
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Pak Kiai merasa heran saat Direktur PT Dirgantara Grup itu menatap Ibu Mariam tanpa berkedip, sedangkan Ibu Mariam hanya menundukkan kepala, sedang berpikir keras, mengapa setelah sekian lama harus bertemu dengan orang yang sangat dia benci selama ini.
"Tuan.. Tuan... apakah Tuan, baik-baik saja?" Tanya Pak Kiai besar, seraya melambaikan jari tangannya pelan di depan wajah Robby.
"I.. iya Pak, saya baik-baik saja. Saya sedikit terkejut saja." Ucap Robby gugup, namun dia begitu bahagia bisa datang ke Pondok Pesantren ini dan melihat mantan istrinya ada di tempat yang sama.
Robby penasaran, apa yang dilakukan mantan istrinya di Pondok ini. Istrinya semakin bertambah cantik dan dewasa dengan mengenakan hijab saat ini.
Robby kagum akan penampilan mantan istrinya, dia tidak henti-hentinya mencuri pandang dengan mantan istrinya itu. Meski yang dipandang, sedari tadi menunduk dan sesekali berbicara dengan Umi Khadijah saja.
"Ooh.. terkejut? Maksud Tuan? Terkejut kenapa?" Tanya Pak Kiai Zain heran.
Manager Bambang, Umi Khadijah, Ustad Azis dan Ningrum juga merasa heran, hanya Mariam saja yang terlihat gugup saja.
Mariam berucap dalam hatinya. "Semoga saja orang ini, mantan suamiku tidak bicara yang aneh-aneh."
"He.. he.. he.. maksud saya, saya terkejut sangat senang bisa bertemu langsung dengan Bapak Kiai besar, Pemilik Pesantren ini yang cukup tersohor di kotanya." Kekeh Robby berdusta, menutupi keterkejutannya saat ini.
Hati Mariam sedikit lega, karena mantan suaminya tidak menyinggung dirinya. "Alhamdulillah.." Ucap Mariam dalam hatinya, diapun bisa sedikit berkurang rasa gugupnya.
Walau bagaimanapun, sebenci apapun Mariam kepada mantan suaminya. Dia tetaplah Papa kandung dari Abi anaknya. Namun hatinya terasa sesak, jika teringat dulu saat dia bercerai hanya karena salah paham, yang ternyata semua itu disebabkan oleh mantan sekretaris suaminya sendiri.
"Ha.. ha.. ha.. Tuan ini bisa saja kalau memuji. Semua itu terlalu berlebihan, masih banyak Pondok Pesantren yang jauh lebih besar dan terkenal di kota ini. Saya sih bukan apa-apanya dibanding dengan Pesantren yang lainnya." Pak Kiai tertawa saat dipuji, namun dirinya langsung merendah dan tidak tinggi hati.
"Maaf, saya hampir lupa memperkenalkan diri saya sebelumnya. Perkenalkan nama saya Robby Dirgantara, pemilik Perusahaan Percetakkan Dirgantara grup." Robby berjabat tangan dengan Pak Kiai Zain lalu merangkulnya.
"Ooh iya, nama saya Kiai Zain Ahmad, Tuan pendiri Pondok Pesantren ini." Ucap Pak Kiai Zain lalu menerima rangkulan dari Robby.
__ADS_1
Setelah mereka melepaskan rangkulannya, Pak Kiaipun menyapa dan berjabat tangan dengan Manager Bambang.
"Mari silahkan duduk Tuan-tuan." Tawar Pak Kiai dengan ramah kepada keduanya.
"Terima kasih, Pak Kiai Zain Ahmad." Ucap Robby, lalu diikuti oleh Manager Bambang.
"Iya, Tuan. Perkenalkan ini istri saya Umi Khadijah, ini menantu saya Ningrum dan ini Ibu guru Mariam, yang akan menggantikan tugas sementara anak saya, Madinah. Lalu itu Ustad Azis yang tadi sudah menjemput Tuan." Ucap Pak Kiai Zain, memperkenalkan satu persatu orang yang ada di dekatnya.
"Salam kenal Umi Khadizah, salam kenal Nona Ningrum, salam kenal.." Ucap Robby terhenti saat matanya beralih menatap wajah mantan istrinya.
Umi Khadizah dan Ningrum sudah tersenyum dan menyapa juga saat menyambut salam kenal dari Tuan Robby, namun mereka tiba-tiba merasa heran saat melihat Tuan Robby memandang Ibu Mariam begitu berbeda.
Mariam merasa canggung dan serba kikuk saat ditatap mantan suaminya. Akhirnya diapun membuka suaranya dan berucap. "Maaf Tuan, tolong jaga pandangan anda. Tidak baik memandang wanita yang bukan mukhrimnya terlalu lama."
"Ooh.. maaf Nyonya M.. mariam, s... saya tidak mengerti soal itu." Ucap Robby gugup, lalu menundukkan pandangannya ke bawah.
Bambang yang sedikit pamiliar dengan wajah Nyonya Mariam, sedikit paham akan sikap Boss besarnya tersebut.
"Sepertinya, ini mantan istri Tuan Robby yang pertama." Ucap Manager Bambang dalam hatinya.
Manager Bambang bekerja di Perusahaan Percetakkan Tuan Robby baru enam tahun, jadi saat itu dia belum begitu dekat dengan Bossnya, apa lagi keluarganya. Namun dia pernah mendengar namanya dan melihatnya sesekali saat ada acara Perusahaan, ataupun melakukan kunjungan sesekali ke Perusahaan.
"Ha.. ha.. ha.. Tuan Robby ini sungguh Pemimpin Perusahaan yang sangat baik yah, mau memenuhi keinginan kami dan memberikan potongan harga sepuluh persen untuk kami." Tawa Pak Kiai memuji tamunya untuk menghilangkan rasa canggung yang sedang terjadi.
"He.. he.. he.. Pak Kiai terlalu memuji. Saya hanya ingin memberikan pelayanan terbaik, untuk para konsumen. Sayapun akan memberikan potongan harga, jika masih dalam kewajaran. Saya akan mempioritaskan, konsumen yang sudah berlangganan lama dengan Perusahaan Percetakan saya." Kekeh Robby menjelaskan dengan panjang lebar.
"Saya permisi dulu untuk membuatkan minuman untuk Tuan-tuan, bolehkan saya tahu Tuan ingin dibuatkan minuman apa?" Tanya Ningrum dengan sopan dan ramah.
"Terima kasih Nona Ningrum, saya dibuatkan teh manis saja." Ucap Robby seraya sekilas menoleh ke arah mantan istrinya berada.
__ADS_1
Ningrum semakin curiga dengan sikap Tuan besar dihadapannya, karena sering sekali mencuri pandang dengan Mama mertuanya. "Jangan-jangan, ini Tuan Robby Papanya suamiku? Berarti mantan suami Mama Mariam?" Tanya Ningrum dalam hatinya.
"Kalau saya, air putih hangat saja Nona." Ucap Manager Bambang, dengan tersenyum ramah.
"Iya baiklah, saya akan buatkan secepatnya." Ucap Ningrum ramah.
Ningrum kedapur untuk membuatkan minuman untuk tamu istimewa mereka.
"Apakah Tuan Robby ini sudah memiliki keluarga?" Tanya Pak Kiai membuka obrolannya.
"Sudah Pak Kiai, namun saat ini saya sedang hidup sendiri, saya sudah kehilangan istri dan anak yang sangat saya cintai." Ucap Robby jujur, dengan wajah yang memerah menahan kesedihan.
"Deg.." Jantung Mariam tiba-tiba berdebar kencang.
"Kenapa jantungku seperti ini? Rasanya hatiku sakit sekalih saat mantan suamiku mengatakan hal menyedihkan itu? Apa yang terjadi dengan istri barunya? Apa dia juga sudah bercerai dengan si Lusia?" Mariam bermonolog dalam hatinya.
Tanpa sadar, Ibu Mariam menyenggol gelas air minum yang sedang dibawa Ningrum untuk disuguhkan kepada tamu dihadapannya.
"Praang.." Bunyi gelas terjatuh.
"Mama.. maafin Ningrum. Apa Mama terluka? Mama awas kakinya tolong di angkat, Ningrum takut Mama terkena pecahan gelas itu." Tanya Ningrum panik, seraya menyibakan baju gamis mertuanya.
Sontak saja semuanya ikut panik, saat Mariam menyenggol dan menjatuhkan gelas air minum yang sedang di bawa oleh Ningrum.
Namun Robby sedikit terkejut, mendengar Ningrum memanggil mantan istrinya dengan sebutan Mama. Hatinya bertanya-tanya, seolah-olah dia bingung dengan situasi yang ada dihadapannya. "Mengapa Mariam mempunyai anak yang sudah dewasa? Apa dia sudah menikah lagi? Dengan siapa? Apa dengan Pak Kiai Zain? Tapi Umi Khadijah istrinya? Apa jangan-jangan Mariam dijadikan istri keduanya? Karena Ningrum ini adalah menantunya Pak Kiai."
--BERSAMBUNG--
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....
__ADS_1