Cinta Tulus Abi

Cinta Tulus Abi
Takdir


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Abi baru saja pulang dari kampus, dia berpapasan dengan Robby Papa kandungnya. Mobil Robby yang akan keluar, sedangkan motor Abi yang akan masuk.


Abi merasa seperti melihat sosok Papa kandungnya, didalam mobil yang saat ini sedang berpapasan. Akhirnya Abipun menajamkan penglihatannya, menghentikan laju motornya.


Abi menatap wajah itu, yang dulu sangat dia hormati dan takuti saat masih tinggal bersamanya.


"Sepertinya, memang Papa. Tapi, bagaimana dia bisa tahu kalau kami tinggal disini? Apa penglihatanku yang salah? Aah.. tidak mungkin, penglihatanku masih awas." Abi bergumam pelan dengan pemikirannya sendiri.


Abipun kemudian melajukan motornya kembali, untuk memarkirkannya di area parkir Pondok Pesantren.


*******


Tuan Robby menatap pengendara motor, yang barusan berpapasan dengan mobilnya. Robby merasa pamiliar dengan motor yang barusan melintas dihadapannya.


"Apakah mungkin itu Abi, anakku? Apakah dia baru saja pulang? Andai tadi dia membuka helmnya!" Robby bergumam pelan, namun masih terdengar oleh Manager Bambang yang berada disampingnya.


"Kenapa Tuan? Sepertinya Tuan bergumam terus? Ada apa sebenarnya Tuan? Apa boleh saya tahu?" Tanya Manager Bambang penasaran dengan apa yang sedang dipikirkan Boss besarnya itu.


"Itu tadi kamu lihat pengendara motor yang barusan masuk ke dalam Pondok Pesantren, tidak? Saat kita akan keluar dari gerbang Pondok Pesantren." Tanya Robby kembali ingatannya, saat melihat motor yang persis sama dengan anaknya Abi.


"Iya Tuan, saya melihat pengendara motor gede, mirip motor balap gitu 'kan, Tuan?"


"Iya, Itu seperti motor anak saya Abi, saya ingat betul motor itu saya yang beli. Waktu itu Abi ingin ikut latihan turnamen, di Sirkuit Sentul Bogor." Ujarnya Robby tersenyum saat mengingat moment bahagia bersama anaknya Abi.


"Abi sayang, maafkan Papamu yang sudah menelantarkanmu selama empat tahun ini. Abi sayang, maafkan Papamu yang sudah membuatmu kecewa dan benci selama ini. Abi sayang, maafkan Papamu juga yang tidak bisa hadir dipernikahanmu." Robby berucap dalam hatinya dengan penuh penyesalan.


"Abi anak kandung Tuan, bukan?" Tanya Manager Bambang penasaran.


"Iya, Abi anak kandung saya." Ucap Robby bangga.


"Apa Tuan? Benarkah apa yang Tuan ucapkan? Pengendara motor itu, Aden Abi?" Tanya Pak supir Acep shock.


"Iya, sepertinya begitu, Mang Acep." Ucapnya yakin.

__ADS_1


"Kalau memang itu Aden Abi anak Tuan, kenapa Tuan tidak menemuinya? Saya sangat merindukan Aden Abi. Bukankah, Tuan kemarin sedang mencari Aden Abi?" Tanya Pak Supir Acep penasaran.


"Iya Mang Acep, saya mencari Abi tidak ada kabar, tanpa disangka-sangka malah Abi dan Mamanya ada di Pondok Pesantren itu Mang. Mungkin ini yang dinamakan takdir, disaat saya lelah mencari, malah takdir yang mendatangi saya." Ucap Tuan Robby.


"Maksud Tuan, Nyonya Mariam? Mantan istri Tuan?" Tanyanya lagi dengan wajah shock.


"Iya Mang Acep, tapi ini kenapa Mang Acep bawa mobilnya pelan banget?" Tanya Tuan Robby, yang merasa jalan mobilnya sedikit melambat. Sedangkan Manager Bambang hanya mengangguk pelan.


"He.. he.. saya 'kan sedang ngobrol sama Tuan, jadi saya bawanya santai Tuan. Apa Tuan ingin saya bawa mobilnya cepat?" Kekeh Mang Acep dengan beralasan.


"Iya lebih cepat, saya ingin cepat sampai rumah, saya sudah sangat lelah Mang Acep." Pinta Tuan Robby.


"Baik Tuan, saya akan lebih percepat laju mobilnya." Ucapnya, Mang Acep langsung melajukan mobilnya lebih cepat, diapun berhenti bertanya tentang istri dan anaknya lagi.


*******


Abi sedang berada di kamar Ningrum istrinya, yang sekarang juga menjadi kamarnya.


"Humaira sayang, tadi saat saya baru sampai depan gerbang, saya seperti melihat Papa saya." Ucap Abi saat sedang berada dibuaian istrinya dengan manja. Jari jemarinya Abi memainkan jari tangan kiri istrinya, sedangkan jari tangan kanan istrinya memainkan rambut suaminya.


"Iya Humaira sayang, apa kamu sudah mengenal Papa saya? Berarti benar tadi Papa kesini? Apa bertemu dengan Mama?"


"Heem.. Papa Robby bertemu dengan Mama dan ternyata selama ini Papa mencari kamu dan Mama. Tadi siang, Papa Robby sudah mengatakan ingin rujuk sama Mama, namun Mama menolaknya."


"Apa? Berani sekalih Papa sudah mengajak Mama rujuk, apa Papa sudah tidak waras? Sudah menghianati Mama, hingga akhirnya bercerai, lalu menikah dengan selingkuhan itu, mantan sekretarisnya. Hingga akhirnya saya terusir dari rumah, hanya karena kesalahan kecil." Ujar Abi sudah menahan marah, saat mendengar Papa Robby mengajak Mamanya untuk rujuk.


"Sabar Al-habibku sayang, semua bisa dibicarakan dengan kepala dingin." Ucap Ningrum menenangkan suaminya, yang sedang emosi dan marah, seraya mengusap dada suaminya lembut.


"Iya.. Humaira sayangku." Ucap Abi lembut, seraya bangkit dari posisi berbaring dirinya di pangkuan istrinya.


Abi menatap lekat istrinya, lalu mengedipkan matanya seakan menggoda. Ningrum seakan tahu maksud suaminya, diapun memalingkan wajahnya malu.


"Aiish.. Al-habibku sayang, masih sore juga iih, malu kalau nanti ada yang datang." Decak Ningrum yang mengerti arah sikap dan tingkah suaminya.


"Enggalah Humairah sayang, kitakan masih pengantin baru, belum ada satu minggu kita menikah. Jadi mereka mengerti, mereka tidak akan mengganggu kita yang sedang kasmaran." Tangan Abi menjalar di letak sensitive istrinya.

__ADS_1


"Al-habib geli iih.." Pekik Ningrum menghentikan jari tangan suaminya dan bibirnya yang sudah menghujani wajahnya.


"Kenapa? Al-habibmu ini sangat rindu, seharian di kampus terasa setahun buatku jauh-jauh dari istri cantiku, Humairaku." Ujar Abi jujur dengan perasaannya.


"Aiish.. sekarang pintar menggombal yah, dasar murid nakal!" Omel Ningrum merasa geli, saat suaminya menggombal.


"Iih.. enak saja bilang menggombal! Engga ada kata gombal, dari bibir suamimu ini untuk istri cantikku. Saya jujur apa adanya, memang sangat rindu dan ingin dimanja. Sebagai Ibu guru yang baik, harus bisa memanjakan muridnya yang nakal ini dong, he.. he. he.." Bantah Abi seraya terkekeh.


"Nanti malam, kita akan habiskan dengan puas Al-habibku sayang, kalau sekarang istrimu ini akan memasak didapur membantu Umi dan Mama untuk menyiapkan makan malam." Ucap Ningrum berbisik ditelinga suaminya.


Abi merengut, lalu melepaskan pelukkannya yang sedari tadi, seakan tidak ingin berpisah meski sebentar saja.


"Tapi, kasih ini dulu." Rengek Abi manja, seraya menyentuh bibir istrinya.


"Suamiku ini sungguh meresahkan hatiku yah, sini murid nakal Ibu guru. He.. he.. cup.. cup.." Omel Ningrum, sungguh Ningrum merasa gemas dengan suaminya, yang selalu membuat dirinya mengikuti kemauanya. Akhirnya Ningrumpun mencium kilat, bibir suaminya dua kali.


"Sudah yah, Al-habibku sayang. Istrimu ini akan kedapur dulu." Pamit Ningrum yang akan beranjak turun dari ranjangnya.


"Tunggu." Ucap Abi menahan tubuh istrinya untuk bangun.


"Kenapa sa...mmmmmppptt" Ucap Ningrum terhenti ketika bibir suaminya sudah membungkam bibirnya dengan lembut dan hangat.


Ningrumpun akhirnya terbuai dengan ciuman suaminya yang begitu indah dan memabukkan. Abi melepaskan pangutannya, lalu tersenyum bahagia.


"Terima kasih, Humaira istriku." Ucap Abi tulus seraya mengecup kening istrinya mesra. Ningrumpun tersenyum dengan tingkah suami nakalnya yang menggemaskan menurutnya.


"Katanya, mau masak?" Tanya Abi saat Ningrum masih setia berada dipelukkannya.


"Aah.. kamu sih sayang, saya jadi lupakan!" Ucap Ningrum melepaskan pelukkannya, lalu beranjak dari atas ranjangnya.


"He.. he.. he.." Abi tertawa saat melihat istrinya langsung kabur.


--BERSAMBUNG--


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2