
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Hari ini adalah hari minggu, banyak orang tua Santriwati yang menjenguk anak-anak gadis mereka, untuk melepas rindu dan sayangnya karena mereka jarang bertemu.
Ada pula yang tidak di jenguk oleh orang tuanya, mungkin belum ada waktu ataupun terhalang biaya untuk ongkos, jika tempat tinggal orang tuanya jauh.
Melia adalah gadis Santriwati yang pendiam, tidak khayal dia selalu menyendiri ketika hari minggu tiba. Semua teman-temannya selalu nampak bahagia, seusai bertemu dengan keluarganya. Sedangkan Melia, hampir jarang di jenguk oleh keluarganya.
"Melia, apa orang tuamu tidak mengunjungimu?" Tanya Tari teman satu kamarnya.
"Tidak." Ucap Melia singkat seraya menggelengkan kepalanya pelan.
"Sudah lama sekalih yah, terakhir kesini beberapa bulan yang lalu, bukan?"
"Heemm." Melia bergumam pelan.
"Apa orang tuamu, sungguh sibuk Mel?"
Melia hanya tersenyum canggung, dan mengangkat bahunya pelan.
Ibu Ningrum tersenyum melihat kedua murid Santriwatinya, yang sedang mengobrol di taman sekolah Pesantren. Maksud hati ingin menghibur Melia, murid yang sangat pintar dan pendiam, namun sedang bersama temannya.
Ibu Ningrum sudah mengenal Melia sejak 4 tahun yang lalu, semenjak dirinya menginjakkan kakinya di Pesantren ini. Jadi dirinya akan selalu menghibur Melia, jika kedua orang tuanya tidak menjenguknya.
"Syukurlah, hari ini Melia nampak ceria, meski orang tuanya seperti biasa jarang menjenguknya." Ibu Ningrum bergumam pelan.
"Assalamu'alaikum, Melia dan Tari." Salam Ibu Ningrum.
"Wa'alaikumsalam Ibu guru." Jawab mereka bersamaan.
"Kalian dari tadi disini?"
"Iya, Buguru."
"Kalian sudah menghafal surah yang Ibu minta kemarin? Besok senin, Ibu akan memanggil kalian maju kedepan kelas."
"Sudah Bu guru, hanya tinggal beberapa ayat yang masiih sering ketukar." Jawab Melia.
"Kalau Tari masih banyak yang belum apal, iya sudah Bu guru, Tari masuk ke kamar dulu untuk melanjutkan hapalannya." Ucapnya, langsung berjalan pergi meninggalkan taman tersebut.
"Tari tungguin, aku juga ikut dong. Ibu guru, maaf yah Melia juga harus menghafal lagi biar engga ketukar-tukar ayatnya." Pamit Melia.
Dengan senyum mengembang, Ibu Ningrum mengangguk pelan dan berucap. "Iya sayang, semoga besok kalian dapat nilai terbaik yah."
"Siap, bu guru."
__ADS_1
Ibu Ningrum membuka buku PAI, lalu membacanya dengan perlahan, tanpa menyadari ada sepasang mata tajam, yang sedang memperhatikan dari jauh gerak-geriknya. Dia mengukir senyum indah dibibirnya, lalu jantungnya berdentum kencang.
"Ibu guru, Abi semakin yakin, kalau Ibu guru adalah jodoh Abi. Meski Ibu sudah menikah, dan Abi sudah ikhlas menerima. Tapi entah kenapa, sulit rasanya menghilangkan rasa cinta Abi kepada Ibu guru sampai detik ini." Bathin Abi berucap.
Seakan ada yang memperhatikan, Ibu Ningrum mengedarkan pandangannya kesegala arah. Seketika pandangannya terhenti, saat mata mereka saling bersirobak seperkian detik.
Kemudian Abipun menundukkan pandangannya, dan pergi menjauh. Abi jadi salah tingkah, hingga menabrak Pak Kiai yang sedang berjalan kaki.
"Brruukk..." Tubuh Pak Kiai hampir saja terjatuh, namun langsung ditahan oleh Abi.
"Kyaaaa..." Pekik Kiai terkejut.
"Maaf Pak Kiai, maafkan Abi. Tadi Abi tidak sengaja, nabrak Pak Kiai. Abi tidak melihat Pak Kiai." Abi meminta maaf, seraya memposisikan tubuh Pak Kiai berdiri seperti semula.
"Iya Abi, lain kali kalau jalan itu jangan menuduk terus, harus lihat jalan ke depan. Gara-gara habis mencuri pandang dengan Ibu guru, Pak Kiai jadi kena korbannya ini. He.. he.. he.." Sindir Pak Kiai langsung tepat sasaran.
Abi tersenyum kikuk, gara-gara kepergok lagi sama Pak Kiai. Sudah menahan malu ketahuan Ibu guru, sekarang ditambah lagi ketahuan sama Pak Kiai.
Ibu Ningrum tertawa kecil, melihat Abi dan Pak Kiai bertabrakan. Mirip dengan drama korea, saat Abi menahan tubuh Pak Kiai agar tidak terjatuh.
Abi yang menyadari dirinya sedang di tertawakan oleh Ibu guru, dirinya langsung saja pamit pergi meninggalkan Pak Kiai. "Saya permisi yah, Pak Kiai."
Pak Kiai hanya mengangguk kecil, lalu tersenyum heran, seraya menggelengkan kepalanya pelan.
"Anak muda-anak muda, kalian sangat lucu kalau sedang jatuh cinta." Pak Kiai bergumam, saat melihat Abi dan Ibu guru yang sedang kasmaran.
"Assalamu'alaikum, Nak Ningrum."
"Wa'alaikumsalam, Pak Kiai."
Pak Kiai hanya mengucap salam, lalu berlalu pergi.
Ibu Ningrum melanjutkan membaca bukunya lagi, dengan santai di bangku taman.
*******
Abi mulai membuka mata Pelajaran, dan Materi yang siberikan oleh Pak Kiai tadi pagi. Besok senin Abi akan menggantikan Ustad Faris, mengajar kelas 11.
Abi meminta bantuan Mama Mariam, untuk memberikan arahan dan bimbingannya. Abi mulai berbicara layaknya seorang guru, didepan Mama Mariam. Jika ada materi yang kurang Abi pahami, dia tidak segan-segan untuk menanyakannya kepada Mama Mariam.
"Mama, Abi kurang paham penjelasan mengenai hukum mad seperti ini?" Tanya Abi serius.
__ADS_1
Ada mad thabi'i bertemu dengan huruf hamzah, yang berharakat kasrah dalam satu kata.
Ada Mad Thabi'i bertemu dengan huruf hamzah, yang berharakat dhumah dalam satu kata.
Ada mad thabi'i bertemu dengan huruf hamzah, yang berharakat fathah dalam satu kata.
Begitulah kira-kira pelajaran, yang Abi tanyakan kepada Mama Mariam.
Dengan begitu lembut dan menuntun Abi, Mama Mariam mengajarkan putranya yang cepat tanggap. Mama Mariampun kagum, dengan cara Abi mempelajari metode pelajaran islam. Pasalnya Abi selama ini, hanya belajar pelajaran umum saja.
"Coba sayang, kamu pelajari materi yang satunya lagi mengenai kitab huruf gundul. Jika ada yang tidak dimengerti, bisa tanyakan sama Mama."
Abipun mencari materi yang disebutkan oleh Mama Mariam, lalu menunjukkan buku itu kepadanya. "Yang ini bukan, Mama?"
"Iya, sayang. Kamu bisa baca buku itu, dan coba pelajari pelan-pelan yah."
"Baik Mama, Abi akan coba."
Abipun mulai membuka buku kitab huruf gundul tersebut, lembar demi lembar dan kemudian dia pahami sedikit demi sedikit. Bila ada yang kurang dimengerti, Abi langsung menanyakannya kepada Mama Mariam.
Tanpa terasa hampir 2 jam Abi belajar tafsir Al'Quran, hukum bacaan, dan kitab huruf gundul. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, Abipun langsung bersiap-siap ke Masjid, untuk melaksanakan shalat Ashar.
Sebelumnya, Abipun membereskan buku Pelajaran, dan materi yang akan dia ajarkan kepada muridnya kelas 11 besok.
"Mama, Ayo kita ke Masjid bareng."
"Ayo, sayang." Ucap Mama Mariam, lalu merekapun berjalan beriringan.
"Nak Ningrum, kemari sayang. Ayo kita ke Masjid barengan." Ajak Mama Mariam saat mereka bertemu dijalan hendak menuju Masjid.
"I.. iya, Tante." Sahut Ibu Ningrum gugup.
"Kenapa? Kenapa wajah kamu mendadak pucak, sayang?"
__ADS_1
--BERSAMBUNG--
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....