
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Selepas Isya pukul 8 malam, Pak Kiai besar dan juga para rombongan bersiap mendatangi kediaman orang tua Ibu Ningrum.
Hanya keluarga Pak Kiai, dan Abi serta Ibu Ningrum sendiri yang datang.
Perjalanan dari Pondok Pesantren ke rumah orang tua Ibu Ningrum hanya 45 menit saja, karena memang masih satu kota yaitu kota Bogor.
Sebelum sampai dirumah kediaman orang tuanya, Ibu Ningrum mengabari Mama Anita terlebih dahulu. Dengan maksud dan tujuan mereka datang berkunjung, tanpa disangka Mama Anita sangat antusias untuk menyambutnya meski dadakan.
Sesampainya di kediaman orang tua Ibu Ningrum, merekapun disambut hangat oleh Mama Anita dan Papa Bondan.
Abi dan Mama Mariam sedikit gugup dengan keluarga Ibu Ningrum. Pasalnya dirumah orang tua Ibu Ningrum, ada beberapa kerabat dekat dan juga ketua RT setempat untuk memberikan sambutan.
"Saya selaku ketua RT setempat, akan memberikan sambutan untuk sepatah dua patah kata. Pertama-tama saya ucapkan terima kasih, atas kedatangan keluarga Pak Kiai besar Zain Ahmad beserta calon Mempelai Pria."
"Assalamu'alaikum, warohmatullohi wabarokatuh." Salam dari ketua RT
"Wa'alaikumussalam, warohmatullohi wabarokatuh." Sahut salam dari semua yang hadir.
"Saya selaku Ketua RT, mewakili sebagai wali dari keluarga calon Mempelai wanita, untuk memberikan kesempatan kepada tamu kehormatan untuk memberikan sambutan."
Akhirnya Pak Kiai besarpun memberikan sambutannya, dan menyampaikan niat baiknya untuk meminang Nak Ningrum menjadi istri Nak Abi, yang Pak Kiai sudah anggap sebagai anaknya sendiri.
"Alhamdullilah, semuanya sudah jelas dan terarah yah. Apa yang sudah disampaikan Pak Kiai, merupakan niat baik yang akan kami terima dengan senang hati. Namun, untuk memastikan semuanya, kami serahkan kepada calon mempelai wanita, apakah setuju atau tidak pinangan dari Nak Abi?"
Pak RTpun memberi kesempatan kepada Nak Ningrum, untuk menjawab pinangan Nak Abi.
"S.. saya bersedia, menerima pinangan Abi Maulana Dirgantara." Ucap Ibu Ningrum gugup.
"Alhamdullilah, barrakalloh untuk kedua calon mempelai yaitu Nak Ningrum dengan Nak Abi." Ucap ketua RT dengan memberikan selamat.
Akhirnya semua ikut merasakan kebahagiaan Abi, dan Ningrum malam ini. Merekapun menentukan tanggal pernikahannya, agar lebih cepat lebih baik. Karena sesuatu yang baik itu harus disegerakan, janganlah kau menunda-nundanya.
__ADS_1
******
Di kediaman Robby Dirgantara.
Tuan Robby menghubungi istrinya sudah kesekian kali, namun hasilnya nihil tidak ada jawaban dari Lusia.
Robbypun sangat kesal menatap layar ponselnya, tidak ada jawaban terus dari istrinya Lusia. Wajahnya sudah merah padam, membanting ponsel miliknya ke lantai dengan emosi yang meletup-letup.
"Duug.. braak..." Bunyi ponsel Robby hancur berantakan.
"Sial.. kau wanita ja lang Lusia! Aku akan ceraikan kau secepatnya. Dasar wanita murahan, tidak tahu diuntung. Bisa-bisanya aku tertipu oleh tubuhnya yang sexy, dan mulutnya yang manis."
"Aaaarrggghhh..." Robby mengacak rambutnya frustasi.
"Mariam.. maafkan aku! Suamimu yang bodoh ini menyesal sudah melepaskanmu. Ternyata selama ini aku tertipu Mariam, aku bodoh.. aku bodoh..." Robby terus memanggil nama mantan istrinya, dan memaki dirinya sendiri.
"Hikkzz.. hikkzz.. hikkzzz..." Robby menangis dengan penuh penyesalan.
Bukan tanpa alasan, Robby melakukan itu. Ponsel miliknya, telah mendapatkan pesan dari seseorang yang tidak ada nama di kontak WAnya.
"Abi maafkan Papa, ternyata ucapanmu benar Nak, jika Mama Mariam tidak bisa diganti dengan wanita ja lang itu. Mataku buta selama ini, tidak bisa membedakan mana berlian mana batu kali. Papa sudah membuang berlian, demi mendapatkan batu kali seperti Lusia." Sesal Robby, teringat saat Abi pertama bertemu Lusia, dan langsung tidak menyukainya.
"Abi... kamu sekarang dimana, Nak? Apakah kamu akan memaafkan Papa yang sudah berdosa padamu, Nak? Apakah kamu baik-baik saja, Nak? Bagaimana kamu menjalani hidup diluar sana, Nak? Bagaimana dengan sekolahmu Nak?"
Robby bergumam memikirkan keadaan Abi, hatinya hancur mengingat dirinya 4 tahun yang lalu, dengan begitu kejam dan tidak berperasaan, mengusir anak kandungnya sendiri dari rumahnya.
Tubuhnya lunglai, seketika Robbypun duduk bersimpuh di lantai, dengan mengusap air matanya yang sudah membanjiri wajah tampannya.
Mbo Tami yang melihat Tuan majikannya yang sedang bersedih, tidak sampai hati untuk menghampirinya.
"Tuan-tuan.. kenapa baru sekarang menyesal? Sudah beberapa tahun berlalu, nomor ponsel Nak Abipun sudah tidak aktif." Mbo Tami sudah beberapa kali untuk menghubungi Abi, karena dirinya yang rindu saat itu.
Mbo Tami hanya menatap sendu dan pilu, saat Tuan Robby mendadak menangis seperti itu. Sebenarnya Mbo Tami sering kali melihat Nyonyanya itu, membawa laki-laki kerumahnya, disaat Tuan Robby keluar kota.
__ADS_1
Mbo Tami merasa heran, bagaimana Tuan Robby tahu kebusukkan istrinya itu? Padahal selama ini Lusia begitu pandai, dan licik menyembunyikan kebusukkannya dan sandiwaranya.
Tapi yang namanya kebohongan yang ditutupi, lama-lama akan terbongkar juga. Ibarat pepatah, serapat-rapatnya orang menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga bau bangkai tersebut.
*******
"Tante.. dari tadi ponselmu berbunyi terus! Apakah tidak engkau angkat?" Tanya Samuel mengingatkan.
"Biarkan saja sayangku, palingan telpon dari teman arisan Tante. Mereka itu biasalah iri, jika sekarang aku sedang bersama brondongku yang tampan dan pandai dalam bercinta. Aku selalu ketagihan, dengan servismu sayang. Cup.."
Ujar Lusia dengan gamblang, seraya memberi kecupan singkat dibibir Samuel, beranjak dari kasur hotel dengan tubuh polosnya, berjalan ke kamar mandi.
"Tante mau kemana?" Tanya Samuel, memeluk tubuh polos Tante girangnya itu, dari belakang punggungnya dengan posesif.
"Mau ke kamar mandi Samuel sayang, Tante mau mandi dan langsung pulang. Tante takut, suami Tante keburu pulang dari luar kota." Ucap Lusia, seraya menyentuh kepala Samuel yang sedang menciumi tengkuknya.
"Mandi bareng yah, Tante?" Pinta Samuel mesra.
"Iya.. ayo, jangan lama-lama tapi yah, nanti lanjut minggu depan saja." Ucap Lusia, menuruti kemauan brondongnya itu. Samuel memang sangat pandai, memuaskan Tante-tante girang. Apa lagi Tante girangnya seperti Lusia, sangat cantik dan Sexy menurutnya.
"Iya Tante, engga lama ko, hanya satu kali semburan saja." Ucap Samuel, kemudian mengangkat Lusia ala bridal style ke kamar mandi.
Lusia dan Samuel melanjutkan aktivitas ranjangnya di kamar mandi, dengan sangat bergairah. Merekapun menyudahinya dengan satu babak saja, tanpa ada tambahan seperti biasanya. Hati Lusia sedang cemas saat ini, takut suaminya sudah pulang, tapi dirinya tidak ada dirumah.
"Tante mau pergi sekarang juga?" Tanya Samuel, dengan wajah yang terlihat murung namun menggemaskan menurut Lusia.
"Iya sayang, jangan sedih gitu dong." Ucapnya, menenangkan.
Lusiapun mengechek ponselnya, betapa terkejutnya Lusia saat suaminya melakukan panggilan telpon dan VC beberapa kali.
"Apa Mas Robby, sudah sampai rumah sekarang? Waah.. Mas Robby pasti marah, aku tidak mengangkat telponnya tadi." Lusia bergumam pelan.
--BERSAMBUNG--
__ADS_1
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....