
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Hari ini Tuan Robby sedang libur bekerja, dia sudah menghubungi Abi di Sumedang tadi pagi. Dia mengatakan akan berkunjung ke Sumedang bersama Pak Supir Iwan dan Ningrum
Sebenarnya Robby sudah mengajak Mariam untuk ikut menemui Abi. Namun, dirinya menolak dengan alasan sedang banyak tugas yang masih belum selesai. Padahal Robby pingin sekalih berusaha selalu bisa bertemu dan berdekatan dengan Mariam, agar benih-benih cinta Mariam bisa tumbuh lagi.
Robby menjemput Ningrum terlebih dahulu ke Pondok, setelah dari Pondok baru mereka langsung menuju Sumedang tempat Abi KKN disana.
"Mah.. Ningrum pamit dulu yah. Mama baik-baik disini, palingan Ningrum menginap satu malam saja. Besok minggu juga kembali kesini." Ujar Ningrum berpamitan kepada Mama Mariam.
"Iya sayang, hati-hati di jalan yah. Titip salam rindu untuk Abi suami kamu. Jaga kesehatan, jangan lupa makan dan jangan pernah lupa untuk selalu bersyukur." Ucap Mama Mariam berpesan untuk anak semata wayangnya.
"Siap Mah.. pasti akan Ningrum sampaikan setelah nanti ketemu Al-habib suami Ningrum, insya Allah." Ucap Ningrum dengan senyuman di bibirnya.
Mariampun membalas senyuman menantunya itu dengan menganggukkan kepalanya pelan.
Ningrum kemudian berpamitan kepada Umi Khadijah, Pak Kiai Zain, Ustadjah Madinah dan Ustad Faris.
Begitu juga Tuan Robby memberikan ucapan salam sekaligus berpamitan untuk segera pergi ke Sumedang, dirinya tidak sempat mampir karena hanya berniat menjemput Ningrum saja.
"Ibu guru Mariam, kenapa tidak ikut saja?Padahal 'kan ada Nak Ningrum disana. Kasihan Nak Ningrum nanti, diperjalanan hanya wanita sendirian. Lebih baik Ibu guru ikut saja, agar tidak terjadi pitnah. Meski Nak Ningrum menantu Tuan Robby, tetap saja kurang pas rasanya pergi berdua saja." Ujar Pak Kiai menegur Mariam dengan halus.
Mariam dan Ningrumpun terkejut, dengan penuturan Pak Kiai. Ningrumpun tidak sampai memiliki pikiran ke arah sana. Apa lagi Mariam, tidak ada sama sekalih pikiran yang menjurus ke sana. Tapi, Tuan Robby sempat berpikir kearah sana, merasa tidak enak hati jika hanya pergi berdua saja ke Sumedang. Maka dari itu dirinya mengajak Mariam untuk ikut, namun Mariam menolaknya.
"Benar juga Mah, apa yang dikatakan Pak Kiai." Ucap Ningrum mengiyakan, lalu diikuti Umi Khadijah dan yang lainnya.
Mariam akhirnya mengikuti anjuran dari Pak Kiai, diapun meminta waktu untuk berkemas secukupnya.
"Iyes... Alhamdullilah, akhirnya kamu ikut juga Mariam. Lain hari saya akan meminta saran Pak Kiai, bagaimana caranya untuk kembali rujuk dengan Mariam dan mengambil hatinya kembali. Siapa tahu saja, ucapan Pak Kiai manjur dan Mariam langsung menurutinya." Ide brilian Robby dalam hatinya.
Mariampun berpamitan kepada Pak Kiai dan yang lainnya, setelah dirinya selesai berkemas. Dengan izin Pak Kiai dan Umi, Mariam melangkah dengan pasti.
Merekapun akhirnya meninggalkan Pondok Pesantren. Pak Iwan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan ibu kota Bogor menuju Sumedang. Agar perjalanan lebih cepat dan lancar, merekapun menggunakan fasilitas jalan TOL.
__ADS_1
Perjalanan cukup lama, didalam keheningan mereka di dalam mobil, Ningrumpun akhirnya memulai buka suara.
"Pah.. maaf sebelumnya. Kata Al-habib, apa benar Papa ingin menyumbangkan biaya untuk pembuatan Fasilitas kesehatan, yang sangat minim di desa tempat KKN Al-habib sekarang?" Tanya Ningrum sedikit hati-hati.
"Insya Allah, sayang. Papa kasihan dengan desa tersebut, padahal di zaman yang serba modern sekarang ini, masih sulit mendapatkan pelayanan kesehatan yang dekat. Apa lagi katanya akses jalan mobil saja sulit untuk melewatinya. Mungkin nanti mobil kita saja akan menumpang parkir di desa lain. Kita akan berjalan kaki ataupun mengenakan motor untuk sampai ke desa tersebut." Jelas Robby panjang lebar.
"Papa ternyata jiwa sosialnya teramat tinggi yah Mah, Ningrum bangga loh Mah sama Papa Robby." Puji Ningrum, lalu melibatkan Mama mertuanya.
Mariam hanya mengangguk kecil dan tersenyum, pasalnya dia tahu benar sifat Robby memang berjiwa sosial tinggi. Semasa kuliah saat pacaran dan sampai detik inipun, jiwa sosialnya teramat tinggi.
Sebenarnya dimata Mariam sosok seorang Robby adalah Pria special dihatinya. Bagaimana tidak, Robby cinta pertamanya yang kemudian menikah dan memiliki seorang anak tampan yang mereka beri nama Abi Maulana Dirgantara.
Mereka sama-sama memiliki cinta pertama, Mariam untuk Robby dan Robby untuk Mariam. Robby adalah anak tunggal dari kedua orang tuanya yang kaya raya. Sedangkan Mariam anak yatim piatu, yang diasuh oleh sang Bibi. Beruntung sang Bibi sangat baik kepada Mariam, hingga Mariam dijaga dan di didik sampai kuliah.
Namun disaat rumah tangga mereka sedang berada diatas, Abi beranjak remaja, karir Mariam sedang naik menjadi seorang penulis dan Perusahaan Robby sedang banyak memenangkan tender besar. Disitulah titik kehancuran rumah tangga Mariam sedang dimulai.
Robby mulai tergoda dengan sekretarisnya sendiri, hingga berani berselingkuh dibelakangnya. Pepatah mengatakan, semakin tinggi pohon maka semakin kencang juga anginnya. Maka dari itu, disaat Robby berada diatas dengan segala kekuasaannya, banyak godaan yang akan mengganggunya.
Hanya dengan satu kesalahan fatal dan kesalahpahaman mereka akhirnya memutuskan untuk bercerai. Yang membuat Mariam sakit hati kepada Robby, dirinya dituduh berselingkuh dengan karyawan yang bekerja sama dengan selingkuhan Robby sendiri. Padahal sudah jelas Robby yang berselingkuh, tapi dia malah memutar balikkan keadaan.
Robby tersenyum, memandangi sekilas wajah Mariam dari kaca spion dalam mobil. Sungguh dirinya sangat menyesal, pernah menyakiti wanita yang sangat dia cintai. Cinta pertamanya, penyemangat hidupnya, napas kehidupannya, pemberi kebahagiaan dan kekuatan hatinya.
"Andai saja saya bisa memutarbalikkan waktu, ingin rasanya saya masih terus seperti dulu Mariam. Tidak pernah ada orang ketiga yang merusak pernikahan kita, rumah tangga kita yang porak poranda, hingga anak semata wayang kita menjadi korban karena keegoisan saya." Ucap Robby dalan hatinya, tanpa sadar air matanya sudah menetes dipipinya.
Mariam dan Ningrum yang menyadari Robby menangis dalam diam, lewat kaca spion dalam mobil sedikit tersentak kaget. Namun, Mariam hanya memalingkan wajahnya dan berpura-pura tidak tahu. Sedangkan Ningrum mengomentari Papa mertuanya.
"Apa Papa sedang menangis? Kenapa ada air mata tiba-tiba dipipi Papa? Apa Papa terharu saat Ningrum memuji Papa?" Tanya Ningrum penasaran.
"Tidak sayang, Papa hanya rindu masa lalu saat masih remaja, kuliah dan KKN seperti saat Abi sekarang ini." Ucap Robby sedikit berdusta, meski banyak sekali yang tidak dia ungkapkan masalah hatinya kepada mantan istrinya.
"Rindu masa remaja, saat kuliah dan KKN? Bukankah papa dan Mama teman kuliah bersama saat itu yah? Berarti Papa sedang merin..." Tanya Ningrum yang langsung terhenti saat Papa Robby terbatuk.
"Uhuk.. uhukk.. uhukk.." Robby berpura-pura batuk menutupi rasa gugupnya yang hampir saja menantunya ungkapkan didepan mantan istrinya yang terindah.
__ADS_1
"Aissh.. Papa kenapa tiba-tiba batuk? Minum dulu Pah!" Tanya Ningrum, lalu menyodorkan botol air mineral kemasan dari tasnya.
"Terima kasih, sayang." Ucap Robby lalu membuka botol minuman tersebut dan meminumnya.
Pak Iwan mengerti betul, yang memang sudah mengenal Pak Robby dari awal pernikahannya hingga saat ini. Dirinya tahu Tuannya itu sengaja batuk, agar Ningrum berhenti membahas dirinya yang menangis mengingat masa lalunya bersama Mariam.
Setelah beberapa menit berlalu, Ningrumpun membahas soal pertanyaannya tadi.
"Pah, tadi Papa belum jawab pertanyaan Ningrum. Apa Papa sudah lebih enak, tidak batuk lagi?" Tanya Ningrum yang menyadari Papa mertuanya batuk yang dibuat-buat untuk menghidari menjawab pertanyaannya.
"Ha.. ha.. ha.. kamu ini bemar-benar mirip Abi suamimu sayang." Tawa Robby yang menyamakan Ningrum dengan Abi anaknya, karena tingkat keponya yang sangat tinggi.
Sontak saja Pak Iwan dan Ningrum, langsung tertawa mendengar ucapan Robby. Sedangkan Mariam hanya tersenyum canggung.
"Kalau mau tertawa ikut tertawa saja Nyonya, jangan ditahan dan lepaskanlah." Ucap Robby melalui kaca spion dalam mobil.
"Cuit.. cuit.. ada yang malu-malu nih!" Ledek Ningrum, kepada Mama mertuanya.
Tidak terasa dengan obrolan mereka, perjalanan merekapun sudah hampir tiba. Abi dan ketiga temannya, ikut menjemput menggunakan motor milik warga desa.
Robby dan yang lainnya turun dari mobil. Mereka langsung memeluk Abi bergantian, lalu menyapa ketiga teman Abi.
"Akhirnya Mama ikut juga kesini, padahal awalnya tidak jadi, bukan? Selamat datang di desa yang terhampar bukit dengan pemandangan indah, lukisan Tuhan yang maha sempurna." Ucap Abi kepada semuanya.
Mariam hanya tersenyum, menanggapi ucapan Abi anaknya.
Mobil Robby dititipkan di desa tetangga, karena memang desa tempat KKN Abi hanya bisa dilalui oleh kendaraan bermotor saja. Jalanan yang berbukit dan terjal untuk menuju ke desa tersebut.
Mariam dan Ningrum terkagum-kagum dengan indahnya pohon teh yang terhampar luas sepanjang mata memandang.
Abi membonceng istrinya, sedangkan yang lain bersama ketiga temannya menuju desa tempat mereka KKN.
--BERSAMBUNG--
__ADS_1
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips juga komentarnya yah. Terima kasih.🙏🙏...