
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Di kediaman Tuan Robby Dirgantara.
"Selamat pagi Tuan, apa Tuan mau dibuatkan sarapan atau minuman hangat?" Tanya Mbo Tami ramah.
"Secangkir kopi saja Mbo, mata saya masih mengantuk, semalaman saya kurang tidur."
"Kurang tidur Tuan? Tapi, saat pukul 10 malam, saya melewati kamar Tuan, lampunya sudah padam."
"Lampu kamar saya memang sudah padam, tapi saat saya mencoba memejamkan mata, masih belum bisa tertidur. Saya akhirnya menyalakan lampunya kembali, lalu membuka album photo pernikahan saya dengan Mariam dulu dan melihat album photo Abi saat masih kecil. Tanpa terasa melihat photo mereka, hati saya begitu senang dan merindu Mbo." Jelas Papa Robby panjang lebar.
"I.. iya Tuan, saya sudah mengerti kalau Tuan Robby sangat merindukan Nyonya Mariam dan Aden Abi. Saya juga sangat merindukan mereka Tuan, sudah lama sekalih tidak melihat mereka. Maaf Tuan, kalau begitu saya akan buatkan secangkir kopi untuk Tuan sekarang juga."
"Iya, Mbo Tami."
Mbo Tami membuatkan secangkir kopi hanya beberapa menit, selesai membuatnya Mbo Tami langsung menyuguhkannya kepada majikannya tersebut.
"Ini Tuan Robby, secangkir kopi panas buatan Mbo Tami di jamin mantul alias mantap betul, he.. he.. he.."
"Terima kasih Mbo, sudah pasti itu."
"Sama-sama Tuan, saya permisi dulu yah Tuan, saya mau membereskan pekerjaan rumah dulu." Ucapnya Mbo Tami meminta izin.
"Iya Mbo, silahkan. Oh iya Mbo, kemarin siang saat saya ke Pondok Pesantren di Bogor, saya bertemu dengan Mariam mantan istri saya." Ucap Robby dengan tersenyum mengembang.
"Benarkah Tuan? Alhamdullilah Tuan, akhirnya bisa bertemu dengan Nyonya Mariam lagi. Tapi, mengapa Nyonya ada di Pondok Pesantren Tuan?" Mbo Tami penasaran dengan apa yang baru saja di dengarnya. Tanpa terasa, Mbo Tami menitikkan air mata kebahagiaan.
"Mariam bekerja disana Mbo. Tahu engga Mbo, hal apa yang lebih mengejutkan lagi? Mbo pasti tidak akan percaya?" Robby memberikan tebakkan, yang membuat ARTnya penasaran.
"Hal Apa Tuan? Duuh... saya jadi penasaran." Mbo Tami menancapkan pendengarannya, dengan memasang wajah serius. Pipinya Mbo Tami, mulai banjir dengan air matanya. "Hikkzz.. hikkzz.."
"Ternyata anak saya Abi, tinggal juga bersama Mariam Mama kandungnya." Ucap Robby sangat bahagia.
__ADS_1
"Haah..? Apa benar begitu Tuan? Jadi selama ini mereka tinggal bersama?" Tanya Mbo Tami hampir tidak percaya, seraya mengusap air matanya pelan dengan tangan Mbo Tami sendiri.
"Hemm.. ada yang lebih mengejutkan lagi, Mbo Tami jangan shock yah!" Ucapnya Robby memperingatkan.
"Apa Tuan? Hal apa lagi yang lebih mengejutkan? Nyonya Mariam dan Den Abi tinggal bersama saja, saya sudah terkejut Tuan. Apa lagi mendengar hal lain lagi." Ujar Mbo Tami, seraya memegang dadanya yang begitu senang mendengar kabar mereka Nyonya Mariam dan Abi.
"Abi yang selama ini saya cari, ternyata selain tinggal dengan Mama kandungnya, diapun sudah menikah dengan gadis yang sangat cantik Mbo." Ucap Robby, matanya sudah berkaca-kaca.
"Apa? Den Abi sudah menikah, Tuan? Apa ini saya engga salah dengar? Den Abi bukankah masih terlalu muda untuk menikah? Kalau engga salah, menurut perhitungan saya, usia Den Abi baru menginjak 20 tahun, bukan?" Tanya Mbo Tami shock dengan apa yang habis didengarnya, seraya menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
Mbo Tami sangat menghormati Nyonya Mariam, apa lagi dengan Abi anak majikannya, dia sangat menyayanginya. Bahkan Mbo Tami sudah menjaga Abi dari kecil sampai besar, dia sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri.
"Iya Mbo, hanya saja saya belum bertemu langsung dengan Abi. Mungkin, nanti malam saya akan datang kesana lagi untuk menemui mereka Mbo. Doakan saya berhasil untuk membawa mereka kembali yah Mbo." Air mata Robbypun tumpah ke wajah tampannya.
"Iya Tuan, saya doakan yang terbaik untuk Tuan, Nyonya dan Den Abi." Ucap Mbo Tami tulus, air matanya tidak kunjung berhenti.
"Terima kasih sudah doakan saya Mbo, saya sangat menyesal Mbo, saya akan membahagiakan mereka, menebus kesalahan dan waktu yang sudah hilang selama ini." Ujar Tuan Robby lirih, seraya mengusap air matanya pelan.
"Sama-sama Tuan, semua punya masa lalu, semua punya masalah, Tuan. Insya Allah, jika kita berniat baik, pasti ada jalan untuk Tuan dan Nyonya Mariam kembali." Ucap bijak Mbo Tami.
*******
Di kampus tempat Abi menimba ilmu, saat ini dirinya sedang menyiapkan beberapa materi dan bahan untuk persiapan KKN [Kuliah Kerja Nyata] minggu ini.
Abi akan melaksanakan KKN [Kuliah Kerja Nyata] selama satu sampai dua bulan di daerah Sumedang, Jawa Barat.
Karena Abi sudah menginjak semester lima, mau tidak mau Abi harus mengikuti kegiatan KKN tersebut. Kegiatan itu sudah diwajibkan oleh kampus, untuk semua Mahasiswa yang akan mendekati pembuatan skripsi.
"Apa kamu sudah siap, Abi?" Tanya teman satu kelasnya yaitu Zainap.
Zainap adalah teman Abi satu kelas dan jurusan yang sama. Dia sangat dekat dengan Abi, dia menaruh hati kepada Abi namun dia memendamnya selama hampir dua tahun.
Abi memang dekat dengan Zainap karena satu kelas terus, selama dia menjadi mahasiswa dikampus itu.
__ADS_1
Abi seringkali merasa nyaman dan senang saat bersama Zainap, namun dia tidak memiliki perasaan apapun kepadanya baik dari dulu maupun sekarang.
Apa lagi saat ini Abi sudah menikah dengan pujaan hatinya Ningrum, sudah pasti tidak ada lagi kesempatan wanita lain memasuki hatinya.
Namun, berbeda dengan Zainap. Dirinya sudah tidak sanggup lagi untuk memendam rasa cintanya, yang sudah begitu lama dia rasakan.
"Sudah Nap, kalau kamu bagaimana?" Tanya Abi saat akan beranjak dari tempat duduknya.
"Aku sudah sih, tapi aku mau ngomong sesuatu yang penting sama kamu, Bi!" Ucap Zainap dengan wajah bersemu malu.
"Mau ngomong apa Nap? Katakan saja sekarang." Tanya Abi dengan santainya tanpa memandang lawan bicaranya.
"Tapi, aku malu Bi, kalau harus ngomong disini." Ucap Zainap.
"Drtt.. drrt.. drttt.." Ponsel Abi berbunyi.
"Sebentar yah Nap, aku angkat telpon dari istriku dulu." Pamit Abi meminta izin untuk mengangkat telpon dari istrinya.
Zainap termangu, saat mendengar Abi mengatakan akan menerima telpon dari istrinya.
"Haah..? Istri? Sejak kapan Abi mempunyai istri? Kapan menikahnya? Tapi, kenapa aku engga diundang?" Bathin Zainap bertanya-tanya.
Abi meninggalkan Zainap yang sepertinya masih shock, Abipun menyadarinya karena raut muka Zainap sangat terlihat jelas dimatanya, meski Abi hanya menatap sekilas saja.
Abipun kemudian menggeser tombol hijau untuk menjawab telpon dari istri tercintanya.
"Hallo.. Assalamu'alaikum, Humairahku sayang. Ada apa? Sudah kangen yah?"
"Wa'alaikumussalam, Al-habibku sayang. Nanti jadi engga KKN ke Sumedang?" Tanya Ningrum.
"Jadi sayang, tapi besok pagi berangkatnya. Malam ini saya masih bisa tidur pulas dengan istriku."
"Aiishh.. pikirannya mesum."
__ADS_1
--BERSAMBUNG--
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....