Cinta Tulus Abi

Cinta Tulus Abi
Naik Angkot


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰


Dalam perjalanan Abi ke sekolah untuk mengambil motor, dan tasnya, dia mencari tukang ojeg yang dekat di sekitar Rumah Sakit, namun dia tidak menemukan tukang ojeg satupun. Lalu Abi terpaksa naik angkot, yang memang akses jalan depan Rumah Sakit.


"Turun di SMA Nusantara yah Pak Supir." Ucap Abi ramah, seraya naik kedalam angkot. Angkot yang hampir penuh, hanya cukup untuk dua orang lagi.


"Siap.. Dek." Sahut Pak Supir angkot.


"Disini saja Dek, duduknya." Tawar salah satu penumpang wanita, yang sudah paruh baya.


"Iya Nek, terima kasih, biar saya disini saja." Sahut Abi sopan, dia memilih untuk duduk d pinggir pintu, sebab dia pikir agar mudah turun jika sudah sampai.


"Kiri, Pak Supir." Ucap salah satu penumpang wanita, berseragam Sekolah.


"Permisi dong, ngalangin orang lewat saja." Ucap gadis itu ketus.


"Iya, sabar.. aku turun dulu." Ucap Abi seraya turun dari angkot itu, tanpa melihat wajah gadis itu. Abi hanya menunduk menatap aspal jalanan, menunggu gadis itu turun.


"Wooow.. ganteng banget, meleleh hati gue." Ucap gadis ketus itu dalam hati, saat menatap wajah Abi. kemudian turun dari angkot.


"Neng.. ongkosnya Neng.." Tagih Pak Supir, kepada gadis itu yang bergeming terus menatap Abi.


"Eeh.. i.. iya Pak, maaf, berapa ongkosnya Pak?" Tanya gadis itu kikuk, seraya mengeluarkan uang dalam sakunya.


"Lima ribu Rupiah saja, Neng." Sahut Pak Supir angkot.


"Ya.. Pak." Sahutnya, seraya menyerahkan uang lembaran 50 ribuan.


"Neng,, emang engga ada uang kecil? Belum ada kembaliannya kalau uangnya segitu." Tanya Pak Supir itu seraya menjelaskan keadaannya.


"Engga ada Pak, kalau ada pasti saya kasih uang pas Pak." Sahutnya.


"Ta.." Ucap Supir itu terhenti, saat seseorang mengomel dari dalam angkot.


"Aduh, lama banget sih Pak Supir jalannya, saya sedang buru-buru nih, cepetan jalan dong."


"Iya, Bu.. sebentar, sabar Bu." Sahut Pak Supir.


"Sudah Pak, ongkosnya biar saya yang bayar, sekarang jalan saja." Ujar Abi cepat.


"iya Dek." Sahut Pak Supir itu cepat, lalu melajukan mobilnya.


Gadis itu terpaku, hingga tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun.


"Aku belum sempat mengucapkan terima kasih padanya, siapa nama cowok itu yah? Kalau dilihat dari seragamnya, sepertinya dia anak SMA Nusantara. Nanti akan aku cari tahu sendiri deh, kapan-kapan." Ucapnya gadis itu bermonolog dalam hati.

__ADS_1


Sesampainya Abi didepan Sekolahnya, Abi turun dari angkot, dan langsung membayar ongkosnya kepada Supir angkot tersebut.


"Ini ongkos untuk saya, dan gadis sekolah tadi yah Pak, terima kasih." Jelas Abi seraya memberikan uang 10 ribuan.


"Iya Dek, sama-sama." Sahut Supir itu.


Abi berjalan cepat masuk kedalam Sekolahan, lalu menuju kelasnya untuk mengambil tasnya yang tertinggal.


Dikelasnya sudah nampak sepi, karena jam pelajaran sudah berakhir pukul 12 siang tadi. Hanya tinggal beberapa murid yang sedang duduk di luar kelas, seraya bersenda gurau.


"Hei.. Abi, ini tas loe, tadinya mau gue bawa pulang, kalau loe engga balik." Ujar Firman seraya menyerahkan tasnya ketangan Abi.


"Thanks bro." Sahutnya, seraya menerima tas itu dari tangan Firman.


"Okey bro." Ucap Firman seraya mengangguk kecil.


"Kalian kenapa belum balik?" Tanya Abi basa-basi.


"Nungguin loe, tapi kalau lama yah gue balik." Ujar Firman, lalu Noval mengangguk pelan.


"Nungguin gue? Mau ngapain? Emang ada lomba balapan lagi?" Tanya Abi heran, pasalnya hari ini engga ada janji lomba balapan motor.


"Bukan Abi, gue minta ajarin matematika, loe 'kan sudah janji sama gue, dan Nopal."Jelas Firman, nagih janji Abi tadi pagi.


"Ooh gitu, emang harus hari ini juga? Pelajaran matematika 'kan besok lusa. Apa engga terlalu cepat belajarnya, nanti keburu lupa loh." Hasut Abi, untuk memikirkan ucapannya.


"Ya sudah kalau begitu, let's go." Ajak Abi kemudian.


Mereka bertiga berjalan cepat, menuju parkiran untuk mengambil motornya. Motor mereka hampir memiliki model yang sama, yaitu Motor gede yang keren abis.



Ini motor milik Abi yang selalu dia pakai ke sekolah, sekaligus balapan motor dengan teman-temannya.



Kalau ini motor milik Firman, yang merk sama dan modelnya hampir mirip hanya warnanya yang berbeda.



Kalau ini motor milik Noval, warna dan modelnya hampir sama dengan milik Firman, namun masih ada perbedaan sedikit.


Semua motor mereka mempunyai kecepatan diatas rata-rata motor biasa, makanya tak heran jika mereka sering melakukan balapan motor, mau resmi ataupun liar mereka pernah jalani.


Mereka menjalankan motor itu dengan kecepatan sedang, hanya 30 menit saja mereka sudah sampai di rumah Abi.

__ADS_1


"Selamat siang Aden, tumben sudah pulang? Ini teman-temannya, Aden Abi yah?" Salam Pak Wahyu, security di rumahnya, seraya bertanya tentang teman Abi.


"Siang juga Pak, iya ini teman-teman Abi Pak, yang ini Firman dan ini Noval." Sahutnya ramah, seraya memperkenalkan mereka kepada Pak Wahyu. Noval dan Firmanpun langsung mencium punggung tangan Pak Wahyu, mengikuti Abi yang melakukan itu.


"Pak Wahyu, Abi masuk dulu yah." Pamit Abi sopan.


"Iya, Aden." Sahut Pak Wahyu singkat.


"Abi.. gila, rumah loe gede banget yah! Dua kali lipat gedenya dari rumah gue. Banyak barang-barang mewah pula di dalam rumah loe." Ujarnya Firman kagum dengan rumah gedenya Abi, begitu juga dengan Noval sama kagumnya.



"Ini bukan rumah gue, ini rumah Bokap gue. Kalau gue sih mending tinggal di rumah kecil, tapi hidup bahagia, tidak kurang kasih sayang, tidak kesepian, dan selalu ada perhatian dari kedua orang tua. Dari pada rumah besar tapi hampa, kosong, sepi dan tidak ada rasa bahagia di dalamnya." Ujar Abi jelas, seraya menatap kosong dirinya di depan cermin besar di rumahnya.


"Abi." Panggil Firman, sontak membuyarkan lamunan Abi cepat.


"I.. iya Fir." Sahut Abi tersentak.


"Loe ngelamun yah?" Tanya Firman, yang melihat Abi terdiam cukup lama.


"Eeh.. engga Fir." Sahutnya berdusta, seraya menaruh tasnya kedalam kamar.


"Kalian mau belajar di kamar, atau di teras?" Tanya Abi, yang saat ini mereka sedang berada di dalam kamar Abi.


"Wuiih... gila loe Bi, gue sih betah banget, kalau dirumah gue fasilitas komplit seperti ini." Seloroh Firman yang kepingin seperti Abi, sampai air liurnya menetes di dagunya. Terlihat jelas ada TV, Laptop, dan PS 5 terbaru.





"Ha.. ha.. ha.." Tawa Abi, dan Noval pecah, melihat Firman sampai ileran.


"Idih jorok banget loe Fir, cuci muka sana." Omel Noval jijik.


"Aah.. loe Val, kayak loe engga jorok saja." Sahutnya sewot.


"Abi.. gue numpang ke toilet yah." Ujar Firman minta izin.


"Iya Fir, itu di belakang loe, toilet." Sahut Abi, seraya mengatakan letak toiletnya.


"Eeemmm, Abi.. kenapa tadi pagi, saat Ibu Ningrum pingsan, loe begitu panik?" Tanya Noval kepo.


"Deg." Hati Abi berdetak kencang, saat Noval menanyakan soal Ibu Ningrum.

__ADS_1


--BERSAMBUNG--


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan komentar yah. Terima kasih......


__ADS_2