
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Sesampainya di Rumah Sakit, Pak Sabar langsung memarkirkan mobilnya di area parkir Rumah Sakit. Abi yang menggendong Ibu Ningrum ala bridal style langsung masuk ke ruang UGD, di perjalanan tadi pasalnya Ibu Ningrum tertidur pulas tapi bukan pingsan.
Suster UGD langsung menyuruh Abi menurunkan Ibu Ningrum di atas kasur yang berada di ruang UGD, dengan perlahan Abipun menurunkan Ibu Ningrum itu di sana.
"Aaaaacccchhhh.." Ibu Ningrum mengigau, seraya memegangi baju seragam Abi.
Abi bergeming, tidak beranjak dari tempat posisinya sekarang, yang sedang berdiri di depan Ibu Ningrum yang masih tertidur pulas.
"Maaf, ade tolong minggir dulu, saya akan periksa pasien sebentar." Ucap Suster itu sopan.
"I... iya Suster, t.. tapi baju saya ini.. anu.." Ucap Abi gugup, namun terhenti saat Ibu Ningrum terbangun.
"Abi.. Suster.. saya sudah ada di sini? Kapan sampai Abi? Kenapa saya engga tahu?" Tanya Ibu Ningrum heran, dirinya sudah berada di ruang UGD, seraya mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Iya Nona, tadi ade ini yang membawa Nona ke UGD." Sahut Suster jujur.
"A.. abi terima kasih," Ucap Ibu Ningrum gugup, seraya melepaskan tangannya, yang sadar sudah memegangi seragam Abi sedari dia bangun tidur tadi. Wajah Ibu Ningrumpun seketika bersemu merah.
"I.. iya Ibu, sama-sama." Ucap Abi gugup, entah perasaan apa yang sedang dia rasakan. Setahu Abi, saat ini dia mengagumi Ibu Ningrum seperti Ibu kandungnya, tidak lebih dari itu. Namun hati, dan pikiran Abi bertolak belakang.
Abi memundurkan tubuhnya tiga langkah dari tempatnya semula, untuk memberi akses Suster mengechek suhu tubuh Ibu Ningrum, dan tensi darahnya.
"Nona siapa namanya?" Tanya Suster ramah.
"Ningrum Cantika Maharani." Jawabnya Ibu Ningrum lengkap.
"Usianya Nona berapa?" Tanya Suster lagi.
"24 jalan 25 tahun, Sus." Sahut Ibu Ningrum lagi.
__ADS_1
"Iya terima kasih Nona, untuk data pasien ini, suhu tubuh Nona sedikit panas 38,5 C dan tensi darah Nona cukup rendah 90/60. Tolong tunggu sebentar, kami akan berikan obat penurun panas, dan vitamin penambah darah. Setelah itu kami akan mengambil sample darah Nona." Jelas Suster itu dengan sigap.
"Baik Sus." Sahut Ibu Ningrum singkat, seraya menyentuh keningnya yang terasa panas.
"Nona sudah makan siang?" Tanya Suster, mengingat sudah waktunya makan siang.
"Belum." Sahut Ibu Ningrum, seraya menggelengkan kepalanya pelan.
"Sebaiknya sebelum minum obat, perutnya harus terisi dahulu, tapi kalau sudah sarapan sebenarnya tidak bermasalah." Ujar Suster itu, seraya memberikan paracetamol, dan Vitamin penambah darah.
"Terima kasih, Sus." Sahutnya ramah, seraya menerima obat tersebut dari tangan Suster.
Abi sigap, langsung mengambilkan air yang ada di galon samping suster jaga.
"Maaf Suster, saya minta air minumnya ini." Ucap Abi sopan, seraya mengambil gelas plastik sekali pakai di samping galon itu, lalu mengisinya dengan air isi ulang tersebut.
Seketika Suster jaga itu terperangah, dengan wajah tampannya Abi yang terlihat sangat maskulin menurutnya.
Sontak saja Abi tersenyum kecut, saat mendengar dirinya dipanggil sayang, oleh wanita yang tidak di kenalnya.
"Eeehhh.. m.. maaf bukannya maksud saya seperti i.. itu. S.. saya engga tahu nama ade siapa?" Ucap Suster itu gugup, lalu bersemu merah menahan malu, tertangkap basah mengagumi anak sekolah yang masih bau kencur, tapi tidak terlihat sama sekali kalau dia itu anak sekolah, jika tidak memakai seragam SMA.
"Iya Sus, engga apa-apa, terima kasih air minumnya." Sahut Abi ramah, lalu beranjak pergi menuju Ibu Ningrum.
"Abi.." Panggil Ibu Ningrum lirih.
"I.. iya Ibu, ini air minumnya untuk minum obat, biar bisa langsung diambil sample darah Ibu. Semoga Ibu hanya demam biasa yah, saya takut terjadi apa-apa sama Ibu." Ucap Abi perhatian, seraya memberikan air minum itu ke tangan Ibu Ningrum.
"T.. terima kasih Abi." Sahut Ibu Ningrum gugup, seraya menerima air minum itu dari tangan Abi, langsung meminum obatnya, namun airnya sedikit tumpah tersiram lengan bajunya.
"Eeeh.. pelan-pelan Ibu minumnya, sampai tumpah gitu, sini Abi bantu memegangnya." Tawar Abi tulus, namun di tolak halus oleh Ibu Ningrum.
__ADS_1
"E.. engga usah Abi, terima kasih. Kamu itu bukan mukhrim Ibu, meski kamu anak murid Ibu, tapi kamu anak remaja yang sudah baliq, dan akan beranjak dewasa. Jika dalam keadaan terdesak tidak apalah untuk menyentuh, namun jika tidak terdesak maka sebaiknya tidak perlu." Tolak Ibu Ningrum monohok, seketika Abi mencerna ucapan Ibu Ningrum.
"Remaja yang sudah Baliq itu apa, Ibu guru?" Tanya Abi penasaran.
"Remaja yang sudah baliq itu, adalah remaja yang sudah cukup matang menjadi pria seutuhnya." Jelas Ibu Ningrum sekenanya, karena diapun bingung, untuk menjelaskan hal sensitif seperti itu.
"M.. maafkan Abi kalau seperti itu, Ibu Ningrum. Abi belum mengerti masalah itu, namun sekarang Abi sudah paham." Ucapnya menyesal atas sikapnya tadi.
"Iya Abi engga apa-apa." Sahut Ibu Ningrum, sedikit tidak enak hati sudah menyinggung perasaan Abi, meski itu benar adanya.
Setelah Ibu Ningrum meminum obatnya, kemudian Suster itu mengambil sample darahnya untuk di chek di Lab. Lalu Pak Sabarpun datang menghampiri Ibu Ningrum. Lalu Abipun keluar ruangan memberikan waktu kepada Pak Sabar, dan Ibu Ningrum berbincang-bincang.
"Ibu Ningrum bagaimana keadaan Ibu sekarang? Apakah sudah lebih baik?" Tanya Pak Sabar penasaran.
"Alhamdullilah Pak Sabar, sudah mendingan panasnya sudah sedikit turun." Sahut Ibu Ningrum seraya menyentuh keningnya yang sedikit sudah berkeringat, dampak habis minum obat dari Suster tadi.
"Syukurlah kalau begitu, tapi sudah di chek atau belum, sample darahnya Ibu?" Tanya Pak Sabar.
"Sudah Pak Sabar, baru saja di bawa ke ruang Lab oleh Suster tadi." Sahut Ibu Ningrum.
"Pak Sabar, Ibu Ningrum, Abi balik ke Sekolah dulu yah, untuk ambil motor, dan tas sekolah Abi. Ini makan siang buat Ibu, dimakan yah Ibu." Pamit Abi sopan. seraya menyodorkan sebungkus nasi disamping Ibu Ningrum.
"Iya Abi." Ucap Pak Sabar tersenyum mengembang kepada Abi. Lain hal dengan Ibu Ningrum, dia menatap sendu kepergian Abi yang semakin menjauh. Seakan tidak rela Abi pergi, bibirnya berdecak kesal.
"Ciiehh.. kenapa dia pergi? Apa marah dengan ucapanku tadi? Tapi dia perhatian juga membelikan makan siang ini." Gumamnya dalam hati, seraya menatap senang nasi pemberian Abi.
"Aaiiish.. apa yang sedang kau pikirkan Ningrum Cantika Maharani?" Omelnya dalam hati, namun dia seketika tersenyum saat mengingat wajah Abi yang terlihat lugu di matanya.
--BERSAMBUNG--
...Kasih Like dan Vote juga Komentarnya yah! Terima Kasih........
__ADS_1