
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Di kediaman Tuan Robby Dirgantara.
Robby mengeluarkan semua barang-barang milik Lusia, kemudian mengemasnya kedalam koper besar. Dengan perasaan gusar, Robby memaki setiap barang yang berhubungan dengan istri keduanya itu.
"Dasar istri sialan, ja lang, tukang selingkuh, tidak tahu diuntung, sampah dan bede bah." Umpat Robby, dengan isak tangis masih terdengar.
Robby menyeret koper besar itu dari dalam kamarnya, lalu menyimpannya di ruang tamu. Kemudian Robbypun meminta Mbo Tami, untuk mengemas barang-barang kedua anak tirinya kedalam koper.
"Mbo Tami, kemas barang-barang Rio, dan Riana, kedalam koper lalu bawa kemari. Mbo Tami boleh minta bantuan suaminya., jika Mbo Tami kesulitan."
"Baik Tuan, semua barang Non Riana dan Aden Rio, tanpa terkecuali, Tuan?" Tanya Mbo Tami memastikan.
"Iya Mbo Tami, tanpa terkecuali." Ucap Robby masih dengan wajah gusarnya. Mbo Tami akhirnya mengikuti perintah Tuan Robby, dengan sebaik mungkin.
Mbo Tami kemudian mengeluarkan semua barang milik Rio, dan Riana, kemudian mengemasnya kedalam koper. Setelah semua dipastikan tidak ada yang tertinggal, Mbo Tamipun menyeret semua koper Rio, dan Riana, ketempat ruang tamu dibantu oleh suaminya Pak Wahyu.
"Tuan Robby saya permisi, mau kembali ke pos jaga." Pamit Pak Wahyu sopan.
"Iya Pak Wahyu, terima kasih atas bantuannya." Ucap Tuan Robby, seraya tersenyum canggung.
"Tuan Robby, ini semua sudah saya kemas barang-barang Den Rio sama Non Riana. Kalau boleh saya tahu, untuk apa yah Tuan, barang-barang mereka dikumpulkan disini?" Tanya Mbo Tami, berpura-pura tidak tahu dengan apa yang sedang terjadi.
"Saya akan menceraikan Lusia Mbo, malam ini juga saya akan usir mereka bertiga keluar dari rumah saya."
"Mengapa Tuan? Apa penyebabnya, hingga Tuan Robby akan menceraikan istri Tuan?" Tanya Mbo Tami penasaran.
"Lusia sudah selingkuh Mbo, dia menduakan saya dengan laki-laki yang usianya bahkan seumuran dengam Rio."
"Heeemm... maaf Tuan, sebenarnya saya juga pernah melihat Nyonya, membawa laki-laki muda kedalam kamar Tuan. Nyonyapun sering pergi bersama laki-laki yang sama keluar rumah, dan besok siangnya baru pulang. Tapi, itu semua dilakukan Nyonya, jika Tuan sedang keluar kota." Ujar Mbo Tami panjang lebar.
"Haaah... ? Kenapa Mbo tidak pernah mengatakan hal ini kepada saya?"
"Mbo tidak berani Tuan, dan Mbo Tami juga takut kalau Tuan nanti tidak percaya kepada Mbo."
__ADS_1
"Sejak kapan, Mbo melihat Lusia membawa laki-laki kedalam rumah ini?" Tanya Tuan Robby, penuh dengan kebencian kepada Lusia.
"Sejak satu tahun, Nyonya Lusia menikah dengan Tuan Robby." Jawab Mbo Tami jujur.
"Haah.. ? Selama itu Mbo? Berarti istriku sudah begitu lama selingkuh dibelakangku." Tuan Robby begitu terkejut, dengan fakta Lusia istrinya yang selama ini bersikap manis dihadapannya.
"Iya Tuan." Mbo Tami tidak berani melihat Tuannya itu, yang seakan ingin mencekik mangsanya sekarang juga, saat mengetahui fakta yang sebenarnya.
"Maafkan saya Tuan, maafkan saya. Saya tidak ada bukti dan tidak berani juga mengatakan kebenaran ini. Saya hanya berdoa kepada Allah, agar Tuan Robby menemukan kebusukan istri Tuan sendiri." Mbo Tami meminta maaf dengan tulus dan menjelaskan dirinya yang tidak bisa berkata jujur.
"Lusia.. sial kau... aku benci kau Lusia... !" Teriak Robby, seraya memaki dan mengumpat kesal.
"Sabar Tuan, semua yang terjadi biarlah terjadi, sekarang tinggal Tuan membenahi diri untuk mencari Den Abi dan Nyonya Mariam."
"Iya Mbo, saya menyesal sudah menceraikan istri saya yang baik, demi membela wanita ja lang itu." Sesal Robby mengakui kesalahannya.
"Bruummm... dddrrttt..." Bunyi suara motor terparkir, di depan garasi rumahnya.
"Itu sepertinya, bunyi suara motor Den Rio, Tuan." Ucap Mbo Tami.
"Siap Tuan, saya Mbo Tami akan membasmi segala bentuk penghianatan." Ucapnya, seraya berdiri tegak dan memberi hormat.
"Aiish... Mbo Tami... Mbo Tami... kamu itu ada-ada saja bikin saya bisa tertawa, meski hati saya sedang sakit dan hancur seperti ini." Ujar Robby, dengan tingkah konyol ARTnya itu.
"He.. he.. he.. gitu dong Tuan, tertawa.. jadi kelihatan gantengnya kayak Den Abi." Kekeh Mbo Tami, saat mengingat wajah Abi nampak mirip dengan Tuan Robby.
"Ting.. tong... ting.. tong.." Bunyi bell pintu ditekan.
Mbo Tami langsung membukakan pintu untuk Rio, saat Terbuka pintu tersebut, betapa terkejutnya Rio yang melihat Papa Robby sedang duduk dikursi, dengan tangan menyilang di depan dadanya.
"Assalamu'alaikum.. Papa sudah pulang? Bukankah Papa keluar kota untuk beberapa hari kedepan?" Salam Rio, dengan wajah heran.
"Wa'alaikumussalam.. terserah saya, mau pulang atau tidak. Apa kamu tidak suka melihat saya ada di rumah sekarang?" Ucap Tuan Robby, tidak ada kata ramah sama sekalih.
"Tidak Pah, engga seperti itu. Saya hanya heran kenapa Papa tiba-tiba ada dirumah? Padahal Papa tadi pagi bilang mau ke Bandung selama dua hari." Rio menyangkal tuduhan Papa tirinya itu.
__ADS_1
"Heeemm.. ambil kopermu, mulai malam ini kamu keluar dari rumah saya." Ucap Robby ketus dengan memandang Rio tajam.
Rio tidak bisa berucap sepatah katapun, kepalanya tertunduk lemas memandang lantai marmer, yang berada tepat dibawah kakinya.
"Kamu jangan berdiri saja, silahkan duduk dibangku itu untuk menunggu Mama dan Adikmu." Ucapnya dingin, tanpa ada senyum sedikitpun.
Rio hanya mengikuti perintah Papa tirinya, tanpa mengucapkan sepatah katapun."
Robby hanya tersenyum menyeringai, saat Rio tidak berkutik dihadapannya.
Deru mesin mobil berhenti di garasi rumah Robby, Riana baru diantar pulang oleh teman laki-lakinya di kampus.
"Ting.. tong.. ting.. tong..." Bunyi bell pintu ditekan.
"Assalamu'alaikum.. Papa, Kak Rio! Kenapa semua berada disini?" Riana merasa heran, dengan sikap keduanya yang nampak aneh.
"Wa'alaikumussalam, silahkan ambil koper milikmu." Ucap Robby, tanpa ada senyum sedikitpun.
"Apa maksudnya Pah? Riana engga mengerti." Tanya Riana heran, dengan sikap Papa tirinya yang mendadak berubah.
"Maksud saya, mulai malam ini kamu dan Kakakmu juga Mamamu, tidak akan tinggal disini lagi." Ujar Robby tegas.
"Memangnya, kami salah apa? Kenapa Papa mengusir kami?" Tanya Riana yang masih belum paham maksud Papa tirinya.
"Tunggu Mama kamu pulang, baru kamu akan mengerti kenapa saya mengusir kalian."
Riana mulai paham dengan ucapan Papa tirinya. "Apa Papa sudah tahu, tentang Mama yang berselingkuh? Atau Papa sedang bertengkar dengan Mama?" Ucap hatinya bermonolog.
Tidak berselang lama Mobil Lusiapun datang, jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.
Mbo Tami membukakan pintu untuk Lusia, namun Lusia langsung melihat kearah suami, dan kedua anaknya yang sedang duduk dikursi.
"Ada apa? Kenapa kalian nampak begitu tegang?"
--BERSAMBUNG--
__ADS_1
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....