
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Ustadzah Madinah terkejut, dengan pernyataan Adik iparnya Ningrum. Adik iparnya itu mau menerima, tapi masih ada yang mengganjal.
"Bukan menolak Kak Madinah, tapi masih ada satu persoalan yang harus diselesaikan dahulu." Ningrum mengucapkan dengan sangat lembut.
Madinah mengerutkan dahinya heran, lalu diapun bertanya. Persoalan apa Adik? Apakah Kak Madinah boleh membantu?"
"Melia Kak, murid Ningrum kelas 11 yang sangat pintar namun pendiam. Dia menyukai dan mencintai Abi, sedangkan Ningrum juga demikian Kak."
"Bagaimana Adik tahu, kalau murid Adik itu mencintai Nak Abi? Kalau dilihat-lihat sih memang banyak para anak santriwati yang mengagumi Nak Abi, apa lagi saat dirinya menggantikan suami Kakak menjadi guru. Semakin bamyak yang terpesona dan kagum."
"Kemarin Kak, saat di Perpustakaan. Melia mencurahkan isi hatinya, kepada Ningrum."
"Lantas, sekarang apa yang akan Adik jawab sama pertanyaan Bapak nanti?"
"Ningrum ingin mengatakan sejujurnya kepada Melia, namun Ningrum belum cukup berani dan tega Kak Madinah." Ibu Ningrum menitikkan air matanya, perasaannya galau. Disisi lain, Ningrumpun mencintai Abi, tapi Ningrum tidak ingin membuat murid kesayangannyapun bersedih karena hal ini.
"Dik, kalau boleh usul, Kak Madinah ada cara untuk meyakinkan Melia, agar ikhlas menerima, jika Ibu gurunya itu jodohnya Abi."
"Bagaimana Kak?" Ningrum penasaran dengan usul Kakak iparnya itu.
"Bagaimana jika kita ngomong sama Abi langsung, nanti Kakak Madinah deh yang nyampein sama Nak Abi. Biar Nak Abi yang menjelaskan, kalau Nak Abi menyukai dan mencintai Ibu gurunya. Menurut Adik, bagaimana?"
"Eeemmm... boleh di coba, tapi Ningrum minta jangan sampai Melia bersedih."
"Yang namanya patah hati yah engga ada yang engga sedih dong Adik. Pastinya sedih lah." Madinah menggelengkan kepalanya heran kepada Adik iparnya. Meski Adik iparnya sudah berusia 29 tahun, namun masih polos belum berpengalaman soal asmara yang sesungguhnya.
"Nanti Adik bikin sepucuk surat yah buat yayang Abi, kalau sudah jadi Kakak berikan kepada Nak Abi." Saran Madinah, dengan mengerlingkan matanya nakal.
"Aissh.. Kakak apaan itu matanya genit banget, jangan yayang-yayangan, malu tahu Kak."
"He.. he.. he.. canda Dik." Madinah terkekeh, lalu merebahkan tubuhnya diatas kasur Ningrum.
"Sebentar yah Kak, Ningrum tulis surat buat Abinya disitu. Awas jangan ngintip, dan nanti jangan dibuka suratnya yah!" Ancam Ningrum dengan tersenyum miring, seraya tangannya menunjuk bangku kerja Ningrum.
"Siap, yayangnya Abi, he.. he.. he.." Ucap Madinah seraya terkekeh.
Ningrum merona pipinya, Kakak iparnya itu terus saja menggodanya.
Ningrum menulis surat untuk Abi, dengan perasaan berdebar-debar. Entah apa yang ada diotak dan hatinya, mengapa bisa-bisanya dia sangat jatuh cinya kepada mantan anak muridnya itu.
Mungkin saja kata pepatah benar adanya, jika cinta tidak pernah mengenal usia. Rosullulloh saja menikah dengan istrinya Khadijah usianya terpaut 15 tahun, tidak jadi masalah, mereka saling mencintai di dunia sampai akhirat.
__ADS_1
Begitupun dengan cinta Ibu Ningrum kepada Abi, dan sebaliknya cinta Abi kepada Ibu Ningrum, begitu besar dan tulus.
"Adik Ningrum..." Kak Madina memanggil.
"Iya, Kak Madina."
"Sudah belum, tulis suratnya?"
"Belum Kak."
"Lama banget, kayak tulis surat cinta saja."
"Aiishh.. Kak Madinah itu bawel banget sih, bisa engga kalau tidak menggoda Ningrum terus."
"Ha.. ha.. ha.. engga bisa Adikku, sayang." Tawa Kak Madinah, meledek Adik iparnya sayang.
Ningrumpun akhirnya mempercepat menulis suratnya, agar Kakak iparnya berhenti menggodanya.
Ningrum menghampiri Kakak iparnya, dengan senyum merekah. "Ini Kakakku sayang, kasih sama Abi, jangan dibuka atau dibaca yah." Pesan Ningrum mewanti-wanti.
"Engga Dik, Kak Madinah engga akan buka ataupun baca, hanya akan baca barenga Abi nanti, he.. he.. he.." Kakak Madinah terkekeh, lalu berlari meninggalkan kamar adik iparnya.
*******
"Insaya Allah tidak, sayang. Mama yakin, Nak Ningrum mempunyai rasa yang sama dengan kamu. Rasa cinta yang teramat dalam, hingga anak Mama ini tidak bisa kelain hati sepertinya."
"Aamiin, kalau memang begitu Mama." Abi mengamini doa baik dari Mama Mariam.
"Tok.. tok.. tok.." Bunyi pintu diketuk.
"Assalamu'alaikum.. Tante Mariam." Kakak Madinah mengucap salam, dari balik pintu.
"Wa'alaikumsalam Ustadzah Madinah, sebentar yah." Jawab Salam Abi dan Mama Mariam.
"Jeglek." Pintu kamar dibuka, Mama Mariam membuka sedikit lebar.
"Ada apa Ustadzah Madinah?" Tanya Mama Mariam heran.
"Tante, ada surat buat Nak Abi dari Adik Ningrum. Kalau Nak Abi butuh bantuan untuk saya temani, nanti saya sangat bersedia. Saya akan menunggu di luar sekarang, kalau Nak Abi sudah bacanya nanti temui saya di ruang tengah yah Tante." Ujar Madinah dengan gamblang.
"Iya, Ustadzah Madinah." Ucap Mama Madinah, seraya menerima surat dari Madinah.
"Ada apa Mama? Tadi Ustadzah Madinah, bukan?"
__ADS_1
"Iya, sayang. Ini ada surat dari Nak Ningrum."
"Surat? Ini surat apa, Mama?" Abi heran, mendapatkan surat dari wanita yang sangat dia cintai.
"Iya, surat dari Nak Ningrum untuk kamu sayang, kata Ustadzah Madinah, kalau Abi sudah baca suratnya nanti, Ustadzah Madinah ada diruang tengah sedang menunggu. Abi diminta untuk menemuinya."
Abi lantas membuka surat itu, lalu membacanya dengan perlahan.
"Tulisan Ibu guru sangat cantik, sama seperti orangnya." Abi bergumam pelan seraya tersenyum.
Mama Mariam yang melihat anak kesayangannya senyum-senyum sendiri, hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. "Anakku sedang jatuh cinta, semoga disegerakan untuk menikahi wanita yang dicintainya, Aamiin."
Surat dari Ibu Ningrum untuk Abi.
..."Assalamu'alaikum Pangeran dihatiku, Nak Abi mantan muridku yang genius, kesayangan Ibu guru. Saya menerima niat Nak Abi untuk mengajak saya lebih serius. Tapi ada satu ganjalan dihati saya, kalau Anak murid saya yang bernama Melia, yang tempo hari bertemu di Perpustakaan, menyukai dan mencintai Nak Abi. Saya mohon, Nak Abi bisa menberi pengertian kepada Melia murid santriwati saya. Terima Kasih. Kalau Nak Abi sudah paham dengan isi surat dari saya, tolong temui Ustadzah Madinah untuk menemani, agar tidak terjadi fitnah nantinya."...
"Oooh Ibu guruku, pujaan hatiku, belahan jiwaku, cinta suciku, kenapa ada saja halangan untuk menghalalkanmu?" Abi menutup surat itu, dengan bergumam pelan.
"Mama, Abi keluar sebentar bersama Ustadzah Madinah." Abi mencium punggung tangan Mama Mariam.
"Assalamu'alaikum, Mama."
"Wa'alaikumsalam, sayang." Mama Mariam heran, melihat anaknya yang sangat tergesah-gesah.
"Kenapa dengan anakku? Semoga semuanya baik-baik saja." Ucapnya dalam hati.
*******
Abi dan Madinah sudah bertemu dengan Melia, mereka bertiga berbincang di balkon kamar para Santriwati.
Banyak Santiwati berpikir yang tidak-tidak, tentang kedatangan guru pengganti yang sangat tampan itu,
"Ada apa, guru tampan itu bersama Ustadzah Madinah menemui Melia?"
"Waaah.. jangan-jangan ada sesuatu kesalahan ini, hingga guru tampan itu bersama Ustadzah Madinah menghampiri Melia."
Begitulah, yang sedang dibicarakan murid-murid Santriwati.
--BERSAMBUNG--
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....
Hallo Para Autor dan Para Pembaca yang budiman, mampir ke karya baruku judulnya Terpaksa Menikah. Terima Kasih Yah semoga happy, ditambah rezekynya dan dilancarkan urusannya. 🙏🙏
__ADS_1