Cinta Tulus Abi

Cinta Tulus Abi
Surprise


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Abi dan Mariam seketika menatap Mbo Tami tidak percaya dengan apa yang mereka lihat sekarang ini. Air mata mereka sudah menggenang dipelupuk matanya.


"Benarkah ini Mbo Tami? Aku merindukanmu Mbo." Tanya Abi masih belum yakin.


"Benar Aden Abi dan Nyonya Mariam. Saya Mbo Tami, yang sangat rindu kepada Aden Abi dan Nyonya Mariam. Hikkzz.. hikkzz.." Ucap Mbo Tami seraya menangis haru karena sedih dan bahagianya campur menjadi satu. Abipun seketika ikut menangis, saat melepaskan rasa rindunya kepada Mbo Tami yang sudah dia anggap orang tuanya sendiri.


Abipun langsung memeluk Mbo Tami, setelah dirinya merasa yakin kalau wanita yang dulunya gemuk, sekarang menjadi kurus itu adalah Mbo Tami, wanita yang sudah merawat dan menjaganya selama ini.


Mariampun memeluk Mbo Tami, setelah Abi melepaskan pelukkannya. Mariam tersenyum bahagia dalam tangisnya, karena sudah lima tahun tidak berjumpa dengan ARTnya itu.


"Mbo Tami, kenapa sampai kurus begini? Mbo Tami datang dengan sia.." Ucap Abi terhenti saat Papa Robby berdiri menghampirinya.


"Abi sayang, anak Papa. Maafkan Papa yang sudah mengusirmu dulu, karena Papa lebih mendengar kata-kata manis wanita ja lang itu. Papa menyesal lebih memilih dia saat itu, dibanding kamu anak Papa sendiri." Ucap Robby lirih dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Abi bergeming, hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Ternyata dugaannya benar, Papa Robby mengusirnya karena hasutan dari wanita itu.


"Abi.. Abi sayang? Apakah kamu akan memaafkan Papamu, yang bergelimang dosa ini?" Robby bertanya dengan tatapan lirihnya, bibirnya bergetar saat mengucapkan kata-katanya. Air matanya sudah tumpah membasahi wajah tampannya, meski dirinya sudah tidak muda lagi.


Abi seakan tidak tega melihat Papanya sudah menangis haru dan meminta maaf tulus. Abipun merentangkan tangannya untuk menerima pelukkan Papa Robby, seraya mengangguk pelan dan tersenyum dalan tangis bahagianya.


"Terima kasih Abi, anak Papa yang sangat baik dan sholeh. Terima kasih, kamu masih mau memaafkan dosa dan kesalahan Papamu ini."


"Iya Pah, tidak ada orang yang suci dalam dunia ini. Semuanya pasti pernah berbuat dosa, baik itu besar maupun kecil." Dengan bijak Abi mengungkapkan kata-kata.


Abi dan Papa Robbypun mengurai pelukkan mereka, Mariam sekilas tersenyum kepada mantan suaminya. Dirinya hanya sekedar menyapa dengan anggukan dan menangkup kedua jari tangannya di depan dadanya.


Robby balas senyuman mantan istrinya yang semakin bertambah cantik, pikirnya. Dengan mengangguk pula, diapun hanya menatap sekilas.


"Mari duduk disini, Ibu Mariam dan adik Abi." Ajak Umi Khadijah ramah, seraya menepuk tempat kosong disampingnya.

__ADS_1


Mariam dan Abipun duduk ditempat Umi Khadijah dengan sopan. Mereka menyapa supir pribadi Papa Robby yaitu Pak Iwan dengan senyuman ramah dan sopan.


"Nyonya Mariam dan Aden Abi.. hikkz.. hikkz.." Pak Iwan tidak kuasa menahan tangisnya.


"Suami Mbo Tami Pak Wahyu, bagaimana kabarnya?" Tanya Mariam, saat mengingat satpam rumahnya dulu.


"Alhamdullilah Nyonya, kabar suami saya baik dan sehat. Dia pasti sangat senang, jika bisa bertemu dengan Nyonya Mariam lagi."


Mariam tersenyum saat Mbo Tami menjawab pertanyaannya. Seolah dirinya masih seperti dulu saat tinggal bersama, sering sekalih berbincang lepas dengan ARTnya itu.


"Assalamu'alaikum..." Bunyi salam menggema ke seluruh ruangan, hingga seketika saja semua orang melihat kearah suara tersebut.


"Wa'alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh.." Jawab salam bersamaan semua orang yang ada di ruangan.


"Saya mohon maaf, mengganggu acara keluarganya sebentar. Saya hanya ingin menyampaikan, ini ada paket makanan untuk Bapak Kiai Zain Ahmad sekeluarga. Tapi, pengirimnya tidak dituliskan dikertas paket tersebut. Bagaimana ini Pak Kiai? Apa mau diterima atau tidak?" Tanya Security Pondok Pesantren.


"Coba saya lihat sebentar." Pak Kiai meminta surat tanda bukti pengiriman paket makanan ke alamatnya.


Pak Kiai Zain membaca surat tanda bukti itu dengan teliti, diapun mengulum senyum.


"Surat ini menyatakan alamat Pondok ini memang benar. Namun, paket Makanannya berasal dari Jakarta, nama restorannya seafood 99 Maknyus. Apa ada yang tahu nama restoran tersebut?" Tanya Pak Kiai dengan mengerutkan keningnya. Pasalnya kenapa dari Jakarta sampai nyasar ke pondoknya.


"Saya tahu Pak Kiai, itu tempat restoran favorit kami sekeluarga dulu." Ujar Abi mengingat nama restoran yang dia dengar tadi, saat Pak Kiai membacakannya.


"Berarti paket ini yang mengirimnya, orang yang tahu dengan Pondok ini dan restoran yang disukainya. Tapi, kenapa tidak ada nama pengirimnya?" Tanya Pak Kiai, namun matanya menatap ke arah Tuan Robby.


Tuan Robby tertunduk, saat dia sedang ditatap curiga oleh Pak Kiai Zain. Lalu semua orangpun menatap Tuan Robby, disaat menyadari Pak Kiai menatap ke arahnya.


"Saya tidak ingin menerima paket makanan ini, jika tidak tahu siapa pengirimnya. Bawa kembali saja paket makanan tersebut." Ucap Pak Kiai tegas, seraya tersenyum menyeringai ke arah Tuan Robby yang masih tertunduk.


Sontak saja Robby yang mendengar penolakkan dari Pak Kiai, langsung mengangkat wajahnya dan menghentikannya.

__ADS_1


"Tunggu.. itu paket makanan dari saya Pak Kiai, jangan di kembalikan." Ucapnya kemudian, Robby tersenyum canggung dengan situasi yang ada.


Semua orang yang ada di ruang keluarga tersebut merasa lega, sudah tahu bahwa siapa pengirim paket makanan itu.


Abi tersenyum hangat, dengan surprise yang diberikan oleh Papanya. "Mah, Papa so sweet yah." Bisik Abi ditelinga Mamanya.


Mariam hanya bergeming, dia tidak mengucapkan sepatah katapun saat anaknya itu memuji mantan suaminya yang merupakan Papanya Abi.


Abi menyadari tidak ada respon dari Mamahnya, diapun kemudian berhenti berbisik kepadanya.


"Ha.. ha.. ha.. saya sebenarnya sudah curiga Tuan Robby. Siapa lagi coba yang mengirim paket makanan dari Jakarta? Lagi pula Tuan Robby terlihat gelisah dan tertunduk, saat saya menatap Tuan." Pak Kiai tertawa saat dirinya berhasil membuat Robby mengaku.


"He.. he.. he.. sebenarnya saya malu Pak Kiai, kalau harus menuliskan nama saya di surat itu. Silahkan tanda tangani surat tanda bukti penerimaannya dulu Pak Kiai, biar makanannya bisa dibawa kesini." Kekeh Robby malu.


"Baiklah, saya akan tanda tangan ini." Ucap Pak Kiai, kemudian surat yang sudah dia tanda tangani dikembalikan kepada security tersebut.


"Terima kasih Pak Kiai, saya akan segera bawa paket makanannya." Ucap Security tersebut sopan.


Akhirnya Security tersebut kembali ke tempat pengantar paket makanan tersebut, untuk mengambil makanannya.


"Ini Pak, surat tanda buktinya sudah di tandatangani. Silahkan Bapak bawa makanannya kedalam." Ucap Security tersebut dengan ramah.


"Terima kasih, baiklah Pak." Ucap Bapak pengantar makanan tersebut, seraya mengambil paket itu untuk dibawanya kedalam.


Setelah semua makanan dibawa kedalam, semuanya dibuka oleh Umi Khadijah, Ningrum dan juga Madinah.


"Waah.. makanan seafood! Ini semua terlihat sangat lezat dan menggoda." Pekik Madinah saat membuka makanan tersebut yang tercium harum bumbu masakan.


"Ha.. ha.. ha.." Semua orang tertawa, saat melihat ekspresi Ustadjah Madinah yang lucu.


--BERSAMBUNG--

__ADS_1


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....


__ADS_2