Cinta Tulus Abi

Cinta Tulus Abi
Perginya Lusiana


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Di kediaman Tuan Robby.


Pukul lima pagi, Lusia sudah terbangun dari tidurnya yang paling menyedihkan semasa hidupnya. Sudah terusir, masih menumpang tidur, dan tidak membawa uang sepecerpun.


Lusia bersama kedua anaknya berjalan kaki, meninggalkan rumah mewah dan megah, selama empat tahun ini mereka tinggali. Hanya koper besar masing-masing mereka bawa, yang berisi pakaian miliknya.


Setelah menunggu lama angkutan umum masih tidak kunjung lewat, Lusiapun sudah sangat tidak sabar untuk menunggu lebih lama lagi. Begitupun dengan Rio dan Riana yang sudah sangat kelelahan menunggu.


"Rio, kamu carikan taxi online saja, kalau angkutan umum disini sepertinya sangat susah." Perintah Lusia kepada anak laki-lakinya dengan wajah lelahnya.


"Baik Mah, Rio akan memesannya dahulu." Ucapnya, seraya mengeluarkan ponselnya untuk segera melakukan pemesanan.


"Mama, Riana lapar." Ucap Riana saat perutnya terasa perih.


"Iya nanti kalau kita sudah naik taxi, baru kita cari makan sekalian." Ucap Lusia memberikan pengertian.


"Iya, sudahlah." Ucap Riana pasrah.


Tidak berselang lama, taxi onlinepun telah tiba, mereka bertiga langsung naik kedalam taxi tersebut, setelah supir itu menanyakan identitas yang memesannya lewat aplikasi.


"Apakah, tujuan Nyonya ke Terminal?" Tanya supir online tersebut, sebelum melajukan mobilnya.


"Iya, Pak Supir. Sesuai dengan aplikasinya, bukan?" Jelas Lusia menanyakan kembali.


"Iya Nyonya, saya hanya memastikan saja." Ucap Supir itu ramah.


"Heeem.." Lusia bergumam pelan.


Setelah satu jam akhirnya mereka sampai di Terminal, namun saat akan membayar uang taxi sebesar 150 ribu, Lusia tidak memiliki uang tunai.


"Rio, Mama tidak ada uang tunai, apa kamu ada?" Tanyanya kepada Rio anaknya.


"Sebentar Mah, Rio chek dulu di dompet." Riopun membuka isi dompetnya, yang ternyata hanya ada 100 ribu saja. Rio tidak membawa uang tunai lagi, namun dia memiliki uang di ATM pribadinya.


"Mah, bagaimana ini? Uang aku hanya 100 ribu. Kamu ada engga Dik, uang 50 ribu saja?" Tanya Rio.

__ADS_1


"Aku engga punya uang tunai Kak, uangku ada di ATM semua." Sahut Riana jujur, seraya keluar dari mobil taxi online tersebut.


"Aduh Pak Supir, anak saya juga tidak ada uang tunai, hanya ada 100 ribu, bagaimana Pak?" Ujar Lusia merasa tidak enak, seraya mengambil uang tersebut dari tangan Rio. Lalu Riopun keluar dari mobil taxi online tersebut.


"Huuh... sini uangnya, kalau tidak punya uang jangan pesan online. Bikin orang susah kalau begini, memangnya saya tidak modal bensin, waktu dan tenaga hah..? Dasar keluarga susah, penampilannya saja sok orang kaya, uang 150 ribu saja tidak ada." Hardik Supir taxi online, merasa kesal dengan mereka yang tidak bisa membayar sesuai harga.


Lusiapun memberikan uang itu ketangan Supir tersebut, namun diraihnya uang itu dengan kasar dari tangan Lusia.


"Maafkan kami yah, Pak Supir." Ucap Lusia seraya menutup pintu taxi tersebut.


Tanpa menjawab permintaan maaf Lusia, supir taxi itupun langsung pergi meninggalkan mereka dengan perasaan kesal. Bagaimana tidak kesal, Supir taxi online itupun harus membayar setoran kepada pemilik mobilnya.


Lusia dan kedua anaknya mencari ATM untuk mengambil uang tunai, betapa terkejutnya Lusia, ternyata kartu ATMnya telah diblokir. Lusia bergeming, menatap layar ATM tersebut, yang menolak masuk untuk transaksi, padahal nomor pin ATMnya sudah benar.


"Mama kenapa? Bisa engga sih ngambil uangnya? Dibelakang sedang mengantri." Tanya Rio merasa heran dengan Mama Lusia, yang diam menatap layar ATM.


"ATM Mama, diblokir sama Mas Robby." Ucapnya lirih, seraya meneteskan air mata.


Rio mengeluarkan kartu ATM tersebut dari mesin ATMnya, kemudian memberikannya kepada Mama Lusia. "Ini Mah, kartu ATMnya." Ucap Rio dengan wajah sedih, melihat Mamanya menangis.


Lusia menggelengkan kepalanya pelan, lalu diapun seketika pingsan. Rio dan Riana memekik terkejut, lalu Rio langsung mengangkat Mama Lusia, mencari tempat yang lebih nyaman.


"Disini saja, turunkan Ibunya Mas." Ucap salah satu seorang Pria, yang ikut membantu mereka.


"Iya Pak, terima kasih." Ucap Rio, seraya menurunkan tubuh Mama Lusia di atas kursi panjang di rest area.


"Iya Nak, sebenarnya ada apa Nak? Kenapa Ibunya sampai pingsan seperti ini?" Tanya Pria yang membantu itu.


"Ibu saya lapar dan haus Pak, dari pagi belum makan dan minum." Ucap Rio jujur, meski ada satu hal yang tidak mungkin dia beberkan. Tapi memang faktanya, diapun merasa lapar dan haus.


"Iya sudah, nanti saya belikan nasi bungkus dan minuman untuk kalian." Ucap Pria itu tulus membantu.


"Terima kasih Pak, untuk bantuannya." Ucap Rio seraya mengangguk kecil.


"Sama-sama Mas, sesama manusia harus saling menolong dan membantu dalam kesulitan." Ucap Pria itu tulus, seraya berjalan meninggalkan mereka.


"Mama.. Mama... bangun Mah.. Rio dan Riana tidak ingin kehilangan Mama." Ucap Rio lirih dan Rianapun ikut mengangguk kecil seraya mengusap tangan Lusiana pelan.

__ADS_1


Pria penolong itu datang dan membawakan, tiga buah nasi bungkus dan tiga botol minuman air mineral. Pria itu memberikannya kepada mereka dengan tersenyum.


"Terima kasih banyak, Pak." Ucap Rio merasa terharu saat menerima makanan dan minuman tersebut, Rio seketika meneteskan air mata, dengan apa yang sudah dia lakukan selama hidupnya.


Baru kali ini Rio merasakan bantuan dari orang lain, karena selama ini dirinya merasa sombong dan tidak membutuhkan bantuan orang lain. Semua itu karena didikan, Mama dan Papanya dulu.


******


Di kediaman Tuan Robby, siang hari.


"Tok.. tok.. tok..." Bunyi pintu diketuk.


"Tuan, sudah bangun atau belum? Tuan belum makan dan minum sedari pagi, sekarang hari sudah siang." Tanya Mbo Tami dibalik pintu kamar Robby.


"Iya Mbo Tami, nanti saya keluar. Apa mereka sudah pergi Mbo?" Tanya Robby penasaran.


"Sudah Tuan, selepas shubuh tadi, mereka langsung pergi."


"Oooh bagus! Jeglek." Seru Robby seraya membuka pintu kamarnya.


"Saya sudah masak banyak Tuan, apakah Tuan akan makan sekarang?"


"Nanti, saya mandi dulu Mbo."


"Baiklah, saya undur diri Tuan."


"Heeem.. tunggu Mbo, sehabis makan, saya akan mulai mencari Abi."


Mbo Tami berbalik badan, lalu terkejut tidak percaya dengan ucapan Tuan Robby tersebut.


"Benarkah? Apa Tuan sungguh-sungguh?"


"Iya Mbo Tami, saya sungguh-sungguh dengan ucapan saya. Saya akan meminta maaf kepada Abi dan mantan istri saya, seandainya Mariam belum menikah lagi, saya akan meminta rujuk dengannya. Doakan niat baik saya yah Mbo." Ujarnya panjang lebar.


"Insya Allah Tuan, saya berdoa untuk kebaikan Tuan Robby dan Nyonya Mariam, semoga keinginan Tuan terkabul. Aamiin." Ucapnya Mbo Tami seraya terharu hingga meneteskan air mata.


--BERSAMBUNG--

__ADS_1


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....


__ADS_2