
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Siang ini, Abi dan Ningrum bersiap-siap untuk ke rumah sakit, mereka akan memeriksaan keadaan Ningrum.
Sejak kemarin selalu mual dan mabuk, maka dari itu dia langsung saja menuju Dokter Obgyn untuk memeriksanya.
Sedangkan keluarga besar Kiai Zain dan Papa Bondan kembali ke kediamannya di bogor.
Mulai saat ini Mariam, Abi dan istrinya Ningrum kembali kekediaman keluarga Robby dan tinggal di Jakarta.
Sesampainya di rumah sakit, Abi dan Ningrum menunggu antrian sebentar, karena hanya ada beberapa pasien yang mengantri, jadi tidak terlalu lama menunggu antriannya.
Ningrum melihat beberapa Ibu hamil yang sudah sangat besar sekali, sepertinya begitu kesulitan dan kerepotan.
Berjalannyapun agak sedikit kesusahan, saat dirinya giliran dipanggil oleh suster untuk menemui Dokter. Namun, dengan sabar suaminya menuntun wanita itu untuk masuk keruangan Dokter.
"Sayang.. kenapa liatinnya sampai segitunya?" Tanya Abi yang melihat mata istrinya tidak lepas dari pandangan seorang Ibu hamil besar yang baru saja masuk kedalam ruangan Dokter.
"Aku terbayang, bagaimana nantinya kalau aku hamil besar seperti itu nanti ya, Al-habib?" Tanya Ningrum begitu antusias.
"Iya Ibu yang sudah hamil besar, semuanya akan mengalami seperti itu. Kesusahan saat berjalan, kesusahan saat tidur, kesusahan saat bergerak, tetapi semua itu adalah anugerah dari Allah untuk wanita hingga mendapatkan kemuliaan satu tingkat dari laki-laki diatasnya."
"Suamiku pintar sekali, sepertinya kamu lebih ahli dalam ilmu kehamilan."
"He.. he.. he.. suami kamu ini calon Dokter, khumairahku sayang. Besar kecilnya sudah belajar masalah kesehatan pasien."
"Oh.. iya, aku hampir melupakannya, he.. he.. he.."
Setelah beberapa antrian sudah masuk, akhirnya tiba juga Ningrum giliran dipanggil oleh Suster untuk segera masuk keruangan Dokter Obgin untuk melakukan pemeriksaan dan konsultasi.
"Selamat ya Ibu dan Bapak, atas kehamilannya. Usia kandungan Ibu Ningrum sudah memasuki lima minggu." Ucap Ibu Dokter. SPOG, seraya berjabat tangan.
"Terima kasih banyak Ibu Dokter, Alhamdullilah kami sangat bahagia." Tutur Ningrum dan Abi ikut berterima kasih juga, lalu merekapun berjabat tangan dengan Dokter tersebut.
Selesai pemeriksaan, Abi dan Ningrumpun kembali pulang kerumah Papa Robby di Jakarta.
Sesampainya dirumah, Abi mengabarkan berita bahagia itu kepada Mama Mariam dan juga Papa Robby.
Mbo Tami dan semua pekerja disanapun, ikut bahagia saat mendengar kabar jika anak menantu majikannya telah hamil.
Abi dan Ningrum menempati kamar yang dulu ditempati oleh Abi, sebelum dirinya diusir keluar oleh Papa Robby saat masih bersama Lusiana si nenek sihir.
*******
"Khumairah sayang, sini dong duduk dipangkuan Al-habib." Pinta Abi dengan mesra.
Ningrumpun tersenyum lalu menghampiri suaminya yang seperti sedang menggodanya.
__ADS_1
"Kenapa sayang, sepertinya ada yang sedang minta dimanja?" Tanya Ningrum waspada.
"He.. he.. he.. tahu saja ini istriku!"
"Sudah ketebak, Al-habibku 'kan paling pandai merayu."
"Aiish... hanya dengan kamu, khumairahku sayang. Rayuan mautku hanya denganmu, jangan pernah cemburu dengan yang lain."
"Siap! Laksanakan, he.. he.. he.." Ucap Ningrum bergaya memberi hormat dengan jari tangan menempel di samping kepalanya.
"He.. he.. he.. sepertinya anak kita kelak menjadi tentara nantinya, jika melihat istriku yang seperti ini." Ujar Abi merasa lucu.
Ningrum tersenyum menanggapi ucapan suaminya, namun diam-diam dirinya mengamini dalam hatinya. "Aamiin.."
*******
Tujuh bulan kemudian.
Ningrum dan Abi sedang berada diruang bersalin, Papa Robby dan Mama Mariampun setia menemani di ruang tunggu untuk kelahiran cucu mereka.
Mama Anita dan Papa Bondanpun sedang dalam perjalanan, dari Bogor menuju rumah sakit tempat Ningrum akan melahirkan.
Dengan perasaan berdebar-debar, hati Abi lebih gundah gulana ketimbang Ningrum istrinya, yang akan menghadapi kelahiran anak pertamanya yang diprediksi USG seorang bayi cantik berjenis kelamin perempuan.
"Aawh.. " Pekik Ningrum sedang merasakan mulas diperutnya.
"Heeem.. aku merasakan mulas lagi, suamiku." Ucapnya lirih.
"Mungkin sebentar lagi mau melahirkan, sayang." Ujar Abi menenangkan.
"Iya.. sayang, tapi mulasnya sudah tidak tertahankan lagi." Keluh Ningrum dengan apa yang sedang dia rasakan.
"Iya sudah sayang, aku yakin kamu bisa melewati semuanya. Meski hatiku sungguh berdebar-debar menantikan kelahiran anak kita."
"Iya.. Al-habibku sayang. Doakan semuanya berjalan lancar, doakan istrimu bisa melewati semuanya dengan mudah."
"Iya.. sayang, sudah pasti itu."
Tidak lama kemudian, Dokter. SpOGpun datang menghampiri Abi dan Ningrum, kemudian memakai sarung tangan yang sudah disterilkan untuk mengechek pembukaan berapa yang sudah terlihat.
Sebelum Dokter itu mengechek pembukaan jalan lahir bayi, terlebih dahulu Asisten Dokter yang memeriksa tensi darah Ningrum dan detak jantung janin Ningrum, yang sudah terlihat kesakitan menahan mulas ingin melahirkan sepertinya.
Dokter meminta Abi untuk menunggu diluar saja, saat dirinya akan memeriksa pembukaan jalan lahir milik Ningrum.
Kemudian Abipun mengangguk kecil ke arah Dokter dan Asisten Dokter, lalu mengecup kening istrinya, yang akan segera diperiksa oleh Dokter. SpOG.
"Fighting sayang!" Ucap Abi memberi semangat kepada istrinya, dengan tersenyum sayang. Lalu diapun beranjak keluar, meninggalkan ruangan melahirkan.
__ADS_1
"Heeemm.. " Ningrum hanya bergumam pelan lalu tersenyum meringis menahan sakit dan mulas yang sedap-sedap gimana gitu rasanya orang yang ingin melahirkan.
*******
Setelah satu jam menunggu dengan harap-harap cemas. Mertua Abipun sudah sampai dan menunggu bersama Kedua orang tuanya.
Abipun menyambut mereka dengan perasaan cemas dan khawatir. Bagaimana tidak, dirinya sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah diusia yang cukup muda, yaitu dua puluh satu tahun.
Hatinya begitu campur aduk, berdebar-debar dan merasa was-was dengan keadaan istri dan bayinya. Namun, dia selalu berusaha berdoa untuk kebaikan semuanya.
"Owak.. owak.. owak.." Tangisan bayi sudah terdengar dari balik pintu ruang persalinan.
"Alhamdulilah... ya Allah, sepertinya anakku sudah lahir, Mah... Pah!" Seru Abi mengucap syukur.
"Iya.. sayang, Alhamdullilah." Ucap Mama Mariam dan diikuti oleh Papa Robby dan kedua mertuanya.
Akhirnya Abi dan Mama Mariampun berpelukkan dengan haru dan bahagia. Kemudian disusul oleh yang lainnya, memberikan selamat sudah menjadi seorang Ayah.
Tidak lama kemudian, Dokterpun keluar ruangan persalinan dengan wajah berseri.
Abi dan orangtuanya langsung menghampiri Dokter tersebut, untuk menanyakan bagaimana keadaan Bayi dan ibunya.
"Selamat ya.. Bapak Abi, ibu dan anaknya semua selamat dan lahir dengan sehat, tidak kurang satu apapun." Ucap Dokter itu dengan menyalami Abi dan orang tuanya.
"Alhamdulillah, terima kasih Dokter." Ucap Abi bersalaman dengan Dokter yang diikuti oleh orang tua dan mertuanya.
Setelah itu Abipun menghampiri Ningrum dan bayi, yang masih dipegang oleh Asisten Dokter.
Dengan wajah berbinar dan berkaca-kaca, Abi langsung menggendong bayi perempuan itu dengan perlahan, lalu mengazani bayi tersebut dengan merdunya.
Seketika saja, Ningrum menangis bahagia saat melihat dan mendengarkan suaminya saat mengumandangkan Azan di dekat telinga anaknya dan mengecup sayang anaknya.
Seusai mengumandangkan Azan, Abipun menghampiri Ningrum istrinya untuk mengucapkan selamat dan memeluknya dengan sayang.
"Terima kasih sayang, sudah melahirkan anak perempuan yang begitu cantik dan lucu."
"Iya.. Al-habibku sayang, sama-sama. Aku juga terima kasih sudah menjadi suami yang baik dan siaga selalu.
Akhirnya merekapun tersenyum dan menangis bahagia bersama.
Kedua orang tua Abi dan Ningrumpun, menghampiri mereka dan memberikan selamat dengan penuh haru dan bahagia.
...♥️♥️ T.. A.. M.. A.. T♥️♥️...
...Hallo para Readers dan Autor, terima kasih atas dukungan kalian selama ini untuk karya recehan kedua saya. Semoga kalian bisa terhibur dengan cerita saya....
__ADS_1
...Akhirnya saya bisa menamatkan cerita ini dengan happy ending, semoga kalian tidak kecewa dengan cerita recehan saya para Readers dan Autor. Terima kasih🙏...