Cinta Tulus Abi

Cinta Tulus Abi
Sepiring Berdua


__ADS_3

๐Ÿฅฐ๐ŸฅฐHappy Reading๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ


Dikediaman Tuan Bondan.


"Tok.. tok.. tok.." Bunyi pintu di ketuk.


"Chantika, Nak Abi, kalian belum makan malam, Mama dan Papa menunggu di meja makan yah." Panggil Mama Anita dari luar kamar mereka.


"Iya Mah, nanti kami akan menyusul." Sahut Ningrum dari dalam kamar.


Mereka berdua baru saja selesai menunaikan sholat isya berjama'ah, keduanya saling menatap dengan penuh cinta dan sayang.


Ningrum mencium punggung tangan suaminya dengan takzim, sementara Abi mengecup kening istrinya dengan lembut dan mesra, agak sedikit lama seraya membacakan doa kebaikan untuk keduanya.


ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฅูู†ู‘ููŠู’ ุฃูŽุณู’ุฃูŽู„ููƒูŽ ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุญูŽููŽุธูŽ ุฒูŽูˆู’ุฌูŽุชููŠู’ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ููุชูŽู†ู ุธูŽุงู‡ูุฑูู‡ูŽุง ูˆูŽุจูŽุงุทูู†ูู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽุฃูŽู†ู’ ุชูŽุฑู’ุฒูู‚ูŽู‡ูŽุง ุฑูุฒู’ู‚ุงู‹ ุญูŽู„ูŽุงู„ุงู‹ุŒ ูˆูŽุฃูŽู†ู’ ุชูŽุฌู’ุนูŽู„ูŽู‡ูŽุง ู„ููŠู’ ุฎูŽูŠู’ุฑูŽ ุงู„ุฒู‘ูŽูˆู’ุฌูŽุงุชูุŒ ูˆูŽุฃูŽู†ู’ ุชูŽุฌู’ุนูŽู„ูŽู†ููŠู’ ู„ูŽู‡ูŽุง ุฎูŽูŠู’ุฑูŽ ุงู„ู’ุฃูŽุฒู’ูˆูŽุงุฌู.


Artinya:ย โ€œYa Allah, aku memohon pada-Mu, jagalah istriku dari fitnah lahir dan batin. Karuniai ia rizki halal. Jadikan ia sebaik-baik istri bagiku dan jadikan aku sebaik-baik suami baginya.โ€


Setelah membacakan doa kebaikan, Abi berbisik ditelinga istrinya. Ibu guru semakin hari semakin cantik, Abi semakin cinta sama Ibu guru.


"Suamiku kenapa sekarang jadi gombal? Sudah berani yah sama Ibu guru hah..?" Ningrum mencubit mesra perut suaminya, namun Abi malah memeluk istrinya itu dengan erat.


"Jangan suka nyubit Ibu guru, nanti Abi cubit, Ibu mau lagi." Ledek Abi seraya memandang wajah istrinya dengan intens.


Jantung Ningrum berdebar-debar, darahnya ikut berdesir dan tubuhnya diam membeku. Dengan malu-malu Ningrum menutup matanya.


Abi tersenyum jahil saat melihat istrinya sedang menutup mata. "Kita makan malam dulu sekarang, nanti Mama panggil kita lagi. Suamimu ini sangat lapar, sayang." Bisik Abi ditelinga istrinya, sontak saja Ningrum langsung membuka matanya dan menutup mulutnya malu.


"Kenapa? Kenapa ditutup bibir manisnya, Ibu guruku, sayang?"


"Stop, memanggil aku Ibu guru! Kita harus punya nama panggilan kesayangan." Ningrum mencebik sebal kepada suami brondongnya itu.


"Iya sudah, Ibu guru mau dipanggil nama kesayangan apa? Cup.. cup.. cup.." Abi bertanya, namun bibirnya mencium mesra wajah Ningrum.


"Iissh.. geli sayang..." Omel Ningrum merasa dirinya kegelian atas perilaku suaminya, namun entah mengapa dirinya sangat menyukainya.


"Nanti saja deh, cari nama kesayangannya. Kita makan malam dulu sekarang." Ajak Ningrum pada akhirnya.

__ADS_1


"Okay.. istriku sayang, kita makan sepiring berdua yah?"


"Kenapa harus sepiring berdua? Nanti malu sama Papa dan Mama!"


"Engga apa-apa sayang, suamimu ini ingin sekalih disuapi oleh Ibu guru dari dulu. Ibu guru ingat engga, saat Ibu guru dirawat di Rumah Sakit? Waktu itu, muridmu ini ingin sekali menyuapi Ibu makan, tapi Ibu guru menolaknya." Ujar Abi dengan gamblang.


"Iya deh suami brondongku, kita makan sepiring berdua saja. Tapi, makannya dibawa ke kamar saja yah."


"Kenapa harus di kamar, sayang? Kamu malu yah, kalau kita makan sepiring berdua, lalu dilihat oleh Mama dan Papa?" Abi menggoda istrinya, hingga wajahnya bersemu merah.


"Sudah aach, kapan kita makannya? Kalau suamiku ini, membuat istrinya gemas."


"He.. he.. he.. iya Ibu guruku sayang, ayo kita ke meja makan." Kekeh Abi merasa gemas sama istrinya, lalu keluar kamar dengan menautkan jari mereka mesra.


"Assalamu'alaikum, Papa dan Mama." Ucap salam Ningrum dan Abi bersamaan.


"Wa'alaikumusalam, sayang." Jawab Mama Anita dan Papa Bondan bersamaan.


"Ayo, kalian duduk dan segera makan." Ajak Mama Anita ramah.


"Iya engga apa-apa sih, Mama maklum kalau kalian masih malu."


"Terima kasih yah, Mamaku sayang." Ucap Ningrum tersenyum bahagia."


"Iya Chantika, sayang." Ucap Mama Anita, seraya mengusap punggung tangan anaknya pelan.


Ningrum mengambil satu piring, lalu mengisi dengan nasi untuk dua porsi beserta lauk pauknya juga sayurnya banyak.


Sedangkan Abi membawa dua gelas air putih di tangannya.


"Kalian makan sepiring berdua? Pantas saja mau makannya di kamar? Malu yah kalau dilihat sama Mama dan Papa, makan suap-suapan? Kalian so sweet iich!" Ledek Mama Anita senang, sedangkan Papa Bondan hanya mengulum senyum.


Sontak saja Abi dan Ningrum sedikit malu dan gugup, saat Mama Anita meledek mereka. Wajah mereka keduanya terlihat merah, karena kulit mereka yang putih, hingga tidak bisa mengelak lagi.


Abi dan Ningrum berjalan, meninggalkan Mama dan Papa di meja makan. " Mah, jangan ngeledek terus. Chantika malu sama suami, kalau Mama ngomong kayak gitu." Bisik Ningrum ditelinga Mama Anita, sebelum dirinya melangkah jauh.


"He.. he.. he.. iya Chantika, anak kesayangan Mama." Ucap Mama Anita seraya terkekeh saat mendengar Ningrum kesal dengan ledekkannya.

__ADS_1


Abi dan Ningrumpun akhirnya makan berdua di kamar, mereka saling suap menyuapi dengan mesra dan saling melempar senyum dan tawa.


"Aaaaa... eeemp." Abi menyuapi istrinya, menggunakan tangan kanannya dengan mesra.


Ningrum menerima suapannya, lalu mengunyah makannya sedikit malu-malu, pasalnya Ningrum merasa istri paling bahagia saat ini. Dia tidak menyangka, suami brondongnya ini begitu manis memperlakukan dirinya.


Ningrumpun demikian, menyuapi suaminya, menggunakan tangan kanannya dengan mesra. "Aaaa... sayang."


Abi menerima suapan dari tangan istrinya dengan lahap, seraya tangan kirinya yang bersih, membelai wajah istrinya yang cantik dengan lembut.


Ningrum yang diperlakukan sangat manis oleh suaminya, ingin rasanya dia menjerit senang. Namun dia malu dengan usianya yang sudah bukan ABG lagi, usia Ningrum sudah menginjak 29 tahun.


"Istriku sayang, kalau Abi sentuh, padahal hanya membelai wajah cantikmu saja, kenapa seketika mendadak gugup? Padahal sudah pernah menikah? Apa Pernikahan yang dulu dengan Ustad Rizal, Ibu guru seperti ini juga?" Tanya Abi penasaran.


Ningrum menggelengkan kepalanya pelan, pasalnya pernikahannya dulu, tidak sebahagia pernikahannya saat ini.


Dihari pernikahannya dulu, dirinya belum sempat melakukan hubungan suami istri. Dirinya sedang dalam masa haid dan suaminyapun mendadak sakit.


Hari kedua pernikahannya dulu, suaminya yaitu Ustad Rizal langsung dibawa ke Rumah Sakit, karena kondisi kesehatannya yang sangat menurun.


Setelah dirawat selama satu minggu di Rumah Sakit, suaminya Ustad Rizal menghembuskan napas terakhirnya karena sakit Kanker Pankreas stadium empat.


"Kenapa? Kenapa hanya menggelengkan kepala saja?" Tanya Abi semakin heran dengan istrinya.


"S.. saya belum sempat diperlakukan manis seperti ini, kamu 'kan tahu apa yang menimpah Ustad Rizal? Kamu juga tahu soal kondisi saya yang sebenarnya, bukan?" Ujar Ningrum menatap sayu suaminya.


"Iya istriku sayang, suamimu ini sudah tahu semua tentangmu. Apa lagi soal dirimu, yang masih belum tersentuh oleh Ustad Rizal saat itu." Ujar Abi jujur dengan semua ucapannya.


"Heemm.." Ningrum hanya bergumam pelan.


"Terima kasih untuk menjaga cinta untukku, terima kasih masih menungguku untuk menjemput cintaku, terima kasih mau menerima cintaku dan menjadi istriku. Terima kasih untuk cintamu yang begitu berharga untukku." Ucap Abi seraya matanya berkaca-kaca.


"Aku juga begitu sayang, terima kasih mau menjadi suamiku meski aku sudah menjadi janda. Terima kasih untuk masih mencintaiku, meski usia kita sangat berbeda jauh. Terima kasih sudah menjadi suami yang terbaik untukku." Ningrum menangis bahagia, saat mengucapkan kata-kata manisnya.


--BERSAMBUNG--


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2