
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Abi terus bermanja-manja dengan Mama Mariam, untuk mengganti hari-harinya selama hampir 5 tahun ini, yang dia lewati tanpa Mama Mariam di sampingnya.
Dipeluknya erat tubuh Mama Mariam, yang kini begitu kecil dalam dekapannya, diciuminya pipi dan kening Mamanya, dan tiduran di pangkuan Mama Mariam, lalu memainkan jari-jemari tangan kiri Mamanya dan sesekali dikecupnya, dengan banyak bercerita.
Begitupun Mama Mariam sangat merindukan anak kandungnya, yang semata wayang itu. Abipun diperlakukan yang sama oleh Mama Mariam, dia membelai rambut, dan menautkan sela jari kananya dirambut Abi dengan sayang dan lembut.
Mama Mariam menceritakan, bagaimana dia sampai akhirnya bisa masuk ke Pondok Pesantren Santriwati, dan sampai menjadi guru disana. Pertemuan Mama Mariam yang tidak sengaja, dengan Ustadzah Madinah.
"Jadi, Mama bertemu dengan Ustadzah Madinah di pasar?" Tanya Abi penasaran.
"Iya Sayang, Ustadzah Madinah itu sedang berbelanja keperluan makan para santriwati, saat itu sangat kerepotan karena beliau hanya berdua pergi kepasar dengan belanjaan seabreg. Jadi Mama yang melihat itu langsung membantu, dan ikut mengantar ke Pondok Pesantren ini."
"Jadi itu awal Mama tinggal disini? Hingga sekarang Mama menjadi guru mengajar untuk Santriwati di sekolah ini?" Tanya Abi penasaran.
"Iya sayang, begitulah baiknya Ustadzah Madinah, membantu dan memberikan Mama tempat tinggal di sini. Tempat yang nyaman, damai, tentram, bahagia lebih dekat dengan Allah dan ibadah kita lebih terjaga." Ujar Mama Mariam seraya berkaca-kaca.
Kemudian Mama Mariampun menceritakan, bagaimana dia bisa meminta cerai dengan mantan suaminya yaitu Papa Robby. Mengapa ada perempuan yang masuk ke dalam hubungan Mama dan Papanya dulu? Hingga hal yang paling di benci Allah itu akhirnya terjadi, lalu salah paham suaminya, mengenai pria asing yang mengaku karyawan Perusahaannya.
"Apakah Mama mengenal laki-laki itu, sebelumnya?" Tanya Abi serius.
"Engga." Ucap Mama Mariam, seraya menggelengkan kepalanya pelan.
"Lantas mengapa ada laki-laki itu, bersama Mama direstoran itu?" Tanya Abi penasaran.
"Laki-laki itu mengaku karyawan Papamu, dia memberikan hadiah untuk Mama sebuah kalung mas, katanya hadiah dari Papamu untuk Mama. Saat itu Mama kesulitan untuk memakainya, lalu laki-laki itu menawarkan bantuannya, untuk memakaikan kalung tersebut. Dengan bodohnya Mama menerima tawaran laki-laki itu, hingga Papamu datang melihat kami, lalu Papamu salah paham dan pergi meninggalkan Mama." Ungkap Mama dengan gamblang.
__ADS_1
Dengan derai air mata yang sudah tidak terbendung lagi, Mama Mariam menangis hingga tangisnya begitu dalam. "Hikkzz.. hikkkzzz.. hikkzzz..." Abipun ikut menangis mendengar cerita Mama Mariam, yang sungguh di luar dugaan Abi.
"Mama, pantas saja Papa tega mengusir Abi dari rumah." Ungkap Abi kesal, seraya menatap sendu kedua mata Mamanya yang indah.
"Apa? Apa kamu bilang, sayang? Kamu di usir oleh Papa kamu?" Tanya Mama Mariam tidak percaya, jika mantan suaminya bisa setega itu kepada anak kandungnya sendiri.
Andai dia tahu, jika keadaan Abi seperti ini, dia pasti akan membawa Abi dari dulu, keluar dari rumah bersamanya. Meskipun, Pengadilan menjatuhkan hak asuh pada mantan suaminya.
"Heemm, sudah 4 tahun yang lalu, Abi keluar dari rumah Papa. Dimana dua hari Papa menikah dengan wanita itu Mam, mantan sekretaris Papa dulu." Jelas Abi dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Hah.. selama itu, sayang? Jadi Papamu, akhirnya menikahi janda anak 2 itu?" Tanya Mama Mariam shock, yang sudah mengenal betul wanita itu.
"Iya Mam, sepertinya diusirnya Abipun ada hubungannya dengan dia Mam. Pasalnya papa engga pernah mempermasalahkan, jika Abi suka pulang telat atau menginap dirumah teman, yang penting ada khabar dari Abi sebelumnya." Ungkap Abi berpikir tentang rencana jahat Mama tirinya.
"Mama tidak menyangka, Papamu bisa menikah dengan wanita itu." Ucap Mama Mariam, seraya menggelengkan kepalanya pelan.
"Lantas selama ini kamu tinggal dimana, sayang?" Tanya Mama Mariam antusias, seraya mengusap air mata anaknya yang sudah menetes dipipinya, meski tiada suara tangisan terdengar.
"Abi sayang, maafkan Mama, maafkan Mama atas ketidaktahuan Mama. Sungguh kejam Papamu, sungguh tega dia melupakan darah dagingnya sendiri. Padahal dia berjanji kepada Mama, akan menjaga kamu dan merawat kamu sampai kamu dewasa. Maka dari itu, Mama berani meninggalkanmu." Ungkap Mama Mariam, mengingat janji mantan suaminya setelah mereka bercerai.
"Hikkzz... hikkzzz... hikkkzzz..." Tangis Mama Mariam pecah.
"Sudah Mama, hentikan tangisanmu. Abi saja sudah tidak menangis lagi." Ucap Abi sayang kepada Mamanya agar berhenti menangis.
"Iya sayang, lalu bagaimana kamu menghidupi kebutuhan hidup selama ini, sayang?" Tanya Mama khawatir, membayangkan susahnya hidup sebatang kara, tanpa saudara dan kedua orang tuanya.
"Dari tabungan Abi selama ikut turnamen balap motor Mam, tapi Abi juga sering ikut balapan liar di jalan Mam, semenjak Papa menghentikan latihanku di area balapan resmi. Abipun membuat Club Abi Motor, sebagai nama untuk terkenal di lingkungan balapan motor liar." Ungkap Abi dengan gamblang.
__ADS_1
"Sampai seperti itu sayang? Latihan balap motor resmi kamu saja, sampai dihentikan oleh Papamu. Sungguh terlalu Papamu, dasar orang tua breng **sek." Hardik Mama Mariam, membenci tindakan mantan suaminya yang sudah melanggar janjinya.
"Heeeemmm..." Hanya gumaman, yang Abi ucapkan.
"Lalu bagaimana dengan sekolahmu, sayang?" Tanya Mama Mariam, memikirkan sekolah anaknya selama ini.
"Abi sekolah dari ikutan balapan liar Mam, kalau Abi menang juara, uangnya Abi tabung, sebagian Abi pakai untuk bayaran sekolah dan keperluan sehari-hari. Kadang ibu kossan Abi mengantar makanan untuk Abi. Tapi kuliah Abi sekarang gratis Mam, Abi ikut jalur prestasi dan beasiswa." Ujar Abi jujur dengan apa yang dia jalani selama ini.
"Abi sayang, hikkkzz.. hikkzz.. hikkzzz.." Ucap Mama Mariam, yang langsung merengkuh anaknya dengan sayang, dan rasa penyesalan teramat dalam.
Sontak saja Abi langsung bangkit dari posisi tidurnya, untuk menerima pelukkan Mama Mariam. Dihapusnya air mata Mamanya, yang tidak ada sopannya keluar terus dari mata indah Mamanya itu.
"He.. he.. he... sudah Mam, sudah Abi bilang jangan menangis lagi. Kenapa air mata Mama itu tidak sopan, harus keluar terus?" Kekeh Abi saat air mata Mama Mariam lagi, dan lagi keluar dengan derasnya.
"He.. he.. he.." Mama Mariampun seketika terkekeh, saat mendengar omelan anak tampannya itu. Jadilah Mama Mariam dan Abi terkekeh dalam tangisan mereka berdua dengan saling berpelukkan.
"Tok.. tok.. tok.." Bunyi pintu diketuk.
"Siapa?" Tanya Mama mariam dari dalam kamar.
"Maaf Tante Mariam, ini Ningrum." Sahut Ningrum, dari balik pintu kamar.
"Masuklah sayang, pintunya tidak dikunci." Pinta Mama Mariam ramah.
"Jeglek.." Bunyi pintu kamar terbuka.
"Eeehhh..." Ucap Ningrum salah tingkah, saat melihat Abi ada di kamar Tante Mariam.
__ADS_1
--BERSAMBUNG--
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....