
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Pagi hari Mariam sudah bangun pukul empat pagi, kemudian dirinyapun beranjak pergi ke kamar mandi membersihkan diri sebelum pergi ke surau untuk sholat shubuh berjamaah.
"Eeh.. Ibu Mariam sudah bangun yah?" Tanya Ibu RT yang baru saja selesai mandi.
"Iya Ibu RT, saya mau mandi dulu sebelum pergi ke surau, sholat shubuh berjama'ah." Ucap Mariam jujur.
"Ooh.. iya nanti bareng saja kita berangkat ke suraunya. Jang Abi dan Neng Ningrum apa sudah bangun, Ibu Mariam?" Tanya Ibu RT.
"Sepertinya belum, tadi saya lewat kamar mereka lampunya masih padam." Ucap Mariam jujur.
"Iya sudah, biar Ibu bangunkan mereka. Agar tidak ketinggalan sholat shubuhnya." Sarkas Ibu RT.
"Iya Ibu RT, terima kasih. Saya akan mandi dahulu." Ucap Mariam kemudian dirinya masuk kedalam kamar mandi.
Ibu RTpun akhirnya berjalan kepintu kamar Abi dan Ningrum, ternyata lampu kamarnya sudah menyala.
"Ooh.. sepertinya mereka sudah bangun." Ibu RT bergumam pelan.
"Tok.. tok.. tok.." Bunyi pintu yang di ketuk oleh Ibu RT.
"Jang Abi dan Neng Ningrum, apakah sudah bangun?" Tanya Ibu RT dari luar pintu kamarnya.
"Sudah Ibu RT, kami segera keluar sesaat lagi." Ucap Abi yang masih enggan bangun dari pelukkan istrinya.
"Syukurlah kalau begitu, Ibu tunggu di ruang tamu untuk pergi bersama ke surau yah." Ucap Ibu RT.
"Iya Ibu." Sahut Abi singkat.
"Ayo Al-habibku sayang, bangun. Jangan manja, tidak bagus." Ajak Ningrum yang sudah bangun dan siap mandi pagi.
"Iya sayang, mandi bareng yah!" Ucap Abi memelas menggemaskan.
"Aiish.. malu Al-habibku." Decak Ningrum menolak karena malu.
"Engga sayang, kenapa harus malu? Orang kita sudah menjadi suami istri ini, merekapun memaklumi." Ucap Abi tidak ingin dibantah.
__ADS_1
"Tapi, ini bukan dirumah kita sayang! Ini dirumah orang." Ucap Ningrum terus beralasan.
"Menghemat waktu sayang, lihat sudah pukul 4.30 pagi, lima belas menit lagi sholat shubuh berjama'ah di surau. Ayo lekas mandi, sayang. Tidak ada kata-kata tidak bisa." Ucap Abi mengancam.
"Baiklah, Khumairah pasrah untuk menuruti kemauan suami brondongku." Ucap Ningrum pada akhirnya.
"Ha.. ha.. ha.. istri penurut, istri yang baik." Ucap Abi memuji lalu tersenyum. "Cup.. cup.. cup.." Abipun mengecup seluruh wajah Ningrum dengan gemas, namun tidak beranjak dari tempat tidurnya.
"Ayo lekas bangun, Khumairah tidak suka suami yang malas bangun. Apa lagi urusan bangun pagi untuk sholat berjama'ah." Ujar Ningrum menegur suaminya dengan mengingatkan.
"Iya sayang.. ini mau bangun." Ucap Abi menurut.
Merekapun akhirnya bangun juga dari tempat ternyamannya. Membuka pintu kamarnya, lalu menuju kamar mandi bersama.
"Eeh.. kalian sudah bangun? Ayo cepat, sebentar lagi azan shubuh. Kalian mandi bersama saja, biar tidak terlambat ke surau." Ujar Mariam memberi usul.
"Iya Mah, sudah pasti itu sih." Ucap Abi tidak ada malunya.
"Aiishh.. anak Mama jangan macam-macam mandinya, ayo cepat biar tidak kesiangan." Decak Mariam
"Iya Mah. Tenang saja Mah, Abi engga akan macam-macam." Ucap Abi kecewa.
Ningrum dan Abipun dengan cepat menyelesaikan mandi mereka.
Mama Mariam dan Ibu RT sudah menunggu mereka bersiap-siap, sedangkan Pak RT sudah ke surau dari jam empat pagi tadi.
Mariam dan Ibu RT melihat Abi dan Ningrum yang sudah rapih keluar dari kamar mandi.
"Kalian sudah beres, ayo kita segera berangkat ke surau." Ajak Mariam, saat keduanya sudah terlihat rapih
"Okay, Mah." Ucap Abi dan Ningrum kompak.
Merekapun berangkat bersama-sama kesurau. Suara azan sudah berkumandang, merekapun mempercepat langkah kakinya saat berjalan.
Abi bergabung dengan jama'ah pria, sedangkan istrinya, Mama Mariam dan Ibu RT bergabung dengan jama'ah wanita.
"Jang Abi kamu diminta jadi imam sholat, sama Pak Lurah." Ucap Pak RT.
__ADS_1
"Iya Pak." Ucap Abi singkat.
Abipun menjadi imam sholat shubuh, lalu dengan khusu dan merdu bacaan surah pendeknya. Suara Abi membuat bacaan surah ayat-ayat Al-Qur'an sangat menggetarkan jiwa-jiwa yang mendengarkannya.
Seketika saja Papa Robby merasakan getaran hatinya ketika mendengarkan suara Abi yang begitu merdu saat membaca lantunan ayat-ayat suci Al-Quran.
Selesai menunaikan sholat berjama'ah, Abi bersalaman dengan para jama'ah lainnya.
Ketika Abi akan mencium tangan Papa Robby, tiba-tiba saja tubuh Abi dipeluk oleh Papa Robby, dirinya menangis tersedu-sedu dengan penuh derai air mata.
"Papa kenapa? Ada apa sebenarnya Pah? Apa yang sudah terjadi? Tolong katakan Pah, siapa tahu saja Abi bisa membantu Papa." Tanya Abi menenangkan hati Robby, seraya mengusap pundak Papanya.
"Tidak sayang, Papa bangga kepadamu. Kamu anak sholeh, anak pintar dan bisa mengangkat derajat orang tua. Kamu adalah buah cinta Papa yang sangat berharga bersama Mariam Mama kamu. Papa malu sudah menyia-nyiakan kamu selama ini. Papa sangat berdosa, sudah dzolim sama kamu, sayang. Hikzz.. hikzz.." Ucap Papa Robby lirih dengan derai tangisnya yang pilu.
"Sudahlah Pah, sebaiknya kita pulang untuk beristirahat. Sudah lupakan masa lalu yang menyedihkan, kita harus bisa berdamai dengan masa lalu itu. Apa Papa mau kerumah Pak RT atau kerumah Pak Syarif?" Tanya Abi memberikan pilihan.
"Kerumah Pak RT saja." Ucap Papa Robby pada akhirnya.
"Cieh.. bilang saja kangen, engga mau lama-lama jauh sama Mama Mariam. Sebentar saja tidak melihatnya, dunia seakan runtuh sepertinya." Ledek Abi dengan kata-kata mautnya.
"Abi sayang, bisa engga sekali saja jangan ledekin Papa terus, malu di dengar orang. Apa lagi kalau sampai Mama kamu dengar, mau ditaruh dimana muka Papa?" Ujar Papa Robby protes dengan ledekan anaknya.
"Ya ilah Pah, malu? Kenapa harus malu? Papa saja tadi nangis tidak malu didepan orang-orang banyak." Ujar Abi benar adanya.
"Kalau itu sih lain Sayang, itu refleks tanpa disengaja." Elak Papa Robby.
"Ha.. ha.. ha.. percaya.. percaya.." Abi tertawa seraya mengangguk pelan.
"He.. he.. ayo kita pulang ke rumah Pak RT." Ajak Robby dengan menyeret tangan Abi untuk segera pergi dari surau tersebut. Pak Iwan mengikuti mereka dari belakang, menggelengkan kepalanya heran. Dimana saja mereka berada, tidak pernah tidak berdebat.
"Sabar Pah, kalau jodoh takan kemana. Tenang saja, dihati Mama belum ada Pria yang bisa menggantikan Papa. Hanya Papa yang terukir indah dihati Mama." Ucap Abi membuat hati seorang Robby, tiba-tiba mencelos begitu saja.
"Kalau berani jangan ngomong dibelakang, ngomongnya didepan orangnya dong."
...♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️...
Bagaimana cerita saya kali ini? Mohon like dan komennya yah! Boleh juga hadiahnya bagi Readers yang baik hati dan tidak sombong. Terima kasih yah, salam bahagia selalu dari Tina Rifky.
__ADS_1
--BERSAMBUNG--
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips juga komentarnya yah. Terima kasih.🙏🙏...