
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Setelah Abi dan Ustadzah Madinah menemui Santriwati Melia, muridnya Ibu Ningrum. Lalu merekapun menjelaskan apa keperluannya datang menemuinya, dan dengan hati-hati dalam berucap.
Melia akhirnya paham, dengan penjelasan yang diberikan Abi dan Ustadzah Ningrum. Melia malah memberi restunya, kepada Ibu guru yang baik hati. Baginya, Ibu Ningrum layaknya Kakak yang mencurahkan waktu, perhatian, ilmu, dan kasih sayang kepadanya selama ini.
"Melia ikhlas Pak guru, dan bahagia jika Pak guru menikah dengan Ibu guru Ningrum." Ucap Melia tulus dengan segenap jiwa.
"Alhamdullillah, terima kasih Melia atas kebaikan hatinya, semoga kelak nanti kamu mendapatkan jodoh yang lebih baik dari saya." Ujar Abi dengan mengucap syukur, dan mendoakan kebaikan untuk Melia.
"Ya Pak guru, terima kasih doanya. Saya mungkin hanya mengagumi Pak guru, tapi saya mendoakan kebaikan juga untuk Pak guru dan Ibu guru, jangan lupa kabari saya kalau menikah." Melia mendoakan kebaikan juga untuk Abi dan juga Ibu Ningrum.
"Siap, Nak Melia." Abi memberikan dua jempolnya diatas udara, didepan wajah Melia.
Melia tersenyum dengan sikap Abi, dan Abipun tersenyum kepada Melia. Akhirnya merekapun bisa menjadi patner guru dan murid yang baik. Ustadzah Madinahpun turut bahagia, atas tujuannya yang sudah berjalan lancar.
"Sekarang kami akan pamit yah, Nak Melia. Semoga selalu ceria dan bahagia hari-hari kamu yah Nak Melia." Pamit Abi dengan ramah, lalu diikuti oleh Ustadzah Madinah.
"Iya Pak guru dan Ibu Ustadzah." Melia tersenyum manis, saat mereka meninggalkan balkon kamarnya.
*******
Ningrum sedang gelisah dikamarnya, menanti kabar dari Kakak iparnya.
"Kenapa Kak Madinah lama sekalih? Hatiku jadi berdebar tidak karuan begini, apakah rencana Kak Madinah berhasil atau tidak yah? Kenapa aku jadi engga sabaran begini?" Hati Ningrum bermonolog.
Ningrumpun mengirim pesan lewat WA, kepada Kakak iparnya itu.
"Assalamu'alaikum, Kakak Madinah masih lama disana?"
"Wa'alaikumsalam, kenapa Dik? Sudah engga sabaran banget kayaknya!"
"Aaiis.. bukan begitu Kak Madinah, Adik hanya bertanya saja."
"Uups.. maaf sepertinya masih lama deh Dik."
"Iya sudah deh kalau masih lama, engga apa-apa."
"Tapi bohong... Kakak ada di depan pintu kamar Dik, bukain dong pintunya."
"He.. he.. he.. Kak Madinah ini bikin orang semaput saja."
__ADS_1
Pesan WA merekapun diakhiri bersamaan.
"Jeglek." Bunyi pintu di buka.
"Assalamu'alaikum, Adikku yang cantik."
"Wa'alaikumsalam, Kakakku yang cantik juga."
Mereka kemudian masuk ke dalam kamar, dan berbincang-bincang diatas kasur Ningrum.
"Kak Madinah, cerita dong bagaimana tadi lancar atau engga?" Tanya Ningrum penuh dengan penasaran, dan harap-harap cemas.
"Mau tahu banget, atau mau tahu saja?" Madina meledek adik iparnya itu dengan wajah menggoda.
"Menurut Kak Madinah bagaimana memangnya? Kenapa harus bertanya balik?" Ningrum kesal dengan Kakak iparnya, yang super jahil. Ningrumpun mengerucutkan bibirnya sebal, karena Kakak iparnya tidak juga mengatakan perihal yang terjadi.
"Uups.. ada yang marah! Iya.. iya.. Kakak akan cerita semuanya."
"Ayo cepetan cerita, Kak Madinah sayang."
"Aiish.. Adik Kakak ini seperti anak Bayi yang minta mainan, harus sekarang juga dituruti."
"Tadi Kakak sama Nak Abi sudah bertemu dengan Melia murid kamu Dik, awalnya dia terkejut saat mendengar Nak Abi mengungkapkan isi hatinya. Nak Abi mencintai Adik Kakak ini dengan sangat tulus, dari masih usianya 16 tahun, semasa masih duduk dibangku kelas 10." Kak Madina berhenti sejenak.
"Lalu Kak?" Ningrum masih penasaran, dengan cerita Kakak iparnya selanjutnya.
"Lalu Nak Abi menjelaskan, bahwa banyak wanita yang ingin memasuki relung hatinya, dan mencoba dengan segala cara untuk menggodanya. Namun semua itu dia hindari, karena hatinya sudah mentok sama Ibu gurunya. Begitulah ceritanya, Adikku sayang." Ujar Kak Madinah panjang lebar.
"Ooh.. jadi seperti itu Kak! Ningrum jadi terharu dengan ketulusan cinta Abi, Kak Madinah." Ucap Ningrum kagum, dengan cinta Abi yang begitu tulus dan murni untuknya.
"Apa kamu sudah bisa menemui Bapak Kiai, Dik?" Tanya Madinah dengan wajah ceria, mendengar jawaban Adik iparnya.
"Ayo Kak, kita segera temui Bapak Kiai."
"Okay." Madinah mengikuti kemauan Adik iparnya, yang akan segera bertemu dengan Ayah mereka.
Madinah dan Ningrum menemui Bapak Kiai Zain Ahmad, selaku dari Ulama besar yang terkenal di kota Bogor.
"Assalamu'alaikum, Bapak Kiai." Ucap salam Madinah dan Ningrum bersamaan.
"Wa'alaikumsalam, Nak Ningrum
__ADS_1
"Ayo, silahkan duduk di sofa itu." Ucap Pak Kiai ramah, seraya tangan Kanannya mengarahkan ke sofa itu berada.
Merekapun berjalan menuju sofa itu, lalu mereka duduk disofa itu dengan santai.
"Pak Kiai, kata Kak Madinah, Pak Kiai ada keperluan untuk berbicara dengan Ningrum?"
"Ooh iya Nak Ningrum, apakah Nak Ningrum menyukai Nak Abi? Karena Nak Abi begitu yakin, ingin menikahi Nak Ningrum." Ujar Pak Kiai dengan wajah berseri.
"I.. iya Pak Kiai. Ningrum juga menyukai Abi dengan sepenuh hati Ningrum." Wajah Ningrum sudah merona, menahan degup jantungnya yang menari-nari kegirangan dan bibirnya yang gugup.
"Baguslah kalau begitu, apa Nak Ningrum bersedia menerima lamaran Nak Abi untuk menjadi istrinya.
"Insya Allah, siap Pak Kiai."
"Alhamdullilah, kalau semuanya sudah jelas." Pak Kiaipun tersenyum dengan bahagia.
"Nak Ningrum, kalau begitu nanti malam kita kerumah orang tua kamu," Ujar Pak Kiai jujur.
"Sungguh Pak Kiai? Berarti malam ini kita bersama-sama kerumah orang tua Ningrum, Pak Kiai?" Tanya Ningrum penuh dengan penasaran, pasalnya dirinya akan segera menikah, jika semua dilancarkan.
"Iya Nak Ningrum, Pak Kiai sungguh-sungguh, akan meminta Nak Ningrum untuk menikah dengan Nak Abi, setelah mendapat restu dari kedua orangtuanya Nak Ningrum." Ujar Pak Kiai dengan yakin.
"Kalau begitu mari kita kerumah kedua orang tua Ningrum, Pak Kiai. Semoga Mama dan Papa Ningrum mau menerima lamaran Abi untuk Ningrum." Ucap Ningrum dengan penuh kebahagiaan.
"Baiklah, sekarang kita bersiap-siap malam ini." Ucap Pak Kiai cepat.
Ningrum, dan Madinah menganggukkan kepala tanda mengerti. Keduanyapun meninggalkan Pak Kiai, untuk kembali ke kamarnya.
*******
Pak Kiai bertemu dengan Abi saat sholat magrib berjama'ah, Pak Kiaipun meminta Abi untuk bersiap-siap mendatangi rumah Ibu Ningrum malam ini.
"Malam ini juga Pak Kiai?" Abi sangat terkejut, dengan berita yang sangat mendadak ini. Pasalnya Abi tidak ada persiapan sama sekalih, bahkan sekedar cincinpun tidak ada.
"Iya malam ini Nak Abi, selepas shalat isya kita akan segera menemui kedua orang tua Nak Ningrum. Semoga niat baik kamu untuk melamarnya, direstui oleh kedua orang tuanya." Ujar Pak Kiai cukup jelas.
"Aamiin..." Abi hanya bisa mengamini doa Pak Kiai, namun hatinya resah karena takut ditolak oleh kedua orang tuanya dulu yang pernah mengenalnya saat masih duduk dibangku SMA.
--BERSAMBUNG--
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....
__ADS_1