
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
"Wa'alaikumsalam Ibu guru." Ucap Abi dan Melia bersamaan.
Ibu Ningrum tersenyum, lalu berjalan mencari buku dirak-rak yang ada diruang perpustakaan itu.
Abi yang merasa canggung dengan kondisi seperti ini, seakan bersikap santai meski hatinya sedang berdebar-debar, dag-dig-dug tidak karuan.
"Ibu guru sedang mencari buku apa?" Melia menghampiri Ibu Ningrum yang sedang mencari buku, namun belum juga mendapatkannya.
"Eeh... Melia, ini Ibu sedang mencari buku Filosofi Kehidupan, karya Husni Mubaraq. Ibu sudah puter-puter rak, tapi belum ketemu bukunya."
"Ooh, coba tanya sama Pak Burhan saja Bu guru!" Melia memberi usul.
"Iya juga, terima kasih yah Melia."
"Iya Bu guru, saya juga sedang mencari buku Arkeologi."
"Ooh.. iya, silahkan Melia." Ibu Ningrum memberikan jalan untuk Melia, mencari buku yang akan dia cari. Meliapun mengangguk kecil lalu berjalan mencari dirak buku lainnya.
Ibu Ningrum tersenyum kepada Melia yang begitu pintar dan cantik, meski kurang perhatian dari kedua orang tuanya. Disaat hari libur sekolah, orang tua mereka menjenguk anak-anaknya. Sedangkan Melia hanya menyendiri ditaman, ataupun di Perpustakaan untuk menghabiskan waktu, agar cepat berlalu menjdi hari sekolah.
Sebenarnya, Ibu Ningrum sudah mencari Melia ketaman Pesantren disamping, namun karena tidak ada disana, akhirnya Ibu Ningrum mencarinya di Perpustakaan, dan ternyata tidak disangka ada Abi juga. Ibu Ningrum jadi mencari alasan, untuk membaca buku di Perpustakaan.
"Permisi Pak Burhan, saya mau tanya kalau buku Filosofi Kehidupan, karya Husni Mubaraq dideretan rak nomor berapa yah?"
Pak Burhan yang sedang sibuk merekap daftar buku yang ada di Perpustakaan, sedikit mendongakkan wajahnya ke arah Ibu Ningrum. "I.. iya, ada apa Ibu guru?" Tanyanya Pak Burhan yang sedikit gugup, pasalnya dia sangat kagum sama guru muda itu yang sering berkunjung ke Perpustakaannya.
"Tadi saya bertanya buku Filosofi Kehidupan karya Husni Mubaraq Pak, apa Bapak tidak mendengarnya?" Tanya Ibu Ningrum heran, lalu mengerutkan keningnya.
"Ooh buku itu, sebentar saya cari dulu daftar rak yang mana yah Bu guru." Pak Burhan mencari daftar buku itu di Komputer, lalu mencari nomor raknya.
"Heeem." Hanya gumaman yang terdengar dari bibir Ibu Ningrum.
"Sudah ketemu Bu guru, buku itu ada di rak nomer 10 barisan ke 4 yah Bu guru."
__ADS_1
"Baiklah, terima kasih Pak Burhan."
"Sama-sama, Ibu guru."
Ibu Ningrumpun akhirnya mencari rak nomer 10 dan barisan ke empat, lalu Ibu Ningrum menemukannya. " Nah ini dia nomer raknya."
Kemudian Ibu Ningrumpun membaca urutan nama buku-buku yang tertulis dimasing-masing barisan batas bukunya, ternyata ada di urutan nomer paling atas.
Ibu Ningrum sangat kesulitan mengambil buku tersebut, padahal kakinya sudah berjinjit agar mencapai buku tersebut. Tangannya masih terulur untuk menggapai buku yang diinginkannya, namun masih tidak terjangkau.
"Ini Bu guru, bukunya." Abi memberikan buku itu hanya memandang Ibu Ningrum seperkian detik, lalu mengarahkan pandangannya kesembarang arah.
Abi awalnya memperhatikan gerak-gerik Ibu Ningrum sedari dia baru datang, namun hanya sekilas saja tanpa mengalihkan fokus pada bacaan bukunya. Maka pas saat Abi melihat wanita yang dicintainya sedang kesulitan, diapun langsung sigap membantu.
"Terima kasih, Abi." Ibu Ningrum tersenyum canggung, meski Abi tidak melihatnya.
"Iya Bu guru, sama-sama. Kalau membutuhkan bantuan tidak usah segan Ibu guru, pasti Abi akan siap membantu." Abi langsung berlalu, setelah mengucap kata-katanya dengan sedikit penekanan.
Ibu guru mendadak merona wajahnya, saat Abi mengatakan hal sederhana namun begitu terdengar berarti oleh dirinya.
Melia dan Pak Burhan merasa heran, yang melihat mereka sedang beradegan layaknya sepasang kekasih, namun seperti tidak saling mengenal, karena sikap dingin dan canggung diantara keduanya.
Abi melanjutkan fokus membaca di mejanya, tanpa memperhatikan ada Ibu Ningrum, dan Melia duduk di samping mejanya.
"Pak guru, serius banget bacanya, apa tidak melihat kami disini?" Melia bertanya dengan wajah sedikit merengut.
"Eeeh.. Melia sama Ibu guru, ada disini? Kirain Abi masih mencari buku!" Abi sedikit terkejut dengan penampakan dua gadis beda usia, namun nampak seperti adik kakak, karena wajah Ibu Ningrum yang termasuk babyface, pasalnya sudah 4 tahun tidak bertemu, wajahnya semakin cantik dan bersinar.
"Melia sudah dapat bukunya Pak guru, dan Ibu guru juga sudah." Melia menjelaskan dengan jujur.
"Oooh.. syukurlah, Melia dan Ibu guru, Abi duluan yah." Setelah Abi mengetahui ada mereka, Abi jadi merasa canggung, lalu diapun pamit meninggalkan mereka.
"Permisi Pak Burhan, saya akan pinjam buku ini, tolong dicatat dahulu dan kapan saya harus mengembalikannya."
"Baik, Pak guru." Pak Burhan melakukan apa yang Abi minta, lalu memberikan buku pinjaman itu dan tanggal berapa harus dikembalikan. "Ini Bukunya, Pak guru."
__ADS_1
"Terina kasih, Pak Burhan."
"Sama-sama Pak guru."
Abipun berlalu pergi seraya tersenyum kepada Ibu Ningrum dan Melia. "Assalamu'alaikum..." Abi mengucap salamnya.
"Wa'alaikumsalam..." Ucap ketiganya bersamaan.
"Ibu guru, Pak Abi sangat tampan, bukan?"
"Heeemmm..." Ibu Ningrum hanya bergumam pelan.
"Ibu guru, Melia sangat menyukai Pak Abi. Tapi Melia tidak berani mengatakannya, karenaa Melia merasa belum pantas untuk Pak Abi yang begitu pintar, tampan, sholeh dan baik."
"Deg.." Hati Ibu Ningrum berdentum keras, seolah hatinya sedang sakit karena cemburu, mendengar muridnya memuji Abi dengan begitu bahagianya.
"Sejak kapan kamu menyukai Pak Abi?"
"Sejak pertama Pak Abi azan di Masjid, saat itu Melia mengaguminya, apalagi saat Pak Abi menjadi guru pengganti Pak Ustad Faris. Melia semakin bertambah kagum, dan malah sekarang sepertinya Melia jatuh cinta." Melia mengatakan dengan sepenuh jiwa, hingga air matanya berkaca-kaca menggenang dan hampir tumpah.
"Sampai sedalam itu perasaan Melia kepada Pak Abi?" Tanyanya dalam hati. Tanpa sadar Ibu Ningrumpun ikut menangis, entah mengapa air matanya langsung lolos begitu saja membanjiri wajahnya.
"Ibu guru kenapa ikut menangis? Apa Ibu juga merasakan sedih hati Melia, yang hanya bisa mengagumi dan mencintai seorang diri tanpa Pak Abi tahu faktanya?" melia merasa heran, namun dia tidak pernah tahu masa lalu Ibu Ningrum dan Pak Abi pikirnya.
"Ee.. engga Melia, Ibu hanya tidak bisa melihat seseorang menangis didepan Ibu." Ibu Ningrum berdusta, menutupi rasa cemburunya kepada anak muridnya.
"Oooh.. begitu yah Bu guru, ya sudah Melia tidak menangis lagi." Melia lantas memeluk Ibu Ningrum dengan erat, dan tangisannya malah semakin deras.
Melia bersyukur ada Ibu Ningrum yang bisa menyayanginya, dan menemaninya untuk mencurahkan isi hatinya.
"Terima kasih, Bu guru." Melia mengucapkannya dengan pilu dan perasaan yang begitu lega.
--BERSAMBUNG--
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....
__ADS_1