
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Pagi ini Mariam dan Robby baru saja bangun tidur pukul empat pagi. Padahal semalam pukul dua belas malam, habis bergulat dan meneguk nikmatnya surga dunia. Namun, mereka tetap bangun pagi untuk mandi keramas hadas besar, karena tahu akan kewajibannya sebagai seorang muslim yang taat untuk sholat shubuh berjama'ah.
Usai sholat subuh berjama'ah di Masjid Pondok Pesantren, mereka semua berkumpul di ruang tengah keluarga Pak Kiai Zain. Abi dan Ningrumpun tidak ketinggalan, apa lagi Ustadjah Madinah.
Pak Kiai dan Umi Khadijahpun mengajak beberapa guru, ustad, ustadjah dan santri didiknya untuk ikut menghadiri acara resepsi pernikahan Tuan Robby dan Mariam di Jakarta.
Setibanya di Jakarta, tepatnya di gedung Hotel mewah dan megah, tempat acara resepsi pernikahan Robby dan Mariam. Mereka sudah berada didalam ruangan khusus tamu VVIP dan ruangan MUA.
Robby dan Mariam memakai baju pengantin adat, dengan pakaian ala kraton solo dengan begitu gagah dan cantik. Namun, pakaian adat mereka bertema Muslimah modern.
Para undangan dari kalangan bisnis dan pejabat telah hadir memenuhi tempat dan jamuan yang sudah disediakan oleh WO yang bertanggung jawab.
Robby dan Mariam baru saja keluar dari kamar rias pengantin, menuju pelaminan dengan diapit oleh Bapak Kiai Zain dan Umi Khadijah.
Abi dan Ningrumpun mengiringi pengantin dibelakang, dengan wajah berseri dan bahagia.
Para tamu undangan memberikan ucapan selamat untuk pernikahan Tuan Robby dan Mariam.
Diantara tamu undangan yang memberi selamat kepada pengantin, tanpa disangka-sangka ada juga tamu yang datang tanpa diundang yaitu Lusiana, mantan istrinya dan Bramasta rival bisnisnya.
Dengan senyuman mengejek dari bibir Lusiana dan Bramasta, mereka naik keatas pelaminan memberikan ucapan selamat. Namun, saat Lusiana mengulurkan tangannya kearah Robby, tidak ada sambutan baik dari Robby.
Abi dan Ningrum yang mengetahui siapa Lusiana, hanya bisa menonton dan menatap tajam mereka. Namun, jika ada terjadi keributan, mereka sudah bersiap-siap akan mengusir Lusiana bersama pasangannya itu.
"Ck.. sombong sekali pengantin baru ini! Saya hanya ingin memberikan selamat saja, lalu mendoakan kalian agar secepatnya bercerai kembali, ha.. ha.. ha.." Ejek Lusiana lalu meninggalkan pelaminan pengantin.
Bramasta rival Robby tidak mengucapkan sepatah katapun, dirinya hanya tersenyum dengan menyunggingkan bibirnya kearah mereka, lalu ikut turun mengikuti Lusiana di belakangnya.
Dengan rahang mengeras dan wajah yang memerah menahan kesal, kedua jari tangannyapun mengepal. Robby berusaha menahan emosinya, dengan sedikit menurunkan egonya.
Robby tidak ingin membuat keributan dihari bahagianya, dia berusaha bersabar meski hatinya begitu benci melihat dua orang yang tidak diundang itu datang ke pesta pernikahannya.
"Aish.. tamu tidak diundang! Tidak punya malu dan sopan santun." Decak Robby bergumam kesal.
__ADS_1
Mariam yang mendengar ucapan Lusiana yang menyakitkan, hanya bisa mendoakan semoga doa baik untuknya dan doa buruk akan kembali kepada pemiliknya.
"Ya.. habibi, bersabarlah... ! Semoga dibukakan pintu hidayah untuk mereka, agar menemukan jalan terbaik kepada sang penciptanya." Ucap Mariam bijak seraya mengusap lembut punggung suaminya.
"Iya.. ya Zawjattiku, terima kasih untuk bersabar menjadi istriku kembali. Jangan pernah dengarkan ucapan buruk wanita itu. Saya Robby Dirgantara, berjanji tidak akan pernah menceraikan dan melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya. Saya akan selalu menjaga keutuhan rumah tangga kita." Ujar Robby bersungguh-sungguh dengan mata yang sudah menahan tangisnya.
"Iya.. ya habibi, saya percaya dengan semua ucapanmu." Kata Mariam tulus dari hatinya.
"Terima kasih, ya Zawjattiku Mariam yang cantik dan soleha." Ucap Robby bahagia saat mendengar Mariam percaya kepadanya.
"Heeem.. sama-sama ya habibi." Ucap Mariam dengan senyuman mengembang.
Robbypun kembali tersenyum dan menyambut ramah para tamu yang datang.
Para tamu yang lainpun kemudian ikut mengantri, untuk memberikan selamat kepada pasangan pengantin Robby dan Mariam.
Mbo Tami dan suaminya Pak Wahyupun ikut hadir dan memberikan ucapan selamat kepada majikannya itu. Pak Iwanpun, supir pribadinya yang selalu mengikuti kemanapun Tuannya pergi, tidak ketinggalan untuk mengucapkan selamat atas pernikahan Tuan Robby dan Mariam.
"Tuan Robby dan Nyonya Mariam, selamat menempuh hidup baru dan menjadi keluarga sakinah, mawahdah dan warohmah. Mbo senang dan bahagia, nanti dirumah kembali ramai, ada Nyonya Mariam, Aden Abi dan Nona Ningrum. Apa lagi kalau Non Ningrum dan Aden Abi punya anak, tambah ramai deh rumahnya." Ujar Mbo Tami dengan wajah berseri dan bahagia, kemudian memeluk mereka dengan tangisan bahagianya.
Kemudian Pak Wahyu juga mengucapkan rasa bahagianya, seperti istrinya dengan mengulurkan tangan kepada pengantin untuk bersalaman.
"Aamiin.. terima kasih, Mbo Tami dan Pak Wahyu." Ucap Robby dan Mariam bergantian.
Usai para tamu memberikan ucapan selamat, merekapun menikmati hidangan yang begitu lezat, nikmat dan mewah.
"Khumairah sayang, kamu mau makan apa? Nanti, biar Al-habibmu ini yang akan mengambilkan untukmu."
"Aku mau makanan yang asem-asem, ada engga, sayang?"
"Makanan asem? Sepertinya ada asinan buah dan sayur, apa Khumairah mau?"
"Boleh Al-habib, tolong ambilkan asinan buahnya buat aku."
"Heem.. Khumairahku, sayang."
__ADS_1
Abipun mencari menu yang barusan dia sebutkan, asinan buah yang diminta istrinya.
"Ini asinan buahnya, Khumairahku sayang." Kata Abi membawa sepiring asinan buah ditangannya, lalu akan diberikan kepada istrinya.
"Suapin." Ucap Ningrum manja dengan wajahnya yang menggemaskan.
"He.. he.. he.. tumben sekali istriku akhir-akhir ini manja! Jarang-jarang banget ini, biasanya Al-habibmu ini yang manja. Ada apa denganmu, sayang?" Tanya Abi heran, dengan sikap istrinya yang seminggu ini begitu manja dan mesra kepadanya.
"Engga tahu, Al-habibku sayang. Pokoknya aku mau disuapin asinan buahnya sekarang." Ucap Ningrum heran, yang dirinyapun tidak tahu apa penyebabnya. Padahal sebelumnya, mana pernah dia terlihat manja didepan orang lain.
Mbo Tami yang melihat Ningrum manja, minta disuapi hanya tersenyum mengembang.
"Suapin dong, Den Abi istrinya. Mbo senang deh liatnya." Ujar Mbo Tami menaik turunkan alisnya gemas.
"Iya.. Mbo Tami, pasti Abi turuti permintaan Khumairah tercinta. Aaaaa.. buka mulutnya, sayang." Kata Abi semangat seraya menyuapi istrinya yang terlihat menggemaskan dimatanya.
"Aaamm... nyam.. nyam.. nyam.. enak Al-habib. Pokoknya kalau asinannya habis, aku minta ambilkan lagi. Aku mau tambah yang banyak yah, Al-habibku." Ningrum menerima suapan demi suapan dengan lahap dan meminta suaminya untuk tambah makanannya.
"Khumairahku, sayang. Ini asinannya sangat asem dan pedas rasanya. Memangnya perut kamu tidak merasa sakit dan mulas, heum..?" Tanya Abi merasa ada yang janggal. Setahu dirinya, Ningrum kurang menyukai makanan asam.
"Engga.. Al-habibku sayang. Aku menyukai rasanya dan perutku baik-baik saja." Ucap Ningrum menjelaskan dirinya baik-baik saja.
"Waaah.. jangan-jangan Non Ningrum hamil, Den!" Tebak Mbo Tami asal.
"What?" Abi dan Ningrum tiba-tiba saja, membulatkan matanya terkejut.
Lalu Ningrum merasa dirinya mual, seolah-olah ingin segera memuntahkan semua isi perutnya ke luar.
"Uuweekk.. uweek..." Bunyi suara Ningrum saat dirinya merasa mual.
"Deal.. fix.. ini sih hamil!"
...♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️...
Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.
--BERSAMBUNG--
__ADS_1