Cinta Tulus Abi

Cinta Tulus Abi
Air Terjun


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Satu minggu sudah Abi dan kawan-kawan mengikuti pembuatan tahu Sumedang, langsung ke pabriknya. Mereka sudah melakukan tes kelayakan dan kehigienisan makanan tersebut.


Menurut tes kesehatan makanan dan minuman bersih, sudah termasuk dalam kategori kliniks. Pabrik tahu tersebut sudah mempunya izin dari test kelayakan makanan.


Dosen Tere dan Dosen Julian, memberikan izin dua hari untuk para Mahasiswa mengunjungi air terjun yang berada tidak jauh dari Desa tersebut.


"Waktunya liburan, kalian boleh bermain ke air terjun. Tapi, kalian harus ingat di sini bukan tempat kita. Kaliah harus tetap jaga sopan santun, etika dan menjaga kelestarian alam sekitar jangan sampai merusaknya. Untuk perhatiannya, Pak Syarif dan Aa Ilham akan mendampingi kalian. Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih." Jelas Dosen Julian panjang lebar.


"Baik.. Pak Dosen Julian." Ucap semua Mahasiswa KKN bersamaan.


"Sekarang saya serahkam semuanya kepada Pak Syarif dan Aa Illham, yang mengerti betul seluk beluk daerah sini. Kepadanya saya persilahkan untuk memberikan arahan atau petunjuk. Terima kasih." Ujar Dosen Julian.


"Terima kasih atas waktu dan kesempatan yang diberikan kepada saya, untuk memberikan petunjuk di desa ini. Saya sebisa mungkin, akan menjadi penunjuk jalan untuk teman-teman para peserta KKN. Harap semuanya mengikuti arahan saya dan Pak Syarif untuk bisa sampai ke tempat air terjun yang jalannya bergitu terjal." Jelas Ilham dengan gamblang.


"Siap.. Aa Ilham." Sahut semua peserta KKN.


Alhirnya Ilham dan Pak Syarif, memimpin perjalanan mereka menuju pemandian air terjun.


Semua peserta KKN sudah membawa bekal mereka masing-masing, seperti makanan ringan, air minum, mie instan, roti tawar dan nasi bungkus yang dimasak oleh istrinya Pak Syarif yang berama Ibu Amah.


Abi berjalan bersama teman laki-laki lainnya, tidak berselang lama, Abi dan anak yang lain melihat Zainap yang sedang berjongkok di pinggir jalan bersama dua teman wanitanya.


Para wanita memang diprioritaskan untuk berjalan lebih dahulu, baru laki-laki menyusul di belakang.


"Zainap ada apa? Kenapa kalian tidak melanjutkan perjalanannya?" Tanya Abi panik dan yang lainpun ikut penasaran.


"Kaki saya terkilir Bie, sepertinya tidak bisa melanjutkan perjalanan."


Dosen Julian yang berada di belakangpun, kemudian melihat Mahasiswanya sedang berkumpul. "Ada apa? Kenapa kalian berkerumun disini?" Tanya Dosen Julian yang sedang berjalan kearah mereka.


"Ini Pak Dosen, Zainap kakinya terkilir." Sahut Abi kemudian.


"Iya sudah, karena perjalanan sudah hampir mendekati pemandian air terjun. Saya sarankan, ada yang bersedia menggendong Zainap untuk melanjutkan perjalanan. Apakah ada yang berkenan untuk melakukannya?" Saran dosen Julian.


"Saya saja Pak Dosen, saya bersedia menggendong Zainap." Ucap Jhony mengajukan diri.


"Waah bagus Jhony kamu pria sejati. Bagaimana Zainap, apakah saran saya bisa kamu terima?" Tanya Dosen Julian memastikan.


Zainap hanya mengangguk pasrah, karena itu pilihan terakhir yang disarankan oleh Dosen Julian.


Sebenarnya Zainap berharap Abi yang akan menggendongnya, mengingat mereka begitu dekat dan bersahabat. Namun, hal itu mustahil bagi Abi, mengingat Abi sudah memiliki istri yang teramat sangat dicintainya.


Jhony dalam hatinya bersorak kegirangan, saat Zainap mengangguk untuk dia gendong. Bibirnya terus tersenyum mengembang, terlihat oleh semua teman-temannya termasuk Zainap.


"Aissh.. kesenangan banget tuh anak! Jelas banget modus. Kalau bukan terpaksa, mana mau gue digendong sama loe, Jhony." Bathin Zainap berucap.

__ADS_1


Jhony lantas berjongkok didepan Zainap, agar memudahkan Zainap untuk naik keatas punggungnya. "Ayo Nap, cepetan naik." Ujar Jhony dengan lembut.


"Heem.." Zainap hanya bergumam pelan, lalu dia mulai naik keatas punggung Jhony dengan malu-malu.


"Hap.." Jhony lantas berdiri untuk menyeimbangkan tubuhnya saat menggendong Zainap yang berada dipunggungnya.


"Pelan-pelan saja, Jhoni." Ucap Zainap lirih.


"Iya sayang, aku pelan-pelan ko jalannya. Jangan takut jatuh, he.. he.. he.." Kata Jhony mesra seraya terkekeh dengan ucapannya sendiri.


"Aiisshh.. sayang.. sayang.. palamu peyang!" Decak Zainap sebal.


"Ha.. ha.. ha.. sebentar lagi juga, kamu akan sayang beneran sama aku." Tawa Jhony dengan tingkat percaya diri yang tinggi.


"Aiish.. percaya diri sekali loe, Jhony."


"Iya dong, harus itu!"


Abi dan teman-temannya hanya senyum-senyum saja melihat tingkah kedua manusia yang bertengkar, layaknya sepasang kekasih. Si prianya cinta dan sayang banget, sedangkan si wanitanya belaga cuek dan kesal.


"Kalian ini masih sempat-sempatnya bertengkar, heran aku lihatnya." Omel Abi, lalu menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku sih engga bertengkar Bie, si Jhony saja yang rese, pake manggil-manggil sayang." Elak Zainap menyalahkan Jhony.


"Kalau memang Jhony sayang sama kamu, memangnya kenapa, Nap? Dia baik banget loh, mau gendong kamu, mau susah payah berkorban demi kamu. Coba, mana ada cowok yang perduli dan perhatian kayak si Jhony sama kamu, betul engga teman-teman?" Tanya Abi serius.


Zainap memasang tampang cemberut, dengan mengerucutkan bibirnya.


"Kalau begini terus, mendingan kita nikahin saja mereka usai KKN. Siapa yang setuju?" Ujar Abi lalu meminta persetujuan teman yang lain.


"Setuju.." Ucap Denis dan yang lainnyapun ikut setuju.


"Aku engga setuju!" Ucap Zainap menolak.


Jhony berhenti berjalan, dirinya sudah merasa kecapean karena membawa beban tubuh Zainap dipundaknya.


"Kenapa berhenti, Jhony?" Tanya Zainap merasa langkah kaki Jhony diam.


Jhony belum menjawab, namun Yanto sudah menyambar pertanyaa Zainap.


"Jhony kecapaian kali Nap, badan loe mungkin berat. "


"Jhony, apa benar begitu yang dikatakan sama Yanto? Kalau memang kamu sudah capai, ayo kita berheti dulu." Tanya Zainap engga enak hati.


"Engga sayang, aku masih kuat ko! Demi kamu aku rela meski menahan beratnya kehidupan, he.. he.. he.." Ucap Jhony terkekeh.


Zainap tidak bisa berkata lagi, wajahnya seketika memerah seperti buah chery. Hatinya terasa ingin terbang dan jantungnya berdetak lebih cepat.

__ADS_1


"Cie.. cie.. cie.. so sweet banget sih, kayaknya benar nih kata Abi. Ada yang mau nikah, habis KKN usai." Ledek Yanto menggoda.


"Aamiin.." Ucap Jhony dan Abi mengamini bergantian. Sontak saja semuanya ikut mengamini ucapan Yanto.


Zainap yang masih diatas punggung Jhony sedikit malu karena ulah teman-teman prianya, begitupun dua teman perempuannya ikut-ikutan meledeknya.


Akhirnya perjalanan mereka sampai juga di tempat pemandian air terjun yang begitu cantik dan sejuk memanjakan mata memandang.


Merekapun para pria langsung menyusul para wanita yang sudah terlebih dahulu mandi disana. Abipun tidak ketinggalan ikut mandi di air terjun itu. Namun, dia tetap menjaga jarak dengan para wanita.



"Woow.. keren banget yah! Aku jadi pingin cepat-cepat mandi." Ucap Zainap kagum saat baru saja mereka sampai.


"Tapi kaki kamu terkilir sayang, nanti di urut dulu yah, kalau sudah sembuh baru kamu boleh mandi." Ujar Jhony perhatian.


"Heeemm.." Zainap hanya bergumam pelan, saat dirinya baru saja turun dari gendongan Jhony yang cukup lama.


Jhony merentangkan kedua tangannya, lalu tubuhnya dia lekukan ke kanan dan kekiri bergantian untuk merenggangkan otot-ototnya yang kram setelah menggendong Zainap dalam perjalanan tadi.


Zainap yang melihat itupun sedikit merasa tidak enak. "Jhony pasti pegal banget itu, sudah gendong aku lumayan lama. Aku harus ucapkan terima kasih kepadanya." Bathin Zainap berucap.


"Eeem.. Jhony.." Panggil Zainap pelan, namun Jhony mendengarnya.


"Iya.. say.. eeh salah, Nap...?"


"Terima kasih yah, maaf kalau aku merepotkan kamu hari ini." Ucap Zainap sungkan.


"Tidak ada kata repot dalam cinta, Nap. Aku sungguh-sungguh sayang sama kamu, dari dua tahun yang lalu. Kamu selalu menolakku, tapi aku tidak pernah menyerah untuk mendapatkanmu." Ucap Jhony jujur.


"Jadi... sekarang kamu nembak aku lagi, Jhony?" Tanya Zainap serius dengan wajah yang sudah bersemu merah.


"Iya Nap, air terjun ini saksi bisu cintaku, jika kamu menerimaku!" Ucap Jhony pelan.


"Eeemmm... iya, aku nerima kamu, Jhony."


"Benarkah? Sungguh kamu menerima aku, Nap?" Tanya Jhony meyakinkan pendengarannya tidak salah.


"Heeemm.." Zainap mengangguk lalu tersenyum.


"Yes.. terima kasih, sayang." Ucap Jhony senang, lalu dirinya ingin memeluk Zainap, namun tangannya langsung ditepis oleh Zainap.


"Engga boleh! Bukan mukhrim." Tolak Zainap dengan tersenyum mengembang.


"He.. he.. he.. iya Maaf, khilaf."


--BERSAMBUNG--

__ADS_1


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips juga komentarnya yah. Terima kasih.🙏🙏...


__ADS_2