
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Sesampainya di desa tempat Abi KKN, desa yang masih asri dan segar dengan aroma sejuk udara pegunungan yang dingin. Mereka segera turun dari motor milik warga yang sangat ramah dan baik.
Abi mengembalikan motor-motor mereka bersama ketiga temannya, Riko, Jhony dan Azhar.
Selesai itu, Mariam dan Ningrum juga Tuan Robby, dibawa Abi kerumah Pak RT untuk melapor. Abi menjelaskan kedatangan istri dan juga orang tuanya.
Sebelumnya, Abi juga sudah meminta izin kepada Dosen Tere dan Dosen Julian, selaku penanggung jawab para Mahasiswa didiknya yang sedang melakukan KKN.
"Assalamu'alaikum Pak RT, Ibu RT." Ucap salam Abi dan yang lainnya.
"Wa'alaikumussalam Nak Abi nu ganteng pisan." Jawab salam Pak RT dan istrinya bersamaan.
"Bapak RT dan Ibu RT perkenalkan ini istri saya bernama Ningrum dan ini kedua orang tua saya, serta pegawai Papa saya." Ujar Abi memperkenalkan istri dan kedua orang tuanya serta supir pribadi papanya.
Merekapun berjabat tangan seraya menyebutkan nama mereka masing-masing.
"Iya Pak, Ibu, salam kenal, nama saya Jamaludin ketua RT di desa ini. Saya senang sekalih bisa kedatangan tamu dari kota." Ucap Pak RT ramah, yang dianggukan pula oleh istrinya.
"Sama-sama Pak, kami juga senang bisa datang kedesa ini yang masih sangat asri dan udara yang segar serta sejuk." Ucap Robby menimpali.
"Mari silahkan duduk Pak Robby, Ibu Mariam dan Nak Abi juga Nak Ningrum." Tawar Pak RT ramah.
"Iya, terima kasih Pak RT." Ucap Abi dan yang lainnya bersamaan, kemudian mereka duduk dilesehan beralaskan tikar daun pandan.
"Saya teh sungguh sangat terkejut, ternyata siganteng Nak Abi teh sudah punya istri. Padahal masih muda dan masih kuliah. Tapi, Bapak salut sama Nak Abi teh pinter bisa dapat istri yang cantik begini, sangat serasi dan cocok sekalih. Pantesan Nak Abi teh ganteng pisan, atuh Ibu dan Bapaknya juga cantik dan ganteng pisan." Ujar Pak RT Jamaludin dengan gamblang.
"He.. he.. he.. Pak RT kalau memuji suka berlebihan." Abi terkekeh mendengar ucapan Pak RT.
"Saya kedapur dulu yah sebentar, mau buatkan minuman seadanya." Pamit Ibu RT.
"Tidak usah merepotkan Ibu RT, kami tidak akan lama-lama." Ucap Ningrum mencegah Ibu RT.
"Tapi, hanya air teh saja Neng, tidak apalah." Ucap Ibu RT itu memaksa.
"Baiklah, mari saya bantu." Ucap Ningrum menawarkan bantuan.
__ADS_1
"Iya atuh boleh Neng cantik, ayo Atuh ke dapur ikut Ibu." Ucap Ibu RT senang.
"Iya." Ningrum mengikuti Ibu RT ke dapurnya.
Ibu RT membuatkan minuman teh yang berasal dari Pabrik didesanya. Pak RT selalu diberi teh gratis, oleh pemilik Pabrik teh sebulan sekali.
"Ini tehnya pekat sekalih yah Bu, aroma wanginya sungguh menusuk hidung. Uumm.." Ningrum menghirup wangi teh itu dalam-dalam.
"Iya emang begitu Neng, ini 'kan teh seduh namanya. Jadi, setelah disiram air panas, teh sangat harum dan warnanya sangat pekat. Berbeda dengan teh celup ataupun teh saring. Rasanyapun berbeda, nanti Neng Ningrum bisa rasakan sendiri setelah hangat." Jelas Ibu RT panjang lebar.
"Iya Ibu RT." Ucap Ningrum ramah.
Keduanyapun kembali dari dapur membawa air minum teh dinampan dan menaruh teh tersebut didepan mereka.
"Silahkan diminum kalau sudah hangat tehnya." Kata Ibu RT ramah.
"Iya Ibu RT, terima kasih." Ucap Abi dan diikuti oleh Robby dan Mariam juga Pak Iwan seraya tersenyum.
"Eem.. Pak RT, sebenarnya saya datang kesini adalah untuk meminta izin kami menginap satu malam di desa ini dan ingin memberikan bantuan sekedarnya, untuk pembangunan fasilitas kesehatan seperti Puskesmas dan Klinik 24 jam." Ungkap Robby dengan gamblang.
"Silahkan saja Bapak dan Ibu kalau mau menginap satu malam di desa ini. Bapak bisa tidur di rumah saya atau dengan Mahasiswa KKN. Alhamdullilah saya sangat berterima kasih, Bapak mau bantu biaya pembagunan fasilitas kesehatan disini."
"Aduh.. Pak Robby, saya tidak bisa menerima uang sebanyak ini. Saya harus panggil Pak Lurah dan Pak RW juga warga sini, untuk menjadi saksi penyerahan bantuan dana pembangunan fasilitas kesehatan di desa ini." Pak RT takut untuk memegang uang sebanyak itu, yang dirinya baru pertama kali melihat seumur hidupnya.
"Baiklah Pak RT, bagaimana baiknya saja." Ucap Robby pada akhirnya.
"Ini tolong dipegang dulu uangnya sama Bapak Robby, saya akan ke rumah Pak Lurah dan Pak RW dulu. Sekarang Bapak dan Ibu boleh beristirahat sejenak disini. Permisi... Assalamu'alaikum." Kata Pak RT meninggalkan mereka dirumahnya bersama istrinya.
"Terima kasih Pak RT, Wa'alaikumussalam." Ucap Robby dan yang lainnya bersamaan.
Pak RTpun pergi menuju rumah Pak RW dan Pak Lurah.
"Saya sudah masak seadanya, Bapak-bapak sama Ibu juga Neng geulis istrina jang Abi nu kasep, hayu kita makan dulu. Pasti semuanya sudah pada keroncongan, dari perjalanan jauh." Tawar Ibu RT membawa beberapa piring kosong.
"Terima kasih Ibu RT, tahu saja perut kami memang sedang sangat keroncongan, tadi lupa mampir ke rumah makan sebelum kesini." Ucap Robby dan yang lain hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan.
"Abi juga sering numpang makan di rumah Pak RT Pah, Mah, Khumairah. Masakan Ibu RT sangat enak, meski seadanya." Ungkap Abi memuji masakan Ibu RT.
__ADS_1
"Aduh Jang Abi mah suka berlebihan kalo memuji teh, masakan saya mah biasa saja rasanya. Saya jadi malu, kalau jang Abi teh setiap makan disini selalu memuji masakan saya yang tidak seberapa ini." Ucap Ibu RT seraya menaruh piring kosong ditengah mereka.
"Saya bantu yah, Ibu RT." Ucap Ningrum dan Mama Mariam bersamaan.
"Hayu atuh, boleh neng geulis jeung Ibu geulis." Ucap Ibu RT kemudian.
Merekapun membawa beberapa lauk pauk dan lalapan juga sayur dan sambal.
"Silahkan di makan, maaf yah kalau makanannya ala kadarnya. Hanya ikan asin dan sayur asam, juga tahu asli Sumedang." Tutur Ibu RT malu dengan hidangan yang sangat sederhana.
"Alhamdullilah Ibu RT, kamipun sangat senang sudah ditawari makan disini. Meski sederhana yang penting nikmat dan suasana kekeluargaan yang begitu hangat." Ucap Robby seraya melirik Mariam yang sedang menaruh makanan yang dibawanya.
"Iya Pak Robby, Alhamdullillah kalau semuanya suka berada didesa ini." Ucap Ibu RT.
Akhirnya mereka menikmati masakan Ibu RT yang terlihat biasa saja, namun begitu nikmat dan enak rasa masakannya. Jarang sekali Robby makan masakan yang seperti ini di Jakarta.
"Benar juga kata kamu Abi sayang, masakan Ibu RT benar-benar enak dan nikmat." Puji Pak Robby dan yang lainpun ikut menimpali dengan senyuman dan anggukkan.
"Benarkan Pah, Mah, Pak Iwan dan Khumairah? Memang masakan Ibu RT sangat enak dan lezat, orang Abi sering numpang makan gratis di rumah Pak RT, he.. he.. he.." Ungkap Abi terkekeh, Robby dan yang lainnya mengangguk membenarkan ucapan Abi.
"Ha.. ha.. ha.. Jang Abi mah bisa saja." Ucap Ibu RT tertawa mendengar ucapan Abi.
"Apa Ibu RT hanya tinggal berdua saja?" Tanya Robby, kaena hanya melihat Ibu dan Pak RT dari tadi saja.
"Iya Pak Robby, anak saya dua-duanya sudah menikah. Anak yang pertama ikut suaminya di Surabaya dan yang kedua merantau ikut istrinya ke Sumatra." Ungkap Ibu RT sedih, yang matanya langsung berkaca-kaca.
"Maaf Ibu RT, saya salah bertanya yah?" Sesal Robby menanyakan keadaan rumah Pak RT.
"Tidak apa Pak Robby, saya memang gampang nangis kalau ingat anak-anak saya yang jauh. Mereka kadang pulang kesini, tapi tidak tiap tahun, kadang tiga tahun sekali. Untung ada suami saya, yang mendampingi masa tua saya. Saya bahagia meski hanya tinggal berdua, hanya suami saya yang membuat saya bisa menjalani hidup dimasa tua saya. Meski anak-anak saya jauh dan jarang pulang." Ungkap Ibu RT panjang lebar.
Tanpa sadar mereka ikut terbawa suasana seketika ikut menangis mendengar cerita Ibu RT tentang anaknya yang jarang pulang dan menghabiskan sisa umur tuanya bersama suami yang dicintainya.
Robby dan Mariam sekilas saling memandang, lalu mereka tersenyum canggung. Ada rasa entah mengapa begitu hangat saat mereka mendengar kisah Ibu RT yang begitu haru.
"Mah, Pah, seandainya kalian bisa rujuk. Abi akan sangat bahagia." Ucap Abi lirih.
"Deg..."
__ADS_1
--BERSAMBUNG--
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips juga komentarnya yah. Terima kasih.🙏🙏...