
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Sepulangnya Robby dari kantor, menyempatkan diri menyapa dan meminta Mbo Tami dibuatkan teh hangat saja. Lalu diapun langsung bergegas cepat, masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Mbo Tami yang melihat Tuannya sedang terburu-buru masuk ke dalam kamarnya, hanya menggelengkan kepalanya heran.
"Tuan... Tuan.. seperti Pria yang sedang jatuh cinta, wajahnya riang betul, senyumnya begitu ceria dan semangatnya begitu membara." Mbo Tami bergumam pelan seraya tersenyum.
Mbo Tami menuju dapur membuatkan secangkir teh hangat, atas permintaan Tuannya tadi saat baru sampai dari kantor.
Tuan Robby bersenandung kecil di dalam kamar mandinya, dia berendam air hangat dengan sabun aroma wangi mawar.
Malam ini dia berencana pergi ke Pondok Pesantren, untuk menemui Mariam mantan istrinya. Dia akan tetap menemui wanita itu, meski dirinya tidak diinginkan.
Selesai berendam, kemudian Robby membilas tubuhnya dengan air biasa. Tubuh Robby terasa segar dan harum. Wajah Robby terlihat bersinar, dirinya sedang merasakan jatuh cinta kembali.
"Mariam.. sungguh aku masih mencintaimu, bukalah pintu hatimu untukku. Percayalah padaku, aku tidak akan pernah menyakitimu seperti dulu. Aku membutuhkanmu Mariam, aku ingin hidup bahagia bersamamu." Robby bergumam pelan seraya mematut dirinya didepan cermin.
Robby mengenakan pakaian casual, dengan baju kaos dan celana jeans. dirinya nampak seperti anak muda yang ingin berkencan kerumah kekasihnya. Layaknya anak ABG yang sedang kasmaran.
Robby keluar kamar, lalu dia duduk di sofa ruang keluarga. Dia melihat secangkir teh sudah ada di meja, lalu diapun menyesapnya sedikit demi sedikit.
Mbo Tami menghampiri Tuan Robby untuk menawarkan makan malam dengan menu makanan apa saja, namun dirinya berkata.
"Malam ini kita akan makan di Pondok Pesantren, kita akan memesan makanan istimewa kesana." Ujar Tuan Robby seraya tersenyum ramah.
"Kita? Apa maksud Tuan? Apa saya juga akan di ajak ke Pondok Pesantren, Tuan?" Tanya Mbo Tami merasa aneh, karena Tuannya mengatakan kata kita.
"Iya Mbo, sekarang kamu besiap-siap ikut saya kesana untuk bertemu dengan mantan istri saya Mariam dan anak saya Abi." Ujar Tuan Robby dengan wajah serius.
"B.. baik Tuan, saya akan ganti baju dulu." Ucap Mbo Tami gugup, seakan dirinya hampir tidak percaya dengan apa yang telah dia dengar.
"Okay Mbo, jangan lama-lama. Saya takut nanti kemalaman sampai sana." Pinta Tuan Robby seraya melirik jam tangannya.
__ADS_1
Mbo Tamipun segera masuk kedalam kamarnya, untuk berganti pakaian dan berias wajah ala kadarnya.
"Saya sudah siap, Tuan." Ucap Mbo Tami saat dirinya baru saja keluar dari dalam kamarnya, dengan penampilan yang cukup rapih mengenakan hijab berwarna hijau dengan baju gamis yang senada warnanya.
"Mbo Tami, mulai hari ini penampilannya lebih baik seperti ini terus. Meski didalan rumah, Mbo Tami tetap seperti ini yah. Mulai gajian bulan ini semua ART, Satpam, Tukang kebun dan Supir, akan saya naikkan gajinya 20 persen." Ujar Tuan Robby dengan gamblang.
Mbo Tami membekap mulutnya dan membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Mbo Tami shock bukan main, hingga dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hanya tangisan yang terdengar keluar dari bibir Mbo Tami.
"Hiikzz.. hikkz.. hikķzz..."
"Sudah Mbo, kenapa semua orang menangis? Padahal saya ingin melihat kalian bahagia, saat gaji kalian saya naikkan." Tanya Tuan Robby merasa bersalah dengan semua orang yang dibuatnya menangis.
"Ti.. tidak Tuan, bukan begitu. Saya menangis bahagia, karena Tuan sangat baik kepada kami." Jelas Mbo Tami, seraya menunduk dengan sopan.
"Aiish.. saya sudah salah paham yah jadinya." Ucap Robby saat sudah menyadarinya.
Mbo Tami mengangguk pelan, lalu diapun mengucapkan kata. "Terima kasih Tuan atas kebaikan anda kepada kami." Ucap Mbo Tami seraya mewakili suami dan yang lainnya.
"Iya Tuan, soal itu sudah pasti saya akan sampaikan kepada mereka." Ucap Mbo Tami pasti.
Tuan Robby dan Mbo Tami kemudian keluar dari rumah untuk masuk kedalam mobil. Mbo Tami duduk di samping supir pribadi Tuan Robby yang bernama Pak Iwan, sedangkan Tuan Robby sendiri duduk di bangku belakang supir.
Selama perjalanan dimobil, Tuan Robby fokus dengan ponselnya. Dia memesan makanan istimewa secara on line dari Restauran langganannya.
Dahulu saat Robby masih menjadi suaminya Mariam, mereka sering menghabiskan moment makan malam romantis di Restauran tersebut. Abi kecilpun selalu ikut, untuk menyempurnakan kebahagiaan mereka.
"Semoga dengan ini, kamu akan mengingat moment indah kita dulu Mariam. Semoga kamu akan membuka hatimu kembali untukku, Mariam." Robby bergumam pelan seraya tersenyum.
Hanya dengan perjalanan satu jam setengah, merekapun akhirnya sampai di Pondok Pesantren Pak Kiai Zain Ahmad.
Sesampainya disana, merekapun disambut hangat oleh keluarga Bapak Kiai Zain Ahmad. Robby dan Mbo Tami serta Pak Iwan, Supir pribadi Tuan Robby.
__ADS_1
"Assalamu'alikum, Pak Kiai, Umi dan Nona Madinah juga Ustad Faris." Ucap salam dari Robby seraya tersenyum ramah, lalu diikuti oleh Mbo Tami dan Pak Iwan.
"Wa'alaikumussalam, Tuan Robby, Ibu dan Bapak." Jawab salam Pak Kiai dan yang lainnya bersamaan.
Kemudian Pak Kiaipun mempersilahkan mereka untuk segera duduk di kursi tamu, ataupun lesehan dengan beralaskan karpet tebal.
Robby memilih duduk lesehan beralaskan karpet, karena dirinya lebih leluasa untuk mengobrol dengan mereka.
"Sebelumnya saya datang kemari dengan maksud ingin bersilahturahmi dengan keluarga Bapak Kiai dan menjalin kerja sama kita, agar semakin dekat." Jelas Robby dengan kedatangannya.
"Iya Tuan Robby, kami sangat senang bisa kedatangan tamu istimewa seperti anda. Seorang pemimpin Perusahaan besar, yang sudi mampir ke Pondok kami ini." Ucap Pak Kiai dengan ramah.
"Oh.. iya, perkenalkan ini ART saya, yang sudah seperti Ibu kedua Abi putra saya yang seperti anaknya. Lalu ini Pak Iwan, dia adalah Supir Pribadi saya yang sangat setia, mengantar kemana saja saya pergi." Ungkap Robby seraya mengenalkan mereka berdua.
Mbo Tami dan Pak Iwanpun mengangguk pelan, seraya tersenyum ramah. Setelah mereka diperkenalkan dengan keluarga Pak Kiai.
"Salam kenal dari saya, panggil saja saya Pak Kiai Zain, lalu ini istri saya dan ini anak saya dan menantu saya." Pak Kiai mengenalkan keluarganya satu persatu.
"Iya Pak Kiai, apa saya bisa bertemu dengan Nyonya Mariam dan Aden Abi?" Tanya Mbo Tami terlihat sangat tidak sabar, ingin segera bertemu dengan mereka.
"Tentu Ibu, saya akan panggilkan mereka segera."
Pak Kiai meminta tolong anaknya Madinah, untuk memanggil mereka bergabung.
Madinahpun kemudian menghampiri mereka, untuk memberitahukan bahwa ada tamu istimewa yang mencarinya. Setelah itu Madinahpun berhasil membawa Abi dan Mariam, untuk menemui tamu istimewanya.
"N.. nyonya.. A.. aden...?
"Mbo Tami..."
--BERSAMBUNG--
__ADS_1
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....