
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Ningrum mengambil sapu dan kain lap basah, untuk membersihkan pecahan gelas tersebut. Ningrum khawatir dengan Mama mertuanya, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Mama tidak apa-apa 'kan? Mama baik-baik saja, bukan?" Tanya Ningrum khawatir dengan Mama mertuanya itu.
"T.. tidak sayang, Mama tidak apa-apa." Jawab Mariam sedikit gemetar.
"Mama masih mau disini atau kita ke kamar saja?" Tanya Ningrum perhatian.
"E.. engga apa sayang, Mama disini saja." Jawab Mariam gugup.
"Mama yakin baik-baik saja?" Tanya Ningrum masih khawatir.
"Yakin, sayang." Ucap Mariam singkat.
Mariampun sudah membaca proposal, yang akan dilanjutkan ke tahap berikutnya untuk kesepakatan kedua belah pihak yang harus segera di selesaikan. Namun, Mariam tidak bisa bergerak bebas dengan tatapan mantan suaminya, yang sedikit mengusik dirinya.
Tuan Robby selalu mencuri pandang sesaat wajah mantan istrinya yang terlihat gugup dan canggung.
"Mariam apakah kamu sangat membenciku? Apakah kamu tidak bisa memaafkanku? Kamu begitu rapuh Mariam, aku ingin memelukmu andai engkau masih istriku." Bathin Robby menjerit dengan pertanyaan yang ada di otaknya.
"T.. tuan Robby, tolong ditandatangani Proposal yang sudah kami ajukan." Ucap Mariam sedikit gugup, dengan menatap sekilas wajah mantan suaminya yang masih terlihat tampan.
"Iya.. sayang." Ucap Robby keceplosan.
Sontak saja Mariam bergeming dan membulatkan matanya tajam. Lalu yang lainnya tersentak atas ucapan Robby yang sangat mengejutkan.
"Apa yang Tuan Robby katakan? Tuan Robby memanggil Ibu Mariam dengan sebutan sayang?" Tanya Kiai Zain penasaran. Begitupun dengan yang lainnya.
__ADS_1
Manager Bambang dan Ningrum semakin yakin, bahwa Nyonya Mariam dan Tuan Robby adalah mantan suami istri.
"T.. tidak Pak Kiai. Saya itu tadi salah berucap, maafkan saya Nyonya Mariam." Bantah Robby terlihat gugup.
Mariam hanya mengangguk kecil, lalu menyerahkan proposal itu untuk di tandatangani oleh Robby. Sebenarnya Mariam masih terkejut, dengan sikap dan ucapan mantan suaminya. Bisa-bisanya mantan suaminya itu, memanggil dirinya dengan sebutan sayang.
Robby langsung meraih berkas proposal tersebut, untuk di tandatangani olehnya. Namun, Robby membaca ulang isi proposal tersebut sebelum dirinya menandatanganinya.
Robby tersenyum canggung dengan semua orang yang ada dihadapannya. Robby merasa mati kutu, saat dirinya sudah salah tingkah di depan mereka. Seperti layaknya anak ABG yang baru saja mengenal cinta.
"Ooh.. begitu yah Tuan. Saya pikir, Tuan Robby tadi benar-benar memanggil sayang kepada Ibu Mariam." Ujar Pak Kiai.
"Tidak Pak Kiai, nanti Pak Kiai salah paham sama saya, kalau saya panggil Nyonya Mariam dengan sebutan sayang." Ucap Robby menjelaskan maksudnya.
"Waah... sepertinya anda yang salah paham Tuan Robby! Ibu Mariam bukan siapa-siapa saya, jadi tidak ada hubungan apa-apa antara saya dan Ibu Mariam." Ungkap Pak Kiai dengan gamblang.
Mariam hanya tertunduk malu, mantan suaminya selalu salah paham kepadanya. Perpisahannya dulu saja, disebabkan oleh salah paham antara dirinya dengan karyawan mantan suaminya.
"Iya Tuan Robby, tapi kenapa Tuan Robby begitu senang, saat mendengar Ibu Mariam bukan siapa-siapa saya?" Tanya Pak Kiai jadi ingin lebih tahu, maksudnya Tuan Robby bertanya seperti itu.
"Tadi saya dengar, jika Nona Ningrum ini memanggil Nyonya Mariam dengan sebutan Mama, saya pikir Nona Ningrum ini menantu Pak Kiai dan Nyonya Mariam. Setahu saya Nyonya Mariam tidak memiliki anak wanita, bukan?" Tanya Robby pada akhirnya.
Semua orang seketika menatap Tuan Robby dan Nyonya Mariam bergantian. Ada apa sebenarnya antara Mereka, apakah mereka sudah saling mengenal sebelumnya.
Ningrum sudah yakin, jika mereka adalah mantan suami istri, karena semakin dilihat-lihat, wajah suaminya agak mirip dengan Tuan Robby.
Mariam bergeming dan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun, dirinya pasrah dengan semua yang akan terjadi.
"He.. he.. he.. Ningrum memang menantu saya dan Ibu Mariam, tapi anak kami berbeda. Ningrum menikah dengan anak saya, namun beliau sudah tiada. Lalu sekarang Ningrum menikah dengan Abi, anaknya Ibu Mariam. Jadi, Ningrum adalah menantu kami." Kekeh Pak Kiai lalu menjelaskan semuanya.
__ADS_1
"Haah..? Abi sudah menikah? Apa benar begitu Mariam? Kenapa kamu tidak memberitahu saya, Mariam? Apa kamu sebegitu bencinya kepada saya, hingga Abi menikahpun saya tidak dikabari?" Tanya Robby shock dengan wajah yang terlihat menahan marah, jari tangannya sudah mengepal, seakan ingin memukul benda apa saja, jika dia tidak ingat sedang berada dimana.
"M.. maafkan saya Mas Robby. Saya bukannya tidak ingin memberitahukan Mas Robby, tapi saya tidak ingin mengganggu kehidupan Mas Robby dengan keluarga barunya." Ucap Mariam jujur dengan semua itu.
Pak Kiai dan yang lainnya sekarang sudah paham, kalau mereka adalah mantan suami istri.
"Ya Allah, jadi kalian adalah mantan suami istri? Pantas saja dari awal kedatangan Tuan Robby kesini, saya nampak aneh dengan sikap kalian. Kenapa kalian tidak mengatakan sejujurnya kepada saya? Kalau begini 'kan saya jadi serba salah." Ujar Pak Kiai kecewa dengan keduanya.
Umi Khadijah mengusap punggung tangan suaminya agar bisa menerima dan mendengarkan penjelasan mereka.
Mariam semakin merasa bersalah, kepada Pak Kiai Zain dan Umi Khadijah. Dirinyapun lalu menjelaskan semuanya mengenai hubungan mereka yang telah lalu.
"Maafkan Mariam pak Kiai dan Umi, saya bukan bermaksud menyembunyikan kenyataan pahit ini. Namun, saya adalah masa lalu Mas Robby, jadi untuk itu saya tidak ingin membuka luka lama lagi."
Sontak saja semua memandang iba kepada mereka bergantian. Ningrumpun merengkuh Mama mertuanya yang sudah menangis. "Hikkzz.. hikkzz.. hikzz.."
Bagaikan dihantam batu besar, hati Robby terasa sakit saat mantan istrinya itu mengucapkan bahwa dirinya adalah luka lama yang sudah begitu dalam di hatinya.
Robby tertunduk lemas dan sudah menahan air mata yang hampir tumpah. Dirinya sungguh merasa bersalah, sudah mencampakkan wanita yang begitu berharga.
"Maaf, sepertinya masalah ini bisa dibicarakan lain hari atau bagaimana ini?" Tanya Pak Kiai kepada Tuan Robby dan Mariam.
"Kalau saya sih lanjut saja dengan kerja sama ini, kami akan siap mencetak semua buku ajaran baru yang diminta oleh Pak Kiai." Ujar Robby dengan jelas.
"Ooh baik kalau begitu. Saya sangat senang bisa bekerja sama dengan Tuan Robby. Karena ini Ibu Mariam hanya menggantikan anak saya Madinah, nanti untuk pertemuan selanjutnya bisa di lakukan dengan anak saya, Tuan." Jelas Pak Kiai dengan rasa tidak enak hati.
"Baik Pak Kiai, tapi, apa boleh saya minta waktu berdua berbicara dengan Nyonya Mariam, Pak Kiai?" Tanya Tuan Robby, seraya menatap mantan istrinya sekilas.
--BERSAMBUNG--
__ADS_1
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....