
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Malam ini Abi memutuskan untuk tidak pulang, karena waktu sudah sangat larut juga. Papa Robby pasti akan marah jika tahu dirinya pulang larut, dan dirinyapun malas berurusan dengan Papanya nanti.
Abi menginap dirumah sahabatnya Firman, sahabatnya yang baru dia kenal semenjak dirinya masuk sekolah SMA. Selama ini Abi sangat tertutup dengan masalah keluarga, tapi sekarang dia mulai bercerita kepada sahabatnya Firman dan Noval.
Novalpun memutuskan ikut menginap juga bersama Abi dirumah Firman, karena dirinya juga sama jika pulang larut malam, orang tuanya akan marah kepadanya.
"Fir.. gue pinjem kaos loe dong." Pinta Noval memohon, seraya berkedip imut.
"Pinjem sih boleh Val, tapi wajah loe engga usah di imut-imutin gitu! Geli gue liatnya..." Ucap Firman merasa tidak suka.
"He.. he.. he.. biar loe kasih Fir." Kekeh Noval beralasan.
"Sebentar gue ambilin yah." Ucap Firman, seraya berjalan ke tempat lemari bajunya.
"Loe juga Bie, mau pinjam baju gue engga?" Tanya Firman sekalian, seraya menatap ke arah Abi.
"Engga Fir, ini gue bawa baju ganti sendiri." Ucap Abi seraya menunjukkan baju yang dia pegang.
"Sip lah kalau begitu." Ucap Firman seraya memberikan jempol tangannya kearah Abi.
"Firman, gue numpang ke toilet loe?" izin Abi, seraya berjalan kepintu toilet.
"Iya, Bie." Sahut Firman singkat.
Abipun membersihkan diri ditoilet dan berganti baju kaos yang dia bawa dari rumahnya. Selesai itu, Abi mengirim pesan singkat kepada Papa Robby. "Papa, malam ini Abi tidak pulang kerumah, turnamen malam ini sangat melelahkan, Abi menginap dirumah Firman."
Pesan sudah terkirim, Abi menunggu beberapa menit, namun Papa Robby tidak membalas pesan Abi. Lalu Abi keluar dari toilet dengan wajah masam.
"Kenapa Bie? Keluar dari toilet, muka loe jadi kecut begitu?" Tanya Noval heran dengan wajah sahabatnya yang mendadak berubah.
"Bokap, engga bales pesan dari gue." Sahut Abi jujur, seraya duduk disamping Noval.
"Mungkin sudah tidur?" Tanya Firman, ikut menimpali, seraya berjalan membawa makanan ringan, untuk teman mereka begadang malam ini.
"Bisa jadi begitu Bie." Ucap Noval mengiyakan sahabatnya Firman.
"Ding." Bunyi pesan masuk ponsel Abi.
"Tuh Bie, ponsel loe ada bunyi pesan masuk, bukan?" Tanya Firman, yang hapal dengan pesan WA Abi jika berbunyi.
"Iya, sepertinya dari Bokap gue Fir, coba gue chek dulu." Ujar Abi menerka, seraya membuka ponselnya, dan benar saja satu pesan yang menohok Abi.
__ADS_1
"Kamu tidak pulang malam ini, jangan harap kamu bisa kembali kerumah." Isi pesan Papa Robby yang berupa ancaman.
"Kenapa loe Bie, Bokap loe bilang apa?" Tanya Firman, merasa ada yang tidak beres dengan pesan yang diterima Abi.
"Loe baca sendiri Fir." Ucap Abi, seraya menyodorkan ponselnya ketangan Firman.
Firmanpun langsung membaca dengan kening yang berkerut, Noval yang merasa ingin tahu juga akhirnya ikut membacanya.
"Bokap loe hanya menggertak saja kali Bie, engga usah dipikirin." Ujar Firman menenangkan.
"Iya Bie, engga mungkin lah Bokap loe setega itu mengusir loe dari rumah." Ujar Noval menimpali.
"Tapi, kalian engga tahu kalau setiap ucapan Bokap gue itu, adalah perintah." Sarkas Abi.
"Kalau begitu loe mau pulang malam ini juga hah..? Sudah hampir pagi, sekarang sudah jam 2 Bie." Ujar Firman, seraya mengembalikan ponselnya ditangan Abi.
"Iya Bie, jangan nekat, jam segini itu banyak perampok, maling, demit dan kunti pada berkeliaran Bie.... iich, ngeri gue ngebayanginnya." Ujar Noval dengan banyolannya.
"Val.. Noval, ada-ada saja loe, hari gini masih percaya demit sama kunti. Kebanyakan nonton film horor sih loe, jadi kayak gini, otaknya rada konslet. He.. he.. he.." Ujar Firman terkekek, seraya menggelengkan kepalanya pelan.
Abi ikut tersenyum, dengan ucapan Firman yang menurutnya sependapat dengan pikirannya.
"Ha.. ha.. ha.. " Novalpun ikut tertawa, karena ucapan Firman ada benarnya.
"Laaah Fir? Kita engga begadang sampai pagi nih, jadinya?" Tanya Noval heran.
"Iya Val, sudah jangan banyak tanya, mending loe tidur sekarang, atau loe begadang sama demit dan kunti saja." Ujar Firman memberi pilihan.
"Iiichh.. amit-amit Fir, loe kalau ngomong bikin gue parno." Ucap Noval merasa ngeri.
"He.. he.. he.. ya sudah, makanya loe tidur." Ucap Firman seraya terkekeh, sedangkan Abi hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah laku kedua sahabatnya itu.
Akhirnya Novalpun tertidur menyusul Firman diatas kasurnya, sedangkan Abi tidur disofa.
*******
Di kediaman Tuan Robby Dirgantara, Waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi, tapi Abi masih belum juga menunjukkan batang hidungnya.
"Kemana anak itu? Makin besar, sudah tidak bisa diatur lagi. Ancamanku semalam, ternyata tidak membuat dirinya takut." Gerutu Papa Robby, kesal dengan anak kandungnya sendiri.
"Sudahlah Papa sayang, nanti juga anak itu pulang." Ucap Lusia menenangkan, sedang hatinya tersenyum, melihat suaminya yang sudah menahan amarah sedari tadi.
"Tidak, sekarang sudah tidak ada maaf untuk anak itu, sifatmya keras seperti Mamanya." Sarkas Papa Robby.
__ADS_1
"Heeemmm." Lusia hanya bergumam pelan, namun hatinya bersorak hore.
"Mam, panggilkan Mbo Tami kesini." Pinta Papa Robby kepada istrinya.
"Iya Papa, sayang." Ucap Lusia mesra, seraya bangkit dari duduknya dan mencari keberadaan ARTnya.
"Mbo Tami.. Mbo Tami.. !" Panggil Lusia dengan berteriak.
"Iya Nyonya Lusia, ada apa memanggil saya?" Tanya Mbo Tami heran.
"Kamu, diminta menemui Tuan di depan." Jelas Lusia, dengan wajah juteknya.
"Iya Nyonya, permisi." Ucap Mbo Tami ramah, sedangkan Lusia hanya tersenyum miring kepadanya.
Mbo Tami berjalan menghampiri Tuan rumahnya, hatinya terus bermonolog. "Ada apa Tuan memanggil saya? Apa ada hubungannya dengan Aden Abi yang tidak pulang semalam?"
"Permisi Tuan, ada apa memanggil saya, Tuan?" Tanya Mbo Tami hati-hati.
"Kamu bereskan, baju-baju Abi dan semua barang-barangnya, masukkan ke koper dan bawa kehadapan saya." Perintah Tuan Robby dengan tegas.
"T.. tapi Tuan, Aden Abi mau kemana?" Tanya Mbo Tami penasaran.
"Saya mau usir dia, biar dia tahu bagaimana susahnya hidup dijalanan, tanpa tempat tinggal dan uang jajannya." Jelas Tuan Robby, dengan bernada ancaman.
"T.. tapi...." Ucap Mbo Tami terhenti, saat Tuan Robby memotongnya.
"Tidak ada tapi-tapian Mbo, sudah cukup toleransi dari saya untuk Abi.
Mbo Tami akhirnya pasrah dengan ucapan Tuan majikannya. Sejujurnya dia tidak tega, kalau harus membereskan semua barang-barang Abi kedalam koper besarnya. Namun hal itu terpaksa dia lakukan.
"Assalamu'alaikum..." Salam Abi saat masuk kedalam rumahnya.
"Wa'alaikumsalam Aden Abi...." Jawab salam Mbo Tami, dengan wajah sendu dan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Kenapa Mbo? Ini koper siapa?" Tanya Abi sudah dengan perasaan tidak enak.
"Koper kamu, silahkan angkat kaki dari rumah ini!"
"Papa?"
Flash Back Off!
--BERSAMBUNG--
__ADS_1
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....