Cinta Tulus Abi

Cinta Tulus Abi
Tadarusan


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Robby dan Abi seketika terhenti langkahnya, saat mendengar suara Mariam yang sedang berbicara kepada mereka. Pak Iwan yang sudah tahu ada Nyonya Mariam, Ibu RT dan Ningrum hanya bisa tersenyum saja.


"Suaranya seperti Mariam yang aku cinta." Ucap Robby dalam hatinya.


"Jangan-jangan ini suara Mama." Ucap Abi dalam hatinya.


"Eeum.. ayo, Papa dan Al-habib ketahuan sama Mama." Ledek Ningrum dengan tersenyum menyeringai.


Sontak saja, Robby dan Abipun membalikkan arah tubuhnya menghadap mereka.


"He.. he.. he.. Mama, Nyonya Mariam." Kekeh Abi dan Papa Robby bersamaan dengan memanggil namanya.


Mariam tersenyum menyeringai dengan melipat kedua tangan didepan dadanya. "Lain kali kalau mau ngomongin orang tengok kanan kiri dan depan belakang, jadi tidak ketahuan sama orang yang sedang di omongin." Ucap Mariam ketus, lalu berjalan mendahului mereka.


Ningrum dan Ibu RT, mengikuti Mama Mariam berjalan dibelakangnya. Ningrum hanya tersenyum melihat kedua laki-laki istimewa itu mematung ditempat.


"Al-habib.. Papa.. apa kalian tidak ingin pulang? Ha.. ha.. ha.." Panggil Ningrum sambil berjalan menjauh dengan tertawa lucu melihat mereka yang masih terlihat shock.


Pak Iwanpun lantas berjalan mengikuti Ningrum dan yang lainnya, meninggalkan Abi dan Tuan Robby yang masih terdiam di tempat.


Teriakan Ningrum membuat keduanyapun sadar dari keterkejutannya. Kemudian merekapun berjalan pulang ke rumah Pak RT.


"Pah, tadi itu beneran Mama yang ngomong yah?" Tanya Abi setengah percaya.


"Iya lah sayang, siapa lagi? Suara Mama kamu 'kan sangat merdu. Sudah pasti itu suaranya, Papa saja sampai tidak percaya saat mendengarnya."


"Benar Pah, memang Mama. Ayo cepat Pah, kita susul Mama dan Khumairah." Ujar Abi berjalan cepat.


"Okay, sayang." Ucap Papa mengejar Abi.


Sesampainya dirumah Pak RT, semua sudah berkumpul diteras rumahnya, sambil duduk lesehan. Kecuali Nyonya Mariam, yang masuk ke dalam kamarnya saat ini.


Selama di Pondok Pesantren, Mariam selalu tadarusan sehabis sholat shubuh ataupun sholat isya. Jadi, sudah kebiasaan dirinya melakukan ritual tersebut dalam hidupnya.


"Assalamu'alaikum.." Ucap salam Abi dan Papa Robby bersamaan.


"Wa'alaikumussalam.. " Jawab salam Pak RT dan yang lainnya bersamaan.


Ibu RT dan Bapak RT menyapa dengan ramah kepada Tuan Robby dan Abi.

__ADS_1


"Ayo Pak Robby dan Jang Abi, silahkan duduk. Nanti saya buatkan teh manis dan camilan pagi hari." Ucap Ibu RT ramah.


"Terima kasih, Ibu RT." Ucap Abi dan Robby bersamaan.


"Ibu RT saya boleh bantu." Ucap Ningrum langsung bangkit dan berdiri.


"Boleh atuh Neng geulis." Ucap Ibu RT kemudian menuju dapur bersama.


"Suhu udara disini kalau pagi hari dingin sekalih yah, Pak RT. Bahkan semalam saja saya sangat kedinginan, sampai tidur menggigil. AC di sini engga laku, udaranya lebih dingin dari AC, he.. he.." Ujar Robby terkekeh sendiri.


"Iya emang begitu Pak Robby, disini ''kan dekat gunung dan perkebunan. Airnyapun dingin seperti air es jika dipagi hari begini." Ujar Pak RT gamblang.


"Ngomong-ngomong Nyonya Mariam kemana Pak RT?" Tanya Pak Robby celingak-celinguk mencari keberadaan sosok special dihatinya.


"Tadi sih pamit mau ke kamarnya. Kenapa Pak? Baru semalam tidak bertemu, sudah rindu yah Pak?" Ledek Pak RT, soal hubungan Robby dan Mariam, Pak RT sudah tahu dari istrinya yang bercerita semalam.


Bahwasannya Pak RT menanyakan kepada istrinya, kenapa Pak Robby tidak menginap satu kamar dengan Ibu Mariam. Jadi, Ibu RT mengatakan perihal status yang sebenarnya kepada suaminya.


"Ha.. ha.. ha.. Pak RT bisa saja, saya jadi malu rasanya." Ucap Robby saat Pak RT meledeknya. Sedangkan Abi hanya mengulum senyum, melihat Papanya seperti anak ABG yang ketahuan orang tuanya sedang jatuh cinta.


"Pah, Pak RT, Abi mau ke kamar dulu yah simpan ini." Ucap Abi pamit seraya menunjukkan sarung dan kopiahnya.


"Iya, sayang." Jawab Papa Robby, sedangkan Pak RT hanya mengangguk kecil lalu tersenyum.


"Pak Robby dan Pak Iwan, tunggu sebentar yah. Perut saya sepertinya sedang mulas, saya mau ke toilet dulu yah." Pamit Pak RT meninggalkan Papa Robby dan Pak Iwan berdua.


"Iya Pak RT, silahkan." Ucap Robby dan Pak Iwan bersamaan.


Papa Robby dan Pak Iwan mengobrol berdua diteras depan rumah Pak RT, tidak lama kemudian Ningrum membawa beberapa gelas minuman teh manis.


"Pah.. Pak Iwan.. diminum dulu tehnya selagi hangat. Camilannya masih di goreng, nanti kalau sudah jadi Ningrum bawa kesini." Tawar Ningrum ramah.


"Iya Nak Ningrum, terima kasih." Ucap Papa Robby yang diikuti oleh Pak Iwan kemudian.


"Ningrum kembali kedapur dulu yah Pah, Pak Iwan." Pamit Ningrum kemudian.


"Tunggu.. sayang." Ucap Papa Robby menghentikan langkah menantunya itu.


Ningrumpun berbalik badan, lalu melihat kearah mereka berdua, lalu bertanya. "Kenapa Pah?"


"Tolong panggilkan Nyonya Mariam, saya ingin bertemu sebentar dan menanyakan satu hal kepadanya." Ucap Robby merasa yakin dengan hatinya.

__ADS_1


"Mama sedang tadarus Pah, terdengar dari balik pintu saat Ningrum melewati kamar Mama." Ujar Ningrum jujur.


"Ooh.. iya sudah kalau begitu." Ucap Robby mengangguk kecil dengan tersenyum.


Ningrumpun akhirnya pergi ke dapur melanjutkan membantu Ibu RT memasak.


Papa Robby mengajak Pak Iwan hendak masuk kedalam ruang tamu yang dekat dengan kamar Mariam, lalu mereka membawa minuman teh manisnya dan duduk lesehan dengan tikar. Rungunya mendengar Mariam yang sedang membaca lantunan ayat suci Al-Quran dengan begitu merdu dan indah.


Merekapun mendengarkan dengan khusu, tanpa bersuara. Hingga akhirnya, Mariam berhenti tadarusnya.


"Ya Allah sungguh merdu dan indah suaranya, saat membacakan ayat-ayat suci Allah. Kapan saya bisa membaca Al-Quran seperti itu yah, Pak Iwan?" Tanya Robby mengagumi suara istrinya.


"Pasti Tuan bisa, jikalau Tuan Robby mau belajar." Ucap Pak Iwan yakin.


"Aamiin.. insya Allah yah Pak Iwan. Saya semakin berani ngomong jujur sekarang, Pak Iwan. Saya harus meminta Mariam langsung sepulang dari sini, untuk menjadi istri saya secepatnya." Ujar Papa Robby mantap.


"Bagus Tuan.. saya dukung perjuangan cinta Tuan untuk Nyonya Mariam." Ucap Pak Iwan memberi semangat.


"Terima kasih, Pak Iwan." Ucap Robby senang. Sedangkan Pak Iwan hanya tersenyum dan mengangguk kecil.


"Creeeat.." Bunyi pintu kayu yang dibuka okeh Mariam. Sontak saja Robby dan Pak Iwan langsung menoleh kesumber bunyi suara tersebut.


Mariam menundukkan pandangannya, setelah seperkian detik kedua mata mereka saling bersirobak.


"Eeh.. Nyonyq Mariam, kenapa berhenti tadarusnya? Saya masih ingin mendengarkan suara merdu dan indah Nyonya Mariam padahal." Ucap Robby sungguh berani.


"Ooh.. dari tadi Tuan Robby dan Pak Iwan mendengarkan saya tadarusan?" Tanya Mariam mengerutkan dahinya aneh.


"I.. iya Nyonya Mariam, saya ingin belajar banyak untuk mengaji, agar bisa tadarusan yang merdu dan indah seperti Nyonya Mariam." Ungkap Robby gugup namun jujur.


"Boleh, kapan?" Tanya Mariam yang merasa senang.


"Sekarang saja, kalau bisa." Ucap Robby cepat, tidak mau membuang kesempatan dengan sia-sia agar bisa dekat dengan Mariam.


"Haah..? Engga harus sekarang juga, Tuan." Ucap Mariam sedikit terkejut, engga menyangka seorang Robby antusias belajar membaca Al-Quran.


"Lebih cepat lebih baik, Nyonya. Itulah prinsip saya." Ucap Robby tegas dengan tersenyum mengembang.


...♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️...


Bagaimana cerita saya kali ini? Mohon like dan komennya yah! Boleh juga hadiahnya bagi Readers yang baik hati dan tidak sombong. Terima kasih yah, salam bahagia selalu dari Tina Rifky.

__ADS_1


--BERSAMBUNG--


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips juga komentarnya yah. Terima kasih.🙏🙏...


__ADS_2