Cinta Tulus Abi

Cinta Tulus Abi
Niat Baik Abi


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Abi dan Mama Mariam sekarang sedang berada dikamarnya, Abi selama ini selalu tidur dengan Mama Mariam. Abi teringat moment, dimana dirinya selalu saja bermanja-manja dengan Mamanya itu.


"Mama, sebentar lagi Abi harus kembali ke kossan, tapi bila Abi libur insya Allah Abi akan menginap disini."


"Iya sayang, tidak apa-apa."


"Mama, sebenarnya Abi mau jujur sama Mama, Boleh?"


"Boleh sayang, memangnya kamu mau menyampaikan apa, sayang?"


"Abi mau melamar, wanita yang Abi ceritakan sama Mama tempo hari."


"Haah? Apa kamu sungguh-sungguh, sayang."


"Iya, Mama. Abi sangat serius mengatakan ini. Masalah ini sudah tidak bisa Abi tunda-tunda lagi, Abi takut kehilangan wanita yang Abi cintai Mama."


"Baiklah, kalau kamu memang sungguh-sungguh. Tapi apa kamu sudah bicarakan dengan wanita itu? Lalu wanita itu siapa, coba perkenalkan sama Mama."


"Sebelum Abi menyebutkan nama wanita itu, pastikan Mama setuju dulu dengan permintaan Abi tadi, terlepas siapapun wanita itu."


"Iya sayang, Mama setuju. Sekarang kamu sebutkan siapa wanita itu?"


"Wanita itu sering bertemu dengan Mama, bahkan sering bersama sama Mama. dia sangat cantik, dan baik. Bahkan dia selalu membantu Mama, dalam hal mengajar."


"Haah? Nak Ningrum? Apa 'kah wanita yang kamu ceritakan itu Nak Ningrum?"


"Heemm.. iya Mamaku, sayang." Abi berbisik ditelinga Mama Ningrum, seketika wajahnya sangat ceria.


"Masya Allah, Mama pernah berucap kepada Nak Ningrum dulu sayang, saat Nak Ningrum baru ditinggal oleh suaminya. Dia sangat bersedih dengan kepergian suaminya saat itu, bahkan dirinya belum sempat disentuh oleh suaminya sama sekalih. Mama bilang sama Nak Ningrum begini, andai saja Mama punya anak laki-laki yang usianya hampir sama dengan Nak Ningrum, sudah pasti akan Mama jodohkan dengan Nak Ningrum." Ungkap Mama Mariam panjang lebar.


"Benarkah itu Mama, Mama pernah berucap seperti itu kepada Ibu guru?" Abi sungguh tidak menyangka, tempat curhat Ibu Ningrum yaitu Mamanya sendiri.


"Benar, sayang."

__ADS_1


"Bagaimanapun keadaan Ibu guru, masih suci ataupun sudah tidak, Abi tetap mencintainya Mama. Cinta Abi tulus kepada Ibu Ningrum, selama hampir 5 tahun ini."


"Iya sayang, Mama merestui kalian. Tapi, kapan kamu akan mengatakannya kepada Nak Ningrum?"


"Karena Mama sudah memberi restu, Abi akan mengatakan sekarang juga kepada Pak Kiai. Semua ini karena atas izin Pak Kiai, Mama."


"Haah? Pak Kiai sudah lebih tahu, dari pada Mama?"


"Bukan begitu Mama, tepatnya Pak Kiai lebih mencurigai sikap Abi, dan gerak-gerik Abi saat menatap Ibu guru penuh dengan cinta. Pak Kiai sempat bertanya, sekitar 10 hari yang lalu kepada Abi. Abi yang terkejut dengan pertanyaan Pak Kiai, hanya bisa mengatakan untuk meminta izin dan restu sama Mama." Ungkap Abi dengan gamblang.


"Jadi sekarang, mari kita menemui Pak Kiai, sayang." Mama Mariam mengajak Abi untuk segera menemui beliau.


"Baik, Mama."


Mama Mariam dan Abi langsung bergegas, untuk mengatakan perihal ini secepatnya.


Setelah Abi dan Mama Mariam menunggu Pak Kiai keluar dari kamarnya, akhirnya mereka bertemu juga.


"Assalamu'alaikum Pak Kiai." Ucap salam keduanya.


"Wa'alaikumsalam Ibu guru, dan Nak Abi." Sahut Pak Kiai lalu diikuti oleh istri dan anaknya dari belakang.


Umi Khadijah, dan anaknya Ustadzah Madinahpun, ikut bergabung dengan mereka.


"Maksud kami menemui Pak Kiai adalah, untuk membahas masalah Abi dan Nak Ningrum menantu Pak Kiai." Ujar Mama Mariam.


"Ooh.. jadi Nak Abi sudah mengatakan semua niat baik Nak Abi kepada Mamanya?"


"Iya Pak Kiai, anak saya sudah mengatakannya semuanya." Ibu Mariam berkata jujur dengan apa yang sudah terjadi.


"Kalau begitu, bagaimana dengan pendapat Ibu Mariam, jika Nak Abi akan menikahi Menantu saya, yang terpaut usia cukup banyak." Ujar Pak Kiai menunggu jawaban Ibu Ningrum, dengan sikap yang begitu santai.


"Saya sebagai orang tua, dan sebagai Mama dari anak saya yang bernama Abi Maulana Dirgantara, berniat untuk memintakan Pak Kiai memberikan restunya, kepada anak saya menikah sama Ibu Ningrum Chantika Maharani."


"Saya sudah memberikan restu kepada mereka berdua, tinggal besok saya akan bicarakan masalah ini kepada putri menantu saya."

__ADS_1


"Alhamdullilah...." Mereka semua berucap syukur termasuk Umi Khadijah dan Ustadzah Madinah.


"Terima kasih, Pak Kiai." Ucap Mama Mariam dan Abi bersamaan.


"Sama-sama Nak, kebahagiaan menantu Bapak, adalah kebahagiaan Bapak sekeluarga. Sebenarnya sudah banyak yang meminta Nak Ningrum, untuk menjadi istri para Ustad dan guru-guru laki-laki disini. Namun Nak Ningrum selalu menolak, dan bilang belum siap. Jadi Bapak hanya pasrah, mengikuti kemauan Nak Ningrum." Ungkap Bapak Kiai yang sebenarnya.


"Iya Pak Kiai, kalau soal itu saya juga pernah mendengarnya langsung dari mulut Nak Ningrum." Mama Mariam menyumbangkan suaranya.


Pak Kiai menganggukkan kepala, tanda mengerti. Umi Khadijah dan Ustadzah Madinah memberikan senyum mengembang kapada Mama Mariam dan Abi. Sedangkan Abi merasa biasa saja, karena wajar saja banyak Pria yang mau sama wanita cantik seperti Ibu Ningrum. Orangnya cantik, baik, pintar, sedikit galak namun tegas dalam mengajar.


"Kalau begitu, kami permisi dulu Pak Kiai. Assalamu'alaikum..." Pamit mereka mengucap salam.


"Iya Ibu guru dan Nak Abi, Wa'alaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh.."


*******


Keesokan harinya, Bapak Kiai meminta anaknya Madinah, untuk memanggilkan Nak Ningrum menghadapnya. Lalu Madinahpun mendatangi kamar adik iparnya itu.


"Adik Ningrum, kamu diminta menemui bapak." Ucap Madinah dengan wajah riang, dan tersenyum merekah.


"Untuk apa Kak Madinah? Tumben banget, sampai Kakak harus datang kekamar Ningrum? Memangnya ada hal apa yang sangat begitu penting, Kak?" Ningrum begitu penasaran hingga wajahnya sedikit panik.


"Ada anak muda yang sangat tampan, pintar, genius, baik, azannya merdu, suaranya indah saat mengaji pokoknya kamu kenal, dan sangat kenal malah, mantan anak murid Adik sewaktu mengajar di SMA dulu."


"M.. aksud Kak Madinah, Abi bukan?" Ibu Ningrum gugup dan berdebar-debar, saat menyebutkan nama mantan anak muridnya itu.


"Cieeeh.. langsung bisa nebak orangnya. Kak Madinah engga nyangka loh, Adik kesayangan Kakak ternyata sukanya sama brondong, he.. he.. he.." Kakak Madinah meledek hingga terkekeh senang.


"Aiish.. Kakak sudah iih, jangan ngeledek terus." Ningrum malu, wajahnya merona merah saat diledek oleh Kakak iparnya.


"Iya sudah, ayo temui Bapak sekarang. Kamu bersedia, bukan?" Kakak Madinah sudah tidak sabar melihat adik iparnya menikah lagi, karena terlalu lama menjanda.


"Sebenarnya saya bersedia Kak Madinah, namun ada satu hal yang mengganjal!"


"Maksudnya? Kamu akan menolaknya lagi Adik?" Wajah Madinah mendadak tegang.

__ADS_1


--BERSAMBUNG--


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....


__ADS_2