Cinta Tulus Abi

Cinta Tulus Abi
Wanita Itu


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Ningrum jadi serba salah, dia ingin pergi tapi takut Tante Mariam merasa aneh, jika tetap di sini dirinya merasa canggung karena ada Abi, mantan anak muridnya yang kini sudah beranjak dewasa.


"Kenapa diam saja di situ? Sini sayang, duduk disamping Tante."


"M.. maaf Tante, ganggu jadinya." Ucap Ningrum gugup.


"Engga, ini anak Tante, kamu tadi pagi sudah kenal, bukan? Kalau Abi memang anak Tante, dan Nak Ningrum mantan guru SMA Abi dulu, bukan? Tadi Abi banyak bercerita tentang Ibu Ningrum."


"I.. iya, Tante." Ucapnya gugup, saat tahu kebenaran dirinya di mata Tante Mariam.


Abi yang menatap lekat dirinya tidak berkedip, membuat Ningrum makin salah tingkah.


"Sayang, Mama mau bicara sama Nak Ningrum, apa kamu bisa keluar sebentar, sayang? Sepertinya, Ibu Ningrum tidak nyaman ada kamu di sini."


"Iya, Mama." Sahut Abi singkat seraya pergi meninggalkan mereka berdua.


"Mari, Bu guru." Pamit Abi ramah, seraya tersenyum dan menundukkan kepalanya sedikit.


"I.. iya." Sahut Ningrum gugup.


Abi meninggalkan Mereka berdua dengan perasaan bahagia, bagaimana tidak bahagia, kedua orang yang paling dirindukannya, ada di dekatnya sekarang.


"Ada apa Nak Ningrum, sayang." Tanya Mama Mariam, saat mereka sudah duduk berdua diatas kasur.


"Begini Tante, kata Pak Kiai besar, Pak Ustad Faris tidak bisa mengajar selama satu minggu ke depan, katanya ada urusan keluarga di Jember tempat tinggal kedua orang tuanya."


"Berarti jam pelajaran Ustad Faris, selama seminggu ini kosong?"


"Iya Tante, belum ada penggantinya. Kata Bapak Kiai, tugas Ustad Faris akan di bagi kepada jam mata Pelajaran, yang mempunyai waktu senggang. Misalkan hari ini Tante senggang, bisa mengisi jam tersebut. Lalu jika Ningrum ada waktu senggang, bisa juga mengisi jam kosong Pak Ustad Faris."


"Iya sudah, berarti semingu ini kita akan sibuk mengisi kekosongan jam pelajaran Ustad Faris?"


"Yah bisa dibilang begitu, Tante."


"Baiklah kalau begitu, sayang. Terima kasih atas informasinya.


"Iya Tante, saya permisi dulu."


"Iya Nak Ningrum, sayang."


Ningrum keluar pintu kamar Tante Mariam, saat dia hendak ke dapur, netranya menangkap Abi yang sedang menuang air minum di gelas. "Eeeh.." Ucap Ningrum terkejut, sontak saja Abi langsung menoleh ke arah suara.


"Ibu guru? Ada apa? Kenapa Ibu kaget gitu? Memangnya Ibu habis liat hantu?" Tanya Abi, dengan menggodanya.

__ADS_1


"Apa? Hantu? Yang ada juga, Pria tampan yang seperti Pangeran berkuda, Abi." Bathin Ningrum berucap.


"Ibu melamun yah?" Tanya Abi, saat melambaikan tangannya di depan wajah Ningrum.


"I.. itu eeeh e.. engga, Abi." Ucap Ningrum gugup.


"Itu apa, Bu guru?" Tanya Abi penasaran.


"I.. itu, saya mau masak buat makan sore, Abi." Ucap Ningrum jujur, dengan bibir bergetar gugup.


"Ooh.. "Hanya itu yang Abi ucapkan, namun netranya masih menghunus tajam wajah Ningrum, yang nampak malu dan menunduk.


"M.. maaf Abi, tolong alihkan pandanganmu, kita bukan mukhrim, jadi di agama kita, di larang memandang lebih dari 3 detik." Ucap Ningrum tegas, tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun, dari wajahnya yang menunduk.


"Eeh.. iya Bu guru, saya minta maaf." Ucap Abi jadi salah tingkah, kemudian netranya beralih ke tempat lain.


"I.. ya Abi, sama-sama saya juga minta maaf." Ucap Ningrum gugup.


"Ibu guru Abi mau ke kamar Mama dulu, maaf atas sikap saya tadi, berarti kalau ingin menatap Ibu Ningrum lebih dari tiga detik, harus jadi mukhrimnya Ibu guru dulu yah?" Tanya Abi menggoda, tanpa melihat wajah Ningrum, kemudian Abipun pergi meninggalkan Ibu Ningrum yang masih bergeming.


"Haaah? Apa maksud dari perkataannya? Apa mungkin Abi masih mengharapkanku? Aku yang sudah menjadi janda, masa iya dia masih mau denganku? Meskipun statusku janda, tapi aku belum sempat disentuh oleh suamiku. Kenapa aku berharap lebih? Kamu sudah mulai tidak waras Ningrum!" Bathinya bermonolog.


Ucapan Abi masih terngiang di isi kepalanya Ningrum, sungguh dia tidak percaya dengan ucapan Abi barusan, yang merupakan mantan anak muridnya yang genius.


"Adik, kenapa melamun di situ? Sampai tidak menyadari, ada Kakak sama Umi datang." Tanya Madinah yang merupakan Kakak ipar Ningrum.


"Sekarang kita mau masak apa?" Tanya Umi Khadijah.


"Memasak sayur lodeh, dan telur balado saja, bagaimana?" Usul Kak Madinah.


"Boleh Kak." Ucap Ningrum.


"Iya itu tidak apa-apa juga, sangat mudah." Ucap Umi Khadijah.


"Baiklah mari kita siapkan bahan-bahannya, dan langsung kita eksekusi." Ujar Kak Madinah bersemangat, seraya mengeluarkan bahan-bahan masakan dari dalam kulkas.


Akhirnya merekapun memasak dengan santai, seraya berbincang-bincang hangat seperti biasanya yang mereka lakukan.


*******


Sekembalinya Abi dari dapur, Abi kembali merebahkan tubuhnya di pangkuan Mama Mariam. Abi mulai bercerita tentang wanita yang pernah dia sukai, dan cintai sampai detik ini kepada Mama Mariam. Namun Abi tidak menyebutkan nama wanita tersebut, karena Abi tidak ingin Mama Mariam shock jika tahu nama wanita tersebut.


"Kamu sungguh-sungguh mencintainya, sayang?"


"Iya, Mama."

__ADS_1


"Tapi, dia itu sudah menikah, memangnya kamu tidak bisa mencari wanita yang masih lajang, sayang? Kamu itu masih muda, dan kamu itu sangat tampan, sayang. Di luar sana, pasti banyak wanita yang mau menjadi istri kamu."


"Tapi cinta tidak bisa di paksakan Mama, cinta tidak mengenal kasta, cinta tidak mengenal usia, dan cinta tidak mengenal status."


"Apa yang kamu bilang memang benar, tapi usiamu masih sangat muda untuk menikah, sayang."


"Kalau Abi harus menunggu lebih lama lagi, nanti Abi takut wanita itu akan di nikahi oleh orang lain lagi, Mama."


"Dari tadi kamu bilang wanita itu terus, tidak pernah menyebutkan namanya. Kalau Mama boleh tahu, siapa nama wanita itu, sayang?"


"Abi belum siap Mama tahu, nanti kalau sudah waktunya Mama akan tahu sendiri."


"Heeem.." Hanya gumaman yang terdengar dari mulut Mama Mariam. Dirinya merasa aneh dengan cinta anaknya, yang hanya menyukai wanita yang berstatus janda itu.


"Abi sayang, kamu besok kuliah?"


"Abi libur 2 minggu Mama, baru habis semester seminggu kemarin. Ada apa Mama tanya soal kuliah?"


"Engga, kalau kuliah 'kan kamu nanti harus pulang ke kossan, bukan?"


"Iya sih Mam, tapi ijinin Abi tinggal disini selama dua minggu saja. Jika liburan Abi sudah selesai, Abi akan balik ke kossan di Jakarta."


"Okay, sayang."


*******


"Nak Abi, apakah Nak Abi betah tinggal disini?" Tanya Pak Kiai, saat mereka usai sholat magrib berjamaah.


"Betah Pak Kiai Zain."


"Apakah Nak Abi, kuliah?"


"Iya, Pak Kiai Zain."


"Berarti Nak Abi besok masuk kuliah?"


"Saya dua minggu libur semester Pak Kiai."


"Oooh.. kebetulan kalau begitu, apakah Nak Abi bisa membantu Pak Kiai?"


"Kalau boleh saya tahu, bantu apa yah Pak Kiai?"


"Bantu Pak Kiai untuk mengajar anak murid santriwati, karena seminggu ini Ustad Fariz pulang ke Jember, ada keperluan keluarga."


"Haah.. jadi guru Santriwati? Memangnya aku bisa? Mungkin perlu di coba dulu." Bathin Abi bermonolog.

__ADS_1


--BERSAMBUNG--


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....


__ADS_2