
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Mama Mariam dan Papa Robby seketika terdiam merasakan debaran jantung mereka masing-masing. Betapa terkejutnya keinginan Abi agar mereka bisa rujuk dan kembali menjadi suami istri.
Hati Robby terasa senang dengan jantungnya berdebar-debar, anak semata wayangnya menginginkan rumah tangga kedua orang tuanya kembali terjalin.
Sedangkan Mariam hatinya gundah gulana, saat mendengar keinginan anak semata wayangnya. Jantungnyapun berdebar kencang, namun dirinya tidak bisa berbuat apa-apa, hatinya masih ada yang mengganjal.
Kisah Ibu RT membuat Robby semakin yakin ingin kembali berumah tangga dengan Mariam, menghabiskan sisa umurnya dihari tua nanti bersama wanita yang paling dia cintai.
Meski masih banyak wanita diluar sana yang menginginkan dirinya, bahkan dengan mudah saja dia bisa membeli ja lang untuk memenuhi hasrat laki-lakinya. Tapi, dirinya tidak melakukan itu, karena dirinya hanya mencintai Mariam dari dulu hingga sekarang.
Sedangkan Lusiana adalah kesalahan terbesarnya, yang hingga membuat dirinya masuk kedalam perangkap rayuan berbisanya. Dirinya lupa akan cinta tulus Mariam dan kasih sayang Abi anaknya.
Sekarang Robby sudah kembali menjadi pria yang mencintai Mariam, dirinya tidak akan kembali melakukan kesalahan lagi. Dia berjanji dalam hatinya, akan menjadi pelajaran dalam hidupnya setelah kesalahan yang dia lakukan dimasa lalu.
"Apa yang Jang Abi katakan? Jang Abi ingin Papa dan Mama rujuk? Memangnya Pak Robby dan Ibu Mariam teh sudah bukan suami istri lagi?" Tanya Ibu RT terkejut mendengar Abi mengatakan keinginannya itu.
"Iya Ibu RT, Mama dan Papa bukan sepasang suami istri lagi." Ucap Abi jujur yang dianggukkan oleh Robby dan Mariam.
"Ya Allah, kirain teh masih suami istri saja. Baru saja Ibu mau nyiapin satu kamar istirahat buat Ibu sama Bapak, bekas kamar anak saya." Ujar Ibu RT shock.
"Terima kasih Ibu RT, maaf saya belum mengatakan perihal ini sebelumnya." Sesal Robby meminta maaf.
"Iya tidak apa Pak Robby, sekarang saya mau bereskan piring-piring ini dulu ke dapur, Permisi." Tutur Ibu RT mengerti.
"Saya bantu yah Ibu RT." Ucap Ningrum lalu ikut membawa piring-piring kotor bekas makan mereka.
"Tidak usah Neng, nanti saja biar Ibu yang bawa semua." Tolak Ibu RT merasa tidak enak.
"Tidak apa Ibu, saya sudah terbiasa melakukan hal mudah seperti ini." Ucap Ningrum jujur.
Mariampun ikut membantu, membawakan piring kotor dan sisa makanan kedapur.
Abi dan Papa Robby tersenyum, melihat wanita yang mereka cintai sangat ringan tangan dalam hal pekerjaan. Pak Iwan yang melihat mereka sangat kompak mengagumi wanitanya, dirinyapun berdehem. "Eehemm.."
Sontak saja keduanya langsung melirik kearah Pak Iwan dan tersenyum canggung.
__ADS_1
"Aiish.. bikin kaget saja kamu Pak." Decak Robby kesal, Pak Iwan sudah membuyarkan lamunannya.
Sedangkan Abi gatal mulutnya, ingin meledek Papa Robby.
"Cie.. yang melamunin mantan istri. Dosa loh Pah, sudah ngebayangin wanita yang bukan mukhrimnya. Makanya Pah, ngomong jujur langsung minta nikah saja, siapa tahu langsung ditolak, he.. he.. he.." Ledek Abi dengan kekehannya.
"Aissh.. sayang, kamu kenapa jahat banget sama Papa? Memangnya kamu senang yah, lihat Papa yang seperti ini? Apa kamu engga kasihan sama Papa, hueh..?"
"Iya.. iya.. nanti usai Abi KKN, Abi bantuin ngomong sama Mama dari hati ke hati, kalau engga berhasil juga, Abi minta bantuan Pak Kiai dan Umi. Mama 'kan paling nurut kata Pak Kiai Zain sama Umi Khadijah."
"Benarkah, sayang? Kamu mau bantu Papa untuk rujuk sama Mama kamu?"
"Benar dong Pah! Jangan khawatir, Abi janji deh. Asal dengan satu syarat untuk Papa!"
"Syarat? Apa syaratnya sayang?" Tanya Robby antusias.
"Papa harus setia sama Mama, jangan pernah bikin sakit hati Mama lagi. Jangan pernah Papa berkhianat lagi dan harus selalu sayang dan cinta sama Mama."
"Siap.. sayang! Papa berjanji dengan napas terakhir yang Papa miliki untuk Mama kamu, cinta yang tidak akan pudar sampai azal memisahkan Papa dan Mama."
"Janji apa Al-habib? Terus Pak Iwan kenapa jadi saksi?" Tanya Ningrum curiga, sedangkan Mariam hanya mengerutkan dahinya merasa ada yang aneh dengan mereka bertiga.
"Ah.. Khumairahku sayang, bukan apa-apa. Hanya gurauan saja." Ucap Abi berdusta.
"Aiish.. kamu itu tidak pandai berdusta sayang, pokoknya katakan sekarang, janji apa? Ayo Pah katakan juga? Atau Pak Iwan, ayo katakan Pak Iwan bersaksi apa?" Decak Ningrum sungguh kepo dengan obrolan mereka bertiga.
"I.. itu hanya masalah Pa.." Ucap Abi terhenti saat suara tamu datang mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum.. Pak Robby, Ibu Mariam, Pak Iwan, Nak Abi dan Nak Ningrum." Salam Pak RT menggema menyapa mereka, lalu diikuti oleh Pak Lurah dan Pak RW seraya bersalaman dengan mereka.
"Wa'alaikumsalam, Pak RT, Pak Rw dan Pak Lurah." Sahut salam Abi dan yang lainnya mengikuti, lalu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
"Mari Pak Lurah dan Pak RW, kita duduk bersama disini." Ucap Pak RT dengan ramah.
"Terima kasih, Pak RT." Ucap Pak Lurah dan Pak RW bersamaan, lalu duduk lesehan dilantai beralaskan tikar bersama yang lainnya.
"Ibu.. tolong buatkan minuman untuk Pak Lurah dan Pak RW." Pinta Pak RT kepada istrinya.
__ADS_1
"Siap, Pak." Ucap Ibu RT sigap.
"Maaf sebelumnya Pak Robby, tolong diulangi maksud kedatangan Bapak Robby kedesa Ini. Terima kasih." Ujar Pak RT sopan.
"Baiklah Pak RT, Pak Lurah dan Pak RW, saya akan mengulangi maksud kedatangan saya adalah, yang pertama saya ingin mengunjungi anak saya Abi yang sedang KKN disini, karena saya merindukannya. Yang kedua saya ingin memberikan bantuan dana ini, untuk fasilitas pembangunan Puskesmas dan Klinik 24 jam di desa ini." Jelas Robby dengan gamblang.
"Alhamdulillah wasyukurillah, sungguh mulia hati Pak Robby." Puji Pak Lurah dengan mengucapkan rasa syukurnya.
"Ini Pak.. mohon diterima dana bantuannya. Pembangunan ini bisa dimulai dari sekarang, nanti dilanjutkan sampai dana bantuan dari Pemerintah turun." Ucap Tuan Robby benar adanya.
"Terima kasih banyak Pak Robby dan sekeluarga atas bantuan dana Pembangunan ini, semoga Allah akan membalas berlipat ganda rezeky untuk Bapak." Ucap Pak Lurah dengan mendoakan kebaikan.
"Sama-sama Pak, semoga uang ini bermanfaat untuk kepentingan orang banyak." Ucap Robby bijaksana.
"Maaf Pak Robby, kalau saya boleh tahu, uang sebanyak ini berapa nominalnya? Karena uang ini akan dipertanggungjawabkan kepada masyarakat didesa ini, kami tidak ingin ada kesalahpahaman nanti dengan dana ini." Tanya Pak Lurah yang shock melihat uang sebanyak ini dalam koper.
"Ooh.. jadi harus disebutkan nominalnya yah Pak Lurah?" Tanya Robby mengerutkan dahinya.
"Nominalnya yaitu, sebesar satu Miliar Pak Lurah." Ucap Robby jujur.
Seketika saja Pak RT dan Pak RW mendadak lemas dan shock mendengar angka nominal dana bantuan dari Pak Robby.
"Massya Allah, banyak sekalih Pak Robby. Saya terharu Pak, hikkz.. hikzz.. hikzz.." Ucap Pak Lurah, menangis haru saat mendengar angka nominal yang disebutkan oleh Pak Robby.
Ibu RTpun hampir saja terjatuh saat membawa minuman teh untuk Pak RT dan Pak RW, dirinyapun mendengar angka nominal dana tersebut yang jumlahnya sangatlah besar.
"Astagfirulloh, besar sekalih jumblahnya." Ibu RT beristighfar mendengar dana sebesar itu.
"Hati-hati, Ibu RT." Ucap Abi mengingatkan, saat melihat Ibu RT itu hampir jatuh saat membawa minuman di nampannya.
"Iya, jang Abi kasep." Ucap Ibu RT.
Akhirnya dana itu sudah diserah terimakan oleh Papa Robby kepada Pak Lurah, Pak RT dan Pak RW sebagai saksi. Mulai besok dana itu akan dibelanjakan, untuk pembelian bahan baku material untuk segera dimulai pembangunannya. Peletakan batu pertamapun akan dilakukan oleh Papa Robby, selaku yang bertanggung jawab atas pembangunan Fasilitas Kesehatan tersebut.
--BERSAMBUNG--
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips juga komentarnya yah. Terima kasih.🙏🙏...
__ADS_1