Cinta Tulus Abi

Cinta Tulus Abi
Makan Malam Istimewa


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Mereka menikmati makan malam yang lezat malam ini, dengan penuh tawa dan kehangatan dalam keluarga besar.


Robby merindukan makan malam istimewa yang seperti ini, saat dirinya masih bersama Mariam dan Abi. Robby membayangkan masa indah dulu, diapun tanpa sadar mengukir senyum dibibirnya.


"Makanannya sungguh lezat dan enak, Tuan Robby. Sungguh makan malam yang tidak bisa kita lupakan, kalau makan besar seperti ini bersama keluarga yang kita cintai dan sayangi." Ujar Pak Kiai jujur.


"Alhamdulillah, kalau Pak Kiai dan seluruh keluarga besar menyukai dan menikmati makanannya." Ucap Robby bersyukur, seraya tersenyum lebar.


"Kami sangat menyukai dan menikmati makanannya, Tuan Robby." Umi Khadijah ikut menyumbangkan suaranya.


"He.. he.. he.. iya Tuan Robby, saya dan suami juga sangat menikmati makanannya. Lihat saja perut suami saya, sampai besar seperti ini." Kekeh Madinah ikut menimpali, seraya menunjuk perut suaminya.


"Ha.. ha.. ha.. " Semua tertawa saat melihat Ustad Faris memajukan bibirnya sebal, karena perutnya dibawa-bawa oleh istrinya.


Setelah mereka menyelesaikan sesi makan bersama, akhirnya Robby berbincang-bincang dengan Pak Kiai lebih akrab. Selain membahas masalah pekerjaan, Robbypun membahas masalah pribadinya.


Abi kembali melepas rindu bersama Mbo Tami dan Pak Iwan. Mereka nampak bahagia, karena hari ini bisa melihat anak majikannya yang ternyata sudah menikah. Ningrum dan Mama Mariampun, ikut bergabung dengan mereka.


"Aden bagaimana ceritanya, Aden dan Ibu guru bisa menikah? Bukankah Ibu guru ini sudah menikah dulu, saat Aden Abi masih tinggal dirumah Papa Aden?"


"Ceritanya cukup singkat Mbo, Ibu guru ini adalah jodoh Abi yang memang untuk Abi dari Allah, meski Ibu guru sudah menikah."


"Mbo Tami ini yang suka menyamar jadi orang tua palsu untuk Abi, bukan? Kalau Abi dapat surat teguran dari guru BP dan wali kelas." Tanya Ningrum, saat mengingat wajah Mbo Tami yang sedikit familiar.


"He.. he.. he.. iya Ibu guru. Ternyata Ibu guru, masih ingat saja sama wajah saya." Mbo Tami terkekeh saat dirinya ketahuan juga soal penyamarannya dulu.


"Memang Mbo, suami saya ini orangnya sangat nekat. Jatuh cinta saat usianya masih sangat muda kelas satu SMA, sudah itu jatuh cintanya sama saya gurunya sendiri. Sudah itu ditolak dan akhirnya saya menikah karena perjodohan orang tua. Hingga saat kami dipertemukan kembali, selama empat tahun tidak berjumpa, ternyata dia masih menyukai saya. Padahal saya sudah menikah dan menjadi janda."


"Itulah yang namanya jodoh Ibu guru, semuanya sudah diatur oleh sang pencipta." Ucap bijak Mbo Tami.

__ADS_1


"Tapi, khumairahku ini masih orizinil Mbo, masih disegel, meski sudah janda. Dia belum pernah disentuh sama suaminya yang dulu, karena beliau sakit lalu meninggal." Abi berbisik ditelinga Mbo Tami.


"Ooh.. begitu yah Aden." Ucap Mbo Tami, seraya mengangguk-angguk kepalanya pelan.


"Aiish.. issh.. issh.. banyak orang, kenapa kamu berbisik begitu, Al-habibku?" Tanya Ningrum penasaran, dengan apa yang dibisikkan suaminya kepada Mbo Tami.


"He.. he.. he.. iya sayang, engga berbisik lagi deh janji." Abi terkekeh, saat istrinya begitu penasaran dengan apa yang dia bisikkan dengan Mbo Tami.


Mama Mariam dan Pak Iwan, hanya menyimak dan menonton perdebatan suami istri yang terlihat sangat manis.


"Nyonya Mariam, apakah selama ini Nyonya tinggal di Pondok Pesantren ini?" Tanya Mbo Tami, seraya menyentuh tangan halus mantan istri majikannya itu.


"Iya Mbo." Jawab Mariam singkat.


"Bagaimana ceritanya, Nyonya?" Tanya Mbo Tami penasaran.


"Ceritanya hanya singkat Mbo, saat itu saya hanya membantu Ustadjah Madinah di pasar, hingga berakhir disini. Waktu itu saya memang tidak punya tempat tujuan, karena saya memang sudah yatim piatu saat sebelum menikah." Ujar Mariam jujur.


"Alhamdullilah Mbo Tami, saya kerasan disini dan bahagia mempunyai keluarga baru. Bahkan Allah sudah sangat baik, mempertemukan saya dengan Abi anak saya." Ucap syukur dari bibir Mariam dengan penuh haru, tanpa sadar air matanya menetes dipipi cantiknya.


Mbo Tami tersenyum, lalu memeluk Nyonya Mariam dengan sangat erat. Sontak saja pemandangan itu tidak luput dari tatapan Robby, meski dirinya duduk berjauhan dari mereka.


Mbo Tami dan Mariam mengurai pelukkan mereka, lalu merekapun tersenyum dalam tangisnya.


"Nyonya sudah lega sekarang, yah? Apa Nyonya sudah menikah lagi?" Tanya Mbo Tami dengan wajah serius.


"Kenapa Mvo Tami menanyakan perihal saya menikah lagi atau belum?" Mariam malah balik bertanya.


"He.. he.. sebelumnya, jika Nyonya belum menikah lagi, berarti ada kesempatan untuk Tuan Robby kembali kepada Nyonya." Kekeh Mbo Tami, saat mengingat betapa Tuannya itu ingin Mariam kembali kedalam pelukkannya.


"Aiish.. Mbo ini suka ngomong aneh-aneh saja." Decak Mariam seraya menggelengkan kepalanya heran.

__ADS_1


"He.. he.. he.. maaf Nyonya, Mbo Tami keceplosan ngomongnya." Kekeh Mbo Tami meminta maaf.


"Iya Mbo, bukan masalah." Ucap Mariam maklum, dia kenal betul sifat dan karakter Mbo Tami.


"Mbo Tami, kenapa bisa sampai kurus seperti ini? Dari tadi saya penasaran dengan jawaban Mbo Tami." Tanya Abi sekali lagi, pasalnya tadi saat dirinya sedang bertanya seperti itu, ucapannya terhenti saat Papa Robby menyelanya.


"Badan saya kurus, karena terpaksa diet Aden. Istri baru Tuan Robby, tidak pernah mengajak saya makan bersama mereka. Saya makan kalau ada sisa makanan bekas mereka makan. Jatah masakpun, setiap harinya dipas oleh Nyonya Lusia." Jelas Mbo Tami jujur dengan apa yang dia alami.


"Astagfirulloh, dasar nenek sihir, jahat sekalih dia kepada Mbo Tami." Maki Abi, kepada mantan Mama tirinya itu.


"Tapi, saya sekarang bersyukur Den, jika Tuan Robby dan Nyonya Lusia sudah berpisah. Saya kasihan Den sama Tuan Robby, selama menikah dengan nenek sihir itu."


"Memangnya kenapa Mbo, Papa saya bercerai dengan nenek sihir itu." Tanya Abi penasaran.


"Nenek sihir itu sering membawa masuk laki-laki ke dalam kamarnya, saat Tuan Robby keluar kota untuk beberapa hari."


"Haaah.. ? nenek sihir itu sungguh memalukan Mbo! Kasihan Papa kalau begitu." Ucap Abi terkejut.


"Begitulah Aden, Nyonya. Mungkin itu balasan untuk Tuan Robby, agar dirinya sadar akan kesalahannya selama ini, yang sudah mengusir anak kandungnya sendiri."


"He.. he.. he.. iya juga Mbo, bisa jadi seperti itu. Mbo tidak tahu, betapa beratnya saya menjalani hidup sendiri, sebatang kara selama empat tahun. Hidup untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah saya." Abi terkekeh, seraya menangis saat mengingat hidup sulitnya saat itu.


Abi berjuang untuk bertahan hidup, dengan cara melakukan balapan liar, yang bayarannya berbeda-beda. Sesuai dengan jarak tempuh dan tingkat kesulitan mereka, saat akan melakukan balapan liar tersebut.


"Maafin Mbo Tami yah, Aden. Mbo Tami tidak bisa membantu saat Aden diusir dari rumah. Saat itu Mbo tidak bisa berbuat apa-apa."


"Iya, Mbo." Ucap Abi seraya meneteskan air matanya kembali.


"Maaf.. ! Apa saya boleh bergabung?"


--BERSAMBUNG--

__ADS_1


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....


__ADS_2