
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Tuan Robby hari ini seharusnya mendatangi kantor Pengadilan, untuk menghadiri sidang perceraian dirinya dengan Lusiana mantan istrinya.
Dirinya tidak mau hadir dipersidangan perceraiannya dengan Lusia, Manager Bambang dan Pengacara Tuan Robby yang akan menggantikan dirinya untuk hadir.
Di persidangan itu, Lusia menuntut mantan suaminya untuk memberikan harta gono gini sebesar 40 persen, padahal mustahil bagi Robby untuk mengabulkannya. Mengingat dirinya bersalah sudah melakukan selingkuh dibelakang mantan suaminya itu.
Manager Bambang menghubungi Tuan Robby dan mengatakan perihal yang sudah terjadi di Persidangan. Majlis hakim belum bisa memutuskan, karena harus ada persetujuan dari Tuan Robby.
Berhubung Tuan Robby tidak hadir, mau tidak mau persidangan akan dilanjutkan esok hari menunggu Tuan Robby untuk hadir.
"Breng sek.. dasar wanita ja lang tidak tahu malu! Bisa-bisanya nuntut harta gono-gini 40 persen. Jangankan 40 persen, satu persenpun aku tidak akan memberikan hartaku untuk kamu, Lusiana." Robby memaki dan mengumpat kesal, saat dirinya selesai menerima laporan dari Manager Bambang.
Robby terus merutuki Lusiana, dirinya merasa geram. Rasa sesal menyesak didada, mengapa dirinya dulu bisa mengenal wanita murah an itu. Wanita yang sudah membuatnya kehilangan keluarga dan istri yang begitu dia cintai.
Hingga kinipun, Mariam masih belum mau membuka hatinya lagi untuk Robby. Hatinya teramat sakit dan terasa sulit untuk disembuhkan.
"Lusiana.. awas saja kamu kalau sampai macam-macam, aku tidak akan segan-segan untuk menghancurkanmu!" Ucap Robby bergumam pelan, seraya mengepalkan jarinya dengan wajah sangat murka.
Robby menutup pintu ruangannya dengan keras." Bluug.."
Para pegawainya merasa heran dan kaget, saat bunyi pintu yang begitu keras berasal dari ruang kantor Boss besarnya sendiri.
Para pegawai tidak ada yang berani membuka suaranya, apa lagi menanyakan apa yang sedang terjadi. Jika hal itu terjadi hanya Manager Bambang yang berani melakukannya.
Robby berjalan dengan sangat tergesah-gesah, karena dirinya sudah sangat kesal saat menerima laporan dari Managernya itu.
Saat di lobi Resepsionis, Robby mengeluarkan ponselnya, lalu menghubungi Pengacaranya yang mengurusi perceraiannya dengan Lusiana.
"Tuut.. tuut.. tuut.." Bunyi nada ponsel tersambung.
"Hallo, Tuan Robby."
"Hallo.. Assalamu'alaikum, Pengacara Farhan, bagaimana keputusannya? Apa benar, saya harus hadir di persidangan besok? Apa tidak cukup, hanya kalian berdua saja yang hadir?"
"Wa'alaikumussalam, benar Tuan, saya sudah mencoba untuk menolak tuntutan yang diinginkan Lusiana. Namun, Ketua Hakim tidak bisa mengabulkannya. Jalan satu-satunya, Tuan Robby harus hadir besok."
"Iya sudah, baiklah saya akan hadir besok. Terima kasih, Pengacara Farhan."
"Iya Tuan, yang sabar yah. Semoga masalah perceraian Tuan lancar dan tidak terhambat hanya karena wanita itu."
"Heem.. Assalamu'alaikum..."
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam, Tuan."
Robby mengakhiri panggilan telponnya, kemudian dirinya langsung kembali pulang kerumahnya. Padahal jam kerja masih siang pukul 13, namun dirinya sudah tidak fokus memikirkan besok untuk acara sidang melawan mantan istrinya yang licik.
Sesampainya di rumah, Mbo Tami langsung merasa heran melihat tampang Tuannya yang begitu menyedihkan dan kusut.
"Maaf Tuan Robby, kalau boleh tahu sepertinya Tuan Robby sedang bersedih. Apa ada yang bisa Mbo bantu?"
"Eeh.. Mbo Tami tahu saja kalau saya sedang bersedih. Iya Mbo, saya sedang memikirkan bagaimana besok melawan Lusiana gila itu di pengadilan."
"Mantan istri, Tuan? Nyonya Lusiana?"
"Iya, Mbo."
"Memangnya kenapa Tuan harus melawan Nyonya Lusiana? Bukankah memang dia bersalah sudah berkhianat dibelakang Tuan?"
"Iya Mbo, dia menuntut 40 persen pembagian harta gono gini, selama menikah empat tahun dengan saya."
"Astagfirullohalazim, Nyonya Lusiana sungguh tidak punya malu yah Tuan. Lalu Tuan besok bagaimana? Apa Tuan akan mengabulkan peemintaannya?"
"Iya tidak dong, Mbo. Semua harta saya milik Abi dan istrinya kelak. Jika Mariam kembali dan menikah dengan saya, dirinya berhak atas harta saya."
"Kalau begitu besok Tuan lawan Nyonya Lusiana, bahwa dirinya tidak ada hak untuk mendapatkan harta Tuan sepecerpun. Nyonya Lusiana sudah selingkuh, kalau harus ada saksi, Mbo mau bersaksi Tuan."
"Ponsel Tuan yang rusak itu, masih saya simpan dilemari, Tuan."
"Benarkah? Bukankah, saya suruh kamu buang saat itu?"
"Iya memang Tuan meminta saya membuangnya. Tapi, saya engga tega buang ponsel yang masih bagus, meski layarnya mati dan pecah. Saya jadi menyimpannya di lemari Tuan samping ranjang."
"Ooh.. terima kasih Mbo, ada harapan untuk bukti saya dipersidangan besok." Ucap Robby senang, tersenyum mengembang kepada Mbo Tami.
Robby beranjak dari kursinya, pergi ke kamarnya mencari ponselnya yang rusak sebagai bukti besok menyerang mantan istri gilanya itu.
"Kenapa dengan Tuan Robby? Sebegitu senangnya mengetahui ponselnya yang rusak masih ada. Memangnya ponsel itu masih bisa dipergunakan?" Tanya Mbo Tami dalam hatinya yang heran melihat kelakuan Tuannya.
"Tuan.. mau kemana dengan ponsel rusak itu?"
"Mau ke tukang service ponsel Mbo, untuk diperbaiki demi bukti ini. Padahal saya paling anti melakukan ini Mbo, memakai ponsel yang sudah rusak. Tapi, mau bagaimana lagi, saya butuh isi dalam ponsel ini."
"Iya sudah Tuan kalau mau pergi ke tempat service sekarang. Nanti kalau ponselnya sudah diperbaiki, kalau tidak diperlukan lagi biar buat saya saja, Tuan. Jangan dibuang yah."
"Mbo Tami.. Mbo Tami... kalaupun Mbo minta yang baru model kayak gini, saya akan belikan untuk Mbo Tami." Tuturnya menggelengkan kepalanya heran.
__ADS_1
"He.. he.. he.. engga perlu baru Tuan. Saya sih yang lama juga tidak mengapa, asal bisa nelpon saudara saya yang dikampung saja, sudah senang."
"Ha.. ha.. iya Mbo, kalau begitu saya pergi dulu Mbo."
"Iya Tuan hati-hati."
*******
Di Pondok Pesantren.
"Mah.." Panggil Ningrum.
"Iya sayang, ada apa?"
"Papa Robby WA Ningrum, katanya minta doanya dari Mama dan Ningrum."
"Doa? Maksudnya?" Mariam tidak mengerti.
Akhirnya Ningrum menceritakan duduk persoalan masalah hari ini, yang akan dihadapi mantan suaminya dengan wanita itu.
"Haah.. Astagfirullohalazim, 40 persen pembagian haknya? Benar-benar gila wanita itu! Saya saja yang menikah 15 tahun, tidak meminta sepecerpun saat bercerai dengan Papamu."
"Makanya itu Papa minta doanya kepada kita Mah, karena doa kita bisa menguatkan Papa melawan wanita licik itu, katanya."
"Iya, Mama doakan yang terbaik untuk Papa kamu."
"Terima kasih, Mah. Apa Mama ingin ikut menghadiri sidang perceraian Papa besok jam sepuluh pagi, dipengadilan Jakarta Selatan?"
"Tidak, sayang." Ucapnya lirih lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Ningrum mau hadir Mah, suami Ningrum yang memintanya untuk memberi dukungan moril kepada Papa. Bagaimanapun, Al-habib sayang sama Papa katanya. Karena Al-habib sedang KKN, jadi tidak bisa hadir. Tapi, Al-habib minta VC nanti saat sudah bertemu dengan Papa."
"Ooh.. " Hanya itu yang keluar dari bibir Mariam.
"Mama Yakin? Mama engga mau temani Ningrum kesana?"
"Eemm.. Mama pikir-pikir dulu deh! Bagaimana besok sqja."
"Iyes.. ada harapan yah Mah!"
"Heeemm..."
--BERSAMBUNG--
__ADS_1
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips juga komentarnya yah. Terima kasih.🙏🙏...