lusiana akan menerima gugatan cerai dari suaminya, jika dirinya mendapatkan haknya sebagai istri selama empat tahun bersama Robby.
__ADS_1
Lusiana menuntut pembagian harta gono gini sebesar 40 persen, atas kekayaan Robby. Hingga dirinyapun menyewa Jaksa Penuntut dan Pengacara sebagai pembela dirinya.
Setelah Hakim membacakan hasil sidang kemarin, saat Robby tidak menghadirinya. Jaksa Penuntut dari pihak Lusiana, meminta pihak Robby untuk segera menyetujui dan menandatangani tuntutan dari pihak kliennya.
Pengacara Robbypun tidak tinggal diam, dirinya meminta waktu untuk melakukan pembelaan untuk kliennya, untuk mendatangkan saksi dan bukti berupa photo Lusiana saat masih bersama Tuan Robby.
"Saya meminta pertimbangan Bapak Hakim yang terhormat, saya tidak bisa mengabulkan tuntutan Lusiana atas harta saya. Karena selama menikah, dirinya tidak membawa sedikitpun harta yang ada dirumah saya. Lusiana dan kedua anaknya hanya menumpang hidup dengan saya selama ini." Ujar Robby dengan gamblang.
"Baiklah, saya beri waktu 15 menit untuk anda menghadirkan saksi dan bukti." Ucap Hakim ditujukan kepada Pengacara dari pihak Robby.
Akhirnya Pengacara dari Robbypun memanggil Mbo Tami untuk menjadi saksi, bahwa dirinya sering melihat Nyonya Lusiana membawa pria muda kedalam kamarnya, saat Tuan Robby keluar kota untuk bekerja.
Mbo Tamipun dengan sedikit gugup, namun berakhir lancar menjelaskan sedetail mungkin tentang arisan para Ibu-ibu sosialita Lusiana, dengan merebutkan pria muda yang disebut dengan arisan brondong.
Setelah Mbo Tami selesai memberikan kesaksian, Pengacarapun membagikan photo-photo mesra Lusiana dengan pria muda ditempat tidur, kepada Hakim, Jaksa Penuntut dan Pengacara lawan.
Mereka sudah tidak bisa berkata-kata lagi, bukti dan saksi dari pihak Robby cukup membungkam mulut mereka.
Akhirnya Robbypun memenangkan kasus perceraian tersebut dengan hasil memuaskan.
Hakim memutuskan telah menolak tuntutan dari saudari Lusiana, karena dirinya memang bersalah dan tidak ada hak atas harta yang memang milik Robby seutuhnya.
Robby mengucap syukur, dirinya memeluk Pengacaranya, Mbo Tami dan juga Ningrum. Robby menangis bahagia, akhirnya dia resmi bercerai dengan Lusiana tanpa uang sepecerpun.
Mariampun ikut menangis bahagia, meski dirinya tidak menghampiri Robby yang sedang berpelukkan dengan orang-orang yang membantunya.
"Alhamdullilah.. aku turut bahagia Mas Robby." Ucap Mariam bergumam pelan, seraya mengusap air matanya yang sudah menetes di pipinya.
Dengan tatapan bengis, Bramasta mengepalkan tangannya kesal. "Aku akan membalasmu Robby, tunggu waktunya, kamu akan habis ditanganku." Ucap Bramasta, lalu meninggalkan ruang sidang bersama Lusiana dan Asisten Pribadinya.
Lusiana menatap benci kepada Mbo Tami dan Robby, karena Mbo Tamilah keinginannya gagal total.
"Jangan khawatir, Lusiana. Aku Bramasta, akan membalaskan lebih sakit dari ini, apa yang kita sedang rasakan hari ini." Kata Bramasta berjanji.
"Iya Tuan, saya ingin melihat Robby Dirgantara hancur tanpa bersisa." Ucap Lusiana semakin dendam.
--BERSAMBUNG--
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips juga komentarnya yah. Terima kasih.🙏🙏...
__ADS_1