
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Di PT. Dirgantara Grup.
Robby sedang duduk di kursi kebesarannya, dengan membaca berita tentang keberadaan Abi anaknya.
Sudah hampir dua minggu semenjak pengusiran istri keduanya dan kedua anak tirinya, Robby berusaha mencari keberadaan Abi anak kandung satu-satunya, yang telah dia usir empat tahun yang lalu.
Robby semenjak kejadian saat itu, menyesal dengan apa yang dia lakukan selama ini. Namun, hingga kini diapun belum juga menemukan keberadaan anak kandungnya itu.
Setiap hari Robby seakan frustasi, menyerah dengan dirinya yang tidak kunjung menemukan jejak anaknya itu.
"Selamat siang Tuan Robby, saya mau menyampaikan ada beberapa pesanan buku cetak untuk ajaran baru dari Pondok Pesantren di Bogor." Ujar Manager Perusahan yang bernama Bambang.
"Siang Manager Bambang, iya sudah kamu siapkan semuanya. Lalu kamu tanyakan, untuk semua kelas atau hanya beberapa kelas saja?" Tanya Robby dengan rinci.
"Dari pihak Pimpinan Pesantren, katanya mereka ingin bertemu langsung dengan Tuan Direktur PT. Dirgantara Grup." Ujar Bambang dengan jujur.
"Iya sudah, tinggal diatur pertemuannya." Ucapnya Robby setuju dengan apa yang dikatakan oleh Managernya itu.
"Tapi, ada satu problem Tuan." Ucapnya Manager Bambang sedikit ragu-ragu, seraya menyerahkan berkas dokumen di hadapan Tuan Robby.
"Apa lagi? Kamu jangan bikin saya tambah banyak masalah. Saya sedang pusing, dengan masalah anak saya yang belum juga ketemu keberadaannya. Lalu ini apa hah..?" Bentak Tuan Robby seraya mengangkat berkas dokumen.
"I.. itu Tuan, berkas dokumen Proposal yang diajukan oleh pemilik Pondok Pesantren, yang memesan beberapa buku cetak untuk ajaran sekolah baru." Jelas Manager itu dengan gamblang.
"Ooh.. saya periksa dulu." Ucap Robby pada akhirnya.
Robbypun membaca berkas proposal, yang diajukan oleh Pimpinan Pesantren tersebut dengan teliti. Setelah Robby memahami isi dan maksud dari isi berkas tersebut, akhirnya Robbypun setuju untuk menemui Pimpinan tersebut di Pondok Pesantrennya.
"Jadi Tuan Robby mau menemui Pimpinan Pesantren tersebut?" Tanya Manager Bambang dengan wajah serius.
"Iya, saya akan menemuinya besok. Walau bagimanapun mereka adalah pelanggan setia kita selama bertahun-tahun. Selama ini 'kan kamu terus yang menemui Pimpinan Pondok Pesantren itu, besok biar saya juga ikut untuk menemuinya." Ujar Robby dengan gamblang.
"Jadi, Tuan Robby setuju untuk memberikan potongan harga cetak buku sebanyak sepuluh persen?" Tanya Manager Bambang, yang sudah tahu isi proposal yang diajukan oleh Pimpinan Pesantren tersebut.
"Iya, saya akan memberikan diskon sepuluh persen, karena Pondok Pesantren ini sudah menjadi langganan kita selama ini." Ucap Robby sungguh-sungguh seraya tersenyum mengembang.
"Baiklah besok saya akan atur keberangkatan kita ke Pondok Pesantren di Bogor." Ujar Manager Bambang, seraya mengambil berkas proposal tersebut dari meja kerja Tuan Robby.
Manager Bambangpun sudah memberitahukan kepada pihak terkait dari Pondok Pesantren tersebut, bahwa besok mereka akan menemuinya di sana.
__ADS_1
*******
Di Pondok Pesantren Kiai Zain Ahmad.
Umi Khadijah menemui Mariam di kamarnya.
"Assalamu'alaikum, Ibu guru Mariam." Salam Umi menggema di dalam kamar Mariam.
"Wa'alaikumusalam, Umi. Ada apa gerangan Umi, sampai harus menghampiri Mariam kemari?" Tanya Mariam penuh selidik.
"Umi hanya ingin mengatakan, jika nanti siang akan ada tamu dari Pimpinan Percetakan buku ajaran baru untuk sekolah kita. Pimpinan itu setuju dengan Proposal yang Madinah ajukan, yaitu meminta keringanan harga sebanyak sepuluh persen."
"Sungguh begitu Umi? Kalau begitu baik sekalih Perusahaan percetakan itu."
"Iya Ibu Mariam, kami memang sudah berlangganan tiap tahun dengan Perusahaan percetakan itu. Tapi, baru kali ini kami akan bertemu dengan Direkturnya. Semua ini karena permintaan Pak Kiai, tanpa disangka beliau mau bertemu dengan kami."
"Alhamdulilah yah Umi, saya jadi penasaran ingin bertemu dengan beliau." Ucap Mariam penasaran.
"Iya, memang Umi datang kesini untuk meminta Ibu Mariam untuk mengantikan Madinah, karena Madinah hari ini harus menemani suaminya Ke Bandung." Ujar Umi jujur, seraya menepuk jari tangan Mariam lembut.
"Ooh.. pantas saja tadi saya lihat Ustadjah Madinah dan Ustad Faris sudah pergi pagi-pagi sekalih." Mariam mengangguk-anggukan kepalanya pelan.
"Apakah Ibu Mariam mau menggantikan tugas Madinah?" Tanya Umi Khadijah.
"Terima kasih Ibu Mariam, sekarang silahkan untuk bersiap-siap." Ucap Umi Khadijah.
"Sama-sama Umi Khadijah." Sahut Mariam.
"Umi mau kembali ke Pak Kiai, untuk mengatakan jika Ibu Mariam mau menggantikan tugas Madinah sementara. Nanti, biar Ningrum saja yang mengantarkan copyan Proposalnya ketangan Ibu Mariam. Assalamu'alaikum..." Ucap Umi Khadijah, seraya mengucap salam saat meninggalkan kamar Mariam.
"Wa'alaikumusalam..." Ucap salam Mariam dengan tersenyum mengembang.
Umi Khadijahpun, akhirnya menemui suaminya Pak Kiai Zain Ahmad. Umi mengatakan, jika Ibu Mariam bersedia menggantikan Ustadjah Madinah.
Pak Kiai Zainpun sangat senang, karena hari ini akan bertemu langsung dengan Direktur Perusahaan Percetakkan, yang akan mencetak langsung buku pelajaran ajaran baru.
*******
Tuan Robby dan Managernya Bambang sudah menaiki mobilnya untuk mendatangi Pondok Pesantren di Bogor.
Entah mengapa suasana hati Robby kali ini begitu tenang dan santai, padahal dua minggu belakangan ini pikirannya sedang kacau.
__ADS_1
Manager Bambangpun ikut senang, jika Boss besarnya itupun terlihat baik-baik saja.
"Tuan, sepertinya hari ini wajah Tuan sangat berbeda, tidak seperti kemarin-kemarin. Saya ikut senang melihat wajah anda yang begitu cerah Tuan." Ujar Manager Bambang, dengan menunjukkan senyum menawannya.
"He.. he.. he.. bisa saja kamu, saya itu sangat senang karena kita akan datang ke Pondok Pesantren untuk pertama kalinya. Saya ingin sekalih mendapat kedamaian dan ketenangan nanti disana." Kekeh Robby dengan alasannya.
"Ooh.. jadi seperti itu Tuan. Pantas saja, hari ini Tuan tidak marah-marah dan selalu tersenyum." Ucap Bambang jujur.
"Aiish.. bisa engga mulut kamu itu jangan julid? Dasar kamu Manager engga tahu sopan santun, sama Bosnya sendiri. He.. he.. he.." Omel Robby seraya terkekeh.
"He.. he.. he.. maaf Tuan, saya hanya keceplosan." Ucap Bambang seraya terkekeh.
Pak supir hanya menggelengkan kepalanya pelan, melihat kedua orang penting dibangku penumpang yang sedang saling melempar banyolan.
Hampir satu jam tiga puluh menit, perjalanan mereka akhirnya sampai juga di halaman parkir Pondok Pesantren milik Pak Kiai besar Zain Ahmad.
"Ini, Pondok Pesantrenya?" Tanya Robby, seraya mengedarkan pandangannya kesegala penjuru.
"Iya Tuan Robby, silahkan turun." Ucap Pak Supir pribadi Tuan Robby, seraya membukakan pintu mobil untuk Bos besarnya itu.
"Terima kasih, Pak." Ucap Robby saat sudah turun dari mobilnya.
"Sama-sama, Tuan." Ucap Pak Supir itu seraya menutup pintu mobilnya.
Kemudian merekapun memasuki ruangan Pondok Pesantren tersebut, di sambut oleh Pak Ustad Azis salah satu guru di sana.
"Mari ikuti saya, Tuan-tuan." Ucap Ustad Azis ramah.
Tuan Robby dan Manager Bambangpun mengikuti langkah Ustad Azis.
"Silahkan masuk Tuan-tuan." Tawar Ustad Azis mempersilahkan masuk.
"Terima kasih, Ustad Azis." Ucap Manager Bambang, kemudian di ikuti oleh Robby.
"Sama-sama."
"Assalamu'alaikum.." Ucap salam Bambang dan Robby bersamaan.
"Wa'alaikumusalam warohmatullohi wabarokatuh." Ucap salam Pak Kiai Zain, Umi Khadizah, Ningrum dan Mariam bersamaan.
Namun saat kedua mata Mariam dan Robby saling bertemu, mereka sangat terkejut hingga keduanya hanya bergeming.
__ADS_1
--BERSAMBUNG--
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....