
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Selesai menerima telpon dari istrinya, wajah Abi terlihat sangat bahagia, pemandangan itupun tidak terlepas dari sorot mata Zainap yang sedari tadi menahan sakit di hatinya.
"Ternyata selama ini aku mencintai orang yang salah, dia tidak pernah menyukaiku sama sekalih, cintaku bertepuk sebelah tangan." Zainap meracau dalam bathinnya.
"Nap.. Nap.." Panggil Abi seraya menjentikkan jari tangan kanannya di depan wajah Zainap.
"Eeh.. " Zainap tersentak saat dirinya tersadar dari lamunannya.
"Kamu melamun Nap? Calon Dokter, kenapa sukanya melamun terus hah..? " Tanya Abi dengan meledeknya.
Zainap tersipu malu, lalu terkikik saat dirinya tertangkap basah sedang melamun.
"Iya Bie, akhir-akhir ini saya suka melamun dan resah." Ucap Zainap jujur dengan apa yang dia rasakan.
"Ooh.. kalau boleh saya tahu, memangnya apa yang sedang kamu pikiran sih Nap?" Tanya Abi perhatian sebagai sahabat.
"Saya sedang jatuh cinta Bie, tapi sebelum cinta itu dimulai, hati saya sudah pupus terlebih dahulu." Ucap Zainap jujur dengan perasaannya yang sedang dia rasakan. Bola matanya sudah berkaca-kaca, menahan tangisnya.
"Haah? Kamu sedang jatuh cinta, tapi sudah pupus sebelum dimulai? Kenapa bisa begitu? Memangnya kamu sudah jatuh cinta sama siapa Nap?" Tanya Abi heran dengan sahabatnya itu.
"S.. sama kamu Bie, saya jatuh cinta sama kamu. Selama dua tahun ini saya memendamnya. Tapi, ternyata kamu sudah menikah. Kamu tidak pernah bercerita kepada saya, tentang status kamu yang sudah mempunyai istri." Ungkap Zainap dengan gamblang namun sedikit gugup.
"He.. he.. he.. kamu jatuh cinta kepada saya? Sudah dua tahun ini? Masya Allah Nap.. Nap.. saya hanya menganggap kamu sahabat selama ini. Mengapa kamu tidak bilang dari dulu, kalau kamu menyukai saya bahkan mencintai saya?" Kekeh Abi saat mendengar ucapan sahabatnya itu.
"Saya mana berani menyatakan cinta kepadamu Bie, seperti para gadis kampus yang histeris dan kagum kepadamu selama ini." Ungkap Zainap jujur, dengan wajah sedikit menunduk.
"Maafkan saya Nap, memang saya senang mengenalmu dan kita bisa bersahabat. Saya berpikir kamu adalah gadis yang berbeda dengan yang lainnya, maka saya sangat nyaman bersahabat denganmu." Ucap Abi jujur dari hatinya.
"Apa tidak pernah terbersit sedikitpun, dihati kamu untuk menyukai saya barang sedetikpun, Bie?" Tanya Zainap penasaran.
__ADS_1
Abi tersenyum kecil, lalu mengatakannya dengan lirih dan jujur. "Ada Nap, tapi hanya menyukai sebagai sahabat, saya mencoba untuk mengisi hati saya dengan kamu, namun selalu muncul orang yang sekarang menjadi istri saya."
"Saya cukup bahagia Bie, meski disukai oleh kamu sebagai sahabat. Terima kasih sudah mau menjadi sahabat saya selama ini, maafkan saya sudah lancang menyukai dan mencintai kamu." Ujar Zainap tulus, dengan air mata yang sudah mengalir deras. "Hikkz.. hikkzz.. hikkzz.."
"Sama-sama Nap, saya juga mengucapkan terima kasih banyak, sudah mau menjadi sahabat saya selama ini, sudah mau menyukai saya bahkan mencintai saya. Maafkan saya tidak bisa membalas perasaan kamu yang begitu besar dan tulus." Ujar Abi dengan gamblang.
Zainap kemudian mengangguk pelan, saat Abi meminta maaf kepadanya, diapun langsung menghapus air matanya dengan jari tangannya.
"Sudah Nap, jangan menangis lagi dong. Calon Dokter yang saya kenal itu orangnya tegar, kuat dan tidak cengeng. He.. he.. he.." Ledek Abi seraya terkekeh.
"Hi.. hi.. hi.. iya Bie, saya cengeng banget yah?" Zainap tertawa kecil.
"Iya sudah, saya mau ke perpustakaan Nap, mau cari buku referensi medis secara ilmiah dan Alami atau buku medis dengan bahan tradisional."
"Ooh iya Bie, saya juga mau cari buku itu, untuk bahan kita besok KKN." Ucap Zainap seraya mengekori Abi ke perpustakaan.
*******
Manager Bambang menghampiri Tuan Robby dengan wajah ceria, pasalnya hari ini adalah hari semua karyawan mendapatkan gaji bulanan. Namun, gaji bulan ini cukup berbeda dari gaji bulanan yang biasanya.
"Terima kasih yah Tuan Robby, saya sungguh tidak menyangka Tuan begitu baik kepada kami semua, gaji karyawan semuanya naik dua puluh persen." Ucap Manager Bambang memuji Boss besarnya itu.
"Aah.. anda terlalu berlebihan Manager Bambang. Saya hanya menaikan gaji setahun sekali, itu hal yang wajar, bukan?" Tanya Robby merendah.
"Tapi Tuan, biasanya kami hanya naik gaji sepuluh persen setiap tahunnya. Namun, tahun ini Tuan begitu baik kepada Karyawan dengan kenaikan gaji dua puluh persen, berarti dua kali lipat dari tahun kemarin." Ujar Manager Bambang dengan wajah senang.
"Ha.. ha.. ha.. bersyukurlah, Alhamdulillah ada rezeqi lebih." Robby tertawa seraya mengucap syukur.
"Aamiin... Alhamdulillah ya Allah." Ucap Manager Bambang mengucap syukur.
Setelah mereka berbincang-bincang, Tuan Robby keluar ruangannya. Para Karyawan menghampiri Tuan Robby, kemudian mereka mengucapkan terima kasih atas kenaikan gajih mereka.
__ADS_1
"Tuan Robby, terima kasih sudah menaikkan gaji kami dua kali lipat, saya berdoa untuk kebaikan anda, semoga Perusahaan ini semakin maju dan sejahtera."
"Tuan Robby, terima kasih banyak atas kenaikan gaji kami, semoga anda selalu diberi kesehatan dan kebahagiaan."
Begitulah para karyawan mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Tuan Robby, seraya berjabat tangan dan tersenyum ramah.
Tuan Robby menyambut baik semua karyawannya tanpa terkecuali. Semuanya, baik yang karyawan atasan, maupun bawahan bahkan ofice boy sekalipun, tidak ada yang Robby bedakan.
Tuan Robby dan Manager Bambang pergi meninggalkan mereka para karyawan, dengan wajah ceria dan bahagia.
Semua karyawan merasa senang dan bangga mempunyai Pemimpin Perusahaan yang baik dan perduli dengan nasib para karyawannya.
"Tuan Robby, sekarang sudah sore, apakah anda masih tetap disini atau segera pulang?" Tanya Manager Bambang.
"Saya akan segera pulang. Tumben kamu perduli dengan saya? Biasanya saya pulang atau tidak, kamu tidak pernah bertanya."
"Bukan begitu Tuan Robby. Habisnya kalau saya perhatikan, hari ini Tuan Robby terlihat begitu senang." Ujar Manager Bambang, seraya memicingkan matanya curiga.
"Ha.. ha.. ha.. kamu itu sok tahu Manager Bambang. Saya setiap hari memang seperti ini, kamu saja yang tidak perhatian sama saya." Robby tertawa lepas, namun masih menyangkal tuduhan Manager Bambang
"Aiiish.. ucapan Tuan Robby bisa saja menyangkalnya, tapi wajah Tuan Robby tidak bisa berdusta." Decak Manager Bambang sesuai kenyataan.
"Sudah.. sudah... kamu memang paling bisa membaca air muka orang, Manager Bambang. Saya sudah tidak bisa menyangkal lagi kalau terus kamu desak seperti ini, he.. he.. he.." Ucap Robby menyerah seraya terkekeh.
Manager Bambang ikut tertawa dengan kebahagiaan Boss besarnya itu.
"Hari ini, apa Tuan akan ke Pondok Pesantren di Bogor untuk menemui mantan istri tercinta?" Tanya Manager Bambang seraya mengedipkan mata genitnya.
"Aiishh.. kamu itu hanya Manager saya, bukan orang tua saya. Kenapa kamu sangat kepo sekalih? Kalau kata anak zaman sekarang ini. He.. he.. he.."
--BERSAMBUNG--
__ADS_1
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....