Cinta Tulus Abi

Cinta Tulus Abi
Menjadi Imam Shalat


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Abipun memikirkan tawaran dari Bapak Kiai, namun Abi ragu, bisa atau tidak, soalnya dirinya belum pernah menjadi guru pengajar sama sekalih.


"Bagaiman Nak Abi, apakah bersedia? Kalau bersedia, mulai hari senin sudah bisa mengajar."


"Tapi Pak Kiai, saya belum pernah mencoba untuk mengajar."


"Makanya harus di coba, biar terbiasa Nak Abinya, nanti."


"Tapi Pak Kiai, saya tidak tahu bahan materi apa saja yang akan saya ajarkan."


"Tenang Nak Abi, nanti saya akan bawakan ke kamar Nak Abi, semua bahan dan buku materi Pelajarannya."


"Baiklah, saya mau kalau begitu Pak Kiai."


"Terima kasih, atas bantuanya Nak Abi."


Abi dan Pak Kiaipun beranjak mengambil air wudhu, untuk melaksanakan sholat Isya berjamaah.


Sekembalinya mereka mengambil air wudhu, Pak Kiai meminta Abi untuk mengumandangkan suara azan di Masjid. Dengan sigap Abi langsung mengangguk, dan mengumandangkan azan dengan begitu merdunya.


Saat suara azan mulai berkumandang, Para Ustad mulai berdatangan kembali, untuk melaksanakan sholat isya berjamaah.


Begitupun para Santriwati dan Ustadzah mulai berdatangan, memenuhi ruang Masjid yang berada di belakang, terhalang oleh gorden.


Banyak Santriwati dan Ustadzah yang bertanya-tanya, dengan suara azan yang begitu merdu terdengar ditelinga mereka.


"Siapa yang azan yah? Merdu sekali, aku jadi pingin lihat orangnya."


"Biasanya yang azan Pak Kiai atau Pak Ustad Fariz, tapi suaranya kenapa begitu berbeda, dan begitu merdu?"


"Suara azan kali ini merdu sekalih, mirip dengan suara azan di TV, bukan?"


Begitulah kira-kira, apa yang di bicarakan oleh beberapa orang.


Pak Kiai merasa terharu dan menitikkan air mata, ketika mendengar suara Azan yang sangat merdu, keluar dari bibir seorang anak muda yang begitu gagah dan tampan.


Selesai mengumandangkan Azan, Abi langsung memundurkan tubuhnya untuk menjauh dari mikrofon.

__ADS_1


"Nak Abi, merdu sekali suara azanmu. Semoga kamu menjadi pemuda yang Shaleh, dan berakhlak baik." Pak Kiai memuji suara azan Abi yang sangat merdu, dan mendoakan kebaikan untuk Abi.


"Aamiin Pak Kiai, tapi Abi sangat jauh dari kata Shaleh Pak Kiai, karena selama ini Abi sering meninggalkan kewajiban shalat dan melakukan hal-hal yang melanggar hukum." Mata Abi sudah berkaca-kaca, saat mengatakan kesalahannya selama ini.


"Tidak apa-apa Nak Abi, yang penting Nak Abi sekarang sudah Shaleh." Ucap Pak Kiai menenangkan, seraya menepuk pundak Abi pelan.


"He.. he.. he.. jadi kalau begitu, Abi mendadak Shaleh dong, Pak Kiai?"


"He.. he.. he.. engga apa-apa, lebih baik mendadak Shaleh, dari pada begitu-begitu saja, tidak ada perubahan dalam hidup kita."


"Iya, Pak Kiai."


"Nak Abi, sekarang iqomah, setelah itu belajar menjadi imam shalat yah." Pinta Pak Kiai dengan wajah berseri.


Abipun tidak bisa menolak, lalu diapun melakukan apa yang dipinta oleh Pak Kiai.


Para Santriwati banyak yang kepo ingin melihat siapa gerangan yang iqomah, dari balik gorden. Merekapun mengintip dari sela-sela gorden, dan berbisik-bisik membicarakan Abi.


"Sepertinya, orang baru. Aku belum pernah melihat sebelumnya."


"Orangnya ganteng banget, jangan-jangan guru baru."


"Masih muda banget kayaknya, engga jauh berbeda dengan kita. Tapi ini 'kan sekolah khusus Santriwati."


Begitulah kurang lebih, apa yang dibisikkan mereka para Santriwati.


"Eee... heeem..." Umi Khadijah berdehem, sontak saja para Santriwatipun langsung bergeming, dan membubarkan barisan mereka menjauh dari balik gorden.


Ningrum dan Mama Mariam tersenyum kecil, saat para murid Santriwatinya mendadak diam.


Sekarang Abi menjadi imam shalat, pembacaan Al'quran Abi sangat bagus, dan pasih. Meski hanya membaca surah pendek, tapi tidak mengurangi keindahan lantunan merdu, suara Abi yang terdengar oleh para makmum.


Seusai mengucap salam dalam takhiyat akhir, Abi menyalami Pak Kiai besar, dan para Ustad sekaligus guru-guru dengan hormat.


"Suara kamu sangat merdu anak muda, dan bacaan surahmu, panjang pendeknya, dan tajwidnya hampir sempurna." Ungkap Ustad Salman kagum, saat menjadi makmum shalat tadi.


"Terima kasih Pak Ustad, saya hanya sekedar bisa-bisaan, saya belum pernah menjadi imam shalat sebelumnya." Ucap Abi jujur, dirinya memang tidak pernah menjadi imam masjid sebelumnya.


"Woow.. berarti ini pengalaman pertama untukmu anak muda? Perkenalkan nama saya Abdul Salman, panggil saja saya Ustad Salman." Ungkap Salman kagum, seraya memperkenalkan dirinya.

__ADS_1


"Iya Ustad, ini pengalaman pertama saya. Nama saya Abi Maulana Dirgantara. Saya masih menempuh pendidikan di Universitas, mohon bantuan dan kerja samanya, untuk saya belajar menjadi guru disini." Ujar Abi meminta bantuan kepada Ustad Salman.


"Siap, anak Muda. Dengan segenap kemampuan yang saya punya, saya akan membantu Nak Abi."


"Terima kasih, Ustad Salman." Abi memberikan senyum terbaiknya, untuk Pak Kiai dan para Ustad disana.


Begitupun dengan para Ustad yang lainnya, ikut memperkenalkan diri masing-masing.


Abi sangat senang dan terharu bisa berkenalan dengan mereka, para guru-guru dan Ustad Santri yang baik dan ramah.


Setelah mereka saling berkenalan dan berbincang-bincang, satu persatu mereka meninggalkan Masjid. Tinggalah Abi, dan Pak Kiai besar berdua disana.


"Nak Abi!"


"Iya, Pak Kiai."


"Kalau boleh saya bertanya, sepertinya Nak Abi menyukai menantu Bapak, bukan?"


"Deg.." Jantung Abi berdebar hebat, saat Pak Kiai langsung saja, menembak pertanyaan yang sangat monohok.


"M.. maksud Pak Kiai?" Abi nampak gugup, hingga tidak berani menatap mata Pak Kiai, dan diapun menundukkan kepalanya.


"Jawab saja Nak Abi, kalau memang Nak Abi menyukai menantu Bapak, nanti Bapak akan melakukan ta'arup untuk Nak Abi dan Nak Ningrum. Bapak akan memintanya langsung, kepada kedua orang tua Nak Ningrum."


"S.. saya bicarakan dulu sama Mama saya, Pak Kiai." Abi sangat gugup, saat mendengar penjelasan Pak Kiai yang benar-benar di luar dugaan.


"Bagaimana Pak Kiai bisa tahu, perasaan Abi kepada Ibu guru? Kenapa semua ini, membuat aku seperti sedang bermimpi? Apa mungkin ini hanya mimpi?" Gumam Abi pelan.


"Aaawh.." Desis Abi saat tangannya mencubit pipinya sendiri.


"Ha.. ha.. ha.." Pak Kiai tertawa melihat tingkah Abi yang salah tingkah di depannya, karena sudah ketahuan dirinya menyukai menantunya.


"He.. he.. he.. maaf Pak Kiai, kalau boleh saya tahu, bagaiman Pak Kiai tahu, perasaan saya kepada Ibu guru?" Abi terkekeh, lalu bertanya hati-hati dan sopan.


"Tadi saat makan siang, Pak Kiai tidak sengaja melihat Nak Abi menatap Nak Ningrum, penuh dengan perasaan kagum. Padahal tatapan mata seorang Pria kepada lawan jenis itu, tidak boleh lebih dari 3 detik, Nak Abi." Ungkap Pak Kiai dengan gamblang.


"Eehh.. iya Pak Kiai, saya tidak tahu soal itu, setelah saya tahu, saya tidak berani menatap Ibu Ningrum dengan dalam, lebih dari 3 detik."


"Ha.. ha.. ha.." Pak Kiai tertawa lepas, lalu diikuti oleh Abi.

__ADS_1


--BERSAMBUNG--


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....


__ADS_2