
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Pak Kiai dan yang lainnya kompak mengikuti apa keinginan dari Tuan Robby. Namun, Pak Kiai menyarankan agar Ningrum menemani mereka, karena Ningrum adalah menantu mereka.
Pak Kiai dan yang lainnya termasuk Manager Bambang memberikan waktu mereka berdua berbicara, dengan Ningrum sebagai penengah diantara mereka.
Sekarang tinggallah mereka bertiga dalam satu ruangan. Mariam hanya bisa menundukkan pandangannya, dirinya tidak sanggup jika harus memandang wajah mantan suaminya.
"Tuan, maaf kalau ada yang ingin disampaikan kepada Mama mertua saya, silahkan anda katakan sekarang." Ujar Ningrum memberikan waktu untuk Papa mertuanya itu.
"Nona Ningrum, mulai hari ini kamu panggil saya Papa, karena kamu adalah menantu saya. Walau bagaimanapun Abi Maulana Dirgantara adalah anak saya. Meski mungkin Abi membenci saya, sebagai Papa yang kejam, tapi saya sangat menyayangi dan mencintai Abi anak saya." Pinta Robby dengan lembut.
"I.. iya Tuan, eeh.. maksud saya P.. papa." Sahut Ningrum gugup. Dirinya merasa aneh saja, dengan orang yang baru pertama melihatnya, harus memanggilnya dengan sebutan Papa.
"Iya benar sekalih, dengan begitu kita adalah keluarga." Ucap Robby seraya menatap Mariam sekilas.
Jujur saja Robby sebenarnya malu, jika harus berhadapan langsung dengan mantan istrinya. Namun, dia mencoba memberanikan diri untuk meminta maaf dan berkata jujur kepadanya.
"Sebelumnya saya ingin meminta maaf yang teramat dalam kepada kamu, Mariam." Ucapnya Robby serius.
"Heemm.. " Mariam hanya bergumam pelan.
"M.. mariam! Apakah kamu mau memafkan kesalahan saya di masa lalu?" Tanya Robby lirih dengan menundukkan kepalanya.
"Saya sudah memaafkan kamu Mas Robby, sejak dulu." Ucap Mariam jujur, dengan ekspresi datar.
"Alhamdullilah, terima kasih Mariam. Apa kamu sudah memiliki suami lagi?" Tanya Robby penasaran dengam status mantan istrinya sekarang.
Mariam bergeming, saat mantan suaminya itu menanyakan status dirinya. Mariam hanya menggelengkan kepalanya pelan, Robby terlihat senang saat tahu Mariam belum menikah lagi.
"Ooh.. benarkah Mariam kamu belum menikah lagi?" Tanya Robby lagi untuk memastikan dirinya tidak salah mendengar, seutas senyum indah terpatri dari bibir Robby.
__ADS_1
Robby ingin sekalih meloncat kegirangan, andai saja mengingat tidak ada orang dihadapannya.
"Saya sudah menikah atau belum bukan urusan Mas Robby." Ucap Mariam saat Robby sedang tersenyum kepadanya, sontak saja Robby mendadak terdiam dan senyum dibibirnya seketika menghilang.
"Tapi, saya bahagia karena saya masih ada kesempatan untuk rujuk denganmu Mariam, jika kamu belum me..." Ucapan Robby terhenti.
"Stop! Maafkan saya, tidak ada kata rujuk untuk Mas Robby dan saya." Sela Mariam disaat mantan suaminya berbicara menjurus kata-kata yang tidak ingin Mariam dengar.
Mariam tidak ingin kembali masuk ke kehidupan mantan suaminya lagi, apa lagi untuk rujuk.
Ningrum hanya melihat dan menyimak obrolan mereka, sebagai menantu yang baik, dirinya hanya mendoakan hubungan yang terbaik untuk kedua orang mertuanya itu.
"Semoga Papa Robby dan Mama Mariam, bisa berbicara dengan baik dan halus. Semoga ada jalan keluar yang terbaik untuk hubungan mereka, semoga tidak ada perselisihan diantara mereka." Ucap Ningrum dalam hatinya.
"Kenapa Mariam? Apa sungguh tidak ada celah sedikitpun untuk saya masuk ke hatimu lagi?" Tanya Robby lirih, matanya sudah berkaca-kaca, wajah dan bibirnya mendadak pucat. Tanpa permisi air mata itupun tumpah membasahi wajahnya yang tampan.
Mariam hanya menggelengkan kepalanya pelan, diapun sudah menahan air mata yang sedikit lagi akan tumpah.
Keduanyapun masih tertunduk dan terdiam untuk beberapa saat. Ningrum yang melihat keduanya masih terdiam, diapun mencoba mencairkan suasana yang sedikit membeku.
"Iya, saya ingin beristirahat di kamar, sayang." Ucap Mariam kepada Menantunya itu.
Ningrum yang sudah melihat Mama mertuanya menangis, seakan tidak tega membiarkannya berlama-lama bersama mantan suaminya. Ningrum mengerti betapa rapuh dan hancurnya hati Mama mertuanya, jika mengingat masa lalu Mama mertuanya itu.
Sedikit lebihnya Ningrum tahu masa lalu Mariam, karena mereka sering berbagi suka dan duka bersama saat awal bertemu hingga kini.
Dengan memberanikan diri, Ningrumpun menghampiri Mariam yang jaraknya memang agak sedikit jauh darinya. Akhirnya diapun meminta izin kepada Papa mertuanya untuk membawa Mama Mariam ke kamarnya.
"Papa Robby, anda tidak keberatan 'kan jika saya membawa Mama saya ke kamar sekarang?" Tanya Ningrum dengan sopan.
Robby sangat rindu, mendengar kata-kata Mariam memanggilnya dengan sebutan sayang. Robby membayangkan, saat dirinya dulu begitu mesra dan manja, kepada Mariam saat menjadi suami istri yang bahagia.
__ADS_1
"Papa.. Papa.. apa Papa melamun?" Tanya Ningrum, saat Papa mertuanya itu tidak menjawab pertanyaannya. Jari tangan Ningrumpun, sudah melambai-lambai di depan wajahnya.
"Eeeh.. iya menantu Papa, maafkan saya sedikit melamun barusan." Robby tersentak kaget, mendapati dirinya yang tertangkap basah sedang melamun. Robbypun cengengesan dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Ningrum tersenyum kepada Papa mertuanya, lalu diapun menggandeng Mama mertuanya untuk pergi dari tempat itu.
"K.. kalian mau kemana? Saya belum selesai berbicara." Robby menghentikan mereka saat akan beranjak pergi.
"Ningrum mau mengantar Mama ke kamarnya. Tadi 'kan Ningrum sudah bertanya kepada Papa, kalau Ningrum akan membawa Mama ke kamarnya. Tapi, Papa malah melamun." Ujar Ningrum seraya tersenyum.
"Ooh.. maaf soal tadi Papa melamun, Papa tidak mendengar dengan jelas pertanyaan Nak Ningrum." Ucap Robby jujur.
"Iya Pah, kalau begitu apa boleh saya membawa Mama ke kamarnya?" Tanya Ningrum sekali lagi.
"Boleh Nak, tapi masih banyak yang ingin saya bicarakan dengan Mama mertuamu." Ucap Robby dengan wajah memelas, penuh dengan sisa air mata.
"Mama bagaimana ini? Apa Mama masih akan di sini atau kembali ke kamar?" Ningrum jadi serba salah.
Mariam kembali duduk di kursinya, seraya menghapus air matanya dengan tisu yang dia ambil dari atas meja di depannya.
"Maafkan saya sudah membuatmu menangis, maafkan saya sudah membuka luka lama, maafkan saya yang tidak tahu diri ini tidak memikirkan perasaanmu." Ucap Robby dengan tulus.
Mariam memandang sekilas wajah tampan mantan suaminya, namun langsung menunduk lagi dan menangis lagi. "Hikkz.. hikzz.. hikkzz.."
Ningrum hanya bisa mengusap punggung Mama mertuanya itu, seraya memeluknya. "Sabar Mah, semua pasti ada jalan keluarnya, semua akan baik-baik saja." Ningrum berusaha menenangkan hati Mama mertuanya.
Merasa tidak ada jawaban dari mantan istrinya, hanya terdengar tangisannya. Akhirnya Robbypun berniat angkat kaki dari tempatnya saat ini.
"Baiklah, saya akan pergi sekarang juga. Tapi, jangan larang saya untuk tetap datang ke pondok ini, untuk menemui kamu dan anak saya Abi. Saya akan membuatmu menerima lagi cinta saya, lalu saya akan mengulangnya dari awal. Bagaimanapun saya masih berharap, ada sisa cinta dihatimu Mariam untuk saya." Ucap Robby nampak membara api cinta yang mulai menyala.
Ningrum dan Mariam bersamaan menatap punggung Robby, saat mulai menghilang dari balik pintu.
__ADS_1
--BERSAMBUNG--
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....