Cinta Tulus Abi

Cinta Tulus Abi
Pondok Pesantren


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Abi dan Firman terus melajukan motor mereka secepat mungkin, namun Polisi tidak ingin melepaskan mereka. Balapan liar yang mereka lakukan sangat beresiko, dan meresahkan para pengendara jalan yang lain, meski malam hari sangat sepi.


Polisi sudah geram dan bosan untuk melakukan patroli, bagi pelaku balapan liar. Mereka tidak jera-jeranya, keluar masuk penjara.


Abi sering lolos dari pengejaran Polisi, hingga dirinya belum pernah masuk sel penjara. Namun kali ini Abi dan Firman sudah kehabisan kesempatan, mereka bingung mencari jalan.


Polisi yang membawa mobil terpaksa menghentikan kendaraannya, karena Abi dan Firman masuk kedalam gang kecil, hanya motor yang bisa mereka lalui. Tetapi Polisi yang membawa motor, tetap ikut masuk kedalam gang untuk mengejar mereka.


"Kali ini mereka jangan sampai lolos, kalian harus menangkap keduanya. Mereka belum pernah masuk tahanan, karena mereka sangat licin seperti belut." Ucap Komandan Polisi itu tegas, kepada anak buahnya yang mengendarai motor.


"Baik Komandan, kami akan segera meringkus mereka secepatnya." Jawab anak buah Polisi itu sigap.


Polisi tersebut kembali melakukan pengejaran, kepada Abi dan Firman. Abi dan Firmanpun tidak mengerti, sekarang mereka sudah masuk perkampungan di daerah mana. Dipikiran Abi dan Firman, mereka harus bisa menyelamatkan diri dari pengejaran Polisi.


"Bie, loe belok kanan, gue belok kiri, biar Polisi itu terkecoh." Teriak Firman diatas motornya, meski mereka masih dalam pengejaran Polisi.


"Iya, Fir... sampai jumpa lagi." Sahut Abi dengan teriakkannya.


Akhirnya Abi belok ke sebelah kanan jalan, untuk mengelabuhi Polisi yang sedang mengejarnya. Setelah pelarian yang cukup panjang dan melelahkan, Abipun beristirahat sejenak, untuk merenggangkan otot-otatnya yang sedikit tegang oleh pengejaran Polisi.


"Sepertinya, Polisi itu sudah tidak mengejarku lagi? Tapi sekarang aku ada dimana? Dimana si Firman dan Noval? Apa mereka selamat atau tertangkap?" Hati Abi bermonolog.


Pandangan Abi melihat keseluruh penjuru, ternyata dia berada tepat didepan sebuah Pesantren khusus Santriwati.



Suara azan shubuh berkumandang, Abi teringat dirinya yang sudah berapa lama meninggalkan sholat. Seketika saja, Abi meneteskan air matanya.


Abi mencoba masuk kedalam Pondok Pesantren itu, yang pintu pagarnya memang agak sedikit terbuka. Dari pada dirinya tertangkap oleh Polisi, kebih baik dia bersembunyi di dalam Pondok Pesantren tersebut, pikirnya.


"Permisi Pak Satpam, apa saya boleh menumpang sholat disini? Tanya Abi dengan ramah.


"Boleh Nak, silahkan masuk." Ucap Pak Satpam itu juga ramah.

__ADS_1


"Terima kasih, Pak Satpam." Ucap Abi senang.


Setelah itu, Abi masuk ke dalam area parkiran, Abi memarkirkan motornya disamping mobil yang berjejer rapih.


Abi berjalan menuju Masjid yang ada didalam pesantren itu. Abi mengambil air wudhunya, lalu setelah itu membaca doa wudhu.


Sesudah berwudhu, Abi berjalan memasuki area Masjid dengan hati yang merasa gamang. Pasalnya selama ini, dia sering sekalih meninggalkan sholat 5 waktunya.


Abi turut duduk diantara 7 orang Pria yang dewasa, yang sepertinya guru Pesantren disini. Dan satu orang kiai yang sudah sepuh, yang bisa dibilang guru besar di Pesantren ini.


Setelah suara Azan telah selesai, kemudian iqomah lalu mereka sholat berjamaah. Abi melihat kebelakang, hanya dihalangi oleh gorden berwarna putih, nampak para santri sudah berkumpul untuk melaksanakan sholat shubuh berjamaah.


Pak kiai menjadi imam sholat subuh, dan Abipun ikut berjamaah sholat shubuh.


Selesai sholat shubuh, Abi tidak lantas beranjak pergi, dia menangis dalam doanya. Abi mengingat dosa-dosanya selama ini, karena sudah meninggalkan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Semenjak Abi meninggalkan rumah Papa Robby, Abi seperti kehilangan pegangan dan arah. Kedua orang tuanya tidak menyayanginya, dan telah membuat hati Abi hancur, menjadi seorang anak yang tidak mendapatkan kasih sayang.


Tinggalah Abi, dan dua orang yang berbeda usia saat ini. Abi sesegukkan menangisi nasibnya, yang menjadi hidup sebatang kara selama ini. "Hikkzzzz.. hikkzzzz.."


Pak Kiai yang sudah memperhatikan Abi sedari tadi, kemudian mendekatinya. "Nak, tangisanmu begitu dalam? Adakah beban yang begitu berat Nak, yang engkau tanggung?" Tanya Bapak Kiai dengan begitu tenang.


Pak Kiai tersenyum, lalu mengusap punggung Abi lembut. Sepertinya, Pak Kiai seketika sangat menyukai Abi, dan sudah menganggap Abi seperti cucunya sendiri.


"Siapa namamu, Nak? Tanya Pak Kiai ramah.


"Abi Maulana Dirgantara, Bapak Kiai." Ucap Abi jujur, seraya mengusap air matanya perlahan.


"Nak Abi, sepertinya bukan asli orang sini yah?" Tanya Bapak Kiai mulai akrab.


"Iya, Pak Kiai... saya asli orang Jakarta." Ucap Abi jujur seraya mengangguk kecil.


"Dalam rangka apa Nak Abi, sampai bisa berada disini seorang diri?"


"Saya tersesat, dalam pengejaran Polisi Pak Kiai." Sahut Abi jujur.

__ADS_1


"Haah..?" Pak Kiai dan Pak Ustad shock, mendengar jawaban Abi yang membawa-bawa nama Polisi.


"Maksud saya, saya bukan penjahat atau buronan Pak Kiai dan Pak Ustad. Tapi saya hanya pelaku balapan motor liar, karena meresahkan pengguna jalan raya, saat kami melakukan trek balapan motor liar. Jadi Polisi mengejar saya, hingga sampai sini." Jelas Abi panjang lebar.


"Oooh, jadi seperti itu ceritanya." Ucap Pak Ustad mengerti, kemudian Pak Kiai mengangguk kecil.


"Berarti Nak Abi belum tidur sama sekalih semalaman ini?" Tanya Pak Ustad perhatian.


"Belum, Pak Ustad." Sahut Abi jujur, seraya menguap didepan mereka. "Huaaammm..."


"Waah.. Nak Abi sepertinya sangat mengantuk sekalih? Ya sudah, Nak Abi bisa beristirahat di kamar saya." Ucap Bapak Ustad itu tulus, menawarkan tempat istirahatnya.


"Terima kasih, Pak Ustad dan Pak Kiai sudah memberikan saya izin beristirahat sejenak disini." Ucap Abi senang, dengan tawaran Bapak Ustad dan Bapak Kiai yang baik tersebut.


"Mari Nak Abi, ikuti saya." Ucap Bapak Ustad itu, seraya berdiri dari tempat duduknya.


"Iya Pak Ustad." Ucap Abi seraya berdiri pula dari temoat duduknya.


Pak Kiai tersenyum, melihat Abi yang sedikit lebih ceria, dibanding tadi saat dirinya baru melihat Abi yang sedang menangis pilu. Seakan menahan beban yang sangat besar, yang sedang dipikulnya.


Sesampainya di ruang kamar Pak Ustad, Abi dipersilahkan untuk beristirahat tidur sejenak. Lalu Pak Ustadpun pergi meninggalkan Abi seorang diri.


"Terima kasih, Pak Ustad." Ucap Abi tulus, seraya tersenyum ramah. Lalu Pak Ustad mengangguk kecil, dan membalas senyuman Abi.


*******


"Tok.. tok.." Bunyi pintu diketuk.


"Nak Abi, apakah sudah bangun?" Mari kita sarapan dahulu." Ucap Pak Ustad memanggilnya.


"Iya Pak Ustad, sebentar saya cuci muka dahulu." Sahut Abi cepat.


Semua orang sudah berkumpul dimeja makan, Abi keluar dari kamar Bapak Ustad dan berjalan gontai keruang meja makan tersebut.


"Mama...? Ibu guru...?"

__ADS_1


--BERSAMBUNG--


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....


__ADS_2