
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Mariam dan Ningrum hendak pergi meninggalkan area parkirnya. Diapun berpamitan terlebih dahulu dengan Mbo Tami, Pak Iwan dan juga Tuan Robby.
Namun, Tuan Robby menawarkan menantunya Ningrum dan mantan istrinya Mariam, untuk berkunjung kerumahnya sebentar.
"Ningrum, menantu Papa. Apakah kamu tidak ingin mampir dulu kerumah Papa? Hanya untuk beristirahat sebentar, atau mengisi perut yang sudah keroncongan ini." Tanya Robby dengan penuh harap, agar mereka mau mampir kerumahnya.
"Eemm.. saya sih mau saja Pah, tapi saya tidak tahu kalau dengan Mama, mau atau tidak." Kata Ningrum jelas seraya meminta pendapat Mama mertuanya.
"Bagaimana Mariam? Menantu kita, mau mampir kerumah kita. Apa kamu mau mampir juga, Mariam?" Tanya Robby menekankan kata rumah kita, seraya tersenyum hangat.
"M.. maaf Tuan, bukan rumah kita lagi! Tapi, rumah anda, Tuan." Jelas Mariam tidak suka dirinya disangkut-sangkutkan lagi dengan milik mantan suaminya.
"Ooh.. maaf Nyonya Mariam, saya ini khilaf. Saya masih suka merasa, kalau anda itu masih istri saya." Kata Robby seraya tersenyum jahil.
"Aissh.. anda terlalu percaya diri, Tuan." Ucap Mariam, kalah telak membungkam mulutnya seorang Robby.
"He.. he.. he.. maaf!" Robby terkekeh seraya meminta maaf.
Mariam hanya mengangguk, lalu melirik kearah Ningrum. "Ayo, kita pulang." Ajak Mariam kepada menantunya.
"Nyonya Mariam.. !" Panggil Mbo Tami lirih. Seketika saja, mariam menghentikan langkahnya, lalu memutar balik badannya.
"Iya, Mbo Tami?" Sahut Mariam, seraya menatap mantan ARTnya heran.
"Memangnya, Nyonya tidak ingin mampir dulu ke rumah Tuan Robby? Apa Nyonya Mariam tidak kangen masakan Mbo Tami? Apa Nyonya tidak ingin bertemu dengan suami Mbo, Pak Wahyu? Hikkzz.. hikkzz.. hikkzz..." Tanya Mbo Tami sudah dengan tangisnya.
"Eemm... iya sudah Mbo, saya mampir sebentar kesana. Tapi, hanya sampai mencoba masakan Mbo saja. Setelah itu, saya langsung pulang." Ucap Mariam mengikuti permintaan Mbo Tami yang terlihat sedih.
"Iyes.. akhirnya Mariamku luluh juga, semua berkat Mbo tami. Terina kasih Mbo tami, sudah mengerti dengan perasaan rindu saya yang sangat menggebu-gebu." Ucap Robby dalam hatinya, dengan wajah yang berseri-seri.
"Iya Nyonya Mariam, tidak apa-apa sebentar juga, yang penting Nyonya sudi untuk menikmati masakan Mbo Tami." Kata Mbo Tami dengan wajah berseri.
Akhirnya Mariam akan mampir kerumah mantan suaminya, untuk sekedar memenuhi permintaan mantan ARTnya, Mbo Tami.
"Maaf Nyonya Mariam dan Nak Ningrum, biar saya saja yang membawa mobilnya." Tawar Tuan Robby dengan wajah begitu menggemaskan.
"Aiish.. sok imut banget nih orang.." Mariam bergumam pelan.
Ningrum melirik kearah Mama mertuanya, dia tidak berani menjawab tawaran Papa mertuanya itu. Jadi dia memilih diam dan tersenyum saja.
"Tidak usah Tuan, biarkan saya yang bawa mobilnya." Tolak Mariam halus.
__ADS_1
"Kenapa, Nyonya? Kalau tadikan Abi anak kita yang membawa mobilnya, biarkan sekarang saya yang bawa mobilnya. Berbahaya kalau kamu yang menyetir, kamu 'kan pasti sangat lelah Nyonya." Ujar Tuan Robby tidak menyerah dengan beribu alasan agar keinginannya terkabul.
"Iya Mah, kalau menurut Ningrum ada benarnya juga kata Papa." Ucap Ningrum ikut menyumbangkan suaranya, meski dirinya merasa serba salah.
Mariam akhirnya mengangguk kecil, dengan tersenyum malas. Diapun memberikan kunci mobilnya ke tangan mantan suaminya, tanpa berkata sepatah katapun.
Robby menerima kunci mobilnya dengan tersenyum hangat, meski mantan istrinya membalas dengan senyuman yang begitu terpaksa. Namun, dirinya sudah bahagia, karena dirinya bisa membawa mobil mantan istrinya.
"Pak Iwan, kamu sama Mbo Tami saja yah kali ini. Saya sama Nyonya Mariam dan Nak Ningrum menantu saya dulu." Ujar Papa Robby senang, seraya mengedipkan matanya kearah Mbo Tami dan Pak Iwan.
"Baik Tuan Robby." Ucap Pak Iwan seraya berjalan masuk kedalam mobilnya.
"Iya Tuan Robby, hati-hati bawa mobilnya. Jangan sampai gagal fokus nanti, kalau ada Nyonya Mariam" Ujar Mbo Tami jahil menggoda majikannya.
"He.. he.. he.. bisa saja Mbo Tami kalau meledek saya yah. Nanti saya batalkan naik gajinya, kalau meledek saya lagi." Robby terkekeh dengan godaan ARTnya, lalu diapun mengancam Mbo Tami soal kenaikan gajinya.
"Aiis.. Tuan, tega banget sama Mbo Tami." Mbo Tami tiba-tiba bersedih.
"Bercanda Mbo Tami, he.. he. he.."
"He.. he.. he.. iya Tuan, saya juga tahu Tuan pasti bercanda."
Sontak saja Nimgrum dan Mariam ikut tersenyum dengan tingkah mereka, majikan dan ARTnya yang seperti Tom and Jerry.
"Apa tidak ada yang menemani saya duduk di depan, Nyonya?" Tanya Robby tersenyum, melalui pantulan cermin kaca spion dalam mobil. Sedangkan Mariam membuang muka kesamping, agar matanya tidak saling memandang, meski lewat pantulan kaca spion.
"Tidak apa-apa Mariam, kamu membuang muka didepanku. Aku mengerti, kamu masih belum bisa memafkan kesalahan terbesarku dulu. Aku sudah bersyukur, kamu masih mau kerumah kita yang dulu." Ucap Robby dalam hatinya dengan sedih.
"Biar Ningrum saja, Pah." Ningrum mengerti dengan sikap diamnya Mama Mariam, hingga dia saja yang langsung mengajukan diri.
"Mah, Ningrum didepan yah, temani Papa."
"Iya." Ucapnya Mariam, mengangguk pelan.
Ningrum turun dari mobil, lalu pindah ke depan, duduk disamping Papa Robby.
"Pakai seatbeltnya, Nak Ningrum sayang." Ucap Robby kepada menantunya, sengaja menekankan kata sayang, ingin melihat reaksi Mariam saat mendengar kata itu lewat kaca spion dalam mobil.
Mariam bergeming, saling menatap sekilas lewat pantulan kaca spion. Namun, Robby nampak senang melihat reaksi mantan istrinya yang cemburu. Robbypun tersenyum melalui kaca spion, dengan tatapan istrinya yang sepertinya sangat membencinya.
"Iya, Pah." Sahut Ningrum, lalu hendak memakai seatbeltnya, namun kesusahan saat akan menariknya.
"Kenapa? Susah yah nariknya? Mau dibantu sama Papa?"
__ADS_1
"Boleh, Pah." Ningrum hanya menurut saja, bantuan dari Papa mertuanya.
Sebelum Robby menarik seatbeltnya, matanya melirik kearah kaca spion untuk melihat wajah Mariam yang begitu dia rindukan. Namun, wajah Mariam nampak tegang, saat Robby memakaikan seatbelt untuk menantunya. Robbypun tersenyum, saat melihat wajah mantan istrinya itu.
"Sudah, sayang." Ucap Robby kepada Ningrum.
"Terima kasih, Pah."
"Iya Nak Ningrum, sayang. Sebelum jalan, mari kita berdoa dulu yah." Ucap Robby.
Merekapun berdoa dalam hatinya masing-masing dengan meminta keselamatan dalam perjalanan.
Robby mulai menjalankan mobilnya terlebih dahulu, kemudian Pak Iwan mengikuti daru arah belakang mobilnya.
Tidak butuh waktu lama, hanya satu jam saja, mereka sudah sampai dirumah kediaman Papa Robby. Semuanya tidak ada yang berubah, masih nampak sama seperti yang dulu.
Pak Wahyu, langsung membukakan pintu pagar otomatisnya, saat terdengar bunyi klakson dari luar pagar dan melihat Papa Robby yang menyembul dari pintu mobilnya.
"Selamat siang Tuan Robby." Ucap salam Pak Wahyu.
"Siang, Pak Wahyu. Ada tamu istimewa, didalam mobil."
"Maksud Tuan, Nyonya Mariam, bukan?"
"Heeem.."
Mariam membuka kaca mobilnya setengah, agar Pak Wahyu bisa melihatnya.
"Ya Allah Nyonya Mariam, akhirnya saya bisa juga bertemu Nyonya lagi."
"Iya, sama Pak Wahyu. Mari kita berhincang nanti didalam."
"Iya, Nyonya Mariam." Pak Wahyu sangat senang dengan penampilan Nyonya Mariam yang sekarang.
Robbypun melajukan mobilnya masuk kedalam area garasi rumahnya. Merekapun turun bersama, disusul oleh Mbo Tami dan Pak Iwan juga.
Saat melangkahkan kakinya, pintu rumah Robby terbuka. Mariam begitu shock, karena isi rumahnya yang dulu tidak ada yang berubah sama sekalih.
Masih terpajang photo pernikahan mereka dan photo keluarga saat Abi masih duduk di bangku SD. Sungguh Mariam tidak percaya, dengan pemandangan yang dia lihat saat ini.
"Kamu masih tidak percaya yah, rumah kita masih nampak sama?"
--BERSAMBUNG--
__ADS_1
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips juga komentarnya yah. Terima kasih.🙏🙏...