Cinta Tulus Abi

Cinta Tulus Abi
Arisan Sosialita


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Visual Ibu Ningrum yang sekarang yah guys. Semoga kalian suka🙏



Ibu Ningrum jadi salah tingkah, saat Tante Mariam menanyakan keadaannya yang mendadak gugup dihadapannya, hingga wajahnya terlihat sedikit pucat.


"I.. itu Tante, sa.." Ucapan Ibu Ningrum terhenti, saat Abi menyelanya.


"Mama, Ibu guru, Abi duluan yah." Abipun langsung berjalan cepat, meninggalkan kedua wanita yang sangat berarti dalam hidupnya.


"Iya sayang." Sahut Mama Mariam, lalu diangguki oleh Ibu Ningrum yang nampak canggung.


Sesampainya di Masjid, Abi segera mengambil air wudhu, dirinya sudah di minta oleh para Ustad disana untuk mengumandangkan Azan.


Abipun tidak bisa menolaknya, lalu diapun langsung melaksanakan apa yang diminta Pak Ustad. Semenjak itu, Abi jadi terbiasa untuk mengumandangkan Azan setiap akan sholat berjamaah.


*******


Di kediaman Tuan Robby Dirgantara.


Semenjak terusirnya Abi dari rumah Papa kandungnya, keadaan rumah Tuan Dirgantara selalu nampak ramai. Lusia dan kedua anaknya semakin bebas, untuk mengendalikan rumah, dan keuangan Tuan Robby.


Lusia selalu minta barang-barang branded, seperti pakaian, tas, sepatu, aksesoris, perhiasan, dan juga mobil keluaran terbaru.


Seperti terhipnotis selama ini, Tuan Robby selalu percaya kepada istri keduanya itu. Apa yang istrinya minta, tidak pernah dia tolak, pasti akan selalu diberikannya.


Tuan Robby pergi ke kantor setiap hari berangkat pagi pulang larut malam, karena dikantor lagi banyak proyek besar dan kesibukkan.


Bahkan tak jarang Robby sering sekalih keluar kota, untuk mengurusi kantor cabang yang disana.


Istrinya Tuan Robby yaitu Lusia, sering kali mengundang teman-teman arisannya kerumah suaminya, yang merupakan rumahnya juga sekarang.

__ADS_1


Mereka tidak hanya mengadakan arisan uang, atau barang-barang mahal, tapi juga mengadakan arisan brondong. Hanya saja jika arisan uang atau barang mahal seminggu sekali, tapi kalau arisan brondong satu bulan sekali.


"Jeng Lusi, kayaknya setiap kita kemari, suami Jeng Lusi engga pernah ada? Sibuk terus yah? Tapi bukan sibuk sama wanita lain 'kan?" Tanya Jeng Selly, menyindir halus.


"Yah engga lah, suami aku sibuk jeng Selly. Maklumlah cari cuan terus, buat bahagiain aku dan kedua anakku." Sahutnya dengan tersenyum sombong.


"Ciih.. sombongnya." Jeng Selly mendengus kesal, mendengar jawaban Lusia, sontak saja teman arisan Lusia yang lainnya terkekeh, mendengar kekesalan Selly.


"Jeng Selly... jeng Selly, bilang saja kamu iri sama Jeng Lusia. Secara apa yang kamu inginkan, semua sudah dimiliki oleh Jeng Lusia, bukan?" Sindir Jeng Yeni, membela sahabatnya Lusia.


"Aissh.. untuk apa aku iri Jeng Yeni, toh jika aku minta sesuatu sama suamiku, pasti dia akan memberikannya. Hanya saja, aku tidak ingin dibilang istri matre Jeng Yeni." Bantah Jeng Selly jujur, seraya tersenyum miring.


Lusia yang merasa tersindir dengan kata-kata matre langsung mendengus kesal. "Wajar dong Jeng Selly kalau cewek matre, orang sama suaminya sendiri. Kecuali matre sama suami orang, baru tuh salah."


"Iya sih, wajar matre sama suaminya. Tapi kalau matre sama suami hasil dari perselingkuhan, bagaimana Jeng Lusia?" Sindir Jeng Selly semakin pedas.


"Sudah-sudah, kenapa kalian malah bertikai? Kita ini kumpul dirumah Jeng Lusia itu, ingin bersenang-senang bukannya ingin bertikai." Jeng Rina melerai pertikaian mereka berdua.


"Okay, sekarang giliran siapa nih yang menang arisan brondong?" Tanya Lusia penasaran.


"He.. he.. he.. Kamu sudah gatel yah Jeng Lusia, sudah engga sabar pingin menang? Sebelum kamu menang, pastikan aku dulu lah, secara namaku pasti keluar bulan ini. wellcome my brondong." Kekeh Yeni dengan percaya diri.


"Iya sudah kita lihat saja, siapa yang akan keluar namanya, dan memenangkan brondong itu. Kalian siap-siap saja, harus bayar brondong satu bulan ini." Ucap Lusia dengan tenang.


"Ha.. ha.. ha.." Semua teman-temannya menertawakan Lusia.


"Hayo cepat di kocok arisannya." Pinta Lusia tidak sabaran.


"Okay.. okay, sekarang kita mulai mengocoknya." Ujar Nurul, seraya mengeluarkan ponsel terbarunya untuk melakukan pengocokan lewat aplikasi.


Pengocokan arisanpun dimulai, saat kocokan arisan tersebut muncul, dan yang keluar tenyata nama Lusia.


"Waah.. selamat yah Jeng Lusia, ucapan kamu bisa jadi kenyataan Jeng." Ucap Jeng Nurul, seraya mengulurkan tangannya untuk menyalami Lusia, lalu teman yang lainnyapun ikut memberikan selamat.

__ADS_1


"Iya.. ya.. terima kasih yah, atas ucapannya." Kata Lusia dengan senyuman angkuhnya.


"Aiish.. belaganya yang menang, biasa saja kali senyumnya Jeng." Ledek Selly, yang tidak begitu menyukai Lusia.


Sebenarnya para Ibu-ibu Sosialita itu banyak yang tidak menyukai Lusia, secara dia ituh angkuh dan sombong, dia juga sering merendahkan sesama teman-teman arisan, kalau sedang jatuh bangkrut.


Jatuh bangkrut disini maksudnya, suaminya mengurangi jatah bulanan, karena kartu kredit istrinya over limit. Jadi bukan bangkrut yang sesungguhnya yah Ibu-ibu.


"Karena aku yang menjadi pemenang brondongnya, aku mau pilih Samuel saja." Ujar Lusia yang menentukan pilihan pria brondongnya, untuk menemaninya selama satu bulan.


"Eeehh.. engga bisa begitu, brondong kita 'kan ada 3, jadi harus di kocok dong, biar semua bisa merasakan juga. Jeng Lusia 'kan saat menang yang dulu, sudah merasakan pusaka milik Samuel." Tolak Jeng Selly tidak terima.


"Iya benar tuh kata Jeng Selly." Ucap Yeni dan Rina bersamaan.


"Cieeh.. bilang saja kalian cemburu, saat ini aku yang menang, bisa memilih brondongku sendiri." Decak Lusia sebal dengan teman-temannya, yang terang-terangan mengajak perang dengannya.


"Iya sudah, Jeng Lusia 'kan yang menang, jadi terserah Jeng Lusia deh mau pilih yang mana. Kalau pemenang 'kan bebas, mau dipilihkan atau mau memilih, terserah saja." Ujar Jeng Nurul, selaku ketua arisan Ibu-ibu Sosialita.


"Nah itu dia, teman yang baik dan pengertian itu kayak gini, bukan kayak kalian." Puji Lusia kepada temannya Nurul, dan menghardik teman yang lainnya.


"Terserah apa kata jeng Lusia saja deh, saya mah manut saja." Ujar Jeng Yeni, menghentikan perdebatan dengannya. Lalu dianggukkan oleh Jeng Rina.


"Kenapa kalian pada engga suka kalau aku menang? Yang namanya arisan pasti ada menang dan kalah dong, jadi kenapa kalian bersikap seolah-olah aku tidak pantas mendapatkan kemenanganku ini?" Tanya Lusia heran, dengan teman-temannya saat ini.


"Bukan begitu Jeng Lusia, kamu jangan salah paham sama kami." Ujar Jeng Rina dan Nurul bergantian. Sedangkan Jeng Yeni dan Jeng Selly sudah malas bertikai dengan Lusia.


"Okay kalau begitu, biar tidak ada salah paham lagi, aku pilih Samuel." Ucap Lusia, tetap memilih pada pilihan dari awal. Lusia sudah ketagihan dengan service yang diberikan oleh brondong yang bernama Samuel.


"Siapa itu Samuel? "


--BERSAMBUNG--


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2