
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Usai belajar membaca Al-Qur'an dengan hukum-hukum bacaan tajwidnya, panjang pendeknya bacaan dan harokadnya huruf hijaiyah dalam Al-Qur'an, Robby baru menyadari bahwa belajar membaca Al-Qur'an itu tidak hanya sekedar bisa baca saja, tapi harus tahu semua hukum bacaan setiap hurufnya.
"Ternyata, untuk mendapatkan bacaan Al-Qur'an yang bagus itu ada step by stepnya yah, Nyonya Mariam?" Tanya Robby dengan mengulum senyum.
"Iya, Tuan." Sahut Mariam membalas senyuman Robby.
"Eehem.. Papa belajar mengaji yah?" Tanya Ningrum dengan membawa sepiring pisang goreng.
"Iya Nak Ningrum, sayang. Papa selama ini hanya sekedar bisa baca Al-Qur'an saja, tanpa memperhatikan hukum-hukum bacaannya." Ungkap Robby jujur.
"Ohh.. memang benar juga sih kata Papa. Banyak orang hanya sekedar bisa baca Al-Qur'an, tapi tidak tahu hukum-hukum bacaannya sendiri. Seperti hukum Mad, tajwid, piqih dan panjang pendeknya huruf bacaan yang ada dalam Al-Qur'an." Ungkap Ningrum menimpali.
"Apa ini kamu yang buat, sayang?" Tanya Mariam menunjuk piring yang dipegang Ningrum.
"Iya Mah, Ningrum yang buat sama Ibu RT di dapur. Ibu RT sedang memasak sayur sop dan semur jengkol. Katanya untuk sarapan nanti, sambil menunggu masakan selesai, hanya pisang goreng ini dulu untuk ganjal perut." Sahut Ningrum panjang lebar.
"Ooh.. iya sudah, Mama ikut bantu kalau begitu." Ujar Mama merapihkan Al-Quran yang baru saja dipakai Robby belajar.
"Okay, Mah." Ucap Ningrum dengan anggukkan kecil.
Mariampun meninggalkan mereka masuk kedalam kamarnya, untuk menyimpan Al-Qur'annya.
"Silahkan dinikmati pisang gorengnya yah Pah, Pak Iwan dan Pak RT." Ujar Ningrum ramah.
"Iya, sayang." Sahut Robby yang diikuti oleh Pak Iwan dan Pak RT dengan mengangguk kecil dan tersenyum ramah.
"Pah, Al-habib kemana? Kenapa tidak ada?" Tanya Ningrum yang tidak melihat suaminya.
"Dikamarnya, tapi tidak keluar lagi dari tadi." Ucap Papa Robby jujur.
"Apa tidur lagi yah Pah? Habis semalam kurang tidur, tadi bangun shubuh saja masih sangat mengantuk." Ujar Ningrum tanpa sadar, hingga membuat mereka senyum-senyum sendiri.
"Heemm." Robby hanya bergumam pelan, mendengar menantunya yang polos berkata jujur. Namun, para pria didepan Ningrum sangat mengerti, hanya saja jiwa kejombloan Robby, menjerit sedih.
"Iya sudah, Ningrum lihat dulu ke kamar yah Pah." Ucap Ningrum pergi meninggalkan mereka.
"Iya, Nak Ningrum." Ucap Robby mengulum senyum.
"Menantu Pak Robby begitu polos, kami mengerti sekalih mereka habis bergadang melepas rindu satu bulan baru bertemu. He.. he.. he.." Ujar Pak RT terkekeh.
__ADS_1
"Iya.. Pak RT, saya jadi rindu juga pingin segera meminang Mariam menjadi istri saya kembali." Ujar Robby tanpa rasa malu dan canggung mengungkapkan keinginannya lagi.
Pak RT dan Pak Iwan tersenyum saat mendengar Robby berkata jujur tentang keinginannya itu.
"Iya.. disegerakan dong Pak Robby, biar cepat halal dan tidak jomblo lagi. He.. he.. he.." Saran Pak RT dengan terkekeh.
"Iya.. Pak RT, saya mohon doanya saja. He.. he.. he.." Ucap Robby ikut terkekeh, sedangkan Pak Iwan hanya mengulum senyum dengan tingkah majikannya.
"Pastinya Pak Robby saya akan mendoakan untuk kebaikan Pak Robby dan Ibu Mariam. Apa lagi Pak Robby orang baik, pantas dapat istri yang baik juga. Tapi, maaf sebelumnya. Kalau boleh tahu, kenapa dulu berpisah, kalau memang sekarang ingin bersatu lagi?" Tanya Pak RT penasaran.
"Ceritanya panjang Pak RT, yang pasti semua kesalahan saya dan kebodohan saya. Saya kini menyesali semua atas kesalahan dan kebodohan saya, saya ingin menebus dosa saya kepada Mariam. Saya akan membuat dia bahagia, sepanjang hidup saya. Saya berjanji untuk mendapatkan cinta Mariam kembali, Pak RT." Ungkap Robby dengan gamblang.
"Eehem.." Pak RT berdehem, saat melihat Mariam yang berada dibelakang Robby sedari tadi.
Mariam mendengarkan semua ucapan Robby, hinga takuasa sudut matanya meneteskan air mata.
Sontak saja, Robby seketika terdiam saat mendengar dan melihat Pak RT berdehem dan pandangannya kearah belakang dirinya.
Pak Iwanpun yang memang posisinya sama seperti Tuan Robby, langsung menengok kebelakang dan melihat Mariam yang sedang terdiam.
"Yang diomongin sudah datang Pak Robby, panjang umur sekalih, Ibu Mariam ini." Ujar Pak RT dengan tersenyum lebar.
Sontak saja Robby tersenyum canggung dan merasa malu, wajahnya nampak merona dan tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Robby sungguh salah tingkah dibuatnya.
Pak RT dan Pak Iwanpun melihat air mata yang tadi menetes dipipi Mariam sekilas. Namun, mereka heran dengan sikap Mariam yang begitu santai, padahal hatinya merasa iba kepada Robby.
"Iya.. Ibu Mariam." Ucap Pak RT ramah, lalu diikuti oleh Robby dan Pak Iwan.
"Pak Robby tadi saya lihat Ibu Mariam meneteskan air matanya, saat mendengar ucapan Pak Robby semuanya." Pak RT berbicara setengah berbisik kepada Robby, karena takut didengar oleh Mariam yang berada di dapur.
"Benarkah, Pak RT?" Tanya Robby begitu senang.
"Benar! Pak Iwanpun melihatnya, bukan?" Ucap Pak RT sungguh-sungguh lalu meminta pembenaran Pak Iwan.
"Iya Tuan, sayapun melihatnya." Ucap Pak Iwan membenarkan ucapan Pak RT.
"Kalau begitu menurut Pak RT dan Pak Iwan, apakah Mariam masih menyimpan rasa sama saya?" Tanya Robby serius.
"Mungkin iya, mungkin juga tidak." Ucap Pak RT ragu, begitupun Pak Iwan setuju dengan ucapan Pak RT.
"Iya, semoga saja ada yah Pak RT dan Pak Iwan." Ucap Robby yakin.
__ADS_1
"Insya Allah.. Pak Robby." Ucap Pak RT dan Pak Iwan bersamaan.
"He.. he.. he.. " Semua terkekeh dengan obrolan mereka, saat tingkah Pak Robby yang sedang jatuh cinta.
*******
Ningrum menatap lekat suaminya yang seperti baby big sedang tidur. Wajah polos nan bercahaya, nampak terlihat begitu terlelap dalam buaian selimutnya.
Udara dingin menyapa pagi, meski sudah pukul tujuh pagi didesa itu masih saja terasa dingin menembus kulit dan tulang.
"Sayang.. masih ngantuk yah?" Bisik Ningrum, duduk dibibir ranjang.
"Eeum.. Khumairah.. " Abi bergumam pelan, lalu memeluk pinggang istrinya tanpa merubah posisi duduk istrinya. Abi menyandarkan kepalanya dipangkuan istrinya, dengan menciumi perut istrinya.
"Memangnya, engga lapar?" Tanya Ningrum, membelai rambut suaminya lembut.
"Lapar sayang, tapi biarkan sebentar saja yah, seperti ini dulu." Ucap Abi manja.
"Aiish.. manjanya. Memangnya semalam belum puas?" Tanya Ningrum heran dengan suami brondongnya itu.
"Bagi saya, semua yang melekat ditubuhmu adalah candu. Saya tidak akan pernah puas dan bosan untuk bermanja disamping kamu, Khumairahku." Ungkap Abi jujur.
"Massa? Kalau nanti kita sudah punya anak, apa kamu juga akan seperti ini, Al-habib?" Tanya Ningrum ragu.
"Eeeuumm.. iya dong, meski sudah punya anak sekalipun. Bahkan saya rela berebut sama anak kita nanti, untuk bermanja seperti ini. He.. he.. he.." Ucap Abi lalu terkekeh.
"Aiish.. engga mau mengalah sama anaknya." Decak Ningrum menggelengkan kepalanya lalu tersenyum.
"Biarin.. he.. he.. he.."
"Dasar suami bucin dan posesifku ini, cup.. cup.. cup.. ayo bangun sudah dikasih ciuman banyak."
"Lagi.. cium lagi.."
"Uuh.. engga ah, bahaya! Yang ada engga bangun nanti, malah tidur lagi."
"Ha.. ha.. ha.."
...♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️...
Bagaimana cerita saya kali ini? Mohon like dan komennya yah! Boleh juga hadiahnya bagi Readers yang baik hati dan tidak sombong. Terima kasih yah, salam bahagia selalu dari Tina Rifky.
__ADS_1
--BERSAMBUNG--
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips juga komentarnya yah. Terima kasih.🙏🙏...