Cinta Tulus Abi

Cinta Tulus Abi
Menjemput Abi


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya bus yang membawa Abi dan mahasiswa KKN lainnya sampai juga di kampus Abi kuliah.


Mama Mariam dan Ningrum, menjemput dan menunggu Abi dan yang lainnya sampai dari Sumedang. Papa Robbypun tidak ketinggalan, diapun ikut menjemput Abi.


Hubungan Tuan Robby dengan Mariam selama satu bulan ini, mengalami peningkatan yang cukup pesat. Bagaimana tidak, Robby hampir satu minggu empat kali menemui Pak Kiai untuk belajar membaca Al-Quran.


Setiap ke Pondok, setidaknya Robby bertemu dengan Mariam meski hanya sebentar saja. Namun, pertemuan itu dapat mempererat rasa dihati keduanya yang semakin tumbuh dan bersemi.


Apa lagi Pak Kiai sudah memberikan restu kepada Tuan Robby, jika memang serius untuk rujuk lagi dengan Mariam.


Pak Kiaipun ikut berperan andil membantu berbicara dengan Mariam, akan niat baik Tuan Robby yang sungguh-sungguh diniatkan dari hati.


Mariampun menuruti perkataan Pak Kiai dan mencoba membuka hati untuk mantan suaminya Tuan Robby. Hal itupun diketahui oleh Tuan Robby, dari perkataan Pak Kiai dan Umi Khadijah.


Setelah itu, Tuan Robby semakin berani untuk berbicara dari hati ke hati dengan Mariam. Namun, tetap dalam pengawasan Ningrum dan Pak Kiai juga Umi Khadijah.


Seperti hari inipun, saat menjemput Abi ke kampusnya. Tuan Robby bersama Pak Iwan sengaja menjemput Mariam dan Ningrum ke Pondok Pesantren, lalu balik lagi ke Jakarta.


Kalau dipikir-pikir, seperti kurang kerjaan dan membuang-buang waktu. Namun, demi cinta akan Tuan Robby lakukan, apapun rintangannya. Jangankan bolak-balik Jakarta-Bogor, Indonesia-luar Negeri saja akan Robby jalani, jika memang untuk mendapatkan cinta Mariam kembali.


Bus yang dinaiki Abi dan yang lainnya, sampai diarea parkiran kampus. Setelah Dosen Tere dan Dosen Julian memberikan brifing, merekapun dibubarkan dan boleh kembali pulang ke rumahnya masing-masing.


Abi dan yang lainnya mengucapkan salam perpisahan. Mereka diberi waktu berlibur selama satu minggu, baru boleh memulai kembali tugas belajar mereka.


"Assalamu'alaikum Mah, Pah, Pak Iwan dan Khumairahku." Ucap salam Abi saat dirinya sampai ditempat mereka menunggunya.


"Wa'alaikumussalam, sayang." Jawab salam Robby dan yang lainnya bersamaan.


Abipun lantas menyalami semua orang, kecuali istrinya Ningrum. Istrinya yang salim kepada Abi, lalu Abi mengecup puncak kepala istrinya mesra didepan kedua orang tuanya dan Pak supirnya.

__ADS_1


"Eehemm.. bikin iri saja, kalian!" Ucap Tuan Robby melirik Mariam, lalu tersenyum canggung saat Mariampun bersamaan sedang melirik kearahnya pula.


"Ha.. ha.. ha.. Khumairahku, sepertinya ada yang mendadak panas melihat kemesraan kita. Makanya Pah, cepat dong diresmikan biar halal kayak kami. Bisa bebas cium sana-sini dan pegang sana-sini, juga menatap sepuasnya." Abi tertawa puas, lalu meledek kedua orang tuanya.


"Aissh.. anak kita itu Nyonya, sungguh-sungguh bermesraan tidak tahu tempat. Mentang-mentang halal, main sosor saja didepan umum, hueh.. Abi.. Abi." Ucap Tuan Robby berdecak sebal, seraya menggelengkan kepalanya pelan.


Kemudian merekapun terus saja beradu mulu, saling sahut menyahut dan saling sindir menyindir, hingga keduanya tanpa sadar. Area parkir kampus sudah nampak sepi.


Mariam dan Ningrum juga Pak Iwan sontak saja ikut tertawa, saat melihat Anak dan Papa yang sedang beradu argument, tanpa melihat sekeliling mereka.


"Ha.. ha.. ha.. " Tawa mereka pecah.


Lelah ikut tertawa bersama menantu dan Pak Iwan, akhirnya Mariampun buka suara. "Sudah.. sudah, apa kalian tidak akan pulang? Papa dan anak sama-sama wataknya! Tidak ada yang mau mengalah.


Seketika saja kedua pria berbeda usia tersebut, langsung menghentikan ucapannya yang mereka pikir ucapan Mariam benar.


"Benar Mah.. kita 'kan harus pulang! Kenapa masih disini? Ini sih gara-gara Papa yang iri sama anaknya sendiri, he.. he.. he.." Tutur Abi tidak mau kalah.


"Lah emang benar begitu sih, Papa 'kan yang mulai duluan, bukan begitu Mah?" Sahut Abi tak terima dengan perkataan Papanya.


"Yah.. mulai lagi 'kan! Pusing.. ayo kita tinggal saja mereka, sayang." Ucap Mama Mariam mengajak menantunya pergi meninggalkan mereka.


"Iya.. iya, Mah.. gitu saja marah." Ucap Abi mengikuti Mama dan istrinya berjalan.


Robby dan Pak Iwanpun tersenyum canggung. Robby menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Merasa dirinya seperti anak ABG, yang butuh perhatian dari wanita yang dicintainya.


Merekapun akhirnya meninggalkan area parkir kampus yang mulai sepi. Hari mulai menjelang magrib, perjalanan mereka hampir sampai di Pondok.


Sesampainya diPondok, bertepatan dengan suara azan yang sedang berkumandang. Tuan Robby dan Pak Iwanpun mampir sebentar, untuk sholat magrib berjama'ah.


Selesai sholat magrib berjama'ah, sebenarnya Tuan Robby ingin langsung kembali pulang. Namun, Pak Kiai meminta Tuan Robby dan Pak Iwan untuk makan malam bersama, dalam rangka menyambut kepulangan Abi.

__ADS_1


Mau tidak mau Tuan Robby dan Pak Iwanpun, makan malam bersama keluarga besar Pondok Pesantren.


Saat makan malam bersama keluarga besar Pondok Pesantren, ternyata Pak Kiai meminta Tuan Robby dan Nyonya Mariam untuk berbicara enam mata diruangan Pak Kiai Zain, jika acara makan malam sudah selesai.


Selesai makan malam bersama keluarga besar Pak Kiai, satu persatu meninggalkan ruang makan mereka. Pak Kiai terlebih dahulu datang untuk menunggu diruangannya, kemudian Tuan Robby dan Mariam menyusul setelahnya.


"Assalamu'alaikum, Pak Kiai." Ucap salam dari Tuan Robby dan Nyonya Mariam bersamaan.


"Wa'alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh, silahkan masuk dan duduk Tuan Robby dan Ibu guru Mariam." Sahut salam Pak Kiai lalu mempersilahkan keduanya untuk masuk dan duduk.


"Terima kasih, Pak Kiai." Ucap Tuan Robby yang diikuti oleh Nyonya Mariam. Lalu Pak Kiai mengangguk kecil dan tersenyum kepada mereka.


"Apakah Tuan Robby dan Ibu guru Mariam, sudah mengerti mengapa saya ingin meminta kalian datang keruangan saya bersama-sama?" Tanya Pak Kai menatap mereka bergantian.


"Belum, Pak Kiai." Ucap Robby jujur, dirinya tidak tahu apa maksud Pak Kiai dengan menggelengkan kepalanya kecil. Mariampun sama, diapun mengikuti apa kata Robby, dan menggelengkan kepalanya pelan.


"Baiklah.. kalau kalian belum mengerti maksud saya memanggil kalian keruangan saya. Saya ingin mengatakan, jika bulan ini adalah bulan yang berkah untuk kalian menikah kembali. Dimana bulan Haji, adalah bulan yang indah dan penuh keberkahan. Bulan dimana kita umat muslim bisa menjalankan rukun Islam yang ke lima yaitu Pergi haji ke tanah Makah."


"Maksud Pak Kiai, saya bisa menikahi Nyonya Mariam di bulan ini, bukan begitu Pak Kiai?" Tanya Robby dengan wajah riang. "Alhamdulillah.." Tidak henti-hentinya Robby mengucapkan kata syukur kepada Allah, atas berita baik yang dia dengar malam ini.


"Iya.. Tuan Robby. Apa Ibu guru Mariam juga setuju dengan apa yang barusan saya katakan?" Tanya Pak Kiai tersenyum dengan ramah. Hati Robby cemas dag dig dug, menunggu jawaban Mariam.


"Eeeemmmm..."


...♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️...


Bagaimana cerita saya kali ini? Mohon like dan komennya yah! Boleh juga hadiahnya bagi Readers yang baik hati dan tidak sombong. Terima kasih yah, salam bahagia selalu dari Tina Rifky.


--BERSAMBUNG--


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips juga komentarnya yah. Terima kasih.🙏🙏...

__ADS_1


__ADS_2